Unexpected Love

Unexpected Love
4. LET'S GO HOME KI-RAN !



Kiran mulai mengemasi barangnya, menyusun semuanya dengan rapi ke dalam koper. Liburan empat harinya sudah berakhir. Waktunya Kiran kembali ke rumah dan menjalani aktivitasnya seperti biasa. Edward berdiri menatap Kiran dari ambang pintu. Adik kecilnya itu sudah berubah jadi wanita dewasa sekarang.


"Mau aku antar ke bandara?" tanya Edward yang kini berjalan mendekati Kiran. Edward duduk di tepi ranjang memperhatikan Kiran yang masih sibuk dengan kopernya.


"Aku naik taxi saja," jawab Kiran sambil duduk di samping Edward. "Kapan kau kembali ke Yogya? Setidaknya kunjugi aku sesekali," sambung Kiran.


"Baiklah, aku akan meluangkan waktuku untuk mengunjungimu, aku pergi dulu ya," Edward bangun dari duduknya lalu mengacak rambut Kiran.


"Janji?" Kiran menaikkan alisnya menatap Edward dengan penuh harapan.


"I'm promise," kata Edward dengan sungguh-sungguh.


"Okay, pergilah kau harus menghasilkan uang agar tetap hidup," goda Kiran sambil melambaikan tangannya. Edward pergi meninggalkan Kiran dengan kopernya yang belum juga selesai dibereskan.


10.00 AM di dalam pesawat...


Kiran sudah duduk di kursinya. Kursi yang berada pada sayap kanan pesawat baris ke-5 dari depan. Kiran duduk sambil memandang ke luar jendela. Hari ini langit tak cukup cerah, gerimis hujan masih membasahi jendela yang kiran tatap. Dan karena cuaca ini penerbangan Kiran tertahan hingga setengah jam ke depan.


Kiran mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang ada di pangkuannya, merubah mode ponselnya dari mode dering ke mode pesawat. Kiran memakai earphone-nya mulai memutar lagu yang membuatnya merasa mengantuk dan memejamkan matanya.


"Pssssssssst," suara desisan dari kursi kosong yang ada di samping Kiran.


Kiran yakin sesaat sebelum dia memejamkan matanya kursinya masih kosong. "Kau terlihat lebih imut jika dilihat dari dekat seperti ini," ucap seseorang di samping Kiran dan dia sangat mengenal suara siapa itu. Suara seseorang yang paling Kiran tidak ingin dengar seumur hidupnya.


Mata kiran yang terpejam seketika terbuka. Kiran menoleh kearah kiri, "ARRRRGHHH," Kiran berteriak dengan sangat kencang membuat semua penumpang di dalam sana menatapnya penuh dengan tanda tanya.


Seorang pramugari mendatangi Kiran, "Maaf Ma'am ada masalah, ada yang bisa saya bantu," kata pramugari itu dengan senyuman ramahnya.


"Tidak-tidak, kami tidak butuh bantuan, Istriku..." Sean mengalihkan pandangannya dari Pramugari ke wajah Kiran saat mengucapkan kata Istri, "dia kadang merasakan panik ketika pesawat akan lepas landas," Sean menggerakkan telunjuknya seakan menyuruh sang pramugari mendekatkan wajahnya, tepat di telinga sang prmmugari Sean melanjutkan kata-katanya dengan setengah berbisik, "sebenarnya, ini pertama kali dia naik pesawat."


"KAU!" pekik Kiran yang mendengar apa yang Sean bisikkan kepada pramugari.


"Lihat, Istriku malu," kata Sean sambil mencubit gemas pipi Karin.


"Aku permisi dulu Sir, semoga penerbangaan pertamamu menyenangkan Ma'am," kata Pramugari lalu pergi meninggalkan Sean dan juga Kiran.


Kiran menepis tangan Sean yang mencubit pipinya. Sekarang Kiran sedang memelototi Sean yang sedang tersenyum dengan wajah tak berdosanya. Setelah membual dan membuat kebohongan ke Pramugari yang menghampiri mereka, Sean hanya tersenyum konyol. Kiran sungguh penasaran dengan isi kepala lelaki ini. Jangan-jangan otak Sean terlalu kecil untuk berpikir sebelum bertindak jadi dia selalu melakukan hal-hal bodoh yang bisa membuat orang lain marah.


Sean tersenyum lagi kali ini dengan senyum yang lebih lebar menampakkan gigi-ginya yang tersusun rapi. Sean menggerakkan bahunya seakan mencari posisi yang pas untuk menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sean menegenakan kembali kaca mata hitam yang menggantung di kerah kaos polo classic miliknya.


