Unexpected Love

Unexpected Love
1. CHIT-CHAT



Kiran menatap layar ponselnya dengan wajah yang serius. Seperti sedang melihat sesuatu yang akan membuatnya mati karena terkejut. Kiran mengerutkan dahinya membuat dua buah siku-siku yang saling berlawanan tercetak jelas di antara kedua alisnya yang hitam dan tebal.


"mau jadi pacarku?" sebuah pesan dari seseorang dengan username Goldstein di akun okcupid milik Kiran.


Okcupid adalah salah satu situs pencarian jodoh Internasional. Kiran membuat akun di sana karena tertarik untuk mengobrol dengan pria-pria asing agar skill berbahasa inggrisnya semakin lancar. Kiran tak pernah menginginkan sebuah pertemuan apa lagi sebuah hubungan yang melibatkan hati dan juga waktunya. Itu hal yang merepotkan bagi Kiran.


"Jadi, berapa banyak wanita yang kau kirimi pesan seperti ini, haha" balasan yang Kiran ketik untuk Goldstein.


Ada kata 'haha' yang Kiran ketik tadi. Tapi, tak ada sama sekali tanda-tanda bahwa dirinya sedang tertawa sekarang. Kiran hanya menganggap pertanyaan bodoh itu seperti angin lalu. Dan, siapa juga yang akan menganggap chat di sebuah situs pencarian jodoh sebuah hal yang serius. Kalau pun ada persentasenya sangat kecil mungkin perbandingannya sepuluh dari satu juta dengan kata lain semua itu mustahil.


"Hanya kau dan mantan pacarku jadi totalnya dua," belum juga dua menit berlalu Kiran sudah mendapatkan balasan pesan yang mengejutkan. Pesan yang menggelitik perutnya, tidak Kiran bukan merasa geli tapi ingin muntah. Jadi, tadi bukan perasaan menggelitik tapi perasaan mual.


Kiran mulai menempelkan kedua ibu jarinya di atas layar ponselnya, tapi ibu jarinya kalah cepat dengan ibu jari milik Goldstein, "Kau menggunakan WhatsApp, mengobrol di sini begitu lambat, aku punya sebuah permintaan."


Kiran bingung antara ingin memberikan nomor Whatsapp-nya atau tidak. Karena terakhir kali Kiran memberikan nomor Whatsapp-nya dia berakhir dengan dikirimi gambar-gambar yang sama sekali tidak ingin dia lihat.


"Jika ini tentang obrolan **** aku tidak akan memberikan nomorku, tapi kalau tentang yang lain aku akan memberinya," Kiran menghela nafasnya kasar. Jujur adalah hal yang terbaik, setidaknya orang itu harus tahu Kiran tak ingin orolan **** atau apa pun yang berhubungan dengan itu. Kiran masih ingin membuat dirinya punya nilai moral di dunia yang semakin gila.


"Ya, aku janji, kau bisa percaya padaku,"


Kiran tanpa sadar mengetik nomor WhatsApp-nya dan ibu jarinya menghianati dirinya dengan mengetuk icon send, "ARRRRRRRGGGGH," teriak Kiran yang baru menyadari kalau dia sudah melakukan hal yang bodoh.


"Bagaimana kalau dia mengirimiku sesuatu yang aneh? Kiran BODOH!" pekik Kiran yang disambut dengan dering ponselnya.


Sebuah nomor dengan kode Negara luar memanggil Kiran melalui WhatsApp. Karena kaget Kiran melepas ponselnya yang kemudian jatuh ke lantai.


"haloo...." Suara dari ponsel Kiran


Kiran langsung mengakhiri panggilan itu. Berjalan mengitari kamarnya, Kiran terlihat gugup. Bahkan, Kiran sudah lupa bagaimana caranya menyapa lawan jenis melalui sambungan telpon. Kiran terlalu berlebihan, dan sekarang malah terlihat seperti gadis yang bodoh.


"Kenapa tidak menjawab? Ini aku Sean si Goldstein,"


Kiran menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, "Bagaimana sekarang?" teriak Kiran sambil kedua kakinya menerjang ke sembarang arah.


"Maaf, aku sedang kerja, kita bisa mengobrol nanti," Kiran menjawabnya dengan sebuah kebohongan.


"Oh okay, tapi pekerjaan seperti apa yang kau lakukan, karena ini hampir jam 3 pagi, Negara kita hanya memiliki perbedaan waktu satu jam,"


Baru satu kebohongan dan Kiran sudah langsung ketahuan. Dan sekarang Kiran sedang memaksa otaknya untuk membuat satu kebohongan lagi. Apakah Kiran juga harus membuat kebohongan soal pekerjaannya? Tapi kalau dipikir-pikir pekerjaan Kiran bisa dilakukan saat malam seperti ini.


"oh, aku penulis lepas, aku menulis artikel," balas Kiran. Kali ini dia jujur, sekecil apa pun kebohongan yang Kiran buat, itu tidak baik jadi Kiran memutuskan untuk mengakhiri kebohongannya.


