
"Assalammualaikum." Salam Lesta pada orang disebrang sana melalu telepon.
"Waalaikum salam kak." Balas salam disebrang sana melalu telepon.
"Jadi berangkat hari ini?" Tanya Lesta.
"Jadi.... flight jam 11 siang nanti." Balasnya dengan nada sedikit sendu.
"Ga akan tinggal aja?" Tanya Lesta pelan-pelan.
"Ga akan kak. Ga ada sesuatu yang buat gue tinggal." Balasnya terdengar helaan nafas oleh Lesta.
"Erhan....?" Tanya Lesta coba memastikan sesuatu.
"Gue sama dia ga ada apa-apa kak."
"Oke deh, nanti kakak ke bandara sama Genta."
"Thanks. Gue siap-siap dulu ya kak, bye." Sambungan telepom terputus sepihak darisana.
Lesta menghela nafas pelan menatap satu persatu lelaki yang kini duduk dihadapannya. Genta, Ralio, Erhan. Ralio meminta Lesta untuk menghubungi sepupunya itu hanya ingin sedikit tau tentang jam penerbangannya , yaaahhh sekalian sedikit menyadarkan Erhan. Lesta hanya menurut dan menghubungi, bahkan menloudspeaker.
"Jadi...... lo masih belum mau berjuang?" Tanya Genta.
"Gue mau fokus sama kuliah gue." Erhan berdiri dan berjalan keluar rumah.
"Lo mau kemana banci?!" Teriak Ralio membuat Erhan berhenti tepat didepan pintu. "Cuma banci yang ga mau ngakuin perasaannya! Pengecut! Satu kata buat laki-laki yang biarin wanitanya pergi gitu aja tanpa sempat berjuang!!" Lanjut Ralio membuat Erhan tersulut emosi.
Erhan menghela nafas pelan. Tanpa peduli, ia lanjut melangkah keluar dari kediaman Adhitama dan mengemudikan mobilnya entah kemana. Yang pasti, Erhan perlu suasana tenang untuk berfikir. Sedangkan didalam rumah Ralio saling tatap dengan Genta. Saling mengedikkan bahu tidak tau.
"Jadi mau gimana?" Tanya Ralio pada Lesta.
"Aku sama Genta kesana 30 menit lagi, mau nyiapin MPASI dulu buat si kembar." Lesta berdiri meninggalkan kedua remaja yang sudah menyandang status sebagai kepala keluarga.
"Lo gimana Ral?" Tanya Genta dengan tangan mulai memasukkan keripik kentang kemulutnya.
"Gue kesana ,tapi jemput Tara dulu di caffe sekalian jalan ke bandara." Jawabnya sambil ikut memasukan cemilan yang memang selalu tersedia diatas meja.
Genta dan Ralio anteng ngemil makanan hingga hampir tandas kalo tidak datang Mira yang menegur. Bagaimana tidak, baru kemarin ia isi itu semua toples. Tapi sekarang sudah hampir tandas semua. Genta dan Ralio hanya menyengir tak berdosa. Lesta datang dengan tas dan setelan rapih.
"Mah MPASI nya udah aku siapin. Nitip bentar ya, mau ke bandara nganter Aleya." Ujar Lesta pada Mira.
"Yaudah hati-hati ya." Balas Mira lembut.
Mereka bertiga pamit, keluar dari rumah dan memasuki kendaraan masing-masing. Sedangkan dilain tempat Erhan terdiam termenung dipinggir jalan dekat danau. Memcoba untuk tidak memikirkan hal yang tidak penting. Ia memejamkan mata sejenak. Entah berapa lama.
*
Lesta sedang berpelukan dengan Aleya. Genta serta Tara hanua saling diam, sedangkan Ralio sibuk dengan hpnya. Ia menatap sebentar Genta dan berujar 'Gimana' tanpa suara pada temannya itu. Genta pun hanya menghela nafas kasar, tak mengerti dengan jalan pikir seorang Erhan Radea.
"Al, flight nya jam 11 pas?" Tanya Genta pelan.
"Ada keterlambatan sekitat 2 menit sih kalo ga salah tadi sempet ada infomasi sebelum kalian datang." Jawab Aleya.
