Unexpected Love

Unexpected Love
BAB 21



Di kampus, Shifa yang masih menunggu kedatangan Zano merasa sedikit takut karena situasi kampus yang sangat sunyi.


Beberapa saat kemudian, tampak mobil hitam masuk menuju halaman kampus tepat diamana Shifa berada.


“Kak Zan,” ucap Shifa sambil tersenyum.


Zano keluar dari mobilnya sambil membawa sebuah payung menghampiri Shifa.


“Kamu tidak apa-apa kan ?” Tanya Zano serius.


Sikap Zano yang seperti itu membuat Shifa merasa nyaman dan tidak takut lagi kepada Zano.


“Tidak kok kak,” jawab Shifa.


Saat Zano akan mengajak Shifa pergi, tiba-tiba mucul suara petir berdentum sangat keras membuat Shifa sangat terkejut dan ketakutan. Zano yang refleks melihat Shifa ketakutan seperti itu ingin melindunginya. Zano tidak sengaja memeluk Shifa dalam dekapannya.


“Astaghfirullah,” ucap Shifa menutup mata dan ketakutan. Dia tidak sadar sedang berada dalam pelukan Zano.


“Sudah, jangan takut.” Ucap Zano dengan nada lembut.


Shifa yang mencium aroma parfum Zano membuatnya tersadar dan membuka matanya. Betapa terkejutnya dia karena sedang berada di pelukan Zano.


Shifa yang sangat terkejut akan hal itu membuatnya terpaku menatap wajah Zano. Zano yang sadar akan tatapan Shifa juga menatap Shifa dengan sangat dalam. Namun, tidak lama Shifa tersadar dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Zano.


“Astaghfirullah,” ucap Shifa sambil menyadarkan dirinya dari kejadian itu.


Zano hanya diam melihat sikap Shifa terhadapnya. Saat Zano ingin mengajak Shifa masuk ke dalam mobilnya, terdengar dari dalam kampus suara seorang lelaki muda.


“Shifa…,” teriak lelaki itu.


Lelaki itu berlari sedikit menghampiri Shifa dan Zano.


“Sir Arka,” ucap Shifa yang tidak menyangka kalau dosennya itu masih berada di kampus.


“Shifa.. Kamu masih disini ?” Tanya Arka.


“Iy- iya kak, aku pikir kakak tadi sudah pulang. Soalnya aku gak lihat kakak di ruang dosen,” ucap Shifa gugup.


Zano hanya diam mendengar percakapan antara Shifa dan Arka. Sebenarnya Zano mengenali siapa lelaki yang berada dihadapan Shifa namun ia enggan untuk menyapanya.


“Revano,” ucap Arka yang sadar akan keberadaan Zano yang berdiri di samping Shifa.


Zano hanya diam tanpa menghiraukan perkataan dari Arka.


Shifa yang mengerti sifat Zano mencoba mencairkan suasana.


“Kakak kenal sama kak Zano ?” Tanya Shifa.


“Sure. Revano adalah teman kampus satu angkatan kakak,” ucap Arka.


Shifa yang tampak bingung dan ingin melanjutkan percakapannya dengan Arka namun Zano langsung menarik tangan Shifa dan membawanya masuk ke dalam mobil.


“Kak Zan, tunggu,” ucap Shifa membuat Zano mengehentikan langkahnya.


“Aku belum pamit pulang sama kak Arka,” ucap Shifa.


Tanpa menunggu jawaban dari Zano, Shifa memberikan senyuman kepada Arka pertanda pamit untuk pulang.


“Kak Saya dan kak Zano duluan yaa.. Bye kak,” ucap Shifa sambil tersenyum lebar.


Sikap Shifa yang seperti itu kepada Arka membuat Zano cemburu dan Arka yang melihat wajah Zano menyadari bahwa Zano cemburu terhadapnya.


Arka yang melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum pertanda membalas ucapan dari Shifa.


Shifa dan Zano sudah berada di dalam mobil milik Zano dan dengan cepat Zano melajukan mobil hitam miliknya dengan sangat cepat.


***


Di asrama, Zainab tetap berusaha menelpon Shifa agar telponnya di angkat, dan beberapa saat kemudian akhirnya di angkat oleh Shifa.


Dalam jaringan telpon.


“Assalamu’alaykum Zai ?” Ucap Shifa.


“Wa’alaykumussalam Shif. Shifa kamu dimana sekarang. Kamu baik-baik ajakan ?” Tanya Zainab dengan nada khawatir.


Celine yang merasa senang karena Shifa telah mengangkat telpon dari Zainab mendengarkan percakapan antara Zai dan Shifa melalui sambungan telpon.


“Iya Zai, aku baik-baik aja. Dan sekarang aku sedang bersama kak Zano,” ucap Shifa.


“Oh yaa Alhamdulillah kalau begitu. Oh yaa Celine juga sedang berada di asrama sekarang,” ucap Zai.


“Oh yaa, Okay kalau begitu nanti aku sampaikan sama kak Zano yaa Zai,” ucap Shifa.


“Iya-iya Okay. Nanti kamu hubungi aku kalau sudah sampai,” ucap Zai.


“Siapp..” Ucap Shifa semangat.


Zainab sudah memutuskan sambungan telponnya.


“Kak Zan, ternyata Celine sedang bersama Zai sekarang,” ucap Shifa kepada Zano.


Namun Zano tak menghiraukan ataupun menjawab perkataan Shifa. Zano hanya diam dengan wajah serius dan sikap dinginnya menatap kedepan.