"Apa yang kau lakukan di si-ni," kata Kiran yang setengah berbisik.


"Nope," jawab Sean singkat. Di dalam hati Sean sedang tersenyum dan sekarang yang dia lakukan pura-pura tertidur. Rasanya menyenangkan membuat wanita yang duduk di sebelahnya ini menjadi kesal. Sean hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sebelum rasa penasarannya hilang. Sean akan menempeli Kiran seperti permen karet. Tak peduli gadis itu suka atau tidak.


Mata Kiran sudah hampir keluar karena menatap Sean. Lelaki itu membuka kaca mata hitamnya. Sean meletakkaan telunjuknya di atas dahi Kiran, "jangan terlalu dekat melihatku," kata Sean sambil mendorong kepala Kiran dengan telunjuknya, "tatapanmu benar-benar membuat jantungku salah tingkah," sambung Sean.


Sean melepaskan telunjuknya yang menempel di dahi Kiran lalu tangannya bergerak untuk mengelus kepala Kiraan dengan lembut, "mengerti?" tanya Sean dengan senyumnya.


Kiran mengeratkan rahangnya. Bukannya senang dengan perlakuan manis yang Sean berikan, dia malah merasa kesal, "kau mau tahu tentang sesuatu yang aku pikirkan Mr. Goldstein?"


"Apa?" tanya Sean yang sudah kembali duduk dengan punggung yang bersandar di kursi. Satu kakinya di pangku dan kedua tangannya bersedekap di depan dada.


Kiran mengambil kaca mata hitam yang di pegang erat oleh Sean, "jika memang pesawat ini jatuh di sebuah pulau tak berpenghuni dan yang tersisa hanya kita berdua," Kiran berhenti memberikan jeda yang cukup panjang, Sean yang penasaran langsung menatap Kiran dengan wajah seriusnya.


Sialnya mata Kiran melirik ke arah bibir Sean membuat Sean yang menyadari apa yang Kiran lihat menarik senyum tipis, "jadi kenapa jika yang tersisa hanya kita berdua? Kau mau bercinta di langit yang terbuka?" tanya Sean sambil memberikan flying kissnya.


Kiran terkekeh dia tersenyum lalu wajahnya berubah lagi menjadi datar, "making love? Just keep that things in your fucking mind, tentu saja yang aku akan lakukan menjadikanmu sebagai makan malam," kata Kiran sambil menghembuskan nafasnya kasar.


Kiran memasangkan kembali kacamata Sean, "jadi walaupun kita hanya tinggal berdua di pulau itu, sebaiknya kau tetap bersembunyi dan menjauh, terkadang apa yang kau lihat tak seperti yang ada di pikiranmu... wanita di hadapanmu ini bisa saja berubah jadi pemangsa yang akan membunuhmu untuk dijadikan makan malamnya," kata Kiran lalu dia kembali mengabaikan Sean dengan wajah yang mulai pucat.


Sean mengangkat kedua tangannya untuk menutup mulutnya. Yang baru saja dia lihat dan dengar benar-benar mengerikan. Wanita macam apa yang mengancam dengan cara yang sekejam itu.


Sean hanya melihat Kiran menarik senyum tipisnya, wanita itu benar-benar mengabaikan Sean dan terus melihat ke luar jendela menatap gumpalan awan yang terlihat seperti bola-bola kapas raksasa.


"Apa yang duduk di sampingnya ini adalah benda mati, Apa aku batu? Wanita ini benar-benar menyebalkan... tapi lihatlah senyumnya itu seperti gula-gula," gumam Sean dalam hati.


Sepanjang penerbangan Sean terus menatap Kiran secara diam-diam. Sean benar-benar merasa menjadi seorang penguntit sekarang. Sean ingin mengobrol dengan Kiran, tapi Kiran seperti tak ingin diganggu oleh Sean. Sekarang Sean terjebak di situasi, di mana dia benar-benar ingin menyapa tapi takut diabaikan.


"Hmmmmm," Sean berdeham, sungguh dia tidak bisa berada di situasi yang secanggung dan setenang ini.


"Lebih baik kau diam jangan coba-coba mengajakku berbicara, seperti yang kau bilang pada Pramugari Istrimu ini sedang panik karena penerbangan pertamanya," kata Kiran memperingatkan.


Kiran benar-benar mengabaikan Sean. Wanita itu benar-benar tidak mengharapkan Sean duduk di sampingnya. Mau ini takdir atau cuma kebetulan, Kiran menganggap pertemuannya dengan Sean adalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang bisa saja mengembalikan luka lama milik Kiran yang belum juga sembuh.