"Bisa membuatmu hidup?"


Rasanya kepala Kiran seperti mendidih. Apa sebenarnya mau lelaki ini? Apa sekarang dia sedang mendapatkan sebuah penghinaan?


"Tentu, aku makan sebanyak tiga kali dalam sehari bahkan kalau dihitung dengan jam snack aku makan hampir tujuh kali sehari," balas Kiran yang kepalanya mulai berasap.


"Makanmu banyak kau pasti gendut, aku tidak suka wanita yang gendut, bagus bila kelebihan beratnya hanya di dada dan juga di bokong tapi kalau tersebar di mana-mana mataku akan tercemar,"


Kiran mulai kehilangan kesabarannya. Jadi, lelaki ini meminta nomor WhatsApp-nya hanya untuk melakukan sebuah penghinaan. Lelaki seperti apa Sean atau Goldstein ini. Wanita paling tidak suka disebut gendut. Dan Sean mengeluarkan kata terlarang terlebih untuk wanita yang baru saja dia kenal.


"Otakku juga akan tercemar jika terus mengobrol denganmu," Kiran sudah tidak tahu lagi harus membalas pesan dari Sean dengan kata-kata jenis apa. Untuk sekarang Kiran sedang bertahan agar tidak memaki Sean atau langsung melempar lellaki itu ke neraka.


"Wah bicaramu kasar, padahal di foto kau terlihat cantik dan imut,"


Balasan yang Kiran terima membuatnya menatap layar ponselnya dengan kesal. Bisa-bisanya lelaki itu bilang dia kasar, padahal jelas-jelas Sean yang berkata kasar duluan,"kau tidak merasa kalau kau yang bicara kasar terlebih dahulu?"


"Oh,"


Hanya 'oh' dan Sean tak pernah mengirim pesan lagi kepada Kiran. Dan Kiran pun tak pernah berharap mendapatkan pesan lagi dari Sean. Laki-laki jenis Sean adalah salah satu jenis lelaki yang harus dihindari. Kiran yakin pasti Sean adalah orang yang angkuh. Dari gaya bicaranya pasti isi kepala lelaki seperti Sean hanya sekitar dada, paha dan bokong. Lebih baik jika Kiran mengabaikannya.


Satu bulan kemudian,


"Berikan nomor gadis yang potonya kau tunjukkan padaku, dia terlihat cantik dan wajahnya seksi," pinta Daniel di tengah-tengah makan malamnya bersama Sean.


Sean yang hampir memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya menatap Daniel dengan jengah. Buat apa juga Daniel meminta nomor gadis yang bahkan Sean belum pernah temui secara langsung.


"Lupakan gadis itu, dia seksi dan cantik tapi kasar, aku yakin dia bukan tipemu, dan aku juga belum pernah melihat secara langsung wajahnya, kau tahu sekarang banyak orang yang menggunakan poto orang lain untuk akun mereka agar terlihat lebih menarik, bodohnya orang-orang seperti itu," jawab Sean yang melanjutkan makannya tanpa rasa bersalah.


Daniel memutar kedua bola matanya dengan malas. Kalau bukan sahabatnya mungkin Daniel sudah mencakar wajah Sean karena telah menghilangkan nafsu makannya.


"Kau pikir aku benar-benar mencari kekasih di sana, aku hanya bermain, menggoda mereka cukup menyenangkan," kekeh Sean sambil mengelap mulutnya dengan ujung napkin.


Daniel berdecak, sahabatnya ini benar-benar memiliki sikap yang aneh, "Kau tidak takut ketahuan?" tanya Daniel penasaran.


"Tenang aku tidak memasang potoku‒"


"Baru saja kau bilang betapa bodohnya orang yang memasang poto orang lain di akun mereka, dan kau melakukan hal yang sama, ckckck," Daniel menatap kasian ke arah Sean


"Aku memasang poto Momoy dan dia bukan orang," jawab Sean seolah tak peduli.


"Kau lelaki mengerikan yang terobsesi pada boneka monyet," gerutu Daniel. Jadi, Momoy adalah boneka monyet yang sudah Sean miliki sejak dia bayi. Umur Momoy sama dengan Sean.


"Hei Momoy itu statusnya sama sepertimu, dia sahabatku, tidak bahkan dia lebih dari itu dia teman tidurku," sanggah Sean yang setengah kesal boneka kesayangannya diihina.


"Kau mengerikan," ejek Daniel.


Daniel memalingkan pandangannya ke arah kiri. Dan tiba-tiba tatapannya berhenti pada wanita yang duduk di ujung sana, "hey itu si gadis imut kan?" tanya Daniel yang belum melepas pandangannya dari wanita itu.


Sean langsung menoleh ke arah di mana manik mata Daniel seolah menangkap wanita itu. Sean mengerjapkan matanya beberapa kali. Wanita dengan coat coklat muda, blouse putih dan jeans berwarna biru itu punya wajah yang mirip sekali dengan Kiran.


