Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 24



Sesampainya di kampus, Celine turun dari mobil Zano tanpa mengucapkan apapun.


“If you wanna go home, call me ! Don’t go anywhere,” ucap Zano serius kepada Celine yang akan beranjak keluar dari dalam mobil Zano.


Celine yang masih kesal dengan Zano karena sikapnya tadi saat mereka sarapan tidak menghiraukan perkataan Zano. Zano tak ambil pusing, lalu meninggalkan Celine yang masih berdiri di halaman utama kampus.


“Iyi… Oh God, kenapa aku harus punya sepupu sedingin es dan sebeku kristal di kutub selatan,” ucap Celine berbicara dengan dirinya sendiri dengan geram.


Shifa dan Zainab yang sudah sampai di kampus melihat Celine dari kejauhan tampak kesal dan berbicara sendiri. Shifa dan Zai berjalan menghampiri Celine dan memanggilnya.


“Celine !” panggil Zai.


Celine yang mendengar suara itu melihat ke arah Shifa dan Zai berjalan menghampirinya.


“Zai, Shifa,” ucap Celine malu karena dua temannya itu melihatnya berbicara sendiri.


“Kamu kenapa bicara sendirian Cel ? Kamu baik-baik aja kan ?” tanya Shifa.


“Hehehe oh itu.. Tidak, tidak apa-apa kok Shif. Aku hanya sedikit kesal sama kak Zano pagi ini,” ucap Celine.


“Pagi-pagi begini udah kesal aja. Emangnya kesal karena apa Cel ?” ucap Zai penasaran.


Celine bingung mau menjawab apa.


“Kita ngobrolnya di dalam kelas aja yuk !” ajak Shifa.


Celine dan Zai menyetujuinya dan mereka bertiga langsung bergegas untuk masuk kelas.


***


Di ruang uncle Jordan, tampak Marcel yang sudah duduk di salah satu sofa mewahnya uncle Jordan. Sepertinya pembicaraan mereka sangat serius.


“Ada apa uncle ? Sepertinya ada hal yang serius ?” tanya Marcel yang melihat wajah uncle Jordan sangat serius duduk di hadapannya.


“Kamu benar Marcel. Ada hal serius yang ingin uncle bicarakan kepada kamu,” ucap uncle Jordan.


“Hal serius apa itu uncle ?” tanya Marcel yang masih bingung.


“Sebelumnya, uncle sudah bicarakan ini kepada Tuan Zardo dan Zano,” ucap uncle Jordan.


Marcel yang tampak bingung menunggu ucapan selajutnya dari pria yang berada di hadapannya itu.


“Kamu tahu kan, kalau dahulu Celine pernah menyukai seseorang untuk pertama kalinya,” ucap uncle Jordan.


“Faelardo,” ucap Marcel.


“Benar. Dan sekarang, Faelardo sudah tidak menjadi bagian dari Black Wolf lagi. Dia membentuk kelompok mafianya sendiri. Dan sejak saat itu, dia membenci semua hal yang berhubungan dengan Black Wolf,” ucap uncle Marcel serius.


“Termasuk Celine,” sambung Marcel.


Uncle Jordan mengangguk dan melanjutkan perkataanya.


“Uncle minta kamu untuk tetap menjaga dan melindungi Celine dalam keadaan apapun karena saat ini Faelardo sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyerang Black Wolf termasuk menyakiti Celine,” ucap uncle Jordan.


“Aku rasa uncle sudah tahu perasaanku terhadap Celine sebelum Celine mengenal Faelardo,” ucap Marcel dengan serius.


“Yah.. Uncle tahu tentang itu. Oleh karena itu, uncle memilih kamu sebagai pelindung Celine selain uncle. Dan, untuk Zano. Tanggung jawab yang dimilikinya sudah cukup besar, jadi uncle tidak mau memberatkannnya lagi. Dan uncle harap suatu saat nanti kamu menjadi teman hidup Celine,” ucap uncle Jordan.


Marcel tak menyangka kalau uncle Jordan memberikan kepercayaan begitu besar kepadanya. Dia merasa senang tapi juga bimbang.


“Tapi uncle, bagaimana itu bisa terjadi kalau sampai detik ini Celine belum bisa membuka hatinya untuk orang lain selain Faelardo,” ucap Marcel.


Uncle Jordan yang menyadari hal itu berpikir sejenak.


“Itulah yang Zano dan uncle khawatirkan. Zano


mengira bahwa Celine masih menyukai Faelardo. Tapi Celine harus menyadarinya kalau Faelardo yang sekarang bukanlah Faelardo yang seperti dulu. Semua kasih sayang dan cinta yang dia miliki berubah menjadi benci, amarah dan dendam,” ucap uncle Jordan.


“Aku tidak tahu uncle, apakah usaha aku ini membuahkan hasil atau tidak,” ucap Marcel.


“Tapi kamu harus tetap menjaga janji ini pada uncle Marcel,” ucap uncle Jordan.


“Iya uncle. Aku siap apapun yang akan terjadi,” ucap Marcel.


Perbincangan antara uncle Jordan dan Marcel cukup lama tanpa di ketahui oleh siapapun.


