Unexpected Love

Unexpected Love
5.1 SHE CAN'T ESCAPE FROM HIM



Takdir menjadi mengerikankan ketika seseorang tidak menginginkannya. Nyatanya, takdir bukanlah hal yang bisa kita dapatkan dengan sengaja. Seperti Kiran sekarang dia sedang marah dengan takdirnya. Kenapa dia dipertemukan lagi dan lagi dengan lelaki super menyebalkan seperti Sean. Dan bagaimana bisa Sean duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Kiran bersama dengan koper besarnya.


"Jadi kamu yang menyewakan lantai atas rumah ini ke dia?" tanya Kiran untuk ketiga kali ke Gio lewat sambungan telepon.


Kiran tidak pernah menelepon Kakaknya lagi sejak hari itu. Tapi karena Sean dia rela menambil perkataannya kembali untuk tidak bertemu dan juga berbicara lagi dengan Gio.


"KAMU TAHU SIAPA PENYEWA ITU! MAU KAMU APA? KIRIM KEMBALI UANG SEWANYA KE REKENING SAYA!" bentak Kiran yang rasa kesalnya sudah ada di puncak.


"...."


"SHIT!" umpat Kiran sambil menutup teleponnya.


Sean meneguk salivanya kasar. Dia tidak mengerti apa yang Kiran katakan, tapi yang Sean tahu pasti wanita yang sedang duduk di hadapannya ini sedang marah besar.


"Are you okay?"


"I never be okay, jika kau terus muncul di hadapanku," jawab Kiran. Dia menghela nafasnya kasar. Kiran mencoba tenang.


"Jadi aku bisa dapatkan kunci lantai atas sekaarang?"


"Kau beruntung, saudaraku yang bodoh itu sudah menghabiskan uang yang kau berikan, hanya tiga bulan dan aku tidak mau kau tinggal di atas sana lebih dari tiga bulan,"


"Wajahmu akan cepat menua jika pekerjaanmu hanya marah-marah, ouuuh itu pasti akan membuatmu makin kesal, kita bahkan masuk dengan pintu yang berbeda," celoteh Sean seakan tak peduli dengan apa yang Kiran sedang rasakan. KESAL! Wanita itu sedang kesal dan celotehan Sean makin membuatnya kesal.


"Kau tahu Mr. Goldstein, untuk menghirup udara yang sama denganmu saja aku sudah merasa sesak, dan aku harus menahan diri tentang kenyataan kau menyewa lantai atas..." Kiran mengambil sebuah kunci dengan gantungan pohon palm yang ada di dalam nakas tepat di samping sofa yang sedang Kiran duduki, "ambil kuncimu," Kiran melemparkan kuncinya ke atas meja, "usahakan aku tak melihat wajahmu," kata Kiran sambil berjalan menuju kamarnya.


"Oke Ma'am," sahut Sean.


Kiran berhenti melangkah kakinya, dia menoleh dengan tatapan ingin membunuh. "Apa aku setua itu untuk kau panggil Ma'am heh?" tanya Kiran, tanpa menunggu jawaban Sean, dia masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras.


"She is crazy... bahkan dia terlihat lebih seksi ketika marah-marah" gumam Sean. Dia langsung keluar dari rumah Kiran dan berjalan menaiki tangga yang melingkar yang ada di samping rumah. Walaupun satu atap mereka masuk dari pintu yang berbeda.


Kiran mengintip dari celah pintu kamarnya, "baguslah dia pergi," kata Kiran lalu kembali menutup pintu kamarnya dengan rapat. Kiran masih bersandar di pintu itu, tubuh Kiran merosot ke bawah hingga dia terduduk lesu di atas lantai yang dingin.


"Apa ini takdir?" tanya Kiran dalam hati. Kiran menganggap ini sebuaah takdir yang mengerikan padahal ini semua adalah rencana licik Sean agar tetap bisa menempeli Kiran seperti permen karet.


Kiran mengacak rambutnya, "Ya, aku harus bertanya dulu pada Ed," kata Kiran lalu dia melakukan panggilan cepat ke nomor Edward dengan menekan angka satu.


"Ha-halo," Kiran menyapa Edward dengan gagap.


"Ada apa Kiran? Kau sedang kacau?"


"Jika aku menusuk seseorang apakah aku bisa dibilang pembunuh Ed?" tanya Kiran sambil menggigit kuku jarinya.


"Tentu... jangan lakukan hal bodoh Kiran, aku tidak mau kau terlibat masalah.


"Walau aku menusuknya dengan lidi?" Kiran kembali dengan pertanyaan bodohnya.


