
Di kampus tepatnya di dalam ruang kelas.
“Shif, Celine masih belum masuk juga?” tanya Zai disela-sela menunggu dosen.
“Belum, kemarin dia bilang maybe seminggu ini dia izin dulu,” jawab Shifa sambil membaca beberapa catatan mata kuliahnya.
Zainab hanya mengangguk tanpa melanjutkan perkataannya. Tak beberapa lama setelah Shifa dan Zainab mengobrol, Dosen pagi ini adalah Arka dan sudah memasuki kelas dengan menyapa seluruh mahasiswanya.
“Good morning, everyone” ucap Arka.
“Good morning..” jawab seluruh mahasiswa.
“Okay, I hope all of you are well today. Before we start our lesson, I just wanna remember you about our final test of this year. It will be held on the third of December. I’ve to remember you, Do the best, study hard, and keep it up. Then, I hope all of you will get good score for this semester.”
Arka mengatakan dengan jelas bahwa mereka akan mengadakan UAS di bulan Desember tahun ini. Tak terasa Shifa dan Zainab sudah hampir akan menyelesaikan semester mereka tahun ini. Shifa dan Zainab mendengarkan penjelasan Arka dengan seksama.
“Okay, now let’s begin our lesson about foreign policy….” ucap Arka dan menjelaskan seterusnya sampai habis waktu mata kuliahnya.
***
Seorang lelaki muda menuruni tangga di mension yang sangat mewah itu. Terlihat rambutnya sedikit acak-acakan membuatnya terlihat lebih tampan. Dengan memakai kaus hitam dan training hitam seolah menggambarkan suasana hatinya.
“Zano, are you okay? You should rest for more time,” ucap ayah Zano yang sudah duduk di meja makan.
Marcel, Uncle Jordan, dan Celine sudah lebih dulu berada disana menemani Tuan Zardo. Zano duduk disamping kanan ayahnya sedangkan Uncle Jordan berada di samping kiri ayahnya.
“I feel better right now, dad.. it’s okay” balas Zano.
“Tuan, kenapa perbanmu kau lepas?” tanya Marcel khawatir.
Zano diam beberapa saat lalu menjawab pertanyaan Marcel. Pagi-pagi begini Marcel sudah banyak tanya pikirnya.
“Huff.. Did you hear what I say a few second later?” jawab Zano dengan wajah dingin.
Marcel mendengus karena jawaban Zano tidak sesuai ekspetasinya. Tapi itu memang sudah biasa pikirnya.
Celine tiba-tiba menyaut, “Coba aja Shifa yang care sama kak Zano makesure it’s different moment.”
Mendengar itu, Zano melirik Celine sebentar lalu melanjutkan kegiatannya lagi.
“Is it right, Zano?” tanya Uncle Jordan serius.
Ayah Zano hanya mengamati sikap anaknya, dia berpikir apakah benar anak tunggalnya itu sedang menyukai seorang gadis sekarang. Hal yang sangat tak mungkin. Ya, meskipun Zano adalah seorang mafia tapi dia sama sekali belum pernah tertarik kepada seorang gadis manapun. Dia tidak pernah melakukan apa yang biasa dilakukan para mafia sebelumnya. Zano memang berbeda diantara mafia lainnya, dari mulai tidak pernah meminum wine sampai merokok itu semua tak pernah dilakukannya. Bukan berarti Zano tak mampu melakukannya, tapi karena dia punya prinsip untuk itu.
“Iya dong, ayah…” jawab Celine.
Uncle Jordan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa wajah Tuan Zardo serius begitu yah?”
Marcel bertanya didalam hatinya.
Setelah itu tak ada perkataan apapun yang dibicarakan, mereka melanjutkan kegiatan makannya. Terlihat menu makanan yang sehat lima sempurna. Itu semua atas permintaan Zano tentunya. Dia selalu melakukan pola hidup sehat dan kalau untuk meminum soda itu hanya ketika saat Zano sedang overthingking.
***
“Shifa..” panggil Arka saat Shifa dan Zai berjalan di koridor kampus.
“What happen, Sir?” tanya Shifa.
“It caused, final test will be held next week. Maybe, it will be busy right? But I just wanna offer you to discuss about our lesson together. Prepare for test well…if you’ve a time” ucap Arka.
Shifa melirik Zainab yang berada disampingnya. Shifa bingung harus mengatakan apa. Saat ini dia masih heran atas perlakuan Arka kepadanya. Bagiamana tidak heran, tumben banget ada dosen yang mengajak mahasiswanya belajar bareng.
“Hm… How about Zainab, Sir? May I invite her?” tanya Shifa.
“Sure,up to you” balas Arka dengan senyum di wajahnya.
“Ok.. thank you Sir” ucap Shifa dan Zainab pun tersenyum.
