
Hap. Bruk.
"Ge.." Panggil Lesta pelan.
"Hm, tidur kak"
"Ge ga jadi?"
"Engga, gue tau lo belum siap. Tidur sekarang kak"
"Tap-pi ge ini engap, awasin dulu tangan nya"
"Enak meluk lo kak, ga usah banyak protes nanti gue lakuin yang iya iya ketagihan lo nya"
"Tap--"
"Tinggal merem sayang apa susah nya"
Genta menurunkan pelukannya ke atas perut Lesta sambil mengelusnya pelan. Hidung nya tak henti mengendus harum tubuh Lesta di ceruk leher nya. Tak lama dengkuran halus terdengar dari Lesta. Genta sedikit mengangkat kepala nya melihat wajah polos istrinya yang tidur dalam dekapannya. Helaan nafas lolos dari mulut Genta , kembali berbaring ke posisi awal dan menyusul Lesta ke alam mimpi. Malam ini ia menahan kuat nafsu birahi yang sudah mulai memuncak, ia tak akan bersikap brengsek dengan memaksa Lesta hanya karna nafsunya sendiri. Ia akan meminta hak nya, tapi nanti jika istrinya sudah siap.
***
"Nak, yakin mau kuliah?" Tanya Rehan kepada Lesta yang duduk disamping Genta.
"Yakin pah, aku udah banyak ketinggalan materi" jawab Lesta halus.
"Genta"Panggil Rehan.
"Gege udah bilang tadi dikamar pah, kalo dia nya mau kuliah kaya gimana? Biarin aja toh masih bisa gege pantau dikampus" Jawab Genta acuh.
"Ya udah biarin pah. Ge jaga mantu mamah ya awas kalo kenapa-kenapa" ujar Mira kepada Genta yang duduk didepan nya.
"Hm. Yuk berangkat sekarang sayang , Gentara ada kelas bentar lagi" ujar Genta sambil berdiri menarik tangan Lesta yang duduk disamping nya.
"I-iyya ge, mah pah kita berangkat dulu ya. Assal--"
Belum selesai mengucapkan salam, Genta sudah menyeret Lesta dari meja makan menuju garasi tanpa memperdulikan raut wajah kedua orang tua dan saudara nya.
***
Di kampus Genta dan Lesta menjadi sorotan banyak orang. Berjalan bersama sambil saling menautkan tangan menjadi tanda tanya besar , pasal nya sudah hampir 1 bulan lebih Lesta tidak masuk dan Genta kembali seperti awal berangkat pulang sendiri tanpa ada Lesta disamping nya. Bagi para mahasiswi yang menyukai Genta itu adalah kesempatan karna mereka berfikir mungkin Genta putus dengan Lesta yang membuat mahasiswi jurusan manajemen tingkat 3 itu enggan menunjukan wajah nya.
Tapi opini tetap lah opini, karna sekarang yang mereka lihat Lesta dan Genta bergandengan tangan mesra tanpa memperdulikan sekitar. Sebenarnya hanya Genta yang seperti itu, sedangkan Lesta sekuat hati menahan diri dari sorotan tajam para mahasiswi penggemar Gentara ,yang sekarang sudah berstatus sebagai suami nya.
Mengantarkan Lesta hingga depan pintu kelas, mengusap kepalanya pelan sambil tersenyum yang membuat pipi putih Lesta memerah.
"Gue ke kelas ya, lo belajar yang bener"
"Heem kamu juga ge"
"Lo pake blush on atau blushing?" Genta menyentuh pipi Lesta dan mengusapnya pelan.
"Eoh? Ini? Blush on ge" jawab Lesta sedikit gugup. Untung tadi aku makeup. Ujar nya dalam hati.
"Oohh, gue kira blushing. Besok besok jangan dandan cantik cantik ya nanti makin banyak yang suka sama lo" ucap Genta lurus tanpa nada.
