
Di ruang makan dengan nuansa cat abu-abu dan putih, tiga gadis cantik, dua pria yang tampak tidak muda lagi serta dua lelaki tampan sedang duduk untuk memulai ritual makan siang mereka. Zano dan Marcel tidak terkejut dengan adanya dua gadis cantik disamping Celine namun tidak dengan dengan Tuan Zardo dan Uncle Jordan yang sama sekali belum pernah melihat dua gadis itu sebelumnya. Shifa yang merasa canggung dan agak sedikit takut karena wajah ayah Zano yang menurutnya sangat tidak ramah ingin mulai bicara namun sebelum itu Celine sudah mendahuluinya.
“Uncle Zardo, Ayah.. Ini Shifa dan Zainab. Teman aku di kampus” ucap Celine dengan riang.
Tuan Zardo hanya menatap dua gadis di hadapannya tanpa berkata apapun sedangkan ayah Celine mulai tersenyum untuk menyambut teman putri tunggalnya tersebut.
“Apakah mereka berdua yang membuatmu senang?” tanya Uncle Jordan.
“Benar Ayah.. Aku senang banget bisa bertemu dan berteman baik dengan mereka,” jawab Celine antusias.
Ya, Uncle Jordan akan melakukan dan menyetujui apapun yang membuat putri semata wayangnya itu bahagia namun tetap dengan pengawasannya. Dia hanya ingin putrinya selalu bahagia sebagai penghilang rasa bersalahnya karena tidak pernah menceritakan tentang ibu dari anaknya itu.
Sementara Tuan Zardo hanya mendengar dan menyimak pembicaraan antara adik dan keponakannya itu tanpa berkata apapun. Hal itu juga yang membuat Zano merasa aneh dengan sikap ayahnya itu. Apa yang sebenarnya ayahnya pikirkan. Ntahlah, dia akan mencari tahu nanti.
Sepanjang acara makan siang itu terasa hening, setelah pembicaraan antara Celine dan ayahnya tak ada lagi yang melanjutkan untuk berbicara. Mereka lebih memilih dengan pikirannya masing-masing. Acara makan siangpun selesai.
“Mau apa Shif?” tanya Celine kaget saat dia hendak bangkit dari kursinya.
“Mau bantu beresin ini,” tunjuk Shifa pada piring-piring kotor yang berada di atas meja makan mewah milik sang mafia tersebut.
“Hoh, Shif untuk apa? Pelayan di sini memang digaji untuk itu. Sudahlah ayo ikut aku ke kamar, kita lanjutin lagi acara belajar bareng kita,” ucap Celine kemudian menarik tangan Shifa dan Zai untuk segera pergi dari ruang makan itu.
Salah satu pelayan memperhatikan gerak gerik Shifa. “SemogaTuan Zano bisa memiliki teman hidup seperti gadis itu,” ucap salah satu pelayan itu.
Di sisi lain, Tuan Zardo, Uncle Jordan, Zano dan Marcel sedang berkumpul di ruang pribadi mereka yang biasanya digunakan untuk membahas tentang pekerjaan mereka.
“Zano, sepertinya mereka tiada henti-hentinya mengganggu kita. You know me so well, haruskah aku melakukannya sekarang. Aku sungguh tidak sabaran,” ucap Tuan Zardo dengan wajah sedingin es.
“Be patient, Ayah. However, we can’t wait it anymore but I guess we’ve to think about it more. They’re not easy and so danger” ucap Zano dengan sikap tak kalah dinginnya dengan Tuan Zardo.
“Yeah, I think so. Make sure, they’ve a strategy to make us lose and weak,” ucap Uncle Jardo.
“It’ll be better if I go there right now. Willy nilly, we have to do something,” ucap Zano yang mulai bersiap-siap untuk langsung pergi ke tempat tujuan yang mereka bicarakan.
“Are you sure, Zano?” tanya Uncle Jordan.
“Of course, Uncle,” jawab Zano dengan serius.
Tuan Zardo yang melihat sikap anaknya seperti itu merasa berhasil mendidik Zano sesuaiapa yang dia harapkan. Bukan Zano namanya kalau bertindak sebelum berpikir dan menyusun strategi. Dari kecil Zano sudah dididik oleh ayahnya untuk bertindak cerdas, penuh strategi, pemberani dan bertanggung jawab. Melihat itu tak ada keraguan bagi Tuan Zardo untuk memberikan tugas yang begitu berbahaya ini kepadanya.
