Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 34



“Shifa…,” panggil lelaki itu.


Shifa mengerutkan dua alisnya saat pria itu memanggil namanya.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya lelaki itu kepada Shifa.


Shifa masih bingung ada apa sebenarnya, kenapa tiba-tiba lelaki itu tampak ingin berbicara serius kepadanya.


“Shifa, kamu kenal dia?” tanya Arka karena Shifa tampak mematung disebelahnya.


“Ya kak aku kenal. Dia Kak Marcel,” ucap Shifa.


“Marcel?” tanya Arka bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati siapa Marcel.


“Iya kak Marcel itu..”


Saat Shifa akan menjawab pertanyaan Arka, Marcel sudah lebih dulu memotong pembicaraannya.


“Ehem.. Shifa apakah bisa sekarang?” tanya Marcel.


“Oh baik kak,” ucap Shifa.


Arka curiga kepada Marcel, sepertinya dia pernah bertemu dengan orang itu tapi dimana dia tidak mengingatnya.


“Hm.. kak Arka aku tinggal sebentar gak papa kan?” tanya Shifa segan.


“Oh yaa, tapi kamu hati-hati ya. Kakak tunggu di dalam mobil,” ucap Arka yang merasa khawatir dengan Shifa karena dia melihat Marcel bukanlah orang biasa.


Shifa menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti perkataan Arka.


“Dia pikir aku akan menyakiti pujaan hati bos ku sendiri,” ucap Marcel dalam hati.


“Kita bicara dimana kak?” tanya Shifa.


“Di dalam café itu Shif,” ajak Marcel sambil berjalan masuk ke dalam café itu begitu pula dengan Shifa yang mengikutinya dari belakang.


Sementara Arka menunggu Shifa di dalam mobilnya.


“Ada apa kak Marcel? Kok kelihatannya khawatir gitu?” tanya Shifa.


“Tuan Zano terluka, Shif dan Celine untuk saat ini tidak bisa keluar mension jadi aku butuh bantuanmu. Apa kamu bisa ikut denganku ke mension Tuan Zano untuk menjenguknya sekarang?” tanya Marcel to the point. Yah begitu kalau seorang mafia sedang berbicara. Mereka tidak suka basa-basi.


Marcel berinisiatif untuk menjemput Shifa, karena dia tahu hanya Shifa yang bisa membuat pikiran tuannya itu tenang.


Shifa ragu untuk menjawab karena disisi lain Arka sudah menunggunya untuk pulang bersama.


“Dan aku rasa Celine juga butuh kamu Shif, dia pasti banyak ketinggalan pelajaran,” ucap Marcel dengan raut wajah sendu yang dibuat-buatnya sendiri untuk meyakinkan Shifa agar tidak ragu untuk ikut dengannya.


“Hm.. baiklah tapi bagaimana dengan kak Arka,” ucap Shifa pelan.


“Aku akan mengatakan kepadanya kalau kamu ada urusan yang harus diselesaikan. Aku yakin dia akan setuju,” ucap Marcel.


Marcel dan Shifa keluar café dan menghampiri mobil Arka yang sedang terparkir.


Arka yang melihat Shifa keluar dari café segera turun dari mobilnya.


“Sudah selesaikan?” tanya Arka.


“Maaf Tuan Arka, sepertinya Shifa tidak bisa pulang bersama anda karena ada hal penting yang harus kami lakukan,” ucap Marcel kepada Arka.


“APA?” tanya Arka yang seolah-olah tak terima dengan pernyataan Marcel kepadanya.


“Iya benar kak. I’m so sorry for this time. Plis jangan marah yaa kak soalnya mendadak juga dan… terima kasih karena kakak udah nawarin buat pulang bareng,” ucap Shifa.


Arka sebenarnya kecewa karena tidak bisa pulang bareng Shifa, tapi apa boleh buat karena Shifa memang benar-benar ingin pergi, Arka tak bisa melarang karena dia juga bukan siapa-siapanya Shifa.