***


Di ruang kelas, Shifa, Zai dan Celine sedang menunggu dosen mereka datang.


“Hari ini dosen kita bukan Sir Arka, jadi gak asik yaa kan Shif,” ucap Zai mengawali obrolan mereka.


“Zai,” tegur Shifa.


“Hehe.. just kidding Shifa,” ucap Zai.


“Oh yaa by the way, ada hal yang ingin aku tanyakan sama kamu Cel,” ucap Shifa.


“Oh yaa ? Apa itu ?” ucap Celine.


“Kamu kenal sama Sir Arka ?” tanya Shifa.


“Iya,” ucap Celine dengan santai.


“Jadi kamu tahu kalau kak Arka itu teman satu angkatannya kak Zano ?” tanya Shifa.


“Iya Shif aku tahu,” ucap Celine dengan santai.


Zainab hanya menyimak obrolan antara Shifa dan Celine.


“Jadi, kamu kok tidak pernah cerita Cel kalau kamu mengenali kak Arka dari awal,” ucap Shifa dengan nada sedikit terkejut.


“Kamu kan tidak pernah tanya Shif,” ucap Celine santai.


“Celine,” ucap Shifa.


“Iya-iya,” ucap Celine sambil tersenyum.


“Kak Arka juga mengenali kamu Cel ?” tanya Zai tiba-tiba.


“Iya,” jawab Celine singkat.


“Bagaimana ceritanya ?” tanya Zai.


“Jadi dulu itu, kak Zano dan kak Arka adalah teman satu kelas dan satu jurusan. Mereka mengambil jurusan Hubungan Internasional sama seperti kita ini. Namun bedanya adalah meskipun mereka berdua masih dari negara yang sama seperti kita Shif, tapi aku dan kak Zano sejak kecil sudah menetap di negara ini sedangkan kak Arka adalah mahasiswa pilihan yang mendapatakan beasiswa dari negaranya. Kalau kak Zano, mengikuti tes langsung tanpa mengambil program beasiswa seperti aku,” ucap Celine menjelaskan.


“Oh jadi kak Zano lulusan HI dong,” ucap Zai.


“Iyaps bener sekali,” ucap Celine.


“Kamu tidak pernah cerita sih Cel,” ucap Shifa.


“Makanya kamu dan Zai sekali saja menginap di rumah aku,” ucap Celine.


“Kamu akan ceritakan semuanya ?” tanya Shifa ragu.


Celine tidak paham maksud ucapan Shifa.


“Iya semuanya. Apa yang ingin kalian ketahui,” ucap Celine tanpa sadar kalau dia adalah anak dari seorang mafia internasional.


“Jadi, kalau kami menginap di rumah eh maksud aku istana kamu Cel, kak Zano bisa bantu kita dong mengerjakan tugas,” goda Zai.


“Sure,” ucap Celine.


“Tapi kamu tahu dari mana Shif kalau kak Zano dan kak Arka saling kenal ?” tanya Celine tiba-tiba.


“Oh itu, kemarin itu waktu kak Zano jemput aku di kampus, gak sengaja ketemu juga sama kak Arka di halaman kampus,” ucap Shifa.


“Oh, tapi kamu tahu nomer ponsel kak Zano dari mana ?” tanya Celine.


“Dari name card nya kak Zano,” jawab Shifa.


“Oh.. Pasti kak Zano kan yang kasih ke kamu Shif ?” ledek Celine yang sudah mengetahui kalau sepupunya itu menyukai Shifa namun dia belum tahu perasaan Shifa terhadap Zano dan itu yang ingin dia cari tahu.


Shifa ingin menjelaskan dari mana ia mendapatkan kartu nama Zano kepada Celine namun sebelum Shifa mengatakannya, Zai lebih dulu berbicara.


“Jadi, kalau begitu kak Zano juga kakak alumni kita dong Shif,” ucap Zai tidak percaya.


“Iya dong, makanya aku belajar sama kak Zano sebelum tes masuk universitas ini. Kak Zano mendapatkan nilai cumlaude saat dia lulus strata satu makanya aku lulus juga,” ucap Celine.


“Tapi yang aku lihat hubungan antara kak Zano dan kak Arka kok kurang baik yaa ?” tanya Shifa.


“Iya sih, mereka memang tidak pernah akrab sebelumnya karena setahu aku mereka memiliki sebuah masalah yang aku sendiri gak tahuapa masalahnya,” ucap Celine sambil berpikir.


“Kak Zano dan kak Arka hanya dua tahun lebih tua dari kita, tapi gelar mereka tidak main-main yaa..” ucap Zai.


“Memangnya kak Zano lulusan strata dua juga ?” tanya Shifa yang bingung makna ucapan Zai.


“Kamu kok tahu Zai ?” tanya Celine.


“Bener ?” ucap Zai kaget.


“Iya, kak Zano bahkan lulusan strata tiga di usia muda. Keren bukan ?” ucap Celine sambil tersenyum menaikkan salah satu alisnya pertanda bangga.


“Iya kak Zano yang keren bukan kamu,” canda Zai sambil tertawa.


Shifa yang melihat tingkah dua temannya itu hanya tersenyum dan beberapa saat kemudian dosen mereka datang dan siap memulai pelajaran.