
Kiran mengintip senja dari balik jendela. Sebenarnya dia bukan penikmat senja. Hanya saja sore itu senjanya begitu indah. Dan dia tidak bisa menipu matanya.
Seorang pria datang dan membuka pagar dengan tergesa-gesa. Kiran yang matanya masih menikmati senja pun beralih melihat ke arah gaduh tempat sumber suara. Saat dia tahu siapa itu, Kiran hanya menghela napas lega. Kekasihnya pulang dan setelah ini pasti akan ada kekacauan.
"Tok, tok, tok!" suara ketukan pintu.
"Babe open the door," kata Sean.
"Pintunya tidak terkunci, masuk saja!" jawab Kiran setengah memekik.
Sean langsung saja masuk setelah mendengar jawaban dari Kiran. "Kenapa pintunya tidak dikunci! Bagaimana jika ada yang masuk? Atau perampok? Kau itu wanita! Sangat berbahaya jika membiarkan pintu rumah seperti itu," Sean mengomel sambil berjalan dan dia membawa kantong asoy hitam yang sepertinya berisi makanan.
"Bagaimana jika ada lelaki masuk dan ma—"
"Berhentilah mengomel, kau juga laki-laki kan. Kau tahu di dekatku yang paling berbahaya itu kau," rutuk Kiran.
Sean terdiam dia mencerna baik-baik perkataan Kiran. Dan setelah semua kata-kata Kiran masuk ke dalam otaknya barulah dia menyadari apa yang Kiran katakan ada benarnya juga. Sean pun hanya tertawa bodoh ketika sadar bahwa dia yang paling berbahaya sekarang.
"Apa kau takut padaku?" tanya Sean dengan nada menggoda. Sean dengan sigap membuka bungkusan yang dia bawa dari luar tadi.
"Kenapa sih dari aku datang kesini, aku jadi jatuh cinta sama gu, ghu, ghuh—"
"Gudeg," potong Kiran karena geram dengan pengucapan Sean yang tak kunjung selesai.
"Ya apa itu tadi... 'ghuh-dheg', yaya begitulah namanya," jawab Sean dengan lafas yang masih juga tidak benar.
"Nanti aku akan merindukan makanan ini," sambung Sean dengan nada lesu.
Hati Kiran berdetak nyeri. "Memangnya kau mau kemana?" tanya Kiran spontan.
"Besok aku pulang ke singapore," jawab Sean.
"Oooh," sahut Kiran berusaha tegar dan seolah tak peduli.
"Tapi, aku harus langsung berangkat ke L.A," tambah Sean. "it's really okay for you babe?" tanya Sean dengan penekanan di setiap katanya.
Sean berjalan menuju dapur membuka bungkusan gudeg-nya. Kiran berjalan lesu menunu sofa. Dia menghempaskan tubuhnya ke sana.
"Kau kecewa heh?" tanya Sean yang sedang asik mengaduk-ngaduk gudeg-nya. Kiran masih diam menatap langit-langit rumahnya.
Tentu saja Kiran kecewa! Memang laki-laki selalu saja tidak merasa peka. Sean masih mengawasi Kiran dari balik meja makan. Disaat Kiran sedang dilanda rasa kecewa. Sean malah makan gudeg dengan lahapnya.
"Come on babe, jangan terlalu kecewa paling lama tiga bulan aku di sana," Sean berusaha menjelaskan tapi Kiran masih tetap diam.
"Haaaaaaah," hembusan nafas Kiran yang terasa sangaaaaaaaaat berat.
Sean menghabiskan gudeg-nya tanpa tahu bahwa kekasihnya sedang muram. Sean berjalan mendekati Kiran. Sayup pelan suara isak tangis terdengar dari balik sofa. Sean berjalan cepat menuju sofa dan Dia menemukan Kiran yang berusaha menutupi suara tangisannya dengan bantal.
"Babe!" Sean mendekati Kiran sambil mengusap pucuk kepala kekasihnya itu. "Are you okay? Aku belum pergi sayang," bujuk Sean sambil menyisir rambut Kiran dengan lembut. Bukannya membuat tangisan Kiran berhenti, usapan lembut tangan Sean yang menyisir rambut Kiran malah membuat gadis itu menangis kencang.
"Jangan pergi," rengek Kiran yang sudah tidak menutupi wajahnya dengan bantal. Kiran duduk lalu mengalungkan tangannya ke leher Sean dan memeluk kekasihnya dengan erat.
"Bisakah kau tidak usah pergi," pinta Kiran yang tangisannya belum berhenti.
Sean menepuk pelan punggung Kiran. "Cuma sebentar babe," bujuk Sean. "Aku selalu kembali untukmu, tenang saja," Sean merenggangkan pelukan Kiran. Ditatapnya Kiran, ia rekam dengan manik matanya yang seakan memuja Kiran.
"Cup," sebuah kecupan mendarat di dahi Kiran.
Sean tersenyum, senyum paling manis yang pernah Sean berikan untuk Kiran. Dada Kiran masih terasa sesak. Dia tidak rela Sean berada jauh di luar jangkauannya.
Baru saja api asmara membakar mereka. Tapi jarak sepertinya buru-buru ingin memadamkannya.
Hanya saja Kiran merasa khawatir jika Sean akan bermain dengan wanita lain. Wanita mana yang tidak tertarik dengan kekasihnya itu?
"Jangan nakal," Kiran menundukkan kepalanya.
"Kau itu tampan aku susah menjaganya," sambung Kiran.
Sean terkekeh geli rupanya Kiran bisa juga bersikap cemburu. Membuat Kiran nampak makin lucu untuk Sean.
Sean menghujani belasan kecupan di pipi Kiran mengembalikan senyum yang terukir di bibir Kiran. "I love you!" bisik Kiran. Manik mata Kiran seakan berkata tidak ada yang bisa memiliki Sean kecuali dirinya.
""I love you more and more and more and more,"
.
.
.
.
.
.
.