
Kediaman Devil Horns
Dua anggota kepercayaan Faelardo, siapa lagi kalau bukan Charles dan Maxim sedang berjalan menuju ruangan pribadi Tuannya, si ketua Devil Horns. Mereka sudah siap untuk melaporkan informasi apa saja yang mereka dapat hari ini.
Tuk Tuk Tuk…
Faelardo yang mendengar pintu ruangannya diketuk langsung menyuruh orang yang berada disana masuk.
“Selamat Malam Tuan,” ucap Maxim.
“Tidak usah banyak bicara, katakan apa yang ingin kalian katakan,” balas Faelardo yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan gaya angkuhnya.
“Begini Tuan, hari ini si ketua Black Wolf itu sedang membawa Celine dan Shifa jalan-jalan di Taman Pariwisata. Sepertinya memang benar Tuan, Zano menyukai gadis yang bernama Shifa itu,” jelas Maxim panjang lebar.
“Ya, benar Tuan bahkan Zano tidak pernah menolak setiap permintaan gadis itu Tuan,” Charles menambahi penjelasan dari Maxim.
“Aku tahu, tapi belum saatnya kejutan itu aku berikan. Masih ada waktu emas yang akan aku tunggu. Kalian terus pantau apa saja kegiatan mereka. Jangan sampai ada satu hal yang terlewat,” ucap Faelardo dengan nada serius.
“Baik Tuan,” ucap Charles.
“Tapi Tuan sampai kapan kita menunggu? Kenapa tidak segera saja kita laksanakan Tuan,” ucap Maxim yang kembali dengan sikap lolanya.
Pertanyaan Maxim membuat kemarahan si Ketua Devil Horns itu memuncak. Hal itu membuat Charles merasa kesal, berani-beraninya Maxim mengatakan hal seperti itu kepada Faelardo.
“Apa kau sudah tahu apa rencanaku?” tanya Faelardo dingin sambil menatap intens Maxim yang berada di hadapannya.
Maxim yang baru sadar akan ucapannya, segera menundukkan kepalanya karena ia takut Tuannya itu akan memberikan hukuman kepadanya karena sudah lancang.
“JAWAB!!” ucap Faelardo dengan suara yang menggelegar.
“Ti.. Tidak Tuan. Maafkan saya Tuan. Saya tidak bermaksud..”
Ucapan Maxim terhenti karena Faelardo memotong ucapannya.
“Keluar atau aku akan berubah pikiran,” ucap Faelardo tanpa melihat Maxim dan Charles.
“Baik Tuan,” ucap Maxim dan Charles bersamaan lalu mereka kaluar dari ruangan yang menurut mereka sangat menyeramkan itu.
“Max..” ucap Charles saat sudah keluar dari ruangan Faelardo.
“Maaf,” ucap Maxim yang tahu akan makna ucapan Charles.
“Kau tahu kan saat kapan kita bisa bertanya pada Tuan dan kapan saat kita tidak bisa bertanya?”
“Ya, aku tahu Char… tapi kau kan tahu. Semakin kita lama melanjutkan misi Tuan Faelardo, kita juga nanti yang repot. Kau tahu, anggota Black Wolf yang lainnya juga pasti akan memata-matai kita. Kalau saja kita tertangkap, bisa habis riwayat kita Les..” ucap Maxim serius.
“Aku tahu tapi bukan ini saatnya untuk kau membicarakan hal ini pada Tuan. Lebih baik kita tunggu waktu yang tepat,” ucap Charles.
Maxim hanya mengangguk kemudian mereka melanjutkan tugas mereka.
***
“Thanks kak Zan,” ucap Shifa yang sudah turun dari mobil milik Zano dan Zano sedang berdiri di hadapan Shifa saat ini sedangkan Celine masih duduk di kursi belakang mobil sambil membuka kaca mobilnya supaya bisa melihat Shifa dan Zano.
Zano menyerahkan makanan yang dia beli tadi kepada Shifa tanpa menjawab ucapan dari Shifa.
“Kak Zan..” ucap Shifa heran karena lelaki yang berada di hadapannya tidak menjawab perkataannya tapi malah menatapnya dalam.
“Hemm…,” jawab Zano singkat.
“Ckk… Apa kakak selalu seperti ini?” tanya Shifa kesal karena sikap Zano yang sangat dingin padahal Shifa sudah tahu itu tapi tetap saja dia merasa kesal.
“Seperti apa?” tanya Zano yang sengaja membuat Shifa cemberut karena menurutnya wajah Shifa sangat imut saat cemberut.
“Celine, aku masuk dulu yaa bye-bye,” ucap Shifa tanpa menghiaraukan ucapan Zano karena dia malas berdebat dengan Zano.
“Madinah,” panggil Zano saat Shifa akan masuk kedalam asrama sedangkan Celine hanya mengamati keadaan di depannya.
Tanpa menjawab Shifa menoleh ke arah Zano.
