Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 25



Di ruang dosen, Arka baru saja tiba di kampus memasuki ruang pribadinya melihat lembaran dokumen yang Shifa kerjakan. Dia memeriksa hasil pekerjaan Shifa.


“Excellent !” ucap Arka sambil melihat lembaran dokumen dan layar komputernya, memeriksa hasil pekerjaan Shifa juga yang dikirim melalui email.


Arka sangat puas dan terkesan atas hasil pekerjaan Shifa dan dia meyakini bahwa Shifa adalah gadis yang cerdas. Dia mengingat kejadian saat terakhir kali dia bertemu dengan Shifa dan Zano sore itu di kampus.


“Sepertinya aku menyukainya,” ucapnya dalam hati sambil tersenyum bahagia.


***


Kelas sudah selesai. Shifa, Zai dan Celine bergegas untuk segera pulang. Namun, setelah semua mahasiswa sudah keluar dari kelas, tampak seorang lelaki memasuki kelas dan menghampiri Shifa, Zai dan Celine yang masih duduk.


“Sir Arka,” ucap Celine.


Dan benar apa yang diucapkan Celine, Arka mengenalinya.


“Celine,” ucap Arka.


Shifa, Zai dan Celine hanya tersenyum melihat Arka.


“Ada apa yaa Sir ? Apa pekerjaan saya ada yang harus diperbaiki ?” tanya Shifa.


“Oh tidak.. tidak.. Bukan itu. Saya ada perlu dengan Zainab,” ucap Arka.


“Saya Sir ?” tanya Zai bingung.


Shifa dan Celine tampak bingung juga.


“Iya kamu. Kamu bisa kan temui saya pukul 1 siang di café kampus ?” tanya Arka.


Zai melihat Shifa dan Celine. Shifa yang melihat Zai mengangguk pertanda Zai tidak harus pulang bersamanya dan Celine.


“Okay Sir,” ucap Zainab masih tampak bingung.


Arka yang mendengar hal itu tersenyum dan keluar dari kelas.


“Ada apa ya kak Arka panggil kamu Zai ?” tanya Celine.


“Aku tidak tahu juga,” jawab Zai.


Shifa yang tak mau ambil pusing mengajak dua temannya itu keluar kelas untuk pulang.


“Zai, kamu tidak apa-apa pulang sendirian ? Apa aku temani saja kamu menemui kak Arka ?” tanya Shifa.


“Tidak perlu Shif, aku bisa kok pulang sendiri. Lagipula aku juga tidak akan pulang sore,” ucap Zai.


“Tapi Shifa mengkhawatirkan kamu Zai, takutnya kamu seperti Shifa waktu itu,” ucap Celine yang membuat Shifa tambah khawatir.


“Iya Celine benar Zai. Aku sangat khawatir dengan kamu,” ucap Shifa.


Mendengar ucapan dari Shifa dan Celine, Zainab tersenyum dan berusaha menghilangkan kekhawatiran teman-temannya.


“Aku hanya akan berada di kampus bukan mau pergi ke suatu daerah yang jauh jadi kalian tidak usah over, okay ?” ucap Zainab menenangkan dua orang temannya itu.


“Yawudah, tapi kalau kamu butuh bantuan, kamu jangan lupa telepon aku yaa Zai,” ucap Shifa.


“Sure,” ucap Zainab.


***


Di halaman kampus, sudah terlihat mobil milik Zano sedang menunggu.


“Shif…” ucap Celine saat berjalan menuju mobil sepupunya.


“Ya ?” tanya Shifa.


“Pulang bareng aku yuk,” ajak Celine.


Sebenarnya Shifa ingin menolak namun dia teringat saat dia menolak ajakan dan bantuan dari Celine, Celine merasa kecawa dan Shifa tidak ingin itu terjadi lagi.


“Tapi.. Kak Zano tidak sedang sibuk kan ?” tanya Shifa.


“Tidak kok,” jawab Celine sambil tersenyum.


Shifa membalas senyuman dari Celine dan Celine tahu itu pertanda Shifa setuju.


Dua gadis itu menghampiri Zano yang berada di dalam mobil.


Mendengar panggilan dari Celine, Zano hanya diam dan malas untuk menanggapi ucapan dari Celine.


“Ayo, Shif…” ucap Celine.


Celine membukakan pintu belakang mobil untuk Shifa.


“Thanks,” ucap Shifa sambil tersenyum.


