TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 5



Memperhatikan Lesta yang sedang termenung didepan jendela dengan sesekali helaan nafas keluar dari mulut nya. Genta berjalan menghampiri nya berdiri tepat disamping nya. Kedua nya larut dalam fikiriannya masing-masing.


"Semua nya akan baik-baik aja, percaya sama gue" cicit Genta setelah lama diam.


"Heem semoga"


"Lo ga usah khawatir"


"Gimana bisa? Aku diusir dari rumah. Dan mamah papah ga mau ketemu sama aku lagi. Tadi, papah ngirim pesan ia bilang kecewa sama aku dan ga akan pernah mau ketemu aku lagi. Semua fasilitas dicabut termasuk debit yang diblok" Lesta menundukan kepalanya menatap lantai kamar yang berwarna hitam itu.


"Ga usah mikirin itu, tetep lanjutin hidup kaya biasa. Soal fasilitas ada punya gue, lo ga usah takut. Percaya sama gue, gue cuma minta itu"


Genta berlalu keluar dari kamar tamu dan berjalan ke lantai 2 dimana kamar nya berada. Membersihkan diri nya di bawah guyuran air dingin berharap beban nya sedikit terbawa air. Selesai mandi, genta keluar menggunakan kaos polos dan celana training panjang. Merebahkan tubuh di atas kasur king size milik nya. Memejamkan mata berharap selalu berharap semua akan baik baik saja dan bisa ia lewati dengan mudah sebelum mimpi menjemput nya.


***


Senin harinya, Genta berangkat kuliah seperti biasa. Tadinya ia sudah mencoba untuk mengajak Lesta berangkat bersama tapi langsung ditolak dengan alasan tidak ada mata kuliah. Padahal Genta tau jika Lesta sedang enggan berangkat kekampus, masih memikirkan masalah semalam.


Genta pamit kepada Mira dan Lesta yang sedang terduduk didepan tv ruang keluarga. Genta memasuki garasi dan memilih motor besar kesayangannya untuk mengantar dirinya berangkat kuliah hari ini. Dengan kecepatan cukup tinggi , Genta sampai kampus dalam waktu 10 menit. Gila? memang gila padahal jarak kampus dari rumahnya tidak terlalu dekat.


Berjalan santai dilorong Fakultas, Genta melambaikan tangan saat melihat kedua sahabatnya berdiri didepan kelas menunggu dirinya. Tau jika kedua wajah sahabatnya itu menyiratkan ke kepoan dan akan dipastikan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa sabtu kemarin ia tidak kuliah padahal ada kuis dadakan dari salah satu dosen kiler. Sabtu ngampus? sudah biasa bagi mereka jika sang maha benar dosen sudah mengumumkan ada kelas, selain mengikuti apa yang bisa mereka lakukan? membolos? jangan harap bisa lulus mata kuliah semester ini. Dan sepertinya Genta harus memulia kembali karna kemarin tidak ikut dalam kuis dadakan itu. Genta berlalu masuk kedalam kelas mengabaikan mereka yang kini menatap punggung tubuhnya tak percaya.


"Temen lo!" Ucap Erhan dan Ralio bersamaan melihat sikap Genta acuh, yang selanjutnya mereka menyusul dan duduk bersebelahan dengan Genta yang sialnya saat akan melontarkan pertanyaan dosen masuk memulai kelas.


Selesai kelas mereka bertiga berjalan menuju kantin untuk mengisi perut. Memesan makanan dan minuman, kini mereka duduk disalah satu kursi pojokan kantin.


"Jadi? Kenapa sabtu lo ga ke kampus? lo tau kan kalo ada kuis dadakan?" Tanya Erhan sambil memakan bakso kuah sambal itu.


Genta hanya menjawab dengan sebuah deheman saja hingga beberapa pertanyaan pun tetap saja hanya dijawab deheman acuh membuat Erhan maupun Ralio jengah dengan sikap Genta yang entah ada hal apa membuatnya irit-sangat irit bicara.


***


1 bulan berlalu. Semua nya berjalan seperti biasa, hanya saja yang beda dikeseharian Lesta yang setiap pagi berangkat kuliah dan sore pulang kuliah bareng Genta. Awal nya Lesta cukup asing dengan suasana baru dalam hidup nya, tapi bukan kah ini semua pilihannya sendiri yang harus ia hadapi. Sore dimana waktu Genta pulang kampus, Lesta menghampirinya dan bicara jika mulai besok akan masuk kuliah dan menerima kehidupan baru untuk saling mengenal bersama Genta.


Di hari pertama mereka berangkat bareng ke kampus, semua pasang mata tertuju pada mereka. Gosip tentang mereka menyebar sangat kilat, pasal nya Genta adalah salah satu mahasiswa yang sulit didekati oleh kaum hawa di angkatan nya sedangkan Lesta seorang mahasiswi yang terkenal baik hati suka menolong tapi sering kali dimanfaatkan atau teman se angkatannya menyebut dia ' madoh : malaikat bodoh ' .


