
Dua hari Kemudian.
Tut Tut… suara ponsel berdering untuk menyambut mentari pagi. Seorang pemuda tampan itu mengangkat ponselnya yang berdering.
“Ya Tuan? Aku masih berada di Villa” ucap Marcel.
“Okay.. let’s come back” ucap seserorang dari sebrang telepon.
“Okay Tuan”. Lalu Marcel bergegas untuk mandi dan kembali ke mension.
Zano sudah terlebih dahulu berada di mension sementara Marcel baru sampai.
Tuan Zardo menyambut dua anak muda itu. “How?” tanyanya pada anak kandungnya.
“Have done Ayah..” jawab Zano singkat.
Tuan Zardo tersenyum sumringah.
“Ayah dimana Uncle Jordan? Apa belum kembali?” tanya Marcel.
“Dia sudah memberitahu ayah bahwa besok dia akan kembali karena ada sedikit yang harus diurus di daerah perbatasan kota. Pastinya kau sudah tau akan hal itu” jawab Tuan Zardo.
Marcel hanya mengangguk kemudian terdengar suara langkah kaki. Tiga gadis muda itu menuruni tangga dengan anggun dan tentunya Zano hanya berfokus pada Shifa saja. Melihat anak semata wayangnya itu menatap seorang gadis dengan cara seperti itu membuat Tuan Zardo yakin bahwa Zano memang menyukainya.
“Aku harus menyelidikinya dahulu sebelum melarangnya,” batin Tuan Zardo.
Shifa yang sadar akan tatapan Zano memalingkan wajahnya saat kedua mata mereka saling bertemu. Mrarcel yang peka akan hal itu pun tersenyum dan diangguki oleh Celine juga.
“Ayo kita sarapan” ucap Tuan Zardo memecah keheningan.
***
“Ada apa tiba-tiba Shifa membatalkannya? Kenapa hatiku tidak tenang.” batin lelaki muda itu yang sedang berada di dalam kamarnya.
Arka sudah mendapatkan pesan dari Shifa kemarin bahwa gadis itu tak dapat hadir dengan alasan ada kegiatan lain yang tak dapat ditinggalkan. Arka tetap penasaran karena setahu dia bahwa anak-anak kampus tak memilki kegitan lain kemarin.
“Lebih baik aku melihat ke asramanya saja untuk memastikan” batinnya.
***
Setelah selesai sarapan di ruang makan Celine memulai pembicaraan karena daritadi mereka tak ada yang berbicara.
“Uncle.. hari ini Shifa dan Zai akan balik ke asrama.” Kata Celine .
Zano hanya diam dan melanjutkan makannya.
“Kak Zano kok diem aja sih” batin Celine.
“Lihatlah Zano apa yang akan aku lakukan hehe” batin Marcel.
“Oh yaa berhubung kak Marcel sama Tuan Zano baru balik mungkin tidak bisa mengantarkan kalian pulang” ucap Marcel untuk menjalankan rencananya lagi.
Celine yang peka maksud dari Marcel melanjutkan perkataannya. “Bener juga.. jadi bagaimana kalian pulang Shif?”
“Hah itu tak masalah. Tak usah repot-repot. Aku dan Zai bisa naik bus dari sini.” Jawab Shifa.
“Tapi kan tidak aman Shif. Bagaimana kalau minta bantuan sama kak Arka aja” ucap Celine yang membuat Marcel tersenyum karena keberaniannya tidak tanggung-tanggung.
Zano membuang nafasnya yang dapat di dengar oleh Marcel pastinya.
“Rasain lo cemburukan. Makanya Zan kalau suka tuh bilang” batin Marcel yang tentunya tidak dapat di dengar oleh Zano karena kalau bicara langsung mana mungkin dia berani. Bisa mati jika di hadapan Zano mengatakan itu.
Shifa terdiam sebentar dan saat dia ingin menjawab, Zano langsung berbicara.
“Tidak perlu aku akan mengantar kalian,” ucap Zano dingin.
Shifa yang baru sadar akan sikap Zano berbeda mengernyitkan keningnya. Zano memang dingin tapi bukan sikap dingin yang seperti ini. Shifa yang sudah terbiasa dengan sikap Zano merasa aneh dan berbeda.
“Kenapa dia? Apa ada yang salah? Kenapa dia terlihat cemberut kayak gitu?” batin Shifa.
“Gak usah kak. Kami tak mau merepotkan kalian lagi.” Ucap Zai tiba-tiba.
“Gak apa-apa Zai. Toh kak Zano bersedia kok” ucap Celine.
“Ayo berangkat” ucap Zano lalu bangkit berjalan menuju mobil mewahnya yang terparkir di depan mension.
Bagai dapat angin segar, Celine menjawab agar Shifa dan Zano lebih dekat.
“That’s why kamu harus bicara sama kak Zano Shif..”
“Maksudnya? Aku gak paham nih..”
“Sini aku bisikin”
Zai hanyamenggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh kedua temannya itu.
“Rasanya aneh..” jawab Shifa.
“Yaudah kalau kamu gak mau bantuin aku buat balikin moodnya kak Zano” ucap Celine dengan sedih.