“Baiklah kami permisi,” ucap Marcel lalu masuk kedalam mobil hitam mewah miliknya diikuti oleh Shifa juga.


Arka masih berdiri mematung mengamati mobil yang dikendarai Marcel sampai tak terlihat lagi.


***


“Huff bosan banget sebenarnya aku.. dikamar terus gini. Apa aku ke kamarnya kak Zano aja yaa..” ucap Celine.


Ceklek… pintu kamar Zano terbuka. Tampak lelaki yang sangat tampan sedang membaca buku favoritnya, tapi ntah buku apa yang pasti itu buku rahasia milik Zano yang semua orang tidak tahu. Mungkin itu buku tentang mafia.


“Kenapa tidak ketuk pintu dulu,” ucap Zano tiba-tiba tanpa menoleh membuat Celine terkejut karena dia masih berdiri mematung di depan pintu.


“Kak Zan..” ucap Celine sambil berjalan menuju Zano yang sedang membaca.


Zano hanya diam dan tidak merespon apapun.


“Kak.. kakak sedang baca apa?” tanya Celine untuk mencairkan suasana. Celine tidak biasa seperti ini karena dia adalah gadis yang ceria.


Zano masih diam membeku sambil membaca buku pastinya tanpa menoleh sedikitpun pada Celine.


Celine yang merasa dianggap tak ada oleh Zano pun tak sabar ingin mengatakan apa tujuannya kemari.


“Kak boleh aku menghubungi temanku, please…..,” ucap Celine sambil membuat puppy eyesnya dan menyatukan kedua telapak tangannya pertanda memohon.


Zano yang mendenger itupun langsung menatap Celine dengan tatapan tajam dan dingin.


“Dia melihatku seolah-olah melihat musuhnya,” gumam Celine dalam hati. Dai takut kalau Zano akan marah.


Saat Zano ingin berbicara merespon ucapan sepupunya itu, terdengar suara langkah kaki yang akan masuk kedalam kamar Zano.


Zano dan Celine pun menoleh ke arah Marcel dan betapa terkejutnya Celine melihat orang yang berdiri disebelah Marcel.


“Shifaaa…..,” ucap Celine kegirangan.


Celine berlari memeluk Shifa dengan erat seperti sudah setahun tidak bertemu. Shifa hanya senyum melihat tingkah Celine seperti anak kecil.


Zano hanya diam menatap wajah Shifa sebentar dan masih dengan gaya dinginnya duduk di atas kasur lalu menutup buku miliknya dan meletakkannya di atas nakas.


“Kenapa dia tidak berekpresi sedikitpun, ah tapi aku yakin rencanaku kali ini pasti berhasil,” ucap Marcel dalam hati.


Zano sebenarnya terkejut akan kedatangan Shifa ke mensionnya tapi dia juga sedikit kecewa dengan Marcel.


“Ehem.. Celine,” ucap Marcel.


Celine paham apa maksud Marcel pun segera melepaskan pelukannya dengan Shifa.


“Shifa.. kamu tahu tidak aku memang mengharapkan kedatanganmu,” ucap Celine.


“Celine biarkan Shifa melihat keadaan Tuan Zano dulu,” ucap Marcel serius.


Celine yang mengerti makna ucapan Marcel langsung menggandeng tangan Shifa untuk duduk di samping kasur Zano.


Shifa masih bingung akan mengatakan apa karena dia merasa aneh dengan semuanya.


“Tuan, lihatlah lukamu masih belum pulih bagaimana kalau sebaiknya anda minum obat anda dulu, Tuan,” ucap Marcel sengaja di depan Shifa.


“Tidak perlu,” ucap Zano dengan gaya dinginnya.


Shifa heran kenapa Zano tidak meminum obatnya padahal dia sedang sakit.


“Kak Zano kenapa tidak mau minum obat?” tanya Shifa dengan polos dan suara lembutnya.