Kemudian Celine masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Zano. Zano tidak mempermasalahkan kalau Celine mengajak Shifa untuk pulang bersama. Justru dia bahagia bisa melihat wajah Shifa yang membuat hatinya mejadi tenang.


“Kak Zan..” ucap Celine.


“Hm…” ucap Zano.


“Gak papa-papa kan kalau aku ajak Shifa pulang bareng kita ?” tanya Celine.


“It’s okay,” ucap Zano dengan sikap coolnya sambil menekan pedal gas mobilnya dengan laju yang sangat cepat.


Celine tersenyum mendengar jawaban dari sepupunya itu dan dia melihat ke arah belakang mobil memberikan senyuman kepada Shifa juga.


Sebenarnya Celine sudah membuat sebuah rencana agar Shifa dan kakak sepupunya itu menjadi lebih dekat. Semenjak Celine tahu kalau Zano menyukai Shifa, dia sangat bahagia dan akan selalu mencari cara agar Zano dan Shifa bisa menjadi lebih dekat. Tapi semua hal itu, tentu saja tanpa diketahui oleh Zano.


Di sepanjang perjalanan, Celine tidak berhenti berbicara,namun Zano menanggapinya dengan sikap datar dan dingin tapi Zano memang seperti itu sifatnya sehingga Celine sudah memakluminya. Begitu juga dengan Shifa yang hanya diam dan terkadang membalas ucapan dari Celine.


“Kak Zan..,” ucap Celine.


Zano hanya diam.


“Kak Zan..!” teriak Celine.


Shifa yang melihat sikap Celine dan Zano hanya tersenyum.


“Lihatlah Shif, betapa dinginnya manusia yang berada di sampingku ini. Aku tidak salahkan membuat nama lainnya kulkas,”ucap Celine dengan wajah cemberut.


“Iya kamu benar Celine,” ucap Shifa sambil tertawa.


Zano merasa bahagia bisa melihat Shifa tertawa. Melihat ekspresi Shifa, tidak sadar Zano tersenyum dan hal itu dilihat oleh Celine.


“Kalau Shifa yang mengatakannya, kak Zano merubah sikapnya,” sindir Celine.


Shifa terkejut atas ucapan Celine dan membuat wajah Shifa bingung tidak mengerti. Zano yang menyadari perkataan Celine langsung merubah sikapnya kembali seperti semula.


“Oh yaa Shif, sebelum aku dan kak Zano antar kamu pulang, kita pergi dulu yuk ke suatu tempat,” ucap Celine.


Zano yang mendengar ucapan Celine hanya diam.


“Hah ? Tidak perlu lah Cel, tugas kita menumpuk juga jadi lebih baik kita pulang aja,” ucap Shifa menolak.


“Yahh… Ayolah Shif.. Sebentar aja. Justru karena tugas kita banyak jadi aku pikir ini waktu yang tepat untuk refreshing sebentar. Ayolah Shif..,” pinta Celine.


“Tapi…,” ucap Shifa ragu.


“Anggap aja ini hadiah dari aku karena kamu telah diangkat menjadi asisten dosen di kampus. Bagaimana?” ucap Celine.


Karena Celine sedikit memaksa, akhirnya Shifa menyetujuinya. Zano yang mendengar ucapan Celine sedikit terkejut karena dia tidak mengetahui tentang hal itu. Dan Zano berpikir itu pertanda bahwa Shifa akan dekat dengan Arka.


“Memangnya kita mau pergi kemana Cel ?” tanya Shifa.


“Ke suatu tempat yang indah, dan tidak terlalu jauh juga. Kak Zan, ayo kita pergi ke tempat itu,” ucap Celine kepada sepupunya itu.


“No,” ucap Zano.


Celine terkejut atas jawaban Zano, dia pikir Zano akan setuju saja. Celine menoleh ke arah wajah Shifa dan memberi kode melalui wajahnya kalau dia butuh bantuan dari Shifa dan Shifa mengerti maksud temannya itu.


“Hmm.. Kak Zan,”


Belum sempat Shifa melanjutkan perkataannya, Zano sudah menimpali ucapannya.


“Tugas kuliah kamu menumpuk jadi harus segera diselesaikan,” ucap Zano datar.


“Tidak apa-apa kok kak. Aku bisa mengerjakannya nanti malam. Lagipula deadlinenya masih lama,” ucap Shifa.


Zano hanya diam dan menambah kecepatan mobilnya.