Ralio dan Genta refleks melirik arloji ditangan kiri mereka, 10.57. Kurang dari 5 menit lagi Aleya akan pergi ke Inggris, untuk kembali melanjutkan kuliahnya dan kembali tinggal bersama orantuanya.
"Gue check in ya, bye." Pamit Aleya mulai menggeret kedua kopernya menuju petugas untuk pengecekan check in.
Mereka berempat sudah sedikit mengulur waktu sejak tadi, namu Erhan tak kunjung datang bahkan sulit dihubungi. Mereka menyerah, dan berjalan mengikuti Aleya. Tepat saat Aleya akan menyodorkan paspor terdengar keributan dari belakangnya.
"ALEYAAAA!!!!" Teriakan menggelegar dan menunjukkan sosok Erhan yang sedang berlari dengan security mengejar dibelakangnya.
"Kaya sinetron sadar didetik terakhir." Bisik Ralio.
"Loading kalo soal perasaan mah." Bisik Genta.
"Erhan." Panggil ketiga wanita itu dengan nada berbeda.
"Al- Aleya, ben-- tar gue am---bil nafas du--lu." Erhan menghirup udara sebanyak-banyaknya mencoba menetralkan kembali degub jantungnya. Ia berlari cukup jauh. Dari pintu masuk bandara dengan memarkir mobil sembarangan, menubruk beberapa orang hingga security mengejarnya. "Bentar pa bentar. Udah ini saya nyerahin diri dah ikhlas." Ujar Erhan saat security mulai menariknya.
"Erhan..." Panggil Aleya pelan.
"Iya ini gue Erhan." Erhan berjalan menghampiri Aleya, men*ium bibir wanita itu dengan beberapa lumatan kecil yang selanjutnya melepas pautannya dan memeluk tubuh mungil Aleya. "Gue tunggu lo balik ke indonesia tahun depan." Lanjutnya menatap Aleya lekat.
"Kalo gue ga balik tahun depan gimana?" Tanya Aleya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Gue yang bakal susul lo kesana. Jangan digigit nanti gue ga ngelepasin lo pergi yang ada bawa lo ngamar mau? Deket sini ada hotelnya punya Genta." Ujar Erhan. Tangannya mengelus pelan bibir Aleya. "Hati-hati. Kabari gue kalo udah nyampe." Lanjutnya dengan senyuman.
"Buat apa?" Tanya Aleya.
"Buat apanya?" Erhan balik bertanya.
"Buat apa lo nyusul gue ke inggris?"
"GUE CINTA LO!! GUE TUNGGU LO TAHUN DEPAN! ATAU LO TUNGGU GUE TAHUN DEPAN!! GUE BAKAL PERJUANGIN LO!! TUNGGU GUE!" Teriak Erhan lagi yang sukses membuat Aleya menitikan air mata.
"Gue tunggu lo." Ujar Aleya sebelum berbalik menggeret kedua kopernya berjalan cepat agar tidak ketinggalan pesawat dengan air mata masih mengalir.
Erhan menitikkan air mata menatap kepergian Aleya. Lesta sudah memeluk pinggang Genta dan menyenderkan kepalanya pada dada suaminya itu. Sedangkan Ralio, memeluk Tara terharu dengan kisah cinta sahabatnya.
"Gue kira lo ga akan kesini Han." Celetuk Ralio membuat Erhan tersadar dan segera menghapus air matanya. "Ga usah dihapus juga kita-kita tau lo nangis bro."
"Bangkeeeyyy memang." Erhan membalik badan menatap Ralio tajam. "Awas. Gue masih ada urusan sama security ini." Erhan berjalan meninggalkan mereka berempat mengikuti security membereskan masalah yang ia buat tadi.
Ralio dan Genta hanya menggeleng kepala saja, mereka berjalan keluar bandara dengan saling memeluk pinggang istri masing-masing.
*
4 tahun berlalu, kini Alca dan Albar sudah bisa belari bahkan sudah pintar beradu omong dengan ayahnya - Genta seperti yang saat ini mereka lakukan.
"Ayah yang jaga, Albalr kan tadi udah." Ucap Albar dengan nada yang masih cadel saat menyebut huruf R. Sama dengan Alca pun masih sulit menyebut satu huruf itu.
