
Kiran menempati rumah peninggalan orang tuanya. Rumah bertingkat dua itu cukup luas dan juga besar dengan dua halaman di sisi depan dan juga belakang. Karena terlalu besar Kiran menyewakan lantai atas yang memang punya tangga dan pintu tersendiri yang berada di samping kanan.
Kiran tidak pernah tahu bahwa orang yang akan menyewa lantai atasnya adalah pria super menyebalkan. Sean dia pria yang Kiran tidak ingin temui lagi di sisa hidupnya setelah Rio dan yang paling menyedihkan lagi, yang menyewakan lantai atas ke Sean adalah Gio, satu-satunya keluarga yang masih Kiran miliki.
Sean baru selesai merubah ruang kosong itu menjadi layak untuk dia tinggali. Satu ranjang king size. Dua lemari baju dengan tiga pintu. Satu cermin besar. Televisi 42 inch yang menggantung di dinding. Kitchen set serta sofa cantik berwarna biru langit ada di depan TV. Semua yang dia butuhkan ada di sana.
Kiran sedang berdiri di ambang pintu. Dia tak pernah menyangka lantai di atas rumahnya akan berubah seperti apartment mewah.
"Apa aku kedatangan tamu di sini?" tanya Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mungkin," jawab Kiran.
"Tak ingin masuk? Aku bisa membuatkanmu lebih dari sekedar mie instan," kata Sean sambil tersenyum.
Kiran terkekeh mendengar perkataan Sean. Walaupun menyebalkan sean juga sering membuatnya tersenyum dan tertawa kecil. Kiran masuk lalu dia berjalan ke arah Sean.
Sean menyugar rambutnya yang setengah basah. Kiran terus mendekat ke arahnya lalu berhenti dan berdiri tepat di hadapan Sean. Kiran mengalungkan kedua tangannya ke leher Sean.
"Hey why? Kau sedang kerasukan heh?" tanya Sean sambil merengkuh pinggang Kiran.
Kiran lalu memeluk tubuh Sean mengikis jarak yang ada di antara mereka. "Kiran, are you okay?" Sean kembali bertanya.
Kiran masih diam dan malah menyandarkan kepalanya ke bahu Sean. Untuk beberapa saat mereka hanya diam berdiri saling memeluk erat.
"Kalau kau butuh sesuatu katakanlah, kadang aku juga bersikap baik," kata Sean sambil mengusap punggung Kiran dengan pelan.
Sean tidak tahu apa yang Kiran inginkan. Sebenarnya saat ini jantungnya hampir saja meledak karena ulah Kiran.
"Kiran jika kau tidak melepas pelukanmu, bisa saja aku yang akan melepas bajumu," bisik Sean.
"Okay," jawab Kiran lalu melepas pelukannya dan berjalan mundur yang paling tak bisa Sean sangka adalah Kiran tersenyum bukannya marah-marah seperti yang biasa dia lakukan.
"Kau suka diancam ya rupanya," Sean mengekori Kiran yang berjalan ke sofa, "Kau sedang menang lotere heh?" sambung sean yang ikut melemparkan bokongnya ke atas sofa.
"Tidak," jawab Kiran singkat lalu mengambil remote TV yang ada di atas meja. Sialnya saat Kiran menghidupkan TV yang muncul adalah adegan sepasang kekasih yang sedang berciuman.
"Aku jadi ingat sesuatu, di mana imbalanku?" Sean menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Kiran.
Kiran meneguk salivanya kasar. "Kenapa dia harus mengingatnya!" pekik Kiran dalam hati.
"Hmmmm," Sean berdeham dan Kiran pun masih diam tak bersuara.
Apa yang harus Kiran lakukan sekarang? Kepalanya benar-bebar akan pecah kalau terus dipaksa berpikir. Dan karena kepala Kiran sudah lelah untuk berpikir dia langsung saja mengecup bibir Sean.
"Cuuup," sebuah kecupan mendarat di bibir Sean.
Kiran ingin menarik bibirnya dari sana tapi kedua tangan Sean menangkup wajah Kiran dan menahannya.
"Hmpphh... hmppph," suara Kiran yang tertahan karena Sean tidak melepas kecupannya.
"kau pikir aku akan melepasnya begitu saja heh," teriak Sean dalam hati.
Sean merubah kecupan itu menjadi sebuah lumatan dan Kiran benar-benar tidak berbohong saat dia bilang "Aku sudah lupa caranya berciuman," karena Kiran hanya diam dengan mata yang terbuka lebar seperti orang bodoh.
"What the hell," kata Sean setengah berbisik dan Kiran memulainya. Gadis itu memulai apa yang seharusnya tidak dia mulai.
Kiran mengecup bibir Sean, dia mengawalinya lagi dan Sean melanjutkannya tapi kali ini Kiran tak hanya diam dia ikut dalam permainan lidah Sean. Debaran jantung mereka saling berlomba. Deru nafas hangat saling menerpa. Sesaat Kiran kehilangan akal sehatnya tapi dia kembali dengan cepat menghentikan ciuman mereka.
"Kenapa berhenti?" protes Sean.
"Cu-kup," kata Kiran lalu kembali ke posisi duduknya.
Sean memandangi Kiran sambil tertawa kecil, "Kau tidak terlalu buruk, kita harus melakukannya lagi kapan-kapan," kata Sean.
"Benarkah? Aku hanya menepati janjiku Sean, kau pikir aku suka melakukannya denganmu," kata Kiran sedikit kasar.
Jantung Sean rasanya seperti tertusuk duri-duri kecil. Apa dia mulai jatuh cinta pada Kiran tapi jantungnya terus saja berdebar jika Kiran ada di hadapannya. Bahkan Kiran selalu terlihat bersinar di mata Sean.
Sean tidak tahu dan dia ingin mengetahui lebih jauh. Tentang perasaanya terhadap Kiran. Sean ingin tahu apakah dia benar-benar jatuh hati pada gadis itu atau hanya sekedar rasa penasaran.
"Kau tahu Kiran selama ini jika aku mencium seseorang jantungku tak pernah bertingkah seperti ini," kata Sean.
"Bertingkah seperti apa?" tanya Kiran.
"Berdebar dengan kencang," kata Sean, dia memalingkan pandangannya menatap dada kirinya seakan jantungnya bisa keluar dan melompat dari sana.
"Kau yakin tidak punya riwayat penyakit jantung? Kau tahu kan orang-orang yang masih muda seperti kita bisa juga terkena sakit jantung, berhati-hatilah," jelas Kiran sambil menepuk-nepuk bahu Sean.
"Apa cuma aku yang merasakan ini? Jika iya, ini sangat-sangat tidak adil, setidaknya kau juga harus merasakannya!" gerutu Sean.
Dia malah menjadi kesal karena Kiran dari tadi seperti tidak merasakan sesuatu yang spesial saat bersamanya. Setidaknya Kiran jadi canggung dan malu-malu, paling tidak Kiran harus merasakan seperti ada bola bulu super besar di dalam perutnya yang membuat diriya tergelitik dan merasa geli.
"Ya, ya jantungku juga berdebar, aku pikir itu normal, karena ketika seseorang berciuman mereka akan melepaskan hormon endorphine, bukankah begitu?" kata kiran dengan santainya.
"Nor-mal?" Sean menghela nafasnya kasar.
.
.
.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPAAAAAAA Vote and comment see u next chap gengs..