Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 39



“Kak Zano..” ucap Shifa dengan jantung yang sudah berdebar. Dia takut Zano melakukan hal aneh kepadanya.


Zano mengangkat satu tangannya lagi untuk merapikan sehelai rambut Shifa yang keluar dari hijabnya dan membisikkan kata “beautiful” di telinga Shifa.


Tanpa sadar Shifa spontan mencubit perut sixpack Zano sehingga lelaki tampan yang berada dihadapannya itupun meringis.


“Aw” ucap Zano sambil memegang perutnya bekas cubitan Shifa.


Shifa mendengus kesal dan menatap wajah Zano dengan wajahnya yang cemberut.


“Madinah, sakit banget” ucap Zano sambil kesakitan memegang perutnya.


Shifa langsung merasa khawatir kepada Zano. Wajahnya yang cemberut berubah menjadi wajah yang khawatir.


“Beneran sakit kak?” tanya Shifa.


Zano mengangguk dan masih memejamkan matanya pertanda kesakitan.


“Oh.. maaf kak, aku gak sengaja. Lagipula kakak salah sendiri kenapa buat yang aneh-aneh” ucap Shifa sambil mencoba memeriksa tubuh Zano yang sakit akibat cubitannya.


“Polos banget kamu,” ucap Zano dalam hati sambil tersenyum sedikit melihat wajah Shifa yang sedang khawatir.


“Yakin beneran sakit?” tanya Shifa dengan puppy eyesnya.


Zano hanya mengangguk karena dia tak mau kalau Shifa sadar akan kejailannya.


“Jadi gimana dong?” tanya Shifa yang bingung karena tak mungkin dia melihat tubuh Zano.


“Willy nilly, you have to treat me,” ucap Zano.


“Hah, I don’t think so,” ucap Shifa pelan namun masih bisa didengar oleh Zano.


“It’s okay.. I can do it by myself,” ucap Zano cuek sambil berjalan meninggalkan Shifa.


Shifa yang merasa bersalahpun berpikir dan mencoba mengikuti Zano.


“Aahem, kak Zano.. I ..i.. don’t meant it.. I just ..,” ucap Shifa terbata-bata karena bingung harus apa yang dilakukannya.


Zano berhenti berjalan dan menghadap Shifa.


“It’s okay Madinah. “Don’t force yourself,” ucap


Zano lalu kembali berjalan menuju kamarnya.


Shifa masih merasa tidak nyaman berada pada situasi saat ini dan dia terpaksa mengatakan hal yang spontan. Zano ingin memastikan apakah Shifa juga memilki rasa yang sama kepadanya atau tidak.


“Okay kakak jangan marah dulu.. I will be responsible for it and I will take the medicine first. Kakak tunggu di living room yaa..” ucap Shifa sambil berlari untuk mengambil kotak obat.


Zano yang masih berdiri tersenyum karena melihat tingkah Shifa seperti itu. Dia pun membatalkan niatnya untuk kembali ke kamar dan berjalan menuju sofa yang ada di ruang tengah. Shifa memilih tempat itu agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya.


Tanpa disadari, Marcel melihat tingkah dua insan itu dari kejauhan.


“If that’s what makes you happy and changes for the better, I’ll do it,” ucap Marcel.


Di kamar Celine


Tok tok tok… suara dari luar kamar Celine terdengar membuat Celine membuka pintunya.


“Zainab….” Teriak Celine girang.


“Celine..” ucap Zai sambil tersenyum.


“Aaaaaaa…. Rindu banget akunya…..” ucap Celine sambil memeluk Zai yang berada dihadapannya.


“Hahah me too, but kita baru saja ketemu kok udah rindu aja nih,” ucap Zai sambil melepas pelukannya dengan Celine.


“Kamu gak kangen sama aku Zai?” tanya Celine cemberut.


“Oh… not like that.. I just kidding hehe”


Celine sengaja tidak bertanya dimana Shifa karena dia sudah menduga dimana Shifa sekarang.


“Zai kamu duduk dulu yaa.. aku mau ngobrol banyak sama kamu pokonya.. Okay.. aku ambil minum dulu untuk kamu” ucap Celine sambil berjalan keluar.


“Oh no no Cel… aku belum haus.. kamu cukup temani aku saja disini kita sambil menunggu Shifa, okay,” ucap Zai yang sudah duduk di sofa kamar milik Celine. Kamar Celine yang begitu luas tentu saja nyaman saat berada di dalam.


