Unexpected Love

Unexpected Love
2.1 CRAZY THINGS!



"BRAAAAK!" suara buku-buku jari Sean yang menghantam meja.


"Aku bilang kerjakan semuanya dengan benar! Apa yang kalian lakukan hah! AKU MINTA DATA ITU SECEPATNYA, JIKA SAMPAI BESOK SEMUA DATA ITU TIDAK ADA DI ATAS MEJAKU KALIAN SEMUA AKAN AKU PECAT!" bentak Sean sambil meninggalkan ruang rapat.


Sepertinya darah Sean sedang mendidih sekarang. Dia meninggalkan ruang rapat itu dengan wajah kesal. Sean menarik lepas dasi yang sedari tadi mencekik lehernya. Seperti barang tidak berharga, Sean membuang dasinya ke tong sampah. Dia berjalan dengan langkah kaki cepat. Semua pegawai yang berpapasan dengannya seketika menundukkan wajah mereka. Bos mereka punya temperamen yang sangat buruk. Ketika dalam mood yang bagus saja Sean selalu berkata kasar apa lagi saat moodnya sedang buruk seperti ini.


"Apa yang kau lihat, heh!" tegur Sean kepada pegawainya yang tak sengaja matanya bertautan dengan mata Sean.


Ini masih pagi dan Sean sudah kehilangan moodnya untuk tetap di kantor sampai sore. Sean memilih pergi meninggalkan kantornya mencari udara segar untuk pikirannya yang sedang kusut. Sean pikir ini ide yang terbaik.


Sean berjalan ke arah area parkir. Menaiki mobil audi hitamnya. Membelah jalan raya yang tak terlalu ramai. Tak ada tujuan, Sean hanya terus melajukan mobilnya sesuka hati. Akhirnya Sean berhenti di salah satu tempat pusat perbelanjaan yang ada di Singapore, Lucky Plaza. Dia bermaksud menghabiskan beberapa dollar untuk membeli sesuatu yang tidak penting di sini. Atau sekedar melihat gadis-gadis muda yang cantik mencoba sepatu mereka kalau saja ada yang tertarik pulang bersamanya nanti.


Sean masuk ke salah satu toko sepatu dengan brand 'high class'. Dia duduk di kursi VIP seperti yang biasa dilakukannya jika ke sini. Matanya menjelajah ke setiap sudut ruangan. Dia berusaha terlihat cool dan seolah tidak peduli dengan tatapan liar para pegawai toko. Dan mata Sean berhenti pada sosok wanita berambut hitam panjang dengan dress warna peach serta heels berwarna hitam.


"Let's catch her!" seru Sean dalam hati.


Sean beranjak dari kursinya. Menyugar rambut hitamnya ke belakang penuh dengan pesona. Satu tangannya dimasukkan ke saku. Berjalan lurus tepat di mana wanita itu berdiri.


Di hadapan wanita itu Sean berkata, "mungkin takdir sedang bermain dengan kita, dan aku tak pernah menanggalkan sumpahku," tanpa ragu Sean menarik dagu wanita itu dan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu.


Sebuah kecupan yang penuh dengan tekanan dan rasanya kecupan itu agak sedikit penuh dengan paksaan. Sean melepas kecupannya ketika tangan si wanita itu mampu mendorongnya dan membuat jarak di antara mereka.


Adinda Kirana! Wanita itu Kiran. Bukannya menolong semua orang yang melihat mereka malah bertepuk tangan dan bersiul. Mereka pikir sedang melihat adegan mesra sepasang kekasih yang saling menunjukan rasa cinta dan kasih. Kiran menatap Sean dengan tatapan penuh amarah. Nafas Kiran memburu hingga dadanya naik turun.


"Apa yang kau lakukan tadi, BODOH!" pekik Kiran yang kesabarannya sudah terbakar habis tak bersisa.


"Tadi namanya berciuman, tidak bukan yang tadi namanya sebuah kecupan sini aku berikan ciuman yang sesungguhnya," kata Sean sambil menarik dagu Kiran lagi. Tapi, dengan cepat Kiran menepis tangan Sean yang akan mendarat di dagunya.


Kiran tersenyum lebar, dan kemudian menginjak kaki Sean dengan keras. "Pergi kau ke neraka!" kutuk Kiran lalu berusaha pergi meninggalkan Sean.


Sean meringis kesakitan tapi dia berusaha mengejar Kiran, "Hei tunggu, jelaskan kenapa kau pergi? Kau tidak menyukainya heh?"


Kiran menghentikan langkahnya membuat Sean juga tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Kiran berbalik dengan ekspresi wajahnya yang datar, "Aku harap ini pertemuan terakhir kita, dan ya boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Kiran dengan senyuman manisnya.


Sean bagai terhipnotis. Dengan bodoh Sean membalas senyum Kiran sambil menyerahkan ponselnya. Kiran mengambil ponsel Sean. Dia membuka phonebook yang ada di ponsel Sean. Dan apa yang dipikirkannya benar. Namanya masih tersimpan di sana. Dan dengan cepat Kiran menghapus kontaknya di ponsel milik Sean.


