Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 36



Di perjalanan pulang, Arka masih sibuk memikirkan siapa Marcel. Di dalam mobil miliknya dia terpikir untuk mencari tahu siapa Marcel itu dan apakah dia ada hubungannya dengan Zano atau bukan.


“Lebih baik aku hubungi Zainab” ucapnya.


Tit.. Tit… Bunyi ponsel Zainab.


“Hah Sir Arka ada apa malam-malam begini telpon?” tanyanya dalam hati.


“Assalamu’alaykum kak,” ucap Zai setelah menyentuh tombol hijau di layar ponselnya.


“Wa’alaykumussalam Zai. Maaf kakak ganggu kamu malam-malam begini tapi kakak hanya khawatir dengan Shifa. Apa Shifa sudah di asrama sekarang?” tanya Arka.


Zainab mengernyitkan alisnya. “Aku pikir kakak bersama dengan Shifa sekarang,” jawabnya.


“Tidak Zai. Hm.. tadi siang memang iya kakak bersamanya tapi..,” ucapan Arka terputus.


“Tapi apa kak?” tanya Zai dengan menggebu karena merasa khawatir dengan Shifa.


“Apa kamu mengenal seseorang yang bernama Marcel?” tanya Arka.


Zainab mencoba mengingat, “Ah.. ya Kak Marcel aku tahu kak,” ucap Zai.


Arka terdiam mendengar jawaban Zainab. Entah apa yang dipikirkannya sekarang tapi yang jelas dia masih bingung harus apa sekarang.


“Kak Arka?” ucap Zai yang bingung karena Arka tidak mengatakan apapun.


“Ya.. Ok baiklah Zai kakak tutup dulu yaa telponnya. Assalamu’alaykum.”


“Wa’alaykumussalam,” ucap Zai menatap telpon genggamnya dengan bingung.


Disisi lain…….


Marcel yang baru saja mengantar Shifa pulang dan sekarang dia sedang berada di kamar utama milik Zano yang bernuansa hitam elegant itu.


“Apa kau yakin Shifa sudah sampai dengan selamat?” tanya Zano kepada Marcel yang berada di sampingnya.


“Of course Tuanku…,” ucap Marcel.


“Are you sure?” tanya Zano menyelidik.


“Iyaa Tuan Muda Zano…” jawab Marcel lagii.


“Apa kau tau aku sangat khawatir padanya,” ucap Zano seketika kalimat itu terucap dari mulutnya.


“Wahh it’s amazing. Gak biasanya Tuan Zano berkata seperti ini,” ucap Marcel dalam hatinya.


“Hesssshh..,” membuat Marcel terkejut karena tiba-tiba Zano merasa kesal dengannya.


“Ada apa Tuan, aku tidak menyentuhmu sungguh,” ucap Marcel dengan gaya ketakutannya.


“Do you know? Berani-berani kamu bawa Shifa ke mension. APA KAU TAU SAAT INI DEVIL HORNS SEDANG MENGINTAI GERAK-GERIK KITA,” ucap Zano dengan sedikit emosi.


“Apa-apaan ini. Setelah semua yang ku lakukan. Apa semuanya salah? Aku lihat dia tadi sangat senang,” Marcel mengomel tapi tentu saja dalam hati.


Marcel masih diam lalu setelah beberapa saat dia mulai berucap, “ Tu-tuan kenapa kau tiba-tiba emosi seperti ini. Bukannya kau merasa senang kalau saat seperti ini ada Shifa di sampingmu.”


“Tapi aku gak mau kalau Shifa jadi terluka gara-gara aku,” ucap Zano.


Marcel hanya diam mencerna ucapannya tuannya itu.


“Marcel, mulai sekarang kau awasi Shifa, kau bisa meminta bantuan kepada anggota Balck Wolf lainnya, tapi ingat jangan sampai kau salah memilih. Dan.. aku akan ke mension utama sekarang, kumpulkan semua anggota Black Wolf,” ucapnya.


“Baik Tuan,” ucap Marcel lalu segera mengerjakan apa yang diperintahkan Zano kepadanya.


***


“Assalamu’alaykum..” ucap Shifa sambil membuka pintu kamarnya.


“Wa’alaykumussalam,” jawab Zainab.


Zainab berlari kecil kearah Shifa berdiri, “Kamu dari mana saja Shif. Aku sangat khawatir sama kamu,” ucap Zai langsung memeluk Shifa.


“Aku gak apa-apa Zai,” balas Shifa.


“Ayo cerita sama aku sekarang,” Zainab menarik tangan Shifa untuk duduk di lantai yang sudah dialasi oleh karpet.


“Tadi aku ke rumahnya kak Zano,” ucap Shifa.


“Mension maksud kamu?” tanya Zai.


