
Shifa berjalan menaiki tangga menuju kamar yang bernuansa young girl itu dan terlihat sudah tidak membawa kotak obat karena dia sudah mnegembalikannya sebelumnya.
“Shif, dari mana saja kamu?” tanya Zai penasaran. Dia terlihat bingung mengapa sahabatnya itu lama sekali sampai ke kamar Celine.
Celine menatap Shifa dengan ekspresi biasa saja namun dalam hatinya dia sangat gembira karena ada kemajuan dari rencananya dan Marcel.
Shifa yang di tanya seperti itu kepada Zai menjadi bingung dan canggung karena dia tidak tahu harus menjawab apa karena menurutnya itu sangat sulit untuk dijelaskan. Zai menatap lekat mata Shifa sehingga mata dua gadis itu beradu, pertanda Zai meminta penjelasan.
“Ah, butuh berapa lama kalian berdua seperti ini?” ucap Celine memecah keheningan dua orang di hadapannya itu. Celine menyadari bahwa Shifa pasti tidak tahu mau menjawab apa.
Zai mengalihkan pandangannya kepada Celine. Melihat itu lalu Shifa duduk di samping Zai tanpa mengatakan apapun.
“Oh yaa Cel, for your information next week we will do the examination so when will you attend the class?” tanya Zai dengan serius.
“Ah.. yes emmm actually I have already know from the group earlier.” Jawab Celine.
Shifa dan Zai menunggu perkataan Celine selanjutnya.
“And…..?” tanya Shifa.
“As you know guys, Zano hasn’t let me go yet… you know he’s such a stubborn brother.. Huffff..” Celine mengatakannya dengan sangat frustasi dan melakukan gerakan bombastic side eye.
“Puffff…” Zai tertawa namun menahannya.
“He probably didn’t mean it that way, I guess..” jawab Shifa.
“Yeahh I know Shif, You always defend him.” Kesal Celine.
“Hey… Celine common.. don’t act like a child. It’s all for your own good.” Ucap Shifa.
Zai yang berada di tengah mereka berdua hanya menyimak apa yang mereka perdebatkan.
“But, you know like.. okay… take a deep breath Celine,” ucap Celine.
“Wehh.. kenapa mereka berdua jadi fighting nihh,” ucap Celine dalam hati.
“Hello…. Permisi” ucap Zai di tengah keheningan dua sahabatnya itu.
“Kenapa Zai?” tanya Shifa.
“Kenapa kalian tidak bicara menggunakan bahasa Indonesia saja?” tanya Zai.
Suasana seketika menjadi krik… krik.. krik.. krik….
“Apaan sih Zainab… garing deh” ucap Celine.
“Nah kan gituuu kan ASIK..”… ucap Zai senyum pepsodent.
“ZAINAB!!” teriak Shifa dan Celine serentak.
“What?? What’s wrong with me?” tanya Zai.
Shifa dan Zai menarik nafas dalam-dalam.
“Zai.. aku dan Celine tidak berantem.. kami hanya berbicara dan masalah bahasa kenapa kau malah mempermasalahkannya?” tanya Shifa dengan nada datar.
“Hehe..” tawa Zai pelan.
“Balik ke topik utama” balas Celine.
“OK” Jawab Zai.
“Bagaimana?” Tanya Celine.
“Aku rasa benar kata Shifa Zai, mungkin…” ucapan Zai terhenti karena Celine saat ini sedang melototinya.
“Nope… bukan aku membela Shifa Cel.. I mean kak Zano itu kan sayang banget nih sama kamu, yah mungkin dia gak mau lihat kamu terluka,” jawab Zainab.
Celine berpikir sejenak, memang benar apa yang dikatakan dua temannya itu. Dia sudah menyadari bahwa Zano bukanlah hanya sekedar sepupu baginya namun sudah seperti saudara kandung yang melindungi adiknya. Celine sadar atas perkataan Shifa dan Zainab yang mengatakan bahwa Zano adalah seorang sepupu yang sangat baik. Meskipun terkadang bukan terkadang namun selalu bersikap dingin. Tapi, dibalik itu semua, Zano adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab dan penuh perhatian.
“Iyaa.. aku tahu kok Zai, Shif.. kak Zano memang protektif tapi dia begitu karena ingin melindungiku,” ucap Celine.
Shifa tiba-tiba teringat hal yang ingin dia tanyakan kepada Celine.
“Celine… ada hal yang ingin aku tanyakan padamu,” ucap Shifa.
“ya?” tanya Celine.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Shifa.
