
Malam hari, pukul 8 malam seperti biasanya Shifa dan Zainab sedang mengulang materi dari kampus mereka serta mengerjakan tugas-tugas dari para dosen mereka.
“Shif,” ucap Zai.
“Ya?” balas Shifa.
“Ponsel kamu getar tuh,” ucap Zai.
“Oh yaa,” Shifa sampai tidak sadar kalau ponselnya sedang bergetar pertanda ada panggilan masuk karena serius mengerjakan tugasnya.
Tring Tring Tring… Bunyi ponsel Shifa yang berada di atas nakas di samping kasur mungil miliknya. Shifa melihat nama pemanggil di ponselnya, siapa yang meneleponnya malam-malam begini pikirnya. Dan ternyata Khaula adik Shifa yang pertama. Tak menunggu waktu lama dia mengangkat teleponnya.
“Assalamu’alaykum Kak,” ucap Khaula.
“Wa’alaykumussalam,” jawab Shifa.
“Kak ba-..,” suara Khaula terputus membuat Shifa menjadi bingung.
“Dek, kamu sedang dimana? Kamu gak papa kan dek?” tanya Shifa yang khawatir pada adiknya.
“Tidak Shifa,” ucap seorang wanita di seberang telepon dan Shifa sangat mengenali suara itu.
“Ibu..,” ucap Shifa sambil membayangkan betapa lamanya dia tidak bertemu dengan ibunya.
“Iya ini Ibu Shifa,” ucap Ibu Dahlia.
“Bu…,” lirih Shifa tiba-tiba yang dapat di dengar oleh ibunya pasti.
“Nak, bagaimana keadaanmu disana? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Bu Dahlia.
“Baik Bu.. Ibu aku sangat rindu sama Ibu,” tangis Shifa pecah.
“Hey Nak, jangan menangis,” ucap Bu Dahlia.
“Ibu dan Ayah baik-baik aja kan disana?” tanya Shifa.
“Iya Nak. Kami baik-baik saja disini,” ucap Bu Dahlia berbohong.
“Bu..,” ucap Hafsa yang didengar Shifa dari seberang telepon.
“Apakah itu Hafsa, Bu?” tanya Shifa.
“Ya.. Apa kamu mau berbicara dengannya?” tanya Bu Dahlia.
“Iya Bu.. Aku rindu sama adik-adikku,” ucap Shifa.
Tak beberapa lama, suara Khaula dan Hafsa terdengar.
“Halo, kak..,” ucap Hafsa.
“Halo Dik, bagaimana keadaan kamu dan Khaula?” tanya Shifa.
“Kami baik kok kak. Kakak bagaimana disana?” tanya Hafsa.
“Baik Alhamdulillah. Oh yaa kita VC saja yuk, kakak mau lihat wajah kalian sama Ayah juga,” ucap Shifa.
“Hmm.. tidak bisa kak, Ayah lagi istirahat soalnya,” ucap Khaula karena telepon sudah beralih padanya.
“Oh gitu.. Tapi bisa kan kalau kakak lihat wajah kalian sama Ibu. Kakak mau tahu kalian sedang apa,” ucap Shifa yang penasaran.
“Hmm.. ,” ucap Khaula sambil melihat Ibu Dahlia. Khaula menjauhkan teleponnya dan bertanya kepada ibunya.
“Bu.. Bgaimana ini? Kak Shifa minta VC?” ucap Khaula.
Ibu Dahlia mengangguk pertanda setuju. “Tapi kita harus keluar dari ruangan ini agar kakakmu tidak meminta untuk melihat keadaan ayah sekarang,” bisik Bu Dahlia ke telinga anaknya.
Khaula mengangguk sedangkan Hafsa hanya menyimak tingkah ibu dan kakaknya.
“Baik kak, tunggu sebentar yaa,” ucap Khaula kepada Shifa.
“Kenapa lama banget?” tanya Shifa.
“Iya kak, sabar kenapa. Apa kakak sudah tidak sabar untuk melihat wajah cantik adikmu ini hah?” canda Khaula.
“Hmmm… GR kamu, aku mau melihat Hafsa. Dimana Hafsa? Kenapa kamu sekarang yang berbicara?” ucap Shifa meladeni candaan adiknya.
“Ini kan ponsel ku,” ucap Khaula tak mau kalah.
“Sudah-sudah ayo katanya mau VC,” ucap Bu Dahlia yang di dengar oleh Shifa melalui sambungan telepon. Ibu Dahlia dan anak-anaknya sudah keluar dari kamar rumah sakit dan sekarang sedang duduk di kursi yang berada di lorong rumah sakit.
“Hm… Kalian sedang apa?” tanya Shifa.
“Menunggu ayah tadi,” ucap Hafsa.