Zano melihat wajah Shifa yang begitu cantik pun tak tega untuk bersikap dingin. Entah mengapa setiap melihat wajah Shifa hatinya merasa teduh, amarahnya meredam begitu saja dan merasa sangat tenang.


“Aku tidak suka obat, Shif..” ucap Zano sambil menatap lembut wajah Shifa yang putih seperti salju.


“Akhirnya kulkas mencair juga..,” ucap Marcel dalam hati.


“Ehem, sebaiknya kau bujuk Tuan Zano untuk meminum obat yaa Shif. Aku sama Celine ada urusan sebentar,” ucap Marcel menggandeng tangan Celine untuk keluar dari kamar Zano.


“Ta.. ta..pi Kak Marcel…” ucap Shifa namun Marcel dan Celine sudah keluar sebelum Shifa mlanjutkan perkataannya.


Zano menatap wajah Shifa dengan lembut. Shifa yang ditatap pun merasa canggung.


“Kak Zano minum obatnya dulu ya,” ucap Shifa padahal dia sedang canggung saat ini.


Jika ada Shifa, ingin rasanya Zano berlama-lama dengannya.


“No.. Shif,” ucap Zano lagi tapi masih dengan lembutnya.


Berbeda dengan Shifa setiap berbicara dengan Zano dia merasa kesal karena sifat Zano yang menurutnya berubah-ubah. Padahal sebenarnya Zano memang ingin menjaili pujaan hatinya itu. Sejak pertama kali Zano melihat Shifa, rasa itu sudah ada dan akan terus tumbuh di dalam hatinya.


“Kenapa kak? Emangnya kakak gak mau cepat sembuh?” tanya Shifa belum sadar kalau Zano saat ini sedang menjailinya.


Zano kembali hanya menatap wajah Shifa.


“Hm… atau kakak belum makan yaa?” tanya Shifa lagi tapi Zano hanya menatap wajahnya dengan senyum tampannya.


Shifa yang ditatap pun bingung ada apa dengan lelaki yang berada dihadapannya ini.


“Dasar kulkas,” ucap Shifa yang kesal tapi malah membuat wajahnya sangat imut.


Zano yang melihat wajah imut Shifa pun segera menoleh ke sembarang arah karena dia saat ini ingin sekali memeluk Shifa tapi tidak mungkin.


“Kamu bilang kakak apa?” tanya Zano pura-pura tidak dengar.


Shifa berdecak sebal. “Kakak Zano udah makan belum?” tanya Shifa lagi dengan suara lambat.


Zano hanya menggelengkan kepalanya tapi malah kelihatan lebih tampan. Shifa juga mengakui ketampanan yang di milki Zano hanya saja dia tidak mau sampai khilaf nantinya.


“Okay kalau gitu.. Kak Zano makan dulu ya,” ucap Shifa.


“Ok tapi ada syaratnya,” ucap Zano dengan coolnya.


“Kok malah dia yang kasih syarat sih,” gumam Shifa dalam hati.


“Apa?” tanya Shifa ragu.


“Jangan yang aneh-aneh deh kak,” ucap Shifa tapi dengan wajah cemberut.


Zano tertawa melihat sikap Shifa yang kesal terhadapnya. “Emangnya kakak mau apa? Emang bisa kalau kakak ngelakuin yang aneh-aneh sama kamu?” tanya Zano yang masih tersenyum.


Saat ini sepertinya hati Zano sedang berbunga-bunga. Lihat saja dari tadi dia tidak pernah berhenti tersenyum saat menjaili Shifa.


“Ok-ok.. kakak Cuma mau kamu yang buat makanan untuk kakak, gimana?” tanya Zano yang sudah berhenti tertawa tapi masih sedikit tersenyum.


“Oh aku kira apaaan,” gumam Shifa tapi masih didengar oleh Zano.


“Apaan emangnya?” tanya Zano dengan wajah jailnya.


“Gak tau deh kak,” ucap Shifa sebal lalu berjalan keluar kamar Zano menuju dapur.