“Iya itu..,” ucap Shifa sambil meletakkan tasnya dan membuka jaket serta syalnya di atas kasurnya.


Shifa membuka hijabnya sambil menjelaskan kepada Zai. Ya memang kalau mereka sedang berdua di kamar asrama mereka melepas hijabnya tapi terkecuali ada orang lain baik wanita ataupun pria.


“Tadi kak Marcel yang jemput aku di kampus,”ucap Shifa.


“Oh pantesan kak Arka bilang begitu tadi di telpon,” ucap Zai dengan suara kecil tapi masih bisa didengar oleh Sahabatnya.


“Siapa Zai yang bilang apa?” tanya Shifa duduk kembali disamping Zai.


“Tadi kak Arka telpon aku. Makanya aku tau kamu bersama kak Marcel,” ucap Zai.


“Jadi kamu udah tau Zai?” tanya Shifa terkejut.


Zai mengangguk dan melajutkan ucapnnya,”Iyaa.. tapi bukannya aku gak percaya sama kamu Shifa hanya saja aku takut terjadi apa-apa denganmu,” ucap Zainab tulus.


“Huff.. aku juga tidak tahu” ucap Shifa.


“Tidak tahu apa?” tanya Zai.


“Aku merasa ada yang aneh, Zai”


“Apa yang terjadi denganmu Shif? Kamu baik-baik aja kan?” tanya Zai bertubi-tubi.


“Gak Zai aku baik-baik aja.. tapi aku merasa ada yang aneh dengan kak Zano. Tadi kak Zano minta aku untuk berhati-hati tapi saat aku tanya kenapa dia enggan untuk menjawabnya,” jelas Shifa.


“Hm… tak mungkin kan kak Zano itu…..” ucap Zai.


“Apa Zai?” tanya Shifa penasaran.


“Mafia,” bisik Zainab.


Shifa melototkan matanya karena terkejut atas ucapan sahabtanya itu.


“Zai…,”


“Tapi gak mungkin juga Shif.. kamu jangan takut duluan. Bisa saja tidak kan.” Ucap Zainab.


“Yasudahlah Zai jangan mikir yang aneh-aneh. Semoga aja tidak. Btw kak Arka telpon kamu tadi bicara soal apa. Apa ada yang salah yaa dengan kerjaan aku tadi,” ucap Shifa.


“Bukan Shifa…. Kak Arka itu khawatirin kamu tau gak?” ketus Zainab.


“Gak mungkinlah,” ucap Shifa.


“Apanya yang gak mungkin, kak Arka itu care sama kamu. Aku udah lama mengamati itu,” ucap Zai.


“Yaelah mengamati yaa Zai.. kayak detektif aja kamu tuh..” canda Shifa.


Percakapan mereka diisi dengan canda dan tawa. Begitulah kedekatan dan kebersamaan dua gadis itu saat bersama.


***


“Kak Marcel” panggil Celine.


“Ya?”


“Jadi kapan aku mulai bisa ngampus?” tanya Celine.


“I don’t know yet,” jawabnya.


“Hufff I know” ucap Celine sambil tersenyum sedikit lalu beranjak ke kamar pribadinya.


Zano saat ini sedang berhadapan dengan seluruh anggota Black Wolf di ruang utama. Disana juga ada Ayah Zano, Uncle Jordan dan tentunya Marcel.


“Kalian pasti sudah tau apa yang terjadi dengan si penghianat itu. Hah terlalu mudah untuk menghabisinya.” Ucap Zano dengan senyum seringainya.


Semua anggota Black Wolf terdiam dan ketakutan pastinya karena Tuan mereka sedang benar-benar marah sekarang.


“Jika diantara kalian mencoba untuk berkhianat lagi kalian akan tau akibatnya,”


Dor !!! Dor !! Dor !!!.. tiga tembakan melayang di udara. Zano melakukan itu tiba-tiba saat amarahnya memuncak itu adalah pelampiasannya.


“Zano tenangkan dirimu,” ucap Uncle Jordan.


“Heh…,” tawa Zano remeh.


“Saya tau apa apa yang dilakukan Davil Horns kepadanya. Untuk semuanya.. Kalian harus berhati-hati dan jangan lengah ataupun mencoba untuk berkhianat. JIKA KALIAN MELAKUKAN ITU MAKA KALIAN BELUM MENGENAL BLACK WOLF,” ucap Zano dengan tegas lalu beranjak ke kamarnya.


Semua anggota Black Wolf tampak tulus setia kepada Black Wolf dan Marcel mengetahuinya karena saat ini dia juga sedang menyuruh seseorang untuk mengamati dan mengamankan seluruh anggotanya.


“Kalau tadi Shifa tidak datang, entah apa yang terjadi pada mereka,” pikir Marcel.