Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 29



Zainab menatap Shifa tanpa henti sedangkan Shifa menyiapkan makanan yang dia bawa di atas meja makan mungil mereka. Setelah itu Shifa duduk di hadapan Zai yang dari tadi menatapnya tanpa henti dengan tatapan penuh arti yang membuat Shifa tak berani berkutik.


“Ayo Shif, jelaskan,” kata Zai tanpa menghiraukan makanan di hadapannya.


Tampaknya kali ini Zai sedang serius untuk mengetahui apa saja yang dilakukan sahabat baiknya itu selama seharian penuh.


Shifa masih diam namun beberapa saat kemudian barulah Shifa memulai pembicaraan,


“Zai, kamu jangan menatapku seperti itu. Aku tahu aku salah.. But please Don’t look at me like this,” ucap Shifa.


Zainab hanya menghembuskan nafas dengan kasar tanpa menjawab perkataan Shifa.


“Okay, don’t be negative thingking about me. Actually like this… Tadi siang waktu aku dan Celine jalan bersama pulang menuju gerbang kampus, Celine tiba-tiba ajak aku buat ngerefresh otak sebelum mengerjakan tugas-tugas kampus. Awalnya niat aku tuh Zai hanya untuk nemenin Celine pulang aja, tapi karena Celine memohon untuk aku ikut dan mau nerima idenya, aku gak tega Zai, so akhirnya aku mau deh pergi bareng Celine ke tempat wisata itu. Dan you know Zai, kan kak Zano yang selalu antar jemput Celine. So that, kak Zano join juga pergi kesana,” Shifa menjelaskan dengan rinci.


Zainab masih tetap diam, bukan karena dia marah pada Shifa tapi dia seperti menganalisa kejadian yang diceritakan oleh gadis yang berada di hadapannya itu.


“Zai… Kamu gak marah kan. Kalau kamu marah aku minta maaf. Please forgive me my B,” ucap Shifa dengan wajah yang frustasi.


Mendengar ucapan Shifa yang memanggil dirinya my B, itu membuat Zai tertawa lepas secara tiba-tiba tapi sebenarnya Zai tidak marah hanya Shifa saja berpikiran yang tidak-tidak.


“Loh.. kamu kenapa tertawa Zai,” Shifa merasa heran atas tingkah sahabatnya itu.


Zainab masih tertawa lepas. “ Hahahahah. Kamu panggil aku apa tadi Shif?” tanya Zai.


“What?” Shifa tampak bingung dengan keadaan Zai yang sekarang.


“Kamu panggil aku your B? It’s so funny hahahahh…” ucap Zai yang belum bisa berhenti untuk tertawa akibat ulah Shifa.


“Jadi kamu gak marah Zai sama aku?” tanya Shifa yang masih bingung.


“Ya gak lah. Masa aku marah,” ucap Zai sambil mengambil makanan yang berada di dekatnya.


“Tapi aku pikir kamu marah sama aku Zai. Lihatlah wajahmu tadi begitu serius aku belum pernah melihat wajahmu seserius itu,” ucap Shifa.


“Aku memang tidak marah Shif tapi aku serius,” ucap Zai sambil meletakkan makanan yang dipeganngnya ke atas piring miliknya.


“What do you mean, Zai? Can you speak clearly?” ucap Shifa.


“Aku hanya menganalisa ucapan darimu. Sepertinya Celine berusaha mendekatkanmu sama kak Zano,” ucap Zai.


Shifa terdiam agak lama setelah mendengar ucapan dari Zai. Sebenarnya Shifa sendiri tidak menyadari kalau Celine melakukan itu.


“Apa iya Zai?” tanya Shifa.


“Huh.. Bagaimana sih kamu Shifa Almadinah Almunawaroh..” ucap Zainab sambil memakan kembali makanan yang dia letakkan di atas piringnya tadi.


“Zai nama aku gak ada Almunawarohnya,” ucap Shifa.


“Iya-iya.. Shif tapi ingat gak tujuan kamu kesini untuk apa?” tanya Zai yang fokus pada kegiatan makannya.


“Yah.. Ingatlah Zai. Kamu pikir aku secepat itu melupakan tujuanku datang kemari,” ucap Shifa yang mulai kesal dengan ucapan Zai.


“Iya-iya gak usah jutek gitu kali Shif.. Oh yaa tapi Insyaa Allah aku akan tetap ada padamu Shif so that orang-orang gak berani jahat ke kamu,” ucap Zai.


“Iya aku gak bakal ngelakuin hal-hal yang menganggu study aku deh insyaa Allah. Thanks ya Zai coz you always care about me,” ucap Shifa dengan haru.


“Iya-iya.. Eh btw, aku ada nama baru lagi nih… my B?” ucap Zai untuk membuat Shifa tidak larut dalam emosi terharunya.


“Yeah itu nama baru untukmu, aku buat itu agar kamu tidak marah denganku, Zai,” ucap Shifa sambil tersenyum.


Dua gadis itu saling tertawa bersama sambil menikmati makanan yang dibawa oleh Shifa.


Disisi lain, Zano dan Celine yang sudah sampai di mension mereka. Setelah memarkirkan mobil mewah miliknya di garasi, Zano keluar dari mobil tanpa menghiraukan Celine yang masih ngambek.


“Hishh, dasar !! Bisa-bisanya dia cuek denganku bahkan di saat aku sedang marah begini,” gumam Celine yang masih berada di dalam mobil milik sepupunya itu.