“Apa tidak ada yang ingin kau ucapkan?” tanya Zano.
“Hishhh.. Tadi kan aku sudah bilang sama kakak tapi kak Zano malah diam aja,” ucap Shifa dengan polosnya tanpa sadar kalau Zano masih menjailinya sekarang.
“Sepertinya sepupuku ini sangat menyukai Shifa,” gumam Celine yang berada di dalam mobil.
Zano sebenarnya ingin memeluk Shifa tapi dia tahu Shifa pasti akan marah jika dia melakukannya dengan sengaja. Zano berjalan mendekati Shifa.
“Ada apa kak?” tanya Shifa canggung karena Zano sudah berada sangat dekat didepannya sekarang.
“Happy meal and take care yourself,” bisik Zano dengan lembut sambil tersenyum dan Shifa baru kali ini melihat Zano senyum setulus itu.
Shifa sempat tersenyum sebentar namun dia tidak mau Zano melihatnya sehingga dia kembali bersikap biasa saja saat Zano sudah sedikit menjauh dari hadapan Shifa.
“Sure,” jawab Shifa singkat.
Zano sebenarnya belum puas melihat wajah Shifa yang dapat menenangkan hatinya namun tidak mungkin dia meminta Shifa terus berada di sisinya karena saat ini sepertinya Shifa belum mau membuka hatinya untuk siapapun.
“Eheem ehem..” terdengar deheman dari Celine yang sudah lama menunggu Zano untuk kembali ke dalam mobil.
“Kak, apa harus selama itu? Kita bisa bertemu Shifa lagi besok.”
Zano langsung masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan ucapan dari sepupunya itu. Shifa merasa malu karena Celine sampai berdehem karena suasana tadi langsung masuk menuju asrama.
“Kak Zan. Apa yang kakak bicarakan tadi sama Shifa?” tanya Celine penasaran.
Zano diam dan diam lagi, malas untuk merespon ucapan Celine yang cempreng.
“Kak Zan…” rengek Celine yang masih berada dibelakang Zano.
“Kenapa kau tidak pindah kedepan. Kau pikir aku supirmu?” ucap Zano dingin mengalihkan pembicaraan Celine yang kepo terhadapnya.
“Aku tidak mau duduk di depan sampai kakak beritahu akau apa yang kakak bisikkan sama Shifa tadi,” ucap Celine dengan gaya cemberutnya.
Zano yang melihat itu tetap tidak luluh dan tidak menghiraukan sikap Celine terhadapnya.
Celine yang merasa diabaikan merasa jengkel dan mengatakan sesuatu yang membuat Zano menaikkan sebelah alisnya.
“Kalau begitu aku tidak akan membuat kamu bertemu lagi dengan Shifa,” ancam Celine.
“Aku bisa bertemu dengannya tanpa bantuanmu Celine,” ucap Zano santai.
“Kalau begitu aku tidak mau diantar olehmu lagi,” ancam Celine lagi.
“Okay kalau begitu Marcel yang akan mengantar dan menjemputmu ke kampus,” ucap Zano serius.
“Aku setuju dan aku tidak mau berbicara lagi denganmu,” ucap Celine yang benar-benar marah.
Zano hanya diam mendengar ucapan Celine sambil melajukan mobilnya dengan kecapatan tinggi.
***
Sedangkan di asrama Shifa sudah masuk kedalam kamarnya karena Shifa sudah membuka pintunya dengan kartu yang dipegangnya.
“Assalamu’alaykum,” ucap Shifa yang di dengar oleh Zai yang sedang berada di dapur mini mereka.
“Wa’alaykumussalam,” jawab Zainab.
“Darimana saja kamu sih Shif, aku sampai khawatir karena aku telpon tapi tidak kamu angkat,” ucap Zai seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang pulang terlambat.
“Oh.. Astaghfirullah, aku sampai lupa Zai. Batrai ponselku habis hehe,” ucap Shifa.
“Hemm… Lain kali kabarin dulu Shif kalau mau telat pulang,”
“Iya-ya” jawab Shifa yang teringat akan ibunya karena sikap Zainab yang tulus kepadanya. Shifa tahu itu bentuk kepedulian Zai terhadapnya.
“Seperti aroma parfume yang aku kenal,” ucap Zai sambil mendengus mencari-cari sumber aroma itu.
Shifa yang melihat Zai mencari-cari sumber
aroma langsung melotot dan mencium pakaiannya dan benar ternyata aroma parfume Zano menempel di baju Shifa.
Zainab yang mengetahui hal itu menatap Shifa intens.
“Ini Zai ada makanan yang dibelikan sama kak Zano,” ucap Shifa canggung sambil meletakkan makanan yang ia bawa tadi di atas meja makan mungil mereka.
“Shif..” panggil Zai.
“Ya?” jawab Shifa.
“Jelaskan,” ucap Zai yang butuh penejelasan dari Shifa.
“Iya Zai nanti saja yaa..”
“SEKARANG!!!”