
Sean kembali berdiri dengan tegap mengelus kepala Kiran dengan lembut, "anggap itu hukuman dariku gadis manis," kata Sean tak lupa dia mengakhiri perkataanya dengan sebuah senyuman.
"Fake smile!" rutuk Kiran lalu mengekori Sean masuk ke dalam Mall.
Sean tiba-tiba berhenti dan Kiran menabrak punggung Sean. Laki-laki itu berbalik diam sejenak menatap Kiran lalu mengelus kepala Kiran dan berkata, "gunakan matamu atau lebih baik kubuang saja matamu yang besar itu ke jalanan!"
Sean tetaplah Sean, lelaki dengan sejuta kata-kata sarkas-nya. Kiran berdiri menatap Sean tanpa ekspresi yang tergambar di wajahnya. Kiran sudah mulai terbiasa dengan semuanya. Semua tentang Sean, lelaki yang hanya bicara omong kosong, itu pendapat Kiran.
"Yang mulia, bisa kita mulai mencari semua yang kau butuhkan dan kemudian pulang?" tanya Kiran lalu berjalan sambil menabrak melewati tubuh Sean.
Sean terkekeh mendapat perlakuan seperti itu. Dia berputar lalu mengekori Kiran. Tiba-tiba Kiran berhenti melangkahkan kakinya. Kiran berputar lalu berjalan dengan langkah kaki yang cepat.
"Wait-wait, what's wrong?" tanya Sean sambil menarik lengan Kiran.
"Ini bukan waktunya kau memegangi lenganku dengan erat, lepaskan aku Sean!" kata Kiran setengah berbisik.
Sean menautkan kedua alisnya, "Apa yang kau katakan, aku tidak mengerti, kau ingin pergi?"
"Ya aku ingin pergi dari tempat bodoh ini dengan segera!" Kiran menarik lengannya dengan paksa, "lepaskan!" kata Kiran.
"Dinda?" seorang pria menyapa Kiran Mendengar suara lelaki itu jantung Kiran tiba-tiba berhenti. Seperti terkena serangan jantung begitu tak terduga dan sangat menyakitkan.
Kiran menarik baju Sean sehingga wajahnya mendekat, "Aku butuh bantuan, ketika aku berputar dan menyapa seseorang berpura-puralah sebagai pacar paling manis, mengerti?" bisik Kiran. Wajah Kiran sungguh tegang. Lelaki itu seperti orang yang tak ingin ditemui Kiran selama sisa hidupnya.
"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Sean.
"Lakukan saja!" seru Kiran dengan penuh paksaan.
Sean berpikir sejenak dan dia sangat menginginkaan sesuatu, "harus ada imbalannya," kata Sean. Setidaknya Kiran harus memberinya sesuatu, win win solution pikir Sean.
"Apa pun itu akan aku beri, tapi hanya satu," jawab Kiran begitu saja karena dia sangat membutuhkan bantuan Sean.
"A kiss," kata Sean singkat. Sean meminta ciuman sebagai imbalannya. Dia benar-benar lelaki gila yang terobsesi dengan sebuah ciuman. Oh My God! Kiran sedang diikuti orang aneh seperti Sean.
"Apa?" mata Kiran melebar. Dia terkejut dan siapa yang tak terkejut jika seseorang meminta sebuah ciuman sebagai imbalan.
"Kau tidak mau? Aku akan pulang sekarang," kata Sean sambil menjauhkan wajahnya.
"Oke yes, come on," jawab Kiran yakin. Seakan tidak peduli dengan ciuman yang akan diberikannya sebagai imbalan.
Kiran berputar dengan senyum lebar yang melukis di wajahnya dengan riang Kiran menyapa pria itu, "Hai!" sapa Kiran sambil melambaikan tangannya pelan.
Sean memperhatikan setiap langkah kaki Kiran. Dia maju dengan pelan ke arah lelaki yang menyapanya. "Hai Rio," sapa Kiran lagi sambil menjulurkan tangannya.
Kiran dan Rio berjabat tangan. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelah 6 tahun yang lalu. Dan sekarang suasananya menjadi canggung. "Apa kabarmu?" tanya Rio.