"Benarkan dia?" tanya Daniel lagi, lelaki itu sungguh penasaran.


"Tidak tahu, kalau itu juga dia memangnya aku peduli," jawab Sean seakan tidak peduli. Padahal di dalam hatinya Sean ingin sekali bertingkah gila dengan mendatangi Kiran lalu menyapanya seolah bertemu dengan teman lama.


"Sayang sekali padahal dia duduk sendirian, no... no... no..." kalimat Daniel terhenti, dia seperti melihat sesuatu yang sangat mengejutkan, "Waw dia bersama seorang pria ternyata, kau kalah cepat," kekeh Daniel menggoda Sean yang wajahnya berubah jadi kesal.


"Kau bilang tak peduli? Kenapa memasang wajah yang sangat jelek seperti itu," sambung Daniel dengan celotehannya yang semakin membuat suasana hati Sean semakin menjadi buruk.


Sean berdiri dari tempat duduknya. Merenggangkan otot-ototnya, dia seperti sedang melakukan sebuah pemanasan. Sean menarik senyum tipisnya membuat siapa pun yang melihatnya pasti jatuh ke dalam pesonanya.


"So, see carefully," Sean mengendurkan dasinya, dia berjalan dengan langkah kaki yang mantap ke arah Kiran.


Kiran sedang asyik mengobrol dengan temannya. Menikmati makan malamnya, dia sedang liburan di sini. Kiran Cuma punya waktu 4 hari. Jadi, dia memilih pergi ke Singapore untuk liburan. Karena jarak antara Singapore dan Yogyakarta tidak terlalu jauh dan Kiran tak perlu menempuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sini. Dan yang terpenting Kiran punya teman yang mau menampungnya dan juga mengajaknya berkeliling.


Seorang pria tampan dengan jas berwarna hitam mengetuk meja Kiran. Dia mendongakkan kepalanya, menatap pria tampan yang ada di hadapannya. Pria tinggi dengan rambut yang ditata rapi. Dan yang terpenting, Kiran tak mengennali pria yang sedang menataapnya bak pemangsa.


Kiran memalingkan wajahnya menatap Edward, "he's your friend?" tanya Kiran yang mengira lelaki yang berdiri di depannya ini adalah teman Edward.


"Bukan, aku pikir itu temanmu," jawab Edward yang juga tidak mengenali Sean.


"Hi baby girl, long time no see, KI-RAN," sapa Sean yang langsung duduk di samping Kiran.


Kiran menatap Sean, tentu menatap dengan perasaan aneh. Siapa pria yang duduk di sampingnya ini? Atau jangan-jangan orang ini orang gila, yang tidak sengaja melihat dan mendengar namanya disebut, dan sekarang berakting seolah mengenal Kiran.


"Kau tidak ingat aku?" tanya Sean sambil mengedipkan matanya.


Dan karena kedipan mata Sean, Kiran hampir tersedak air. "Aku tidak mengenalmu, aku sibuk, ayo Ed kita pergi," ucap Kiran sambil beranjak dari kursinya.


Edward juga bangkit dari kursinya. Dan Kiran segera meninggalkan meja terkutuk itu, tapi langkah kakinya terhenti karena Sean memegang lengan Kiran.


"Aku Sean si Goldstein," kata Sean dengan nada mengingatkan, dia memainkan alisnya seolah itu akan membuat Kiran mengingatnya.


Kiran menatap wajah Sean dengan lekat. Tak ada tanda-tanda kebohongan dari raut wajah Sean. Tapi, akan lebih mengasyikkan jika Kiran membuat pria yang sedang menahan lengannya ini menjadi kesal.


"Oh," Kiran hanya menjawab 'oh' tentu dengan wajah angkuhnya.


Sean seakan kehilangan tenaganya. Genggaman tangannya di lengan Kiran begitu saja terlepas. Dia tidak penah diacuhkan. Dan Kiran bukan hanya mengacuhkannya tapi juga membuat harga dirinya terluka. Sedangkan Daniel sedang tertawa terbahak-bahak melihat adegan yang menurutnya amat sangat dramatis.


Sean kembali berjalan menuju mejanya sambil memegang dada kirinya. Sean terlihat sangat terpukul karena Kiran mengacuhkannya.


"Dia bahkan tidak peduli denganmu Sean, sebenarnya apa yang kau lakukan pada gadis itu, sepertinya gadis itu membencimu," kata Daniel sambil terus terkekeh geli.


"Aku tidak pernah merasa sudah melakukan kesalahan, mungkin matanya buta memngacuhkan lelaki tampan sepertiku, kalau sampai aku melihatnya besok aku akan‒"


"Akan apa hah?" celetuk Daniel memotong kalimat yang sedang Sean ucapkan.


"MENCIUMNYA!" pekik Sean sambil memukul meja dengan tangannya yang sudah mengepal.