"Iya, ayah jangan licik nanti bilangin ke bunda tau lrasa." Alca melipat kedua tangannya didada menatap sinis Genta.
"Ko kalian gitu sama ayah? Ayah kan tadi juga udah jaga."
"Ayah suka makan didapulr, bukannya jaga!" Teriak kedua anak kembar itu tepat didepan wajah Genta yang refleks membuat sang empu menutup wajah. Ya wajah, karna anaknya itu teriak disertai hujan dari mulut mereka.
"Suka menistakan ayah deh kalian mah, udahan mainnya ga seru." Genta berdiri dari duduknya berjalan menuju dapur memeluk wanita yang ia cintai dari belakang dengan menelisikan kepalanya ke ceruk leher istrinya itu.
"Ayah awas, bunda lagi masak ish." Ucap Lesta menyingkirkan kepala Genta dari lehernya.
"Kangen." Rengek Genta membuat Lesta jengah. Mereka bertemu setiap hari tapi kata-kata seperti itu selalu keluar disetiap waktunya. Lesta sudah bosan mendengar Genta berucap.
"Ayah awas!" Albar menarik celana training Genta kencang membuatnya hampir merosot yang refleks Genta melepaskan pelukannya pada Lesta dan menahan celananya yang masih ditarik oleh Albar.
"Albar kamu harus santuy dong jangan bar-bar jadi anak, masa main narik celana ayah aja. Nanti kalo burung ayah terbang gimana? Ga bisa bikinin kalian adik tau rasa!" Ucap Genta reflek membuat Albar melepaskan tangannya dan berdiri disamping Alca yang menatap bingung.
"Bulrung ayah kan ada ditaman belakang semua, dan pada dikandangin. Emang bisa telrbang kalo abang Al narik celana ayah?" Tanya Alca polos yang sukses membuat Lesta mendaratkan cubitan di perutnya.
"Sakit bunda." Decih Genta mengusap bagian perut yang tadi dicubit oleh Lesta.
"Udah-udah yu makan ini masakannya udah jadi." Lesta menggiring kedua anaknya itu menuju meja makan, yang pasti Genta mengekor seperti anak ayam.
Dengan telaten Lesta menyiapkan makanan untuk kedua anak kembarnya serta suaminya. Mereka makan dalam diam, karna semenjak mereka pisah rumah dengan kedua orang tua Genta, Lesta belajar mendisiplinkan anak-anak mereka termasuk anak paling besarnya - Gentara Satya Adhitama. Dia sudah menjadi Ayah dengan 3 anak tapi kelakuannya masih saja seperti dengan sikembar Al jika sedang bersama dirumah. Walau beda rumah tapi mereka masih ada dikomplek yang sama bahkan blok yang sama hanya beda nomor, rumah Rehan nomor 7 sedangkan Genta nomor 9 tepat bersebelahan. Ulah siapa lagi kalo bukan Genta, dengan segala keinginannya yang kudu tercapai.
Ya Genta dan Lesta sudah memiliki 3 anak, bahkan otw 4. Genta orangnya panasan, bawaannya tuh ga mau disaingin ama siapapun terutama dari kedua sahabatnya itu Erhan dan Ralio.
3 tahun lalu saat si kembar Al berusia 1 tahun, Ralio dengan bangganya datang kerumah Genta tengah malam hanya untuk mengabari jika Tara hamil dengan menunjukkan bukti 10 buah test pack yang dipakai Tara sebelumnya. Dengan hati yang membara Genta mengusir sahabatnya itu keluar rumah, langsung bergegas ia masuk kedalam kamar dan menaiki tubuh Lesta yang terbangun karna merasakan grasak-grusuk tidak santuy dikasur.
Bukan hal pertama untuknya, bahkan Lesta sudah sering melayani Genta setiap malamnya tapi malam itu Genta dengan santainya menanam benih begitu banyak tanpa dosa. Ditambah keesokan harinya semua barang pencegah kehamilan Genta buang dan istrinya itu dilarang ke dokter untuk suntik KB. Jika ditanya jawabannya cukup "ingin aja" , enteng sekali bukan?