Celine yang sempat berpikir sejenak, ntah apa yang ada di pikiran gadis itu lalu dia menyetujui perkataan sahabtnya itu.


“Okay…”


Di depan tv yang sangat canggih itu, Shifa dan Zano duduk di atas Sofa. Shifa akan bertanggung jawab atas perilakunya yang padahal itu hanya permainan Zano saja namun sampai saat itu Shifa belum menyadarinya.


Shifa sudah duduk dihadapan Zano sambil memegang kota obat lalu membukanya.


Shifa terdiam saat melihat Zano membuka setengah bajunya dan terlihat perut sixpacknya.


Zano yang menyadari hal itu pun menatap Shifa. “Kenapa?” tanya Zano.


Shifa tersadar lalu beralih melihat obat yang akan digunakannya.


Zano tersenyum. “Bagaimana kamu tahu dimana yang sakit kalau kamu menunduk seperti itu. Yasudah mari obatnya, jangan dipaksakan.” Ucap Zano akan meraih obat yang ada di tangan Shifa.


Shifa lalu mengangkat wajahnya dan menatap wajah Zano. “Aku bisa kak” ucap Shifa lembut.


Shifa mulai mengoleskan obat salap pereda nyeri pada tubuh Zano yang terlihat memang memerah namun itu sebenarnya tidak terasa apa-apa bagi Zano mengingat hal itu biasa bagi seorang mafia sepertinya.


Tangan Shifa yang mulus dan lembut itu mengoles bagian tubuh Zano yang memerah.


“Maaf yaa kak sampai merah begini jadinya,” ucap Shifa merasa bersalah.


Zano hanya diam melihat wajah Shifa yang khawatir dan cemas itu.


“Kakak gak mau maafin aku yaa..” ucap Shifa sambil melihat wajah Zano yang berada di atas kepalanya. Hal itu membuat Zano dan Shifa saling menatap satu sama lain.


“Kakak maafin karena nyerinya udah gak terasa lagi karena tangan kamu yang dingin ini,” ucap Zano dengan coolnya.


Shifa yang makin terpesona dengan ketampanan Zano pun hanya diam sambil bertingkah sedikit canggung.


“Su..sudah kak” ucap Shifa sambil memasukkan kembali obat ke dalam kotak.


Zano hanya tersenyum dan menurunkan kembali bajunya. Saat ini terasa canggung bagi Shifa namun tiba-tiba Marcel datang menghampiri mereka berdua.


“Tuan..” panggil Marcel sambil duduk di samping Zano.


Zano tak menjawab panggilan Marcel, hah itu sudah biasa yaa sobat. Zano bersikap manis hanya dengan Shifa saja pastinya.


“Shif.. kamu mau bertemu dengan Celine kan. Dia berada di kamarnya bersama Zai sekarang,” ucap Marcel.


“Oh yaa kak, yawudah aku ke kamar Celine dulu yaa kak,” ucap Shifa sambil melirik Zano sekilas pertanda dia izin pergi dari kedua lelaki itu sambil membawa kotak obat yang di pegangnya.


“Tuan kau kenapa?” tanya Marcel pura-pura khawatir.


“Nothing,” jawab Zano singkat sambil mengambil ponselnya dari saku trainingnya.


“Kau masih sakit Tuan?” tanya Marcel lagi.


Zano yang tadinya menatap ponselnya beralih menatap wajah Marcel tanpa bersuara.


“Apa Tuan?” Tanya Marcel bingung.


“Heshh… Apakah hidupmu hanya dipenuhi oleh pertanyaan?” ucap Zano.


“Maaf Tuan, karena aku melihat Shifa baru saja membawa kotak obat dan lihat kau masih saja memakai training sekarang apakah kau tidak malu dengan Shifa dan biasanya pertanda orang sakit,” ucap Marcel panjang lebar tanpa sadar Zano pusing mendengar perkataannya dan memutuskan untuk pergi dari hadapan asisten pribadinya itu.


“Yaa kan Tu..” ucapan Marcel terpotong karena Marcel sudah tidak melihat bosnya lagi.


“Huh… saat begini aku ditinggal, apa dia tidak tau aku yang membuatnya semangat mulai hari ini,” ucap Marcel pelan sambil mendengus.