
Shifa, Celine dan Zano sedang menikmati alunan musik di tempat itu dan menikmati semua keindahkan dan serta mencoba berbagai hal yang ada disana. Salah satunya mereka berencana menaiki perahu untuk melihat keindahan sungai Eropa tersebut.
“Kak Zan, naik itu yuk..,” ajak Celine kepada Zano dan Shifa juga.
“No,” jawab Zano singkat.
“Ishh… Sebenarnya kita ini datang ke tempat ini mau refreshing atau berdiam diri sih ?” ucap Celine kesal karena ucapan dan sikap Zano yang datar dan dingin.
Shifa yang mendengar percakapan antara Celine dan Zano hanya diam.
“Shif, kalau kamu setuju kan kita naik perahu itu ?” tanya Celine.
“Ya Cel.. sepertinya asyik kalau kita coba,” ucap Shifa sambil tersenyum.
Celine merasa sangat senang mendengar jawaban dari Shifa.
“Tuh kan kak Zan… Lihatlah, Shifa aja setuju masa kakak tidak,” ucap Celine sambil menatap Zano.
Zano dengar ucapan dari Celine namun dia masih tidak merespon.
“Shif, coba kamu yang bicara mungkin kak Zano setuju,” bisik Celine ke telinga Shifa.
Shifa yang mendengar bisikan dari Celine bingung atas apa yang di katakaannya. Mengapa harus Shifa yang mengatakannya.
Apa kalau Shifa yang meminta Zano akan setuju ?.
“Okay..” ucap Shifa.
Zano melihat Celine berbisik dengan Shifa merasa curiga apa yang di katakan Celine kepada gadis pujaannya itu.
“Ada apa ?” tanya Zano kepada dua gadis yang ada di hadapannya.
Shifa masih belum berani untuk mengatakannya. Celine memberi kode kepada Shifa agar berbicara.
“Begini kak.. Aku dan Celine ingin sekali menikmati pemandangan disini dengan menaiki kapal itu. Apa kakak benar-benar tidak ingin ikut ?” tanya Shifa canggung.
Zano yang mendengar ucapan dari Shifa masih diam. Dia tahu ini pasti ulah sepupunya, Celine.
Celine sengaja memanfaatkan Shifa untuk meminta kepadanya agar Zano setuju. Tapi, walaupun begitu Zano tetap menuruti permintaan Shifa karena dia sangat sayang dengan gadis itu.
“Baiklah.. Ayo,” ucap Zano singkat.
Celine tersenyum sumringah karena dia tahu Zano pasti setuju kalau Shifa yang memintanya.
“Yeay… kan bener,” ucap Celine.
Shifa yang tak mengerti ucapan dari Celine tampak bingung.
“Kan bener apanya Cel ?” tanya Shifa.
“Ha ? Oh kamu akan tahu nanti Shif heheh,” ucap Celine yang tak ingin memberitahu.
Celine sengaja tak memberitahu Shifa kalau Zano menyukainya karena Celine ingin Zano lah yang mengatakannya langsung dan walaupun Shifa tampak bingung Celine berharap Shifa yang menyadarinya dan jika Shifa nanti masih tidak peka Celine berharap temannya itu akan mengerti makna sikap Zano kepadanya.
Tampak Zano, Celine dan Shifa sudah menaiki perahu itu. Mereka menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Itu membuat Shifa sangat senang. Tampak dari wajahnya yang selalu tersenyum selama berada di atas kapal. Zano yang melihat itu tak pernah berhenti menatap wajah Shifa. Semakin dia sering bertemu dengan Shifa, Zano merasa dia semakin sayang dengan gadis itu.
Tampak seseorang lelaki dewasa yang mengarahkan jalan perahu yang mereka naiki. Setelah semua pemandangan sudah mereka lewati mereka turun dari perahu itu.
“Wahh.. Indah sekali kan Shif. Apa aku bilang,” ucap Celine sangat senang.
“Iya Cel sakin indahnya kita sampai lupa waktu. Lihatlah ini sudah sore. Ayo kita segera pulang,” ucap Shifa.
Mereka bertiga memutuskan untuk pulang . Tanpa mereka sadari, dua orang lelaki mengintai mereka selama mereka berada di tempat wisata itu.
Di perjalanan pulang, Zano mengendarai mobil mewahnya dengan santai karena saat ini Shifa sedang berada di sampingnya. Celine lah yang menyuruh Shifa untuk duduk di depan bersama dengan Zano dan Celine duduk di belakang dengan alasan dia sangat kelelahan, dan itu membuat Shifa setuju.