"Iya ge"
"Yaudah gue ke kelas sekarang, kalo ada apa-apa kabarin. Gue beres kelas jam 11an kalo dosen nya ga banyak bacot ,tunggu dikantin aja ya kalo lo beres lebih awal"
Genta memundurkan badan nya dan mulai berjalan meninggalkan Lesta. Tapi baru 5 langkah Genta menghentikan langkah nya dan berjalan cepat menghampiri lesta yang sudah memasuki kelas dan berdiri tepat didepan papan dengan sebagian banyak temannya sudah duduk manis dibangku masing-masing.
Chup. Chup. Chup.
"Lupa cium sayang " ujar Genta setelah mencium kening, pipi kanan dan pipi kiri Lesta.
Mengusap lembut ceruk kepala Lesta, tersenyum tulus, lalu meninggalkan kelas itu dengan wajah tengil yang ia tunjukan pada beberapa mahasiswa yang baru datang berdiri diam didepan pintu. Ia tau salah satu dari mereka ada yang menyukai istri nya yang baik itu. Tidak salah kan Genta menunjukan sisi romantis nya kepada khalayak umum hanya untuk menyadarkan mereka??
***
10.47
"Ge lo beneran nyium si lele didepan kelas nya? Gue masih ga percaya gosip itu benar nyata anjiiiirr"
"Iya parah lo ge, kasian tuh kak Lesta pasti makin panas telinga nya denger hujatan dari para fans lo"
"Lebay banget lo ral, lo juga han sejak kapan bawel bats dah"
Genta berjalan cepat meninggalkan kedua sahabat nya yang mengumpati ia dibelakang. Sampai di kantin Genta mengedarkan pandangan nya ke seluruh kantin mencari istri nya.
Hosh hosh.
"L-lloo gen-tara anak manaj-jemen do-i nya Lesta?" Ucap salah satu wanita yang tiba-tiba menghampiri nya dengan wajah tegang campur lelah seperti habis berlari.
"Ya? "
"Jangan bohong lo"
"Gue serius, gue temen sekelas nya Lesta gue mau nolongin dia tapi malah gue ikutan kena hajar"
Tanpa menjawab Genta langsung berlari kencang menuju taman belakang kampus tanpa peduli umpatan orang-orang yang tidak sengaja iya tabrak. Tak jauh ia lihat segerombolan wanita didepan pohon mangga yang paling besar. Mempercepat laju nya agar cepat sampai, mendorong orang-orang yang menghalangi si objek tontonan. Genta terdiam melihat apa yang ada didepan nya. Mengepal tangannya kuat menahan amarah yang siap membuncah.
"ANJING LO SEMUA ******* GA PUNYA HATI MEMANG SETAN SINGKIRIN TANGAN KOTOR LO DARI ISTRI GUE"
***
Beberapa menit sebelum kejadian
10.40
Lesta berjalan menuju kantin bersama seorang teman nya, Arin. Saat hendak berbelok di lorong, mereka berdua dicegat oleh beberapa mahasiswi yang di yakini dari berbagai jurusan dan tingkat.
Tak peduli, Lesta berjalan menarik tangan Arin untuk melewati mereka. Tapi sayang, baru 2 langkah tubuh nya terhuyung ke belakang dan sebuah tamparan mendarat keras di pipi nya.
Belum mulai mencerna situasi tiba-tiba tangannya ditarik paksa oleh 2 orang yang melihat ia dengan tajam. Memberontak melepaskan cekalan di tangannya tapi tak bisa, yang terjadi malah bertambah orang yang menarik nya dengan penuh paksaan dan kasar.
Arin hendak menolong , tapi yang terjadi malah ia pun kena tampar dari beberapa orang dan mendapat peringatan agar tidak ikut campur jika tidak ingin terjadi hal buruk pada diri nya. Panik, Arin berlari mencari Genta, yang pasti bisa membantu nya menolong Lesta.
5 menit berkeliling, ia melihat laki-laki berbadan tinggi, putih, tampan, ia Gentara Satya Adhitama. Tanpa banyak bicara ia berlari cepat menghampiri nya dan to the point bicara tentang apa yang terjadi.