"OH MY GOD!" dari kerasnya suara Edward yang terdengar, lelaki itu pasti sedang memekik dari balik telepon.


"Aku sibuk, jangan lakukan yang aneh-aneh, aku akan meneleponmu nanti, berjanjilah untuk jadi gadis baik, bye,"


"Tuuuut... tuuuut... tuuuut," sambungan telepon terputus.


"Ed!" pekik Kiran yang masih belum selesai berbicara.


Kiran berjalan mengelilingi kamarnya seperti orang bodoh. Dia mulai menyalahkan Gio dan juga Sean atas nasib buruknya. Dan tentu saja Kiran memikirkan cara untuk menyingkirkan Sean secepat mungkin. Tidak ada alasan bagi Kiran untuk tetap berada di dekat Sean. Laki-laki itu pengganggu dan juga berbahaya.


Tok... Tok... Tok...


Kiran langsung terlonjak kaget ketika mendengaar suara ketukan pintu, "Apa yang aku lakukan? Bodoh!" umpat Kiran lalu berlari kecil menuju pintu.


Kiran membuka pintunya dengan lebar. Di depan pintu sudah ada Sean yang berdiri dengan wajah datarnya, "aku lapar, buatkan aku sesuatu untuk dimakan," kata-kata yang keluar dari mulut Sean seperti titah seorang Raja pada hambanya.


Mata Kiran membulat, mulutnya sedikit terbuka. Kiran menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak pernah bertemu manusia yang tidak tahu malu dan juga tidak punya sopan santun seperti Sean.


"Tuan penyewa yang terhormat, kalau aku tidak salah menilai, uangmu cukup banyak untuk bisa membeli makanan di luar sana, kenapa kau harus menyuruhku, aku hanya menyewakan lantai atas, bukan waktu dan tenagaku," jawab Kiran dengan ketus.


"Wah hebat!" Sean tersenyum dia mensedekapkan tangannya di depan dada, "Uangku memang banyak, wajahku tampan, dan kenapa kau memperlakukanku seakan aku ini manusia buangan," Sean menautkan alisnya.


Mata Kiran semakin membulat. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Sean laki-laki dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat-sangat tinggi. Mungkin Sean sudah sampai ke tahap obsesi pada dirinya sendiri.


"Kau diam? Kenapa hanya diam? Kau selalu saja membiarkan orang-orang menunggu jawabanmu heh? Di mana sopan santunmu!" sambung Sean.


Kiran tersenyum lebar dia menepuk kedua tangannya, "hebat, kau benar-benar hebat dalam membuat orang kesal," kata Kiran sambil tersenyum sinis.


"Beri aku tambahan $5000 lalu aku akan membuatkan sesuatu yang bisa kau makan, bahkan aku akan bekerja sebagai pengasuhmu," sambung Kiran.


"Benarkah?" tanya Sean dengan sangat antusias.


"Benar tapi tunggu 1000 tahun lagi saat kau sudah jadi mummy," jawab Kiran dengan senyuman menyebalkannya.


"What the **** you are! Kau sengaja meledekku heh!" kata Sean dengan nada sedikit tinggi.


Sean terpancing dengan perkataan Kiran. Setelah semua yang dikatakan Kiran, akhirnya Sean merasa kesal juga. Setidaknya dalam hidupnya, dia harus merasakan kekesalan yang sama seperti apa yang Kiran rasakan.


"YEAH!" Kiran menyeringai, "Kau tahu juga apa yang aku maksud ya, ternyata kau tidak sebodoh itu! Bagaimana Tuan PE-NYE-WA mau tetap tinggal di lantai atas?" Kiran tersenyum dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menampilkan puppy eyesnya.


Sean membalasnya dengan sebuah senyuman. Tidak, Kiran salah dalam memilih ekspresi! Bukannya makin kesal setelah menatap puppy eyes-nya Kiran, Sean malah seperti meleleh dan dia pikir kakinya menjadi jelly sekarang.


"Cute!" kata Sean lalu mencubit kedua pipi Kiran dengan gemas.


"Lepaskan! Lepaskan!" pekik Kiran dia berusaha melepas tangan Sean yang mencubiti pipinya sekarang.


"Tidak! Tidak akan kulepaskan! Pipimu seperti squ atau kyukyu, apa pun benda yang sering dipegang oleh Daniel, oh kau lucu sekali," kata Sean.


"Apa maksudnya Squisy? Dia membandingkaan pipiku dengan SQUISY?" pekik Kiran dalam hati.