Zano mengendarai mobil sambil sesekali melihat ke arah Shifa. Shifa yang sangat menikmati perjalanan pulang melambaikan tangannya keluar kaca mobil sambil tersenyum. Shifa merasa baru kali ini dia merasakan keindahan dan kenyamanan di negeri orang.
“Are you happy?” tanya Zano tanpa melihat Shifa.
Shifa mengangguk sambil tersenyum bahagia tanpa melihat Zano tapi kali ini Zano melihat anggukan dari gadis disampingnya itu. Zano tersenyum melihat ekspresi Shifa yang sangat bahagia. Celine yang pura-pura tidur di kursi belakang melihat sepupunya tersenyum yang tidak pernah Celine lihat sebelumnya.
“Fix ini mah, kak Zano suka sama Shifa. Senyumnya aja beda banget bahkan aku gak pernah lihat senyum dia yang seperti itu,” ucap Celine dalam hati.
“Buat?”
“Ya karena kakak sudah ajak aku ke tempat yang indah itu,” ucap Shifa serius.
“Hmmm… jadi?” tanya Zano yang mulai usil dan berniat menjaili Shifa.
“Jadi? Kok kakak tanya lagi sih. Ya maksud aku say thanks untuk kakak atas semua ini,” ucap Shifa yang masih belum peka dengan sikap Zano.
“Me too,” jawab Zano membuat Shifa sedikit bingung.
“Maksud kakak?” tanya Shifa.
Zano melihat ke arah Shifa sebentar lalu melihat kedepan lagi.
“Coz you have made me happy for today,” ucap Zano dengan suara lembut.
Shifa yang mendengar ucapan dari Zano merasa aneh dan berpikir. Tiba-tiba suara Celine memcahkan suasana saat itu.
“Eheemm” Celine berdeham pura-pura tidak tahu padahal dia sudah mendengar pembicaraan antara sepupunya dengan temannya itu.
“Sudah sampai kak?” tanya Celine tanpa di jawab oleh Zano.
“Belum, Cel” jawab Shifa canggung karena suasana saat itu.
“Ada apa sih?” tanya Celine berniat menjaili Shifa dan Zano.
Zano yang paham akan tingkah dan rencana Celine langsung menjawab ucapan Celine.
“Tidak ada apa-apa. Lebih baik kau tidur saja lagi” ucap Zano singkat.
Celine yang senyum-senyum sendiri sambil melihat ke arah Shifa dan Zano bergantian.
Shifa yang meyadari hal itu hanya diam tanpa berkata apapun. Suasana kembali hening sampai mereka tiba di suatu resto termahal di kota itu.
“Kak kenapa kita kemari?” tanya Celine bingung.
Zano tidak menjawab pertanyaan dari Celine.
“Dasar kulkas kutub es,” gumam Celine yang di dengar oleh Shifa dan Zano tapi Zano tetap tidak menghiraukannya.
Shifa dan Celine turun dari mobil mengikuti Zano yang masuk ke dalam resto itu.
“Sebenarnya Kak Zano mau apa yaa Cel?” tanya Shifa kepada Celine sambil berjalan masuk.
“Kalian tunggu disini,” ucap Zano dingin dan singkat.
Celine dan Shifa menuruti perkataan Zano tanpa membalasnya karena mereka tahu nada bicara Zano sudah serius.
Tak beberapa lama, Zano kembali sudah membawa banyak paper bag yang berisi makanan.
“Ayo,” ajak Zano berjalan ke luar resto untuk masuk ke mobil dengan menenteng paper bag.
Zano memasukkan paper bag itu di kursi belakang dengan Celine.
“Kak,ini sebenarnya untuk apa sih?” tanya Celine yang mulai menggerutu.
“Kalian kan dari tadi belum makan, jadi kakak pesan makanan buat kalian,” jelas Zano.
“Kenapa kita gak makan di resto aja?” tanya Celine lagi.
“Madinah sudah kelelahan dan Zainab pasti sudah menunggunya. Lebih baik kita cepat pulang. Makanannya bisa Madinah makan bersama Zainab nanti,” ucap Zano sambil melajukan mobil hitam miliknya.
Dengan sikap Zano yang seperti itu membuat Shifa kagum dengan Zano dan merasakan kenyamanan saat bersama Zano.
“Ternyata dia lelaki yang baik,” ucap Shifa dalam hati sambil melihat wajah Zano sekilas.
“Iyalah kakak aku yang tampan. Sekarang perhatian sama Shifa aja nih?” ledek Celine sambil tertawa keras.
Zano bersikap biasa saja mendengar Celine mengatakan seperti itu karena dia sudah biasa dengan Celine namun berbeda dengan Shifa yang merasa canggung setiap Celine mengatakan hal seperti itu.