Acuh, satu hal yang Genta dan Lesta lakukan. Toh lama kelamaan mereka cape sendiri menyebar gosip yang itu itu aja ya kan?. Jadi menutup telinga lebih baik daripada mendengar hal tak penting yang hanya akan membuat telinga pengang.


***


"Ge, lo nanti langsung balik kaya biasa? Ga kangen apa lo nongki-nongki di caffe?"Tanya Ralio pada Genta. Saat ini mereka duduk dikursi favorite dikantin, dimana lagi kalo bukan pojokan.


"Ga tau ral, kangen sih" Jawab Genta pelan.


"Ya nongki lah nanti sore ge"


"Nih pesanan lo pada" Erhan datang membawa pesana Genta dan Ralio. Mereka dikantin pada jam segini bukan bolos, melainkan mengisi perut sekaligus menunggu jam kosong.


"Thanks han" , "makasih bro" ucap Ralio dan Genta bersamaan.


"Hmm, sore nongki ga ge? Berdua doang sama Ralio ga asik" Tanya Erhan yang sedang mengaduk mie ayam miliknya, sedangkan Ralio sudah anteng dengan ayam penyet kesukaannya.


"Ga tau han"


"Lo dilarang-larang sama kating itu? " Erhan menyipitkan mata nya memperhatikan Genta.


"Engga lah kapan juga dia berani larang-larang gue" elak Genta menyeruput jus mangga milik nya.


"Terus lo kenapa ge? Apa sih hubungan lo sama dia? Sumpeeehhh ni ya gue bener-bener bingung sama hubungan lo dan kating itu. Ga ada kejelasan apapun dari lo. Bahkan ke kita berdua aja lo ga bilang apa-apa cuma cukup mengedikan bahu setiap kita tanya, iya ga han?" Ucap Ralio kesal dengan tingkah genta akhir-akhir ini.


"Iya banget Ral, kaya kita berdua ini orang baru di hidup nya lo aja ge"


"Ga gitu han. Gue bingung harus ngomong apa sama lo berdua. Gue ragu kalian berdua harus tau semua nya atau gimana gue bener-bener ga tau" frustasi Genta mengacak rambut nya gusar.


"Ge lo ga percaya sama kita? Lo liat gue sama Ralio HEH? Kita berdua udah temenan lama bro, dan lo ga percaya sama kita? Ga habis fikir gue sama lo" Erhan menggelengkan kepalanya tak percaya sambil menatap Genta sengit.


"No komen gue mah lah" Ralio mengedikkan bahunya acuhm


"G-ggu-gue"


"Serah lo mau percaya atau engga. Lo ga percaya kita berarti lo nganggep ki--" Ucap Erhan sinis namun terpotong oleh Genta.


"Oke gue ceritain semua nya, tapi gue minta jangan potong omongan gue sebelum gue beres. Dan ga disini, tapi dimobil gue gimana?"


Mereka bertiga berjalan meninggalkan kantin beserta makanan dan minuman yang bisa dikata masih cukuo banyak menuju mobil Genta diparkiran kampus. Ya semenjak ada Lesta, Genta lebih memilih membawa mobil di bandingkan motor besar miliknya yang terakhir kali dia pakai di tinggalkan diparkiran club, oh tidak ia pernah memakainya sehari sebelum Lesta memutuskan untuk berangkat kuliah bersama. Ya hari itu, hari senin yang membosankan ditambah pertanyaan-pertanyaan dari mulut Ralio dan Erhan tentang kenapa 'sabtu ia tidak kuliah' . Bagaimana mau kuliah, yang ada juga dia malah dapat petuah karna telah merawani anak gadis orang. Tapi sekarang Lesta sudah bukan gadis kan, berarti Genta bisa-- eh astagfirullah setan datang diwaktu yang salah.


Mereka duduk bertiga dikursi belakang mobil, awal nya Genta menolak hanya saja Erhan memaksa agar Genta tidak dapat mengelak atau suatu waktu kabur bila tak sanggup menceritakan semua nya sampai akhir. Mengalir lah cerita semua yang ia alami sejak ia mendaratkan diri diclub,tragedi yang ia lakukan pada Lesta dan semua keputusan yang ia ambil tanpa melebihkan dan mengurangi. Tapi tak semuanya yaz ingat bagian yang enak-enak nya Genta sensor tak dijelaskan dengan rinci, bahaya nanti mereka jadi tau urusan ranjangnya dia gimana? kan gawat.


"Parah ge lo parah" Ucap Ralio mendramatisir.


"Gue ga nyangka lo bisa gitu ge" Ucap Erhan dingin.


"Bukan mau gue tapi semua nya udah terjadi tanpa bisa gue cegah. Gue bener-bener khilaf , gue ga sadar." balas Genta menutup muka nya lelah.


"Terus itu kating gimana? Bunting?" celetuk Ralio mendapat pukulan dijidatnya dari Erhan.