“Semoga ayah cepat sembuh yaa. Kalian juga jaga Ibu disana. Jangan nakal,” ucap Shifa.
“Iya-iya..” sambung Khaula yang ingin wajahnya terlihat juga di kamera. Ibu Dahlia yang duduk di tengah-tengah antara Khaula dan Hafsa hanya tersenyum melihat kedekatan anak-anaknya meski dari jarak jauh.
“Kakak makin cantik aja nih selama berada dinegara Eropa. Bagaimana rasanya disana kak?” tanya Hafsa. Ya, Hafsa memiliki karakter lebih lembut dibandingkan dengan Khaula. Hafsa hampir sama dengan Shifa yang memiliki sifat penyedih sedangkan Khaula adalah karakter gadis yang bersemangat dan pastinya sering melempar candaan kepada Shifa, kakaknya.
“Hm.. Kakak nyaman disini dek, apalagi ada sahabat kakak disini yang selalu menemani kakak. Oh yaa kalian belum tahukan wajah Zainab bagaimana,” ucap Shifa.
Shifa sebenarnya sudah menceritakan kepada keluarganya tentang Zai, namun hanya sedikit karena pada saat itu Shifa belum terlalu mengenal Zai meskipun sudah chattingan via WhatssApp.
Zainab yang dari tadi berada di samping Shifa tersenyum kepada Shifa karena Shifa memperlihatkan wajahnya kepada keluarganya Shifa melalui VC.
“Assalamu’alaykum Ibu, Khaula, Hafsa,” ucap Zai menyapa keluarga Shifa.
“Wa’alaykumussalam kak Zai,” ucap Khaula dan Hafsa.
“Wa’alaykumusslaam Nak,” ucap Bu Dahlia.
“Wah kak Zai cantik banget ternyata orangnya,” ucap Hafsa.
“Terima Kasih,” ucap Zai.
“Wah.. kak Zai bisa berbahasa Indonesia dengan baik,” seru Khaula.
“Hehehe,” Zai tertawa karena sikap Khaula yang lucu.
Percakapan mereka berlangsung selama dua jam dan berkahir dengan candaan dari Khaula pastinya. Khaula melakukan itu agar kakaknya tidak menanyakan tentang ayahnya.
“Adik kamu lucu juga yaa Shif,” ucap Zai.
“Hmm Khaula memang gitu Zai tapi berbeda dengan Hafsa,” ucap Shifa.
“Iyalah tu kakak yang si paling sayang adik hehe,” ucap Zai.
Mereka melanjutkan mengerjakan tugas kuliah mereka lalu tidur.
***
Pukul 02.00 pagi dini hari, Zano terbangun dari tidurnya lalu keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minuman soda. Ternyata Marcel juga belum tidur dan sedang memainkan ponselnya di mension utama tak lupa secangkir kecil wine di hadapannya. Marcel yang melihat Zano berjalan menuju dapur pun menyapanya.
“Hey, Zan..,” ucap Marcel.
Zano tidak merespon dan tetap berjalan ke dapur.
“Hishh dasar Tuan Zano yang dingin, aku selalu kesal jika berbicara padamu,” ucap Marcel.
“What do you say?” ucap Zano yang sudah berdiri di belakang Marcel.
“Zan.. kau mengagetkanku. Heh tadi aku panggil kau diam saja. Aku kecewa lah,” ucap Marcel.
“Kalau bosan kau pergi saja dari sini,” ucap Zano santai sambil duduk di sebelah Marcel dengan minuman soda di tangannya.
“Tega kamu Zan.. Btw.. Celine kenapa sampai ngambek gitu Zan? Kamu apakan dia sampai sekesal itu?” tanya Marcel serius.
Zano meneguk minuman soda di tangannya dan meletakkan minumannya di atas meja.
“Kenapa kamu gak tanya langsung sama dia?” jawab Zano masih dengan gaya dinginnya.
“Justru karena Celine gak mau jelasin makanya aku tanya kamu Zan,” ucap Marcel.
“Biasa cewek memang gitu,” ucap Zano singkat.
“Apa ini ada hubungannya dengan Shifa?” tanya Marcel.
Zano tersenyum ketika mendengar nama Shifa.
“Heh Zan, kenapa kamu tersenyum begitu. Aku ngeri liatnya,” ucap Marcel yang tidak nyambung.
“Madinah,” ucap Zano pelan tapi masih di dengar oleh Marcel.
“Kan bener kamu suka kan sama Shifa,” ucap Marcel.
Zano tidak merespon ucapan Marcel lalu Zano menyandarkan kepalanya ke sofa dan menutup matanya. Marcel yang melihat itu hanya heran dan bingung atas sikap bosnya itu.