Tidak ada 5 menit mereka berbicara, Genta berlari kencang meninggalkan Arin. Arin berlari mengejar Genta yang diikuti oleh Erhan dan Ralio dari belakang
Di taman belakang kampus, tepat nya di ujung depan pohon mangga paling besar terlihat segerombolan wanita yang entah sedang apa. Genta menembus segerombolan itu hingga ia melihat objek yang jadi tontonan para mahasiswi yang ada.
Lesta, istri nya dipegangi oleh 4 orang wanita. Didepan Lesta ada Ratu yang ia tau pasti dalang dari semua ini, sedang mencengkram kuat dagu Lesta. Keadaan Lesta sungguh kacau. Rambut yang berantakan, baju nya compang camping, pipi nya merah terlihat jelas bekas tamparan keras hingga...
"ANJING LO SEMUA ******* GA PUNYA HATI MEMANG SETAN SINGKIRIN TANGAN KOTOR LO DARI ISTRI GUE" Teraiak Genta dengan bahasa kasar yang ia lontarkan, menghampiri Lesta dan menyingkirkan semua tangan yang menahan Lesta.
Genta meringis, tangan Lesta yang putih mulus sekarang penuh lebam ungu dan merah. Melepaskan sweeter milik nya, memakaikan pada Lesta dan memeluk nya singkat sebelum menelisik setiap pasang mata yang sudah memperlakukan Lesta seperti itu.
"APA YANG KALIAN LAKUIN ANJING? JAWAB?!!"
"Dia pantes dapetin itu, iya kan girl?" Jawab Ratu santai dan jawab iya dari para mahasiswi yang ikut andil.
"LO EMANG GILA ANJING, ANAK KONGLOMERAT TAPI KELAKUAN MACAM *******. APA-APAAN LO NGELAKUIN INI KE LESTA HAH? FAEDAH NYA APA GUE TANYA?!"
"Lo yang apaan ge, pagi-pagi lo udah mesraan sama jalang itu , pegangan tangan dan pake acara nyium--" jawab Ratu.
"TERUS URUSAN NYA SAMA LO APA ANJING?" Ujar Gnta menunjuk wajah Ratu.
"Ya ada urusan nya sama gue ge, GUE SUKA SAMA LO TAPI LO GA PERNAH LIAT GUE SIALAN" Balas Ratu tak kalah kasar.
"KARNA LO JALANG LEBIH LEBIH DARI JALANG! LESTA ISTRI GUE. DENGER LO SEMUA, LESTA SEI MILANDA SEKARANG ISTRI GUE, NYONYA GENTARA SATYA ADHITAMA. BERANI GANGGU LAGI URUSAN SAMA GUE *****!!" Berterika kencang mengahadap semua orang dan berucap penuh tekanan. Melirik Lesta yang berdiri dibelakang tubuh nya terisak membuat hati benta tiba-tiba merasa teremas sakit. "Lo semua ga akan lolos setelah ini, liat aja apa yang bakal gue lakuin ke lo semua, termasuk lo RATU ANTIRA ZEYNA. Harus nya lo lebih miror. Jalang teriak jalang si anjing"
Membalik badan, menarik Lesta kedapan pelukan nya dan berjalan meninggalakan orang-orang yang terdiam dengan panik. Pasal nya seorang Genta tidak pernah bermain-main dengan ucapan nya.
Membawa Lesta masuk ke dalam mobil berniat membawanya pulang ke apartemen. Sebelum masuk ke kursi kemudi Genta meilirik Erhan, Ralio, dan Arin yang berdiri tak jauh dari nya.
"Gue minta tolong ke lo berdua buat urus semua orang yang terlibat tadi, dan lo..."
"Gue arin"
"Oke, lo balik atau gimana?"
"Gue disini bareng ke dua temen lo mau pastiin mereka ga lolos dan habis ditangan gue,ga ada yang tau kalo gue--"
"Anak pemilik saham terbesar di kampus, gue harap lo bisa buat mereka jera terutama si Ratu gila. Erhan dan Ralio gue jamin mereka bakal bantu lo, thanks ya gue balik dulu" ujar Genta dan berjalan kembali ke mobil nya, sebelum masuk Genta mengucapkan kalimat yang dijawab oke oleh ketiga orang itu.