“Kau sakit dan kak Zano terluka.. itu karena apa?” tanya Shifa dengan nada pelan dan hati-hati agar ucapannya tidak membuat Celine tak suka.
“Ah….. “ ucap Celine sambil berpikir.
Zainab dan Shifa menunggu jawaban dari Celine karena hal itu memang ingin mereka tanyakan. Namun belum menemukan jawabannya, Celine mengalihkannya dengan pembicaraan lain.
“Oh yaa Shif, Zai... anyway… Kalian bilang minggu depan kita akan ujian. Selama ini aku tidak masuk kelas. Bagaimana jika kalian jadi tutor untukku selama dua hari ini saja untuk mengajariku materi yang tertinggal. Mau yaa pleasee bantu aku agar nanti ujian aku gak akan bingung. Bagaimana?” Celine memohon sambil menyatukan kedua tangannya.
Shifa dan Zai saling pandang dengan singkat.
“Dua hari Cel?” tanya Zai.
“Heem.. I mean kalian berdua stay disini, meanwhile besokkan hari Sabtu dan Minggu. Jadi weekend kan. Bisa yaa Please,” ucap Celine memohon lagi.
Shifa dan Zai diam sejenak dan Shifa memikirkan kembali rencana belajarnya dengan Arka. Bagaimana dia memutuskan belajar dengan Celine sementara Arka sudah memintanya dahulu.
“Maybe.. Insyaa Allah kalau untuk Sabtu aku dan Zainab bisa Cel tapi sepertinya tidak untuk hari Minggu dikarenakan aku dan Zai sudah ada jadwal di hari itu.” Jawab Shifa.
“Jadwal apa?” tanya Celine spontan ingin tahu.
“Jadwal belajar bareng kak Arka..” jawab Shifa.
“HAH? Are you serious?” tanya Celine terkejut.
“Of course” jawab Zai.
“Kak Arka yang ajak Shifa tadi sehabis kelas.. Kau tahu Cel.. belakangan ini Kak Arka sering ajak Shifa diskusi nih hehe,” ucap Zai blak-blakkan.
Tentu itu membuat Celine berpikir bahwa ada yang tidak beres dengan Arka kakak tingkatnya itu.
“Oh yaya.. tapi kalau hari ini dan besok kalian bisa kan?” tanya Celine lagi memastikan.
“Bisa..” jawab Zai santai.
“So untuk hari ini dan besok kalian stay disinikan?” ulang Celine.
“Iyaaa… Celine binti Fulan” jawab Zai.
“Yeyyy… thanks a lot guys… anyway siapa Fulan?” tanya Celine bingung.
“Hadeh.. udah Yuk Cel… kita mulai aja belajarnya” jawab Zai.
Shifa tersenyum melihat tingkah kedua temannya itu.
“Sekarang? Apa-apaan kamu Zai… aku lapar kalau sekarang, bagaimana aku belajar kalau perutku kosong begini..” keluh Celine.
Sebelum Zai menjawab ucapnnya temannya itu, ketukan terdengar dari luar pintu kamar tidur Celine.
Tok! Tok! Tok!
“Ya.. masuk,” ucap Celine.
“Nona Celine, maaf Tuan Zardo menyuruh saya untuk memberitahu Nona untuk makan siang” ucap Pelayan hormat berdiri di depan pintu.
“Oh yaya thanks yaa…” ucap Celine sambil tersenyum ramah.
“Yuks.. kita lunch dulu… nanti setelah itu baru kita mulai belajar,” ucap Celine semangat sambil bangkit dari tempat duduknya dan mengajak dua temannya itu untuk keluar.
“Celine…” panggil Shifa.
“Ya?”
“Tak apa kalau kami berdua ikut bersama?” tanya Shifa.
“No problem Shif.. sekalian aku kenalin kalian sama ayah aku dan paman aku. Kalian belum pernah ketemu mereka kan.. udah gak usah cemas Shif, Zai.. they are so good” ucap Celine sambil membuat simbol ok di jari tangannya yang indah.
Nah... menurut kalian, Apa yang terjadi yaa jika Shifa dan Zai bertemu dengan Tuan
Zardo dan Tuan Jordan? 😳😱
Pantengin teruss di episode selanjutnya...
jangan lupa like, comment dan klik hadiahnya sebagi dukungan buat Author Jadi lebih semangatt nulisnya...
Setelah sekian lama Author kembali...
Terima kasih yang masih setia dengan Blue Wii....🙏🏻🍒👋🏻