
"Ja-jangan,"
"Hah jangan? Jadi begini boleh ya?"
Kiran mengangguk. Semua terasa canggung. Sean juga begitu. Rasanya perutnya digelitik oleh sesuatu. Dan di dalam perutnya ada yang sedang berputar-putar.
"Ah, kenapa aku jadi payah seperti ini. Aku hanya merangkul pundaknya tapi kenapa jantungku berdebar kencang, kau payah Sean!"
Untuk beberapa saat mereka sangat menikmati suasana yang canggung ini. Bagi Sean dan juga Kiran saat ini adalah sebuah cerita yang baru saja mereka tulis berdua. Tidak semua yang berawal dengan buruk akan berakhir buruk juga. Pertemuan singkat yang aneh. Orang asing yang dengan cepat memberi rasa nyaman untuk Kiran.
Bagaimana bisa Kiran akan memadamkan perasaan mereka berdua jika hati mereka semakin memiliki perasaan yang sama. Perasaan sama-sama ingin memiliki tanpa ada celah kata pemisah atau pun luka lama.
Kiran menyandarkan kepalanya di bahu Sean dan dibalas Sean dengan sebuah tepukan lembut di bahu Kiran. "Hangatnya," bisik Kiran sambil mengalungkan tangannya di pinggang Sean.
Sean tersenyum, "Kau bisa jinak juga ya Kiran," ejek Sean.
"Sebentar saja, karena sudah lama sendirian... aku lupa rasa hangat sebuah pelukan," jawab Kiran jujur. Entah pergi kemana harga dirinya yang setinggi langit. Yang selalu dia bawa kemana-mana.
"Sudah berapa lama kau tidak berpacaran?" tanya Kiran.
"Hmm, entahlah aku lupa," jawab Sean sembarangan. Sean berbohong. Dia tidak lupa. Dia ingat jelas sudah berapa tahun hidupnya tanpa gadis yang bernama Laura.
"Kenapa putus?" Kiran bertanya lagi.
"She just gone, leave me and never come back," jawab Sean.
Mendengar jawaban yang Sean berikan membuat Kiran sedikit merasa bersalah. Dia merasa terlalu kekanakan dengan memberikan pertanyaan yang menjurus ke masa lalu Sean. Tapi, dalam hati Kiran dia ingin sekali mengetahui apa yang terjadi di masa lalu Sean. Bahkan Sean juga sudah tahu sedikit masa lalu cinta Kiran.
"Sorry," ucap Kiran karena merasa bersalah.
"It's okay, semua itu hanya masa lalu. Lain kali aku akan menceritakannya," jawab Sean santai.
"Oh ternyata dia juga bisa sediam ini, selembut ini, sehangat ini. Mungkin aku dulu terlalu cepat menilai dia orang yang seperti apa," kata Kiran dalam hati.
Ya manusia punya kebiasaan buruk menilai orang dari satu sudut pandang. Bahkan langit tidak bisa kita tatap dari satu sisi. Begitu juga manusia. Kini Kiran mengerti tak semua yang dia pikir jahat akan menjadi jahat. Dan yang dia lihat baik belum tentu benar-benar baik.
"Lain kali kita bertukar kisah lama ya," kekeh Kiran karena geli dengan cara bicaranya yang menjadi lembut seperti ini.
"Kau itu banyak sekali tertawa hari ini," protes Sean.
Tangan Sean yang menepuk lembut bahu Kiran membuat Kiran merasa nyaman. Dan suhu tubuh hangat milik Sean membuat Kiran aman. Kiran seperti menemukan tempat bersandar yang sempat hilang.
"Oh iya aku penasaran kenapa kau tidak bekerja seperti orang lain?" tanya Sean.
Kiran diam, bukan karena tak ingin menjawab. Tapi Kiran sedang mencerna pertanyaan Sean yang terasa akan dijawab dengan sangat panjang oleh Kiran.
"Kau tidak mengerti dengan pertanyaanku?" Sean bertanya lagi. Sean pikir Kiran tak mengerti dengan pertanyaan yang dia berikan.
Sean mengangguk. Tangannya kini berpindah ke kepala Kiran. Dia memilin ujung rambut Kiran tanpa sadar.
"Aku hanya tidak merasa cocok dengan pekerjaan seperti itu. Dan aku juga bukan seseorang yang taat dengan peraturan dan hal-hal yang terlalu terikat dengan waktu. Aku tak suka," celoteh Kiran.
"Hahahaha... terlihat jelas di wajahmu! Dulu kau pasti si pembuat onar di sekolah," kekeh Sean.
"Jadi kau bertanya hanya untuk mengejekku," gerutu Kiran. Tiba-tiba Kiran mengingat sesuatu. Seperti keberadaan seseorang yang tiba-tiba hilang. "Oh iya di mana kakakmu?" Kiran penasaran. Beberapa hari setelah pertemuan tak terduga dengan Kakak Sean, pria itu menghilang.
"Hey kenapa bertanya tentang dia?" nada bicara Sean naik satu tingkat. Jelas dia cemburu.
"Kau cemburu?" tanya kiran dengan. nada menggoda.
"Tidak-tidak!"
"Iya kau pasti cemburu!"
"Tidak-tidak!"
"Sini aku cium,"
"Tidak-tidak!"
"Ya sudah kalau tidak mau," kekeh Kiran yang berhasil melakukan tipuan kecil ke Sean.
Tanpa sadar mereka sudah terikat lebih dalam. Cinta itu bisa datang tanpa kita duga. Bisa jadi cinta datang lewat senyum yang tak sengaja terus menyapa. Atau lewat luka lama yang sama.
.
.
.
.
.
.
.
Vote and comment jangan lupa ditinggalin.
See u next chapter.