“I’ll text you later. Okay I’ve to go now. See you.” Ucap Arka ramah.
“Oh my Goddd…..” ucap Zainab antusias.
Shifa mengernyitkan alisnya pertanda bertanya ada apa dengan Zai.
“You didn’t see it?” tanya Zai.
“What?” tanya Shifa yang masih belum paham akan situasinya.
“Hmm… forget it” balas Zai sambil menghentakkan kedua kakinya meninggalakan
Shifa yang berdiri mematung. Zainab kesal dengan Shifa kenapa dia tak paham-paham.
***
“Kak Marcel ..” panggil Celine.
Marcel dan Celine saat ini sedang duduk diatas sofa.
“Hm…?” ucap Marcel.
“Ada apa Celine yang cantik?” Marcel mengatakan begitu agar Celine tidak mengomel.
“I have an idea” ucapnya antusias.
“What is it?” tanya Marcel memalingkan wajahnya untuk meihat Celine.
“Hm… how about if I invite my friends, Shifa and Zainab to stay here?” Celine sengaja mengucapkannya dengan nada imut agar Marcel menyetujui idenya.
Melihat Celine bersikap seperti itu, Marcel jadi tersenyum lepas.
“What’s your plan?” tanya Marcel.
“Don’t pretend,” ucap Celine yang sudah tau maksud Marcel.
“Okay.. tell me what will you do,” ucap Marcel.
Di sisi lain…
Ting…
Bunyi ponsel Shifa pertanda sebuah chat masuk.
“Ada apa Shif?” tanya Zainab yang berada disampingnya. Mereka saat ini sedang berjalan pulang. Sekarang mereka berdua sudah sampai di depan gerbang kampus.
“Celine mengundang kita ke mensionnya, Zai. Bagiamana?” tanya Shifa menunggu persetujuan sahabatnya itu.
“Kapan?” tanya Zai lagi.
“Sekarang,” jawab Shifa.
Tampak Zai berpikir sebentar, “Ok” jawab Zai.
Shifa membalas chat dari Celine setelah itu dia memasukkan kembali ponselnya di dalam kantung jaket tebalnya.
“Yukss,” ajak Zai.
“Wait” ucap Shifa sambil menahan lengan Zainab.
“Why?” tanya Zai.
“Kak Marcel will pick up us” jawab Shifa.
“Oh yaa? Well..” ucap Zai.
***
“Marcel” panggil Zano.
“Ya Tuan?”
“Where do you go?” tanya Zano.
“Ah.. I just wanna go out for a moment that I’ve to do” ucap Marcel.
Zano mengangguk tapi dia masih penasaran.
“What is it?” tanya Zano.
“Ammmm… Yeah it is. Something that make you happy more, okay” balas Marcel lalu segera pergi sebelum Zano bertanya lagi.
Shifa dan Zainab saat ini sedang menunggu Marcel menjemputnya mereka karena itu permintaan dari Celine. Tiba-tiba seorang lelaki memakai topi untuk menutupi wajahnya di depan mereka terjatuh. Shifa dan Zainab berusaha untuk menolong tapi mereka berpikir kembali karena dia adalah seorang lelaki jadi mereka memutuskan untuk melihat keadaan pria itu saja.
“Are you okay Sir?” tanya Zai.
“Oh yaa. Never mind.” Jawabnya lalu meihat sekilas wajah dua gadis dihadapannya.
“Ok take care yourself, Sir” ucap Shifa lalu pria itu pergi.
Shifa dan Zainab saling menatap dan menaikkan kedua bahu mereka pertanda mereka bingung. Beberapa saat kemudian, suara klekson sebuah mobil mewah terdengar.
“Hello, let’s come in” ucap Marcel setelah membuka kaca mobilnya.
Shifa dan Zainab mengangguk kemudian masuk kedalam mobil Marcel. Setelah mobil itu pergi, seseorang bersembunyi di balik sebuah pohon sambil mengintai pergerakan mereka.
Bagaimana Episode kali ini? Tambah penasaran kan readers.. 🤔 Sebenarnya siapa orang yang ada di balik pohon itu? Dan Apaa yaa rencana Marcel dan Celine? Serta Kapan Shifa sadar kalau dosen tampannya Arka sudah tertarik padanya sejak pertama mereka bertemu.
Nah semua jawabannya ada di next episode yaa..🤩
ayoo dukung author agar lebih semangat nulisnya dengan cara like, klik hadiahnya, vote comment dan share ke teman2 kalian yang suka baca novel pastinya...
Buat readers yang setia membaca sampai bab ini Author mengucapkan terima kasih...
Apakah readers membutuhkan Visual untuk novel ini? Jawab di kolom komentar yaaaaa
see you for the next episode
salam author 💙