Unexpected Love

Unexpected Love
5.2 SHE CAN'T ESCAPE FROM HIM



......


"Tidak! Tidak akan kulepaskan! Pipimu seperti squ atau kyukyu, apa pun benda yang sering dipegang oleh Daniel, oh kau lucu sekali," kata Sean.


"Apa maksudnya Squisy? Dia membandingkaan pipiku dengan SQUISY?" pekik Kiran dalam hati.


Sean melepaskan cubitannya, wajahnya yang cerah berubah jadi datar, "sudahlah, buatkan saja aku sesuatu," kata Sean, dia menepuk bahu Kiran lalu berjalan dan duduk santai di sofa sambil menonton TV.


"Dia punya gangguan kejiwaan?" cicit Kiran.


Kiran masih berdiri di ambang pintu memperhatikan Sean dengan wajah kebingungan. Bagaimana dia tidak bingung, sikap Sean sungguh tidak bisa ditebak. Kiran berjalan malas ke arah dapur.


"Apa kau yakin kau bukan pasien Rumah Sakit Jiwa yang kabur?" tanya Kiran dari dapur. Sekarang dia sedang memasak sesuatu untuk Sean, dengan su-ka-re-la.


"Of course yes, why? Apa aku terlihat seperti orang gila?" tanya Sean.


Kiran berdecak merasa tidak percaya. Sean benar-benar orang yang luar biasa menjengkelkan. "Apa pekerjaanmu?" Kiran kembali bertanya.


"Aku karyawan," jawab Sean singkat, perutnya lapar dan kini matanya juga mengantuk. Kombinasi yang sangat luar biasa.


Kiran berjalan menuju sofa membawakan semangkuk mie instan untuk Sean, "lalu jika kau punya pekerjaan kenapa kau ada di sini?" Kiran mendaratkan bokongnya ke atas sofa.


Sean mendekatkan mangkuk mienya, "Aku pikir spagheti ternyata cuma mie instan," setelah menggerutu beberapa saat, Sean mulai melahap habis mie instannya.


"Setidaknya bilang terima kasih," Kiran berdecak, "kau sangat picik, jawab pertanyaanku yang tadi, kenapa kau berada di sini?" tuntut Kiran.


Kiran mengganti siaran TV-nya dan Sean pun berteriak kesal, "Hey jangan diganti!"


Kiran menoleh ke arah Sean, menatapnya dengan malas, "Apa ini TV-mu? Dan kenapa kau belum menjawab pertanyaanku, kau menyuruh orang untuk menjawab setiap kata yang keluar dari mulutmu, tapi kau sendiri tidak melakukannya, di mana sopan santunmu!" Kiran menaikkan kedua alisnya, Sean seperti sedang dilempari batu sekarang. Kiran mengembalikan kata-kata yang tadi Sean ucapkan.


"Ambil ini! Aku sudah tidak nafsu lagi memakannya!" seru Sean sambil menjauhkan mangkuk mienya.


Kiran melirik ke arah mangkuk mie dan dia tersenyum. "Tidak nafsu tapi semua mienya kau habiskan, wah hebat sekali," kata Kiran dengan nada meledek.


"Benarkah?" tanya Sean seakan tidak terjadi apa-apa dengan isi mangkuknya, "Mungkin mangkuknya berlubang, atau jangan-jangan kau yang makan," sambung Sean sambil tersenyum.


Kiran menekuk wajahnya, bibirnya sudah mengerucut ke depan dengan begitu sempurna. Dia terus saja mengganti channel karena kesal.


"Aku bekerja di Bank," tiba-tiba Sean bersuara.


"Kenapa kau menyewa selama 3 bulan, tidak mungkin jika kau beralasan sedang mengambil cuti," kata Kiran penuh dengan selidik.


"Kenapa kau terus bertanya? Apa sekarang aku sudah menjadi begitu menarik di matamu?"


Kiran langsung menoleh ke arah Sean. Tertarik? Kiran tidak tertarik dengan Sean. Wanita itu sedang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Dia harus mencari tahu tentang Sean menemukan keburukannya agar bisa menendangnya keluar. Sean terlalu percaya pada dirinya sendiri.


"Tertarik? Pantatmu!" kutuk Kiran dia kembali menatap layar TV.


"Kau tertarik dengan pantatku? Aku tahu mereka seksi, seleramu tidak buruk juga," kekeh Sean.


"Lupakan, bicara denganmu hanya membuatku kesal," kata Kiran.