“Jadi Arka dosen kamu ?” Tanya Zano tiba-tiba membuat Shifa terkejut.


“Hish… Kakak bisa gak kalau mau bicara tuh jangan tiba-tiba,” ucap Shifa.


Zano hanya memalingkan wajahnya ke arah Shifa sebentar lalu kembali menatap ke arah depan kembali.


“Dosen aku, Zai dan Celine juga lebih tepatnya,” jawab Shifa.


“Kamu kenapa pulang sampai sore begini ?” Tanya Zano.


“Oh itu, aku harus mengerjakan tugasku dulu di perpus jadi akhirnya pulang kesorean begini,” ucap Shifa.


Belum sempat Zano menjawab perkataannya Shifa kembali berbicara.


“Maaf yaa kak, aku merepotkan kakak. Abisnya aku tidak tahu lagi harus menghubungi siapa.


Zai juga tidak dapat dihubungi,” ucap Shifa menjelaskan.


Zano yang mendengar itu hanya diam.


“Kenapa perginya tidak bareng sama Celine dan Zai ?” Tanya Zano lagi.


“Ini bukan tugas kampus kak. Aku di pilih kak Arka jadi AsDos,” ucap Shifa.


Shifa teringat akan perkataan Arka yang mengenali Zano namun Zano belum menjelaskan sehingga membuat Shifa penasaran.


“Oh yaa btw, kakak kenal sama kak Arka dan ternyata kakak satu angkatan sama kak Arka ?” Tanya Shifa.


Zano hanya diam dengan sikap dinginnya enggan menjawab ucapan dari Shifa membuat Shifa menjadi kesal.


“Hish.. Apaan sih. Setiap aku bicara pasti dia selalu diam,” ucap Shifa dalam hati.


***


Di asrama, Zainab sudah memberitahu Celine kalau Zano dan Shifa sedang dalam perjalanan menuju asrama. Celine berisap-siap untuk segera pulang. Sebelum mereka keluar dari kamar asrama mereka berbincang-bincang sedikit sambil merapikan kamar yang sedikit berantakan.


“Oh yaa btw, kamu sakit kemarin karena apa Zai ?” Tanya Celine.


“Oh itu, setiap memasuki musim dingin aku selalu mengalami seperti itu Cel. Seperti demam tapi cuman sehari kok,” ucap Zai menjelaskan.


“Maaf yaa Zai, kemarin itu aku bukannya jenguk kamu malah bersikap kekanak-kanakan,” ucap Celine.


“Tidak apa-apa kok Cel. Shifa merawatku dengan baik juga,” ucap Zai sambil tersenyum mengingat sikap tulus Shifa kepadanya.


“Iya kalau Shifa tidak diragukan lagi. Dia gadis sempurna,” ucap Celine.


“Tapi aku belum bisa balas kebaikan dia. Ada satu hal yang membuatku kesal,” ucap Zai dengan nada sedih.


“What’s that ?” Tanya Celine penasaran.


“Sebenarnya, Shifa ingin mengajakku bermain salju pada musim dingin nanti tapi karena aku tidak bisa keluar pada saat musim dingin, Shifa mengurungkan niatnya untuk bermain salju padahal Shifa ingin sekali bermain salju pada musim dingin tahun ini,” ucap Zai.


Celine hanya diam dan memahami maksud dari ucapan Zai. Tiba-tiba telpon Zai berdering.


“Ada pesan masuk yaa Zai ?” Tanya Celine.


“Iya Cel, Shifa bilang dia dan kak Zano sudah di lantai satu sekarang. Ayo kita kesana,” ajak Zai,


Celine dan Zainab bergegas keluar dari asrama dan turun menuju lantai satu menggunkan lift.


Terlihat Zano yang sudah berdiri di samping Shifa menunggu kedatangan Zainab dan Celine.


“Kak Zan..,” ucap Celine menghampiri sepupunya itu.


“Shifa…” Ucap Zai memanggil sahabatnya.


“Zai…” Balas Shifa.


“Akhirnya kamu sampai dengan selamat. Kamu tahu tidak, aku dan Celine sangat menghawatirkanmu Shif. Intinya, sekali lagi kamu tidak boleh ditinggal sendirian lagi,” ucap Zai.


Shifa yang mendengar ocehan dari Zai hanya diam dan melihat ke arah Zano. Zano yang sadar dilihat oleh Shifa pun menatap Shifa.


Seketika suasana tampak hening karena sikap Shifa dan Zano yang dilihat oleh Zai dan Celine.


“Ehemm…,” ucap Zai memecahkan keheningan.


Shifa dan Zano saling mengalihkan pandangan mereka. Celine yang melihat itu masih belum paham kalau sepupunya menyukai temannya.


“Thank you so much yaa kak udah jemput Shifa dengan selamat,” ucap Zainab.


“Thanks a lot juga kamu udah jaga Celine,” ucap Zano.


“Emang aku anak kecil apa, dijaga-jaga,” ucap Celine kesal atas perkataan Zano.


Zano tak menghiraukan perkataan sepupunya itu, Shifa dan Zai hanya tersenyum mendengar ocehan Celine.


“Zai, Shif… Aku dan kak Zano pulang dulu yaa, Bye…” Ucap Celine mengakhiri percakapan mereka.


“Okay, take care,” ucap Zai dan Shifa.


Zainab dan Shifa menaiki lift untuk menuju ke kamar mereka setelah Celine dan Zano pergi.