"Baik, seperti yang kamu lihat yo," jawab Kiran lalu dia menarik tangannya. Wajah Rio terlihat kecewa saat Sean mendaratkan tangannya tepat di bahu Kiran, merangkulnya dengan beberapa tepukan pelan di bahu Kiran.
"Who is he babe?" Sean memulai perannya sebagai pacar yang manis.
"Aku Sean, suaminya Kiran," kata Sean sambil menerima uluran tangan Rio lalu menjabat tangan Rio dengan senyumnya.
"What the fu‒" Sean langsung melemperkan died glare-nya dan membuat Kiran berhenti meneruskan perkataannya.
"Oh ya... ya," Kiran setengah terbata, "Suami..." Kiran melirik Sean dan matanya seakan berkata, "tunggu sampai di rumah dan aku benar-benar akan memotongmu jadi 16 bagian" oh sungguh tatapan mata Kiran sangat menyeramkan.
"Hmmmmm," Rio berdeham.
"Oh ini Sean Suami-ku," kata Kiran sambil tersenyum kaku.
Sean lebih suka berpura-pura jadi suami yang manis daripada pacar yang manis. Dan ini bukan kali pertama Sean mengaku sebagai Suami Kiran. mungkin cita-cita Sean menjadi seorang actor karena aktingnya sangat luar biasa.
"Kamu sudah menikah? Kenapa tak mengundangku," protes Rio.
"Siapa juga yang mau mengundang seseorang yang sudah membuah hatimu hancur jadi keping-keping yang tak bisa disatukan, apa aku bodoh heh, dasar ********!"
"Apa kau sedang mengutuk seseorang babe, di sini terasa begitu dingin," celetuk Sean yang seakan tahu apa yang sedang Kiran katakan di dalam hatinya.
Mantan, kenangan, masa lalu dan mimpi buruk. Jika itu semua digabungkan dan muncul dalam waktu yang sama akan menyebabkan perasaan yang sangat kompleks. Perasaan yang sangat buruk seperti kesal, marah dan rasa ingin membunuh! Dan Kiran merasakan itu sekarang.
"Pernikahan kami terburu-buru jadi kami hanya mengadakan pesta yang sangat sederhana," jelas Kiran.
"Kami baru menikah 5 menit yang lalu!" pekik Kiran di dalam hati.
"Oke, senang beertemu kalian, sampai jumpa," kata Rio sambil menjabat tangan Kiran dan Sean secara bergantian.
Kiran menatap punggung Rio yang mulai pergi menjauh meninggalkan mereka berdua. "Babe, terdengar merdu bukan saat aku memanggilmu babe," gumam Sean.
"Babe? *******, kau tahu Sean tiba-tiba jiwaku seperti melayang keluar, kau tahu siapa laki-laki itu?" Kiran mendongakkan kepalanya menatap Sean dengan tak berdayanya.
"Who is?" tanya Sean.
"My Ex," ringis Kiran.
"Who is care, I mean," kekeh Sean lalu menyeret Kiran yang kepalanya sudah terjepit oleh lengan kekarnya.
Mereka lalu berjalan memasuki salah satu toko property. Kiran dan Sean berkeliling secara terpisah. Dua puluh menit mereka terpisah sibuk dengan pencariannya masing-masing. Ketika Sean merasa sudah selesai dia mencari Kiran, gadis itu sedang berdiri di depan tea set sambil mengelus pelan dagunya.
"Sudah selesai?" tanya Sean yang sudah berdiri di samping Kiran.
Kiran menggelengkan kepalanya pelan, "belum, bagus yang warna tosca atau pink ini?" tanya Kiran.
"Sudahlah lupakan, kau terlalu lama menjawabnya, dan untuk apa juga aku membeli ini," sambung Kiran lalu pergi meninggalkan Sean.
Sean masih berdiri di depan tea set yang Kiran lihat dari tadi. "Apa bagusnya tea set ini, ah sudahlah wanita memang mahluk yang rumit," gumam Sean lalu pergi meninggalkan tea set yang masih terpajang cantik di sana.