Bicara soal luka, Kiran sudah mencoba melupakan kenangan buruk itu. Tapi, semuanya nampak seperti kaset tua yang rusak, terus berputar dan berulang di kepalanya. Sekuat apa pun dia mencoba, ada saja yang membuat air matanya jatuh dan jatuh lagi. Mungkin Kiran membutuhkan seseorang untuk menyembuhkan lukanya. Tapi, Kiran sendirilaah yang tak pernah lagi membuka hatinya untuk orang lain.


Kiran terkejut ketika kepala Sean jatuh di pundaknya. Dia menoleh dan mendapati Sean sedang tertidur. Kalau hati nurani Kiran sedang tidak bekerja sekarang, dia akan mendorong kepala Sean untuk menjauh dari pundaknya. Kiran melirik ke wajah Sean, wajah yang menyebalkan itu berubah jadi manis ketika matanya terpejam.


Jantung Kiran kembali berdebar, hanya dengan menatap Sean jantungnya kembali berdebar. Karena debaran jantungnya, Kiran berhenti menatap Sean. Kiran pun kembali mengalihkan pandangannyaa menatap kembali gumpalan awan yang nampak seperti bola-bola kapas raksasa.


Kiran berusaha mengembalikan ritme jantungnya menjadi normal. Tapi usahanya gagal ketika kepala Sean bergerak di atas pundak Kiran seperti ingin mencari tempat yang pas untuk menjadi bantalannya. Kiran sudah tidak bisa menahannya lagi, "kau pikir


aku bantalanmu hah," kata Kiran sambil mendorong kepala Sean menjauh dari pundaknya.


Sean terkejut dan terbangun dari tidurnya, dia menghentakkan kakinya dan juga menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Sean kesal bukan main, mimpi indahnya begitu saja sirna saat kepalanya diguncang secara paksa.


"BABE!" pekik Sean dan membuat seluruh penumpang di dalam pesawat menoleh kepadanya.


Kiran melotot dengan tatapan lasernya, "What the‒" kalimat Kiran terhenti karena telunjuk Sean sedang menghalangi mulutnya untuk berbicara.


"Ssssst... Kiran jaga perkataanmu, banyak anak kecil di sini, dan sebentar lagi kau akan jadi Ibu, jaga sikapmu sayang," kata Sean dengan senyum manisnya.


Mata Kiran semakin melebar mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Sean. Kiran sedang berada di puncak amarahnya sekarang. Asap sudah keluar dari pucuk kepala Kiran. Dan Kiran, menarik telunjuk Sean yang menempel di bibirnya.


"Hentikan semua omong kosongmu, atau aku akan melemparmu sekarang!" gertak Kiran dengan suara yang tertahan karena Kiran tak mau menjadi perhatian semua orang.


Sean mengembangkan senyumnya. Semua yang terucap dari bibir Kiran terdengar sangat merdu. "Lakukanlah..." kata Sean sambil menangkup wajah Kiran lalu menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan, "lalu kita semua akan mati karena ulahmu," Sean mengedipkan matanya lalu memberikan flying kiss-nya.


Oh tidak! Takdir sedang bermain dengan hidup Kiran. Kenapa dia dipertemukan dengan lelaki menyebalkaan seperti Sean. Lelaki yang tak bisa mencerna kata-kata dan memahami bahwa orang lain merasa terganggu karenanya.


"Apa kau selalu menyebalkan seperti ini?" tanya Kiran.


"No, aku itu tidak menyebalkan Ki-Ran, tapi sangat-sangat menyebalkan, tapi aku sedang berusaha tidak menjadi menyebalkan di depanmu, bukankah aku terlihat seperti pria idaman semua orang sekarang?"


Wajah Kiran berubah datar. Kedua tangan Sean masih menggerakkan wajah Kiran ke kiri dan ke kanan seperti boneka pajangan. Mereka tidak sadar beberapa orang sedang merekam mereka. Siapa yang tidak tertarik merekam tingkah pasangan manis yang sangat menggemaskan itu.


"Kau lepaskan sendiri tanganmu yang menempel di pipiku, atau‒"


"Or What's Babe?"


"Aku patahkan tanganmu jadi 16 bagian," kata Kiran dengan nada yang datar lalu dia menarik senyumnya yang terlihat menakutkan.


Sean langsung melepas tangannya, dia tidak ingin turun dari pesawat dengan tangan yang tak bisa digerakkan, "Oke!" seru Sean. Kemudian, Sean diam begitu juga dengan Kiran. Mereka berdua melanjutkan penerbangan dengan tenang tanpa menganggu satu sama lain.


.


.


.


To be continued ~