Unexpected Love

Unexpected Love
6.1 HELP ME



Kiran merenggangkan ototnya. Alarm di ponselnya sudah berbunyi sejak tadi dan dia benar-benar harus bangun sekarang, walau pun ini hari minggu. Dia berjalan keluar kamar dengan mata yang masih tertutup. Tenang, Kiran tidak akan menabrak apa pun, ini rumahnya dan tentu saja dia tahu setiap inchi dari lantai yang diinjaknya. "Oh My God!" Kiran setengah memekik melihat Sean yang masih tidur di sofanya.


"Aku lupa ada manusia aneh itu di sini," cicit Kiran sambil berjalan ke dapur.


"Good morning," sapa Sean matanya bahkan masih tertutup. Bagaimana bisa Sean tahu Kiran melewatinya?


"Apa kau penyihir?" tanya Kiran sambil membuka kulkasnya.


"Tidak, aku tidak bisa jadi penyihir,"gumam Sean dengan suaranya yang serak. Sean menguap beberapa kali sebelum membuka matanya dengan sempurna.


Kiran menyeduh tehnya, "mau secangkir teh? Kenapa kau tak bisa jadi penyihir Sean?" tanya Kiran sambil mengaduk tehnya.


"Aku seorang pria, kau wanita jadi kau yang akan jadi penyihirnya, yes please," kata Sean sambil bangun dari tidurnya.


Kiran mengerutkan dahinya, "kau kekanakan, baiklah aku yang akan jadi penyihirnya," Kiran berjalan dengan dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja.


"Thanks," Sean menyesap tehnya. "Kau tahu karenamu aku tak bisa tidur dengan nyenyak semalam," gerutu Sean.


"Apa lagi heh? Apa lagi yang kau mau, ini masih pagi! Kau tahu temperamenku sama buruknya denganmu,"


"Oh gadis ini benar-benar, boleh aku kecup saja bibirnya, biar dia diam tak bersuara," umpat Sean dalam hati sambil menaatap Kiran kesal.


Kiran membalas tatapan Sean dengan sinis, "Apa yang kau lihat heh?" tanya Kiran dengan nada sedikit tinggi.


"Kau cantik bahkan saat marah-marah, tapi kau juga menyebalkan, aku tak bisa menebak apa yang kau pikirkan, aku rasa jalan pikiran kita memang berbeda maksudku pola pikir kita, di duniaku aku bisa mencium gadis mana saja yang aku suka, tapi sepertinya itu tidak berlaku denganmu Kiran,"


"Your world? Kau pikir kita tinggal di dunia yang berbeda? Kau dan aku tinggal di bumi Sean, ayo bangunlah dari tidurmu," kekeh Kiran.


Sean benar, apa yang ada di dalam kepala Kiran tidaklah sama dengannya. Mereka memang hidup ditingkat yang berbeda. Dan Sean harusnya tahu, semua orang punya kehidupan dan pemikiraan masing-masing. Kau terlalu egois Sean untuk menyamakan isi kepalamu dengan semua orang yang berputar mengitarimu. Walau kau seperti matahari tapi di hadapan Kiran kau hanya seperti meteor mungkin.


Sean menghela nafasnya, "kau menarik, aku butuh bantuanmu, mau membantuku?"


"Trik bodoh macam apa lagi yang ingin kau lakukan denganku Sean? Aku tak tertarik denganmu, dan aku usahakan tak tertarik denganmu," jawab Kiran dengan penuh percaya diri.


"It's not a fucking trick, bantu aku untuk membeli barang-barang yang akan aku letakkan di atas sana, ya aku butuh ranjang dan hal-hal kecil lainnya," Sean menyesap tehnya, "aku anggap kau setuju, aku akan bersiap, dan ganti bajumu," sambung Sean sambil menepuk bahu Kiran.


Sean bahkan tak memberikan kesempatan bagi Kiran untuk menolak permintaanya. Kiran berjalan malas menuju kamarnya. Dia berdiri di depan lemari baju yang sudah terbuka lebar. Wajah Kiran seperti mengatakan, "Aku tidak punya sesuatu yang bagus untuk dipakai hari ini."


Sepertinya setiap wanita punya masalah yang sama saat memutuskan untuk mengenakan sesuatu saat kencan mereka. Oooops, ini bukan kencan Kiran. Kau hanya menemani Sean membeli sesuatu yang dibutuhkan olehnya dan hanya itu.


"Kiran apa kau sudah siap?" Sean memekik dari ruang tamu.


"Dia sudah siap, bahkan belum sampai 10 menit, laki-laki itu ben‒"


"Kiraan, I still waiting, atau aku perlu masuk ke sana dan memeriksa apakah kau tak melupakan pakaian dalammu," umpat Sean kesal.


"Ki‒"


"Okay, berhenti berteriak atau kau pergi sendiri!" seru Kiran lalu dia keluar dari kamarnya.


Sean menatap Kiran yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya menatap Sean dengan kesal, "Aku akan diam," kata Sean sambil melakukan gerakan seperti menutup sesuatu di depan mulutnya.


"Okaay, let's go," ajak Kiran.


**************************


Di dalam mobil Kiran,


"Kau yakin bisa mengemudi?" Sean memegang erat seat beltnya.


"What's wrong? Ahaaaa, kau takut? Aku tak akan mengantarmu ke neraka hari ini!" seru Kiran sambil menginjak gas dan Kiran berkendara layaknya seorang pembalap!


Sedikit keisengan bukanlah sebuah dosa besar dan membuat Sean berteriak kencang adalah hal yang menyenangkaan untuk Kiran, "ARRRRRRRGGGGHHHHHH, stop the car! You want to kill me heh!"


Apa Sean setakut itu? Cara Kiran membawa mobilnya di jalanan sangat menakutkan. "ENOUGH! STOP THIS FUCKING CAR!" pekik Sean.


"Yeah! Bukankah ini mengasyikkan Sean?" tanya Kiran santai sambil tertawa.


Wajah Sean semakin tegang. Rasanya Sean ingin muntah. Perutnya seperti terguncang dan rasanya lebih dari menaiki roller coaster sebanyak sepuluh kali. Wow!


Mobilnya berhenti tepat di area parkir dan Sean langsung berlari keluar dan mengeluarkan semua isi perutnya yang baru diisi teh hangat tadi pagi. Kiran menepuk-nepuk punggung Sean, "kau terlihat seperti pecundang, berhenti muntah! Memalukan," kata Kiran dengan nada meledek.


"KAU!" pekik Sean sambil menatap sinis ke dalam mata Kiran. "Sial, tiap kali kutatap matanya amarahku jadi mereda!" umpat Sean dalam hati.


Sean menarik ujung kemeja Kiran dan mengelap mulutnya di sana membuat Kiran berteriak histeris, "Menjijikkan! Menjauhlah!" Kiran mendorong Sean dan lelaki itu masih membungkuk di depan Kiran dan memakai ujung kemeja Kiran sebagai pengganti sapu tangan.


Sean kembaali berdiri dengan tegap mengelus kepala Kiran dengan lembut, "anggap itu hukuman dariku gadis manis," kata Sean tak lupa dia mengakhiri perkataanya dengan sebuah senyuman.


"Fake smile!" rutuk Kiran lalu mengekori Sean masuk ke dalam Mall.


>>>>


VOTE AND COMMENT FOR THE NEXT CHAPTER,


THX BABE!


HOPE U LIKE IT!


ENJOY YOUR DAY!