
Di asrama, Zai sedang mengerjakan tugas kampusnya namun tiba-tiba dia teringat dengan sahabatnya.
“Shifa kemana yaa, kenapa dia belum pulang,” ucap Zai.
Zainab melihat ponselnya namun Shifa memang belum mengabarinya kenapa dia belum pulang sampai sekarang.
Dikediaman Black Wolf
Shifa sudah selesai memasak makanan untuk Zano. Disaat Shifa akan pergi dari dapur, salah satu pelayan Black Wolf menghampirinya. Seorang wanita paruh baya namun wajahnya menggambarkan seseorang yang tulus dan baik.
“Maaf Non, Izin bertanya. Ini makanan buat Tuan Zano?” tanya pelayan itu.
“Hoh iya benar Bu,” jawab Shifa sambil tersenyum.
“Wajahnya cantik sekali sama seperti attitudenya,”ucap pelayan itu dalam hati.
“Bu.. Maaf yaa udah berantakin dapurnya, tapi Shifa udah bersihin kok,” ucap Shifa.
Pelayan itu masih terdiam. “Oh nama gadis ini Shifa,” ucap pelayan itu dalam hati.
“Bu…,” Shifa menyadarkan lamunan pelayan itu.
“Oh yaya Non, tidak apa-apa. Itu sudah kewajiban saya bekerja. Silahkan Non,” ucap pelayan paruh baya itu mempersilahkan Shifa pergi.
“Aneh.. tidak biasanya Tuan Muda Zano tertarik pada gadis apalagi dia seorang gadis berhijab. Semoga gadis itu mau menerima Tuan Zano nantinya,” gumam pelayan itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Shifa mengetuk pintu kamar Zano sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman sehat yang telah dia masak.
Shifa terkejut ketika pintunya terbuka dengan sendirinya. Ya, pintu kamar Zano sudah dihubungkan dengan alat canggih sehingga bisa terbuka otomatis. Shifa masuk dan duduk di samping Zano dan masih memegang nampannya. Zano kembali menatap wajah Shifa. Begitu bahagianya Zano sekarang karena Shifa sudah mau membuatkan makanan untuknya.
“Kenapa kamu ketuk pintunya?” tanya Zano dengan lembut.
“Hah, itu kak Zano aku takut kakak terganggu,” ucap Shifa canggung karena dia bingung ada apa dengan dirinya, kenapa dia jadi canggung begini.
“Thanks yaa,” ucap Zano sambil menatap makanan yang Shifa bawa.
Shifa ingin menjawab namun Zano berbicara lagi.
“Kamu buatkan kakak apa?” tanya Zano.
“Kata Ibu aku, kalau sedang sakit baiknya makan yang hangat dan mudah dicerna jadi aku buatin kakak bubur tapi ada irisan daging ayamnya, seledri dan bawang goreng jadi kakak gak akan merasa mual saat memakannya,” ucap Shifa.
Zano yang mendengar itupun tersenyum sempurna. “Kamu tau kalau kakak gak suka bubur?” tanya Zano.
“Bukan kak, kan biasanya cowok gak suka bubur, benar kan?” tanya Shifa lalu mengambil mangkuk buburnya dan meletakkan nampannya di atas nakas.
“Ini kak..,” ucap Shifa memberikan mangkuk buburnya kepada Zano. Melihat tangan Zano yang sedang di perban, Shifa akhirnya berbicara kembali.
“Oh I’m so sorry kak, I’ve just realized about your arm,” ucap Shifa lalu mencoba untuk menyuapi Zano. Zano pun bahagia atas perlakuan Shifa kepadanya.
“Kakak gak papa kan aku suapin?” tanya Shifa.
“Iya..” jawab Zano dingin tapi dengan senyuman di wajahnya. Shifa senang karena Zano menurut padanya.
“Tapi kakak minum air hangatnya dulu,” perintah Shifa dengan lembutnya.
“Hm…,” jawab Zano masih menuruti perintah Shifa.
Shifa menyuapi Zano dengan sabar dan penuh kelembutan. Ntah kenapa, dengan perlakuan Shifa yang seperti ini Zano sangat senang, seolah semua masalah yang ada dipikiran hilang seketika.
“Udah yaa..” ucap Zano padahal sebenarnya dia masih ingin. Karena suasana hening, Zano mencoba untuk menjaili Shifa lagi.
“Apa? Kakak masih makannya sedikit kok udah?” ucap Shifa.
“Kakak udah kenyang Shif,” ucap Zano.
“Apa buburnya gak enak yaa?” tanya Shifa sedih.
Zano pun tersenyum melihat wajah Shifa yang cemberut dan sedih.