Celine mengatakan bahwa Zano lelah dengan pekerjaannya sehingga dia harus di hibur. Celine meminta bantuan Shifa untuk itu padahal Shifa tidak tahu kalau Zano sedang cemburu padanya saat ini.
“Okay baiklah. Aku tidak ingin melihat wajahmu cemberut” jawab Shifa yang membuat Celine tertawa. Sementara Marcel sudah lebih dulu masuk ke ruangan Tuan Zardo untuk membahas masalah kemarin.
“Kak Zano..” panggil Shifa.
Zano tak menjawab namun dia memalingkan wajahnya ke depan wajah Shifa.
“Kak Zano jangan gini dong..” ucap Shifa.
Zano mengernyitkan kedua alisnya pertanda tak memahami maksud gadis di hadapnnya itu.
“Yaudah ayok kita jalan dulu” ajak Shifa tanpa sadar memegang tangan Zano.
Zano hari ini memakai dresscode jaket dan celana hitam seperti menggambarkan seorang mafia yang baru saja bertarung namun Shifa dan Zai tidak mengetahuinya. Meskipun Shifa tidak menyentuh Zano secara langsung namun Zano cukup kaget akan perlakuan Shifa kepadanya. Zano menurut dan langsung masuk ke mobil untuk segera pergi. Celine yang menyuruh Shifa untuk duduk di samping Zano.
Zano yang tampak diam saja membuat Shifa berada pada situasi tidak nyaman. Tiba-tiba Celine yang berada di kursi belakang mengajak Zai untuk membeli sesuatu di salah satu toko.
“Kak Zan.. ada yang mau aku beli sebentar di toko depan. Zai temeni aku yuk,” ucap Celine.
Zai menatap Shifa namun Celine berkata “Shifa temeni kak Zano disini aja. Kasihan Zai kak Zano sendirian di dalam mobil.”
Zai mengangguk pertanda setuju sementara Shifa masih diam tentang apa yang akan dilakukannya. Celine dan Zai sudah keluar dari mobil menuju toko. Terjadi keheningan sesaat ketika mereka berdua di dalam mobil.
“Kak Zano.. “ ucap Shifa. Zano tidak merespon ucapan Shifa. “Kak Zano” panggil Shifa sekali lagi namun Zano masih belum merespon juga dan untuk yang ketiga kali Shifa mencoba untuk berkata lagi. “Kak Zano kalau gak mau anter aku sama Zai gak papa kok biar aku sama Zai naik bus aja” ucap Shifa yang mulai kesal dengan Zano karena ucapannya diabaikan.
Zano menarik tangan Shifa saat Shifa sudah membuka pintu mobil. Shifa tertarik dan tanpa sadar sudah berada di pelukan Zano. Kedua wajah mereka berada di posisi yang sangat dekat membuat jantung Shifa berdegup kencang begitu juga dengan Zano yang baru pertama kali melihat wajah Shifa sedekat ini. “Cantik” itulah satu kata yang terucap di dalam hati Zano saat menatap wajah Shifa yang begitu dekat dengan wajahnya. Perlahan Zano semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Shifa. Shifa yang sudah takut akan perlakuan Zano tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia memang mengagumi ketampanan Zano dan di satu sisi dia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan namun semua pemikiran aneh itu tidak terjadi karena Zano hanya ingin menutup pintu mobil yang dibuka oleh Shifa. Pintu mobil sudah tertutup namun wajah keduanya masih berada di posisi awal. Ntah apa yang ada di pikiran Zano, lelaki tampan itu menjauh dari Shifa.
“Kamu jelek kalau ngambek gitu,” ucap Zano tanpa menatap Shifa.
“Yaudah kan kakak yang buat” jawab Shifa tak mau kalah.
“Shif…” ucap Zano.
“Apa? Kakak mau marah lagi? Padahal aku tadi mau ajak kakak makan ice cream” ucap Shifa.
“Makan ice cream untuk apa?”
“Ya untuk menghibur kakaklah liat mukanya kusut gitu,” jawab Shifa.
“Aku bukan anak-anak” Zano berniat menjaili Shifa lagi.
“Apa setiap yang makan ice cream adalah anak kecil kan tidak. Yaudah kalau tidak mau aku juga gak maksa kok” jawab Shifa sambil cemberut.
“Oh jadi ngambek ini ceritanya?” tanya Zano sambil tersenyum jail.
“Gak B aja” jawab Shifa kesal dan cemberut yang membuatnya semakin imut membuat Zano tak sanggup untuk tidak mencubit pipi gadis yang disukainya itu.
“Okeyy ayok kita makan ice cream..” ucap Zano sambil mencubit pipi dan hidung Shifa dengan lembut.
“Kakak ih..” ucap Shifa sambil menjauhkan tangan Zano dari wajahnya membuat Zano tertawa lepas. Baru kali ini Zano tertawa begitu bahagia dan hanya di saksikan oleh Shifa saat ini.
Jangan lupa klik tombol like, comment dan hadiahnya yaa.. Agar author lebih semangat nulisnya.. 😃
Terima kasih pendukung setia Blue Wii🤗