3 bulan kemudian Lesta positif hamil dan dengan gilanya Genta membawa test pack yang dipakai Lesta kepada Ralio dan berucapĀ "Gue juga bakal punya bayi ga cuma lo doang Rali." Membuat Ralio kesal, ingin sombong malah dibalik sombong.
Ralio menyombong karna tau jika temannya itu ingin memiliki anak lagi namun istri serta keluarganya menolak. Bukan tanpa sebab, Lesta pernah keguguran dan saat melahirkan si kembar pun prematur melalui operasi. Bagusnya diberi jarak yang cukup jauh agar resikonya tidak terlalu bahaya, tapi si Genta tetaplah Genta. Beruntungnya saat kehamilan itu kondisinya cukup kuat serta melahirkan tepat 9 bulan walau melalui caesar.
Dan untuk kehamilan yang saat ini karna ulah Aleya. Beberapa bulan yang lalu Erhan menikah dengan Aleya. Banyak cerita panjang yang dilalui mereka hingga menyatu dalam ikatan pernikahan.
Aleya datang menghampiri Lesta dan berkata jika dia hamil, yang sangat jelas terdengar oleh telinga Genta. Kalian tau apa yang Genta lakukan? Tak ingin kalah ia dengan semangat membuat lagi Genta junior yang sekarang sudah hadir dalam perut Lesta memasuki usia 3 bulan. Gila? Bukankah Genta memang gila sejak dulu?? Jadi tolong simpan saja umpatan kalian karna tidak akan berpengaruh pada Genta.
"Bubu." Panggil bayi wanita yang kini sedang berdiri menopang pada kaki kursi.
"Zahra kapan bangun hm? Laper? Mau mamam ia?" Ucap Lesta pada anak perempuan mereka yang kini menginjak usia 1 tahun 2 bulan.
Namanya Azzahra Bintang Adhitama. Wajahnya perpaduan Genta serta Lesta, tapi menurut orang banyak lebih dominan muka Genta. Hebat bukan Genta? Terkadang Lesta iri pada suaminya itu. Ia yang mengandung 9 bulan, ia yang membawa anaknya dalam perut kemanapun dan kapanpun, ia yang melahirkan mempertaruhkan nyawanya, tapi mengapa Genta yang menang banyak dalam fisik maupun sifat anak-anak mereka? Entah lah mungkin sudah takdirnya.
"Mamam bubu mamam." Beo si kecil zahra membuat kedua kakanya tertawa.
"Makan dek jangan cuma ngomong aja." Ucap Albar disela tawanya.
"Dulu juga kamu gitu, jangan ngetawain adeknya. Ga baik." Tegur Genta berhasil membuat Albar menyebikkan mulutnya seperti Genta jika merajuk.
"Bun, om Lio jadi kesini?" Tanya Alca yang selesai meminum air setelah menghabiskan makanannya.
"Jadi, kalian siap-siap ya." Alca dan Albar langsung turun dari kursi dan berlari menuju kamar mereka.
"Kamu jangan gendong-gendong zahra terus dong kasian debaynya." Genta mengelus kepala anak perempuannya itu dengan lembut dan mengambilnya dari pangkuan Lesta dipindahkan kepangkuannya sendiri.
"Zahra masih kecil masih butuh kasih sayang aku." Ucap Lesta pelan.
"Ya tapi ga sampe gendong-gendong terus. Kan ada aku ayahnya. Kamu mah anteng-anteng aja ya." Genta berdiri menggendong Zahra dengan tangan kiri namun telapak tangannya memegang mangkuk makanan Zahra, tangan kanan memegang sendok yang ia gerakan seperti pesawat. "Aku kedepan dulu, jangan kerjain yang berat-berat. Buat apa aku bayar pembantu kalo kamu masih kerjain semuanya." Lanjutnya sebelum berlalu menuju halaman depan rumah.
"Ayah kamu itu nak, nanti jangan kaya gitu ya. Kaya bunda aja, apalagi wajah kamu harus kaya bunda biar ayah kamu ga menang banyak terus, kan ga adil." Ucap Lesta mengelus pelan perutnya yang sudah mulai sedikit membuncit.
"Aku denger itu sayang!" Teriak Genta membuat Lesta terkekeh. Suaminya itu selalu tau apa yang ia bicarakan dengan anak-anaknya.