“Bahkan ini makanan terenak yang pernah aku makan,” ucap Zano di depan wajah Shifa.
Blushh… Raut wajah Shifa berubah jadi canggung karena saat ini wajahnya dekat dengan wajah Zano. Zano kembali dengan posisi awal karena melihat wajah Shifa yang memerah karena ngeblush.
“Jadi kenapa kakak gak habiskan buburnya,” tanya Shifa.
“I’m just kidding, ayo kakak mau lagi nih,” ucap Zano sambil tertawa.
“Biasanya kulkas juga,” ucap Shifa dengan senyuman.
“Siapa?” tanya Zano.
“Kakak,” ucap Shifa lalu kembali menyuapi Zano.
Zano hanya tertawa merespon ucapan Shifa dan menerima suapan dari gadis yang disayanginya itu. Mereka saling bercanda dan tertawa bersama, setelah beberapa menit tak terasa buburnya sudah abis.
“Okay.. Setelah ini kakak minum obat yaa..” ucap Shifa sambilmengambil obat Zano.
“No.. Shif,” ucap Zano.
“Kak…,” ucap Shifa sambil menatap Zano lekat. Zano yang di tatap Shifapun hanya bisa menurut. Mana mungkin dia bisa menolak perintah Shifa.
“Okay.. ,” ucap Zano.
Setelah Zano meminum obatnya, Shifa kembali membereskan mangkuk dan gelas di atas nampan dan akan ke dapur namun dicegah oleh Zano.
“Shif, biar pelayan yang membersihkannya,” ucap Zano.
“Gak papa kok kak Zan, ini hanya sebentar,” ucap Shifa.
Zano yang tidak ingin jauh dari Shifa pun berbicara lagi. “Ada yang ingin aku katakan Shif,” ucap Zano.
“Okay kak tapi setelah aku mengembalikan ini dulu yaa,”ucap Shifa.
Zano menarik tangan Shifa untuk duduk di sampingnya. Wajah Zano tampak serius saat ingin berbicara. Zano sebenarnya ingin sekali Shifa membuatkan makanan untuknya setiap hari, tapi dia mengingat kembali saat ini Devil Horns pasti memata-matai orang-orang yang berhubungan dengannya, termasuk Shifa.
“Ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu,” ucap Zano.
Shifa hanya diam menunggu penjelasan Zano.
“Mulai sekarang kamu harus hati-hati yaa.. I know maybe you confused right now, but kakak gak mau liat kamu sampai terluka Shif,” ucap Zano dengan tulus.
Shifa tampak bingung kenapa Zano tiba-tiba berkata seperti itu.
“Sorry, but I didn’t catch it,” ungkap Shifa.
“I’m so sorry, yaa Shifa mungkin kamu belum paham sekarang tapi..,” ucapan Zano terhenti karena untuk saat ini tidak mungkin dia menjelaskannya kepada Shifa.
“Tapii..?” tanya Shifa.
“You’ve to remember what I say to you, ok” ucap Zano tegas.
Shifa selalu bingung dengan sikap Zano yang berubah-ubah. Terkadang dia dingin namun tiba-tiba bisa berubah jadi serius dan kadang suka becanda.
“Aku masih bingung dengan dia. Kak Zano, siapa kamu sebenarnya?” tanya Shifa kepada dirinya sendiri.
Di kamar Marcel.
“Kak Marcel kok bisa ajak Shifa kemari?” tanya Celine yang mulai menerima Marcel.
“Bisa dong Marcel gituu..,” ucap Marcel.
Marcel yang sadar Celine sudah mulai menerimanya pun menatap Celine dengan senyumannya.
“Kak Marcel udah berubah ke mode awalnya, yes Celine kau lega sekarang,” ucapnya sendiri.
“Makesure kakak punya rencana nih, aku curiga sama kak Marcel,” ucap Celine.
“Iya dong.. but kamu mau gak bantuin kakak,” tanya Marcel.
“Bantuin apa nih sekarang?” tanya Celine.
“Sini aku bisikin,” kemudian Marcel mengatakan rencananya kepada Celine di dekat telinga Celine.
“Tapi aku takut kak,”
“Takut kenapa?” tanya Marcel bingung.
“Takut pada akhirnya Shifa tau siapa kita dan kak Zano sebenarnya. Apa setelah Shifa tau semuanya tentang kita, masih mau berhubungan dengan kita lagi,” ucap Celine sendu.
“Kalau untuk itu, semua pasti ada jalan keluarnya Cel.. Kamu tenang aja,” ucap Marcel menasehati.
**Hello readers, jgn lupa vote, like n follow author yaa spy author lbh smgt nulisnyaaa...
thks for reading 💖**