"Gue di apart, kalo beres caw sana langsung"
Mengemudikan mobilnya perlaha meinggalkan kampus, melirik ke kursi disebelah yang diduduki oleh Lesta. Mengangkat tangan kiri nya dan menempatkan dikepala Lesta, mengusapnya pelan.
Lesta memandang Genta dengan penuh air mata di wajah nya. Semakin sesak hati tak tahan Lesta menjatuhkan kepala nya ke pundak Genta dan memeluk nya dari samping.
Genta membalas pelukan Lesta dengan tangan kiri nya, mengusap pelan punggung yang rapuh itu. Sesekali mengecup puncak kepala Lesta lembut tanpa mengucapkan apapun, karna bicara pun percuma yang ia lakukan hanya membiarkan istri nya menangis mengeluarkan semua rasa sakit nya.
Diam? Tidak Genta tidak diam, dari tadi Genta tak henti mengumpati orang-orang bodoh yang membuat istrinya menjadi kacau seperti ini. Ia pastikan mereka mendapat balasan yang lebih parah dari yang mereka lakukan.
Lampu merah, Genta melirik Lesta yang masih terisak dan merasakan hati nya seperti di peras sangat kuat. Sakit, Genta merasakan hatinya sangat sakit. Sakit yang tak bisa diucapkan kata-kata ketika melihat lesta menangis tersedu sedu. Sakit yang ia rasakan sama saat hari itu, hari dimana anak mereka pergi. untuk kedua kalinya Genta lengah menjaga Lesta. Membuatnya sakit dan menangis parau.
Genta tak paham apa yang ia rasa, yang pasti ia tak ingin melihat Lesta menangis apalagi seperti saat tadi di kampus. Genta ingin melihat Lesta tersenyum. Genta ingin melihat wajah bersemu nya Lesta saat ia jahili dan gombali. Genta ingin melindungi Lesta, memeluk nya dalam kedinginan berharap menghangatkan nya. Apa yang terjadi? Genta tak tau. Atau tak sadar??
Lampu sudah berubah menjadi hijau dan Genta melajukan kembali mobilnya menuju Apartemen. Tak lama, hanya 15 menit karna letak kampus dan apart nya tidak terlalu jauh. Genta turun dan membukakan pintu untuk istrinya itu. Satu langkah, dua langkah, dan langkah ke tiga Genta langsung mengendong Lesta ala bridal style. Ia tak tega melihat Lesta berjalan gontay seperti tadi jadi ia putuskan untuk menggendonnya sampai kamar apartemen toh Lesta tidak menolak yang ada Lesta memeluk erat leher Genta dan menempatkan kepala tepat diceruk leher Genta. Ia menangis lagi dalam diam, Genta bisa merasakan air mata yang jatuh mengenai bajunya tapi ia biarkan. Nanti juga kalo udah cape berhenti sendiri.
Genta terus berjalan dan menaiki lift yang berisikan beberapa orang didalamnya. Ia tau orang-orang itu membicarakannya dengan bisik-bisik basi namun ia abaikan. Acuh? acuh saja toh kali semakin banyak orang membicarakannya bukankan dosa miliknya jadi berpindah ke orang yang membicarakannya? dengan senang hati Genta tak akan menolak.
Ting. Pintu lift terbuka dan mereka sampai dilantai 10, letak unit apart Genta berada. Ia menurunkan Lesta hati-hati tepat didepan pintu, jika tidak bagaimana ia akan membuka pintu nya coba?? Setelah pintu terbuka Lesta berjalan lebih dulu dengan wajah menunduk kebawah. Saat akan memasuki salah satu kamar Genta menarik Lesta dan menuntunnya ke kamar yang satunya lagi, kamar Genta di apart itu. Lesta berjalan cepat dan menjatuhkan diri diatas kasur. memeluk bantal dengan menyembunyikan wajah nya dari Genta. Ia malu, sangat malu kepada Genta.