Celine keluar dari dalam mobil sambil membawa makanan yang dibeli oleh Zano tadi.


“Lihat saja kali ini aku tidak main-main dengan perkataanku kalau aku tidak akan bicara lagi padamu,” ucap Celine dengan nada kesal.


“Hah? Oh My God” ucap Celine dengan ekpresi terkejut karena dia mengomel sendiri tadi bahkan dia tidak melihat kalau Marcel sudah berada di belakangnya.


“What’s wrong?” tanya Marcel tanpa merasa berdosa karena sudah mengagetkan Celine.


“Hey Marcel.. What do you think? Kamu sudah mengagetkanku tapi kau masih bisa bilang begitu? Husssh dasar !! Gak kak Zano gak Asistennya sama-sama menyebalkan. Lebih baik kau pergi dari hadapanku Cel sebelum aku tambah marah padamu,” ucap Celine dengan amarahnya yang belum padam.


Marcel berpikir sejenak untuk mencerna perkataan dari Celine.


“Sepertinya anak ini sedang badmood. Lebih baik aku pergi sajalah dan aku bisa menanyakannya pada Tuan Zano nanti,” ucapnya dalam hati.


“Hey Marcel kenapa kau masih diam disitu?” ucap Celine kesal dengan wajahnya yang kusut.


“Hmm.. Okay padahal kau sudah janji padaku untuk bersikap baik but well.. maybe kamu butuh me time untuk meredekan emosimu yang sedang membara. But.. one more.. Would you like to give me the food that you bring?” tanya Marcel yang berniat sedikit menghibur Celine atas tingkah konyolnya padahal dia tahu meskipun Marcel sering berbuat seperti itu, Celine tidak pernah merasa terhibur tapi dia berusaha saja sampai Celine mau menerima dirinya.


“Nih.. Kau bawa saja. Aku sudah tidak mau lagi makan apapun yang di bawa oleh Zano,” ucapnya sambil menghentakkan kedua kakinya dan berjalan memasuki mension utama.


“Hishh sama saja,” ucap Marcel yang frustasi sambil menggenggam makanan yang diberi oleh Celine.


***


Di rumah sakit tepatnya di negara asal Shifa, Ibu Dahlia sedang duduk menemani suaminya yang sedang berbaring di atas bankar. Kedua adik Shifa, Khaula dan Hafsa juga berada disana.


“Sebaiknya kalian pulang saja dulu, nanti ibu menyusul kalian. Dari pulang sekolah kalian berada disini sampai belum mengganti seragam sekolah kalian. Apa kalian tidak lelah?” tanya Bu Dahlia.


“Gak kok Bu… Hafsa masih ingin menemani ayah disini. Kondisi ayah sedang menurun sekarang. Bagaimana aku bisa meninggalkan Ayah dan Ibu dalam keadaan seperti ini,” ucap Hafsa.


“Iya Bu, Hafsa benar. Khaula setuju dengan Hafsa,” tambah Khaula.


“Baiklah kalau begitu,” ucap Ibu dari dua gadis itu.


Sesaat keheningan terjadi namun tiba-tiba Khaula membuka topik pembicaraan karena dia tidak mau melihat keluarganya sedih apalagi ibunya karena keadaan Pak Syukron yangdari tadi tidak sadarkan diri.


“Bu..,” ucapnya pelan.


“Ada apa Nak?” tanya Bu Dahlia.


“Apa ayah sedang merindukan kak Shifa makanya ayah seperti ini?” tanya Khaula.


Ibu hanya diam dan berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari anaknya.


“Khaula… Hafsa…,” ucap Ibu Dahlia memanggil kedua anaknya yang berada di hadapannya.


“Iya Bu..,” jawab kedua gadis itu bersamaan.


“Ibu minta kalian jangan kasih tahu kakak kalian yaa tentang kondisi ayah sekarang,”


“Tapi kenapa Bu?” tanya Khaula.


“Ibu tidak mau kalau Shifa nanti tidak fokus sama studynya kalau kita beritahu kondisi ayah yang sebenarnya. Ibu tidak mau mengganggu konsentrasinya dalam belajar. Lagipula ibu tidak mau menambah beban kakak kalian itu karena ibu sudah dua bulan tidak mengirimnya uang kebutuhan tambahannya,” ucap Ibu Dahlia dengan mata berkaca-kaca.


“Kita juga sudah lama tidak mengubungi kak Shifa Bu..” ucap Hafsa.


“Iya kamu benar, Nak.”


“Bagaimana kalau kita telepon saja kak Shifa Bu.. Supaya kita tahu keadaan kak Shifa disana,” ucap Khaula.


“Iya .. Ibu setuju tapi diantara kalian jangan ada yang membahas tentang kondisi ayah yang sekarang yaa. Kalian janji sama Ibu,” ucap Bu Dahlia.


“Bagiamana kalau kak Shifa bertanya Bu. Kak Shifa pasti bertanya tentang keadaan ayah,” ucap Hafsa.


“Yah kita tinggal bilang ayah baik-baik saja,” ucap Khaula.


“Itu namanya bohong,” balas Hafsa.


“Sudah-sudah biar ibu saja yang menjawab kalau kakak kalian bertanya. Sekarang ayo hubungi kakak kalian,” perintah Bu Dahlia.


“Iya Bu… Pakai HP ku saja,” ucap Khaula.