“Baiklah, ayah tetap di mension ini untuk melihat kondisi dan kamu Jordan, lebih baik kau mengawasi daerah perbatasan kota ini dan biarkan Zano dan Marcel ke pelabuhan.
“Baik, tapi aku ingin kau menjaga putriku,” ucap Uncle Jordan.
“Who do you think I am?”ucap Tuan Zardo dingin dan aura mafianya mulai terlihat. Jika saja saat ini Shifa dan Zainab melihat ekspresi keempat pria di ruangan ini maka tak dapat di pungkiri mereka yakin bahwa ini adalah mension mafia.
***
“Huf.. capek juga belajar yaa hihi..” ucap Celine yang sudah merebahkan badannya di kasur king sizenya.
“Apanya yang capek Celine, kita baru belajar tiga lembar,” ucap Zainab.
“Apa ? Baru kamu bilang Zai, itu tiga lembar loh” ucap Celine dengan wajah frustasi karena kelelahan.
Shifa melihat dua temannya itu hanya tersenyum dan melanjutkan kegiatannya lagi yaitu membaca tentang hukum politik negara dan tentunya itu mata kuliah dari Arka juga.
“Shif..” panggil Celine.
“Ya?”
“Apa kamu tidak lelah dari tadi membaca mulu gak siap-siap perasaan,” tanya Celine.
“Nope, baby” jawab Shifa.
“He em .. tumben nih” sambung Zai.
“Apa?” tanya Shifa tak mengerti.
“Apaan sih Zai. Don’t like that,” ucap Shifa sambil tersenyum manis.
Saat mereka berbincang-bincang di kamar, suara ketukan pintu terdengar.
Tuk Tuk Tuk Tuk
“Non.. Tuan Zardo memanggil nona untuk turun ke bawah” ucap pelayan yang mengetuk pintu.
“Okay, Bi.”
“Ada apa?” tanya Shifa kepada Celine.
Celine menaikkan kedua bahunya pertanda tak tahu. “Yuks ikut aku ke bawah,” ajak Celine.
Celine, Shifa dan Zainab sudah beradadi lantai bawah mension, mereka bertiga tampak bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Uncle.. ada apa? Ayah, kak Zano dan kak Marcel mau pergi kemana?” tanya Celine dengan polosnya.
Sementara itu, Marcel yang sudah khawatir kalau Celine keceplosan berkata tentang pekerjaan mereka sebenarnya yang Celine tentunya ketahui. Dan tanpa sadar juga anak dari seorang mafia itu bertanya seperti itu yang membuat kedua temannya berpikir curiga dikarenakan situasi yang sangat menegangkan seperti ini. Dalam kondisi seperti ini Shifa dan Zai merasa aneh dan sedikit takut ada apa sebenarnya dengan mereka.
“Kamu berpikiran sama tidak denganku Shif?” bisik Zai di telinga Shifa dengan suara yang sangat pelan.
Shifa tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk pertanda mereka dalam pemikiran yang sama yaitu menaruh curiga pada orang-orang yang berada di mension itu. Zano yang peka terhadap situasi ini pun memecah keheningan.
“Kakak dan yang lainnya ada urusan Celine. Aku minta padamu untuk tidak keluar mulai detik sampai besok, okay” perintah Zano.
“Kenapa kak?”
“Tak usah banyak bertanya Celine” sekarang Tuan Zardo yang bersuara.
Jika sudah berhadapan dengan pamannya itu, pastinya Celine tidak berani. Tuan Zardo lah yang lebih ia takuti di bandingkan dengan ayahanya sendiri. Celine terdiam kemudian ayahnya angkat bicara juga.
“Selama ayah pergi, jangan berani kemana-mana Celine termasuk dua teman mu” perintah Uncle Jordan.
“Tapi ayah..”
“Tapi apa?”
“Tapi besok Shifa dan Zai akan ada janji dengan dosen” ucap Celine dengan wajah khawatir.
Zano yang awalnya tidak menghiraukan perkataan Celine menjadi fokus terhadap ucapan Celine barusan.
“Dosen? Siapa? Atau anak itu?” Zano bertanya pada dirinya sendiri.
Nah, readers penasarankan apa yang akan dilakukan Zano dan rekan"nyaa..
Ikuti terus yaa perjalanan Zano dan Shifa..
ceritanya bakalan panjang nih
Sorry author lama up nya dan terima kasih pada readers yang setia selalu
Thank u...🩵🙌🫶