"Sekarang aku yakin kita tak akan bisa berhubungan lagi," kata Kiran sambil mengembalikan ponsel milik Sean.


Sean masih menatap Kiran dengan tatapan bodohnya dan setelah punggung Kiran tak lagi terlihat barulah Sean sadar bahwa Kiran telah menghapus nomor ponselnya di phonebook yang ada di ponsel miliknya.


"Dasar licik, gadis itu menipuku, padahal aku ingin menanyakan sesuatu!" keluh Sean yang menatap layar ponselnya kesal.


Kiran berusaha menghilang secepat mungkin dari hadapan Sean. Lelaki itu berbahaya. Sean berani menciumnya di tempat umum! Sekarang Kiran merasa sangat malu dan hampir mati karena rasa malunya. Tapi, apa yang dilakukan jantungnya sekarang? Jantungnya malah berdebar. Kiran memukul dada kirinya beberapa kali. Berharap pukulannya itu bisa menetralkan detak jantungnya yang berpacu makin cepat.


Sebuah tangan kokoh tiba-tiba merangkul Kiran. Membuat Kiran bertindak spontan dengan menepis tangan itu karena kaget. Dan Edward menatap Kiran dengan bingung, "Why? I'm so sorry," kata Edward sambil mengangkat tangannya di udara.


Kiran menghembuskan nafas lega. Dia pikir itu Sean. Edward hampir membuat dirinya terkena serangan jantung lagi tadi.


"Hei kau tadi melihatnya Kiran?" tanya Edward sambil merangkul kembali pundak Kiran.


Kiran menatap wajah Edward dengan penuh tanda tanya, "lihat apa?"


"Tadi ada pasangan yang berciuman di tengah plaza, memalukan sekali," kekeh Edward.


Kiran melebarkan matanya dan dia berpura-pura tertawa dan memberikan senyum kakunya kepada Edward, "kau melihatnya ju-ga ya..." kata Kiran yang nada bicaranya terasa kaku.


"Ya tentu, aku rasa orang-orang yang ada di plaza ini melihat mereka," sambung Edward yang sama sekali tidak menyadari bahwa wanita pasangan pria tadi adalah Kiran.


"Ya...ya..."


"Kenapa ya? Kau ini kenapa Kiran? Kau sakit, sepertinya kau lelah ayo kita pulang," ajak Edward.


Kiran bersyukur Edward cepat membawanya pulang. Liburan macam apa ini. Kiran berharap ketika pulang otaknya kembali jernih dan membawa banyak oleh-oleh. Bukannya membawa beban pikiran yang baru saja Sean ciptakan.


"Dasar lelaki mesum!" cicit Kiran yang sudah duduk manis di dalam mobil.


"Kau bilang apa Kiran?" tanya Edward yang melihat tingkah Kiran yang semakin menjadi aneh.


Kiran hanya bisa melemparkan senyum palsunya lagi, "heh... tidak –tidak! Aku tidak apa-apa Ed, sungguh," jawab Kiran yang ingin meyakinkan Edward bahwa dirinya memang benar-benar tidak apa.


Edward mengacak rambut Kiran, "ayolah jika kau ada masalah kau bisa cerita kepadaku, aku kan sudah seperti kakakmu, aku rasa kakakmu akan sedih di sana jika melihat adiknya murung seperti ini," kata-kata Edward sungguh meneduhkan hati Kiran.


"Baiklaah Ed, kau pikir Gio akan sedih melihatku tertimpa masalah, kau tahu dia adalah orang pertama yang tertawa paling lantang jika aku ada dalam masalah..." Kiran diam, ada jeda yang cukup panjang sebelum dia melanjutkan kata-katanya, "Ya, aku rasa itu yang akan dia lakukan jika dia benar-benar ada di sini," dan Kiran menghela nafasnya yang terasa berat dan panjang.


Kakaknya tidak meninggal tapi Kiran membicarakan Gio Pratama layaknya orang yang sudah mati. Itu semua karena Gio lebih memilih keluarganya yang baru dibanding dengan Kiran dan juga Mendiang Ayah dan Ibu Kiran. Sekarang yang Kiran lakukan hanyalah membenci kakaknya.


"Aku percaya suatu hari kalian bisa bersama lagi," kata Edward dengan sangat hati-hati. Gio adalah sahabat Edward dan tak mungkin Edward membuat sahabatnya terlihat buruk di hadapan adik kandungnya. Walaupun Edward tahu apa yang dilakukan Gio salah. Dan yang Edward lakukan sekarang menggantikan posisi Gio untuk menjaga adiknya yang tak pernah bisa Gio jaga lagi.


"Aku tak mendengarnya," kekeh Kiran seakan tak peduli dengan harapan yang selalu Edward bawa saat bersamanya.


"Hah," helaan nafas Edward terdengar sangat melelahkan.


Dan semua pembahasan tentang kakak Kiran berakhir. Baik Kiran atau pun Edward hanya diam sampai mereka kembali ke apartment. Kiran masuk terlebih dahulu ke dalam apartment Edward. Sedangkan Edward masih berdiri di ambang pintu sambil menatap layar ponselnya.