Sean dan Kiran menonton TV bersama. Mereka hanya diam, beberapa kali Sean melirik kea rah Kiran seperti ingin menanyakan sesuatu.


"Apa yang kau cari di Okcupid? Aku masih penasaran dengan itu," tanya Sean sambil menatap wajah Kiran yang datar.


"Hanya ingin mengobrol, punya banyak teman, membuat bahasa inggrisku semakin lancar, dan jika beruntung aku bisa menemukan seseorang," jelas Kiran.


"Seseorang untuk apa? Untuk kau cinta? Kau menginginkan bertemu seseorang untuk berkencan maksudmu?" tanya Sean.


"Kurang lebih begitu," Kiran memandang wajah Sean, "bagaimana denganmu?" sambung Kiran.


"Bagaimana kalau kuganti pertanyaannya, apa yang kau cari dalam hidupmu?" tanya Kiran. Dia sungguh tertarik dengan obrolan ini sekarang.


"I looking for success and love, Why?" Sean menjawabnya dengan serius.


"Kau percaya dengan cinta? Apa kau sudah mendapatkan semuanya?" Kiran kembali bertanya.


Sean tersenyum, "belum, aku belum mendapatkan semuanya," Sean menggeser duduknya lebih dekat, membuat wajahnya dan wajah Kiran hanya berjarak beberapa senti saja.


"Okay," kata Kiran.


Kiran menatap manik mata Sean. Ada perasaan aneh saat dia menatap mata Sean. "Why you don't have girlfriend?" tanya Kiran. Wajah mereka masih tetap dalam jarak yang sedekat itu.


"I had one," jawab Sean dan dada Kiran terasa sakit ketika mendengarnya.


"Okay," dan Kiran hanya menjawab Sean dengan kata 'okay' lagi.


Mereka masih saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. "Aku punya satu dulu," Sean kembali bersuara.


"Okay," jawab Kiran.


"Apa bibirmu hanya bisa bilang okay," ledek Sean, "bagaimana denganmu, apa kau punya pacar?" sambung Sean dengan bertanya balik ke Kiran.


"Tidak, aku tidak punya," jawab Kiran singkat dan dia mulai merasa gugup dengan posisi mereka yang terlalu dekkat.


"Crazy, you know something?"


"Something about what?"


"I want to kiss you so hard," sesaat Sean diam memberi sedikit jeda, "now," sambung Sean dengan setengah berbisik.


"Aku pikir, aku sudah lupa bagaimana caranya berciuman," jawab Kiran.


"Crazy! I really want, Can I‒"


"No," celetuk Kiran memotong aapa yang ingin Sean ucapkan.


"Kau tahu, bibirmu begitu sexy Kiran," puji Sean yang hampir saja ingin mengecup Kiran tanpa permisi.


"Yes, I know,"


"Kenapa tidak mulai berpacaran denganku, akan kukembalikan ingatanmu tentang bagaimana cara mencium seseorang," kata Sean dengan senyumannya. Menatap Kiran dengan jarak yang sedekat ini membuat dia berkata hal-hal gila.


"Aku harus tidur denganmu malam ini," sambung Sean.


Kiran tersenyum sepertinya wajah Sean sudah menghipnotisnya, "Aku tidak akan pernah mau tidur denganmu," kata Kiran.


"Kau sudah menghancurkan hatiku, padahal kita belum memulai apa pun, kenapa?" tanya Sean, dia menyeka rambut yang menutupi wajah Kiran dan menyelipkannya ke belakang telinga Kiran.


"Karena aku hanya akan tidur dengan suamiku nanti, sorry," jawab Kiran.


"Satu malam saja," bujuk Sean.


Kiran tertawa, gadis itu tertawa seperti orang gila. Dan sedang apa mereka sekarang mengobrol dengan jarak yang sedekat itu. Saling menatap dan bertukar pandang.


"Ya habiskan satu malam denganku dan besok pagi kau sudah bangun di neraka," kata Kiran setengah berbisik.


"Oh My God," Sean menghela nafasnya kasar. "Di atas sana aku belum punya apa-apa, dan tak mungkin aku tidur di atas lantai tanpa satu pun alas, setidaknya pinjamkan sofamu," sambung Sean lalu dia makin mendekatkan wajahnya. Kiran menutup matanya, apa dia sedang bersiap untuk dicium? Kenapa Kiran menutup mata? Apa dia sedang kehilangan akal sehatnya. Matamu harus tetap terbuka Kiran!