"Mulut lo Ral. Ga lo nikahin aja langsung ge?" Tanya Erhan pelan.


"Gue ga tau Ral. Gue ga banyak ngobrol sama dia walau tiap hari kita bareng. Nikah ya han? Gue ragu buat jalin hubungan lagi , terutama nikah hubungan yang sakral ga bisa main-main itu urusannya sama tuhan."


"Terus lo mau gimana? Tanggung jawab tanpa nikahin dia?"


"Boleh gue ngelakuin apa yang lo ucapin barusan han?"Tanya Genta sendu.


"Brengsek lo ge kalo lo bener ngelakuin apa yang Erhan bilang" kini Ralio yang memukul kepala Genta gemas.


"Gue udah jadi brengsek sejak malam itu" Lirih Genta mengusap wajahnya gusar.


"Kalo lo tau lo brengsek jangan buat diri lo makin brengsek Genta setan. Tanggung jawab bukan soal lo ngelindungi dia, nafkahi dia tapi lo juga harus nikahin dia karna bagaimanapun masa depan dia udah lo renggut sebelum waktunya. Inget ge sebrengsek-brengseknya lo jangan sampe lari dari tanggung jawab atau lo bakal tau balasan tuhan itu lebih dahsyat!" Erhan berbicara dengan penuh penekanan membuat Genta sedikit ciut.


"Tap--"


Drrtt drttt drttt


Lesta Sei. Nama yang tertera di hp pintar milik Genta, tanpa fikir panjang ia geser ikon ber warna hijau dan menempelkan nya pada telinga kanan.


"Hallo" Sapa Genta saat mendengar suara grasuk-grusuk dari sebrang sana.


"Halo, lo Genta yang tiap hari pergi dan pulang bareng Lesta kan?" Ucap seseorang disebrang sana yang Genta yakin orang lain, karna suara itu bukan suara lembut milik Lesta.


"Hmm, ada apa? Lesta nya mana?"


"Ini Lesta di UKS , tadi pingsan di lor--"


"Otw" putus Genta memotong dan langsung memutuskan sambungan sepihak. Mendorong tubuh Erhan keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju UKS. Entah apa yang ia lakukan yang pasti firasat nya tidak enak.


Braakkk.


Pintu UKS terbuka dengan kencang. Didalam ruangan hanya ada 2 orang wanita, Lesta yang sedang berbaring memejamkan mata di atas tempat tidur uks dan temanny yang Genta yakin jika ia yang menghubungi nya tadi. Tanpa banyak fikir Genta menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi. Wanita itu menjelaskan, bahwa tadi saat berjalan dilorong fakultas menuju kantin Lesta megeluh kepalanya pusing dan perutnya sakit, ia sudah membujuknya untuk ke UKS beristirahat tapi Lesta tetap keras kepala dan ingin ke kantin bilang nya kalo diri dia lapar. Belum juga 5 langkah Lesta pingsan dan tanpa basa basi meminta orang-orang yang ada untuk membawa Lesta ke uks. Dan sudah 10 menit berlalu ia belum juga sadar.


Mendengar itu semua Genta langsung menggendong Lesta membawa nya kedalam mobil untuk ia bawa ke rumah sakit terdekat tak luput dari 2 sahabat nya dan 1 teman Lesta. Percaya lah, banyak permikiran buruk di otak Genta saat ini. Perihal Lesta yang memang beberapa hari ini mengeluh sakit perut dan pusing, pola tidur yang tidak teratur karna sering terbangun tengah malam karna lapar, gampang lelah padahal aktivitas yang ia jalani seperti biasa.


20 menit perjalan. Genta memarkiran mobil nya tepat didepan pintu UGD, tak peduli umpatan satpam dan teman-temannya Genta langsung menggendong Lesta ke dalam dan menarik paksa beberapa suster dan dokter untuk langsung memeriksa kondisi wanita nya. Wanita nya huh? Boleh kan Genta menyebut nya begitu sedangkan hatinya masih mengambang diatas lautan tanpa tau kapan ia berlabuh?


Resah yang ia rasakan dan berkali-kali melirik arloji yang terpasang ditangan kirinya. Entah apa yang terjadi yang pasti hatinya benar+benar gundah, baru 15 menit dokter memeriksa tapi yang Genta rasakan seperti 15 tahun lamanya. Tak sadar keringat dingin bercucuran sedikit demi sedikit, tangan nya tiba-tiba berkeringan digin, sungguh Genta baru mengalami hal ini dan ingin sekali rasanya ia mendobrak pintu untuk meneriaki dokter yang memeriksa begitu lama.


25 menit berlalu. Pintu terbuka dan keluar seseorang memakai jas putih, ya iya itu dokter yang Genta fikir menyebalkan sudah membuatnya menunggu begitu lama dan resah.


"Keluarga pasien?" Tanya dokter itu.


"Ya saya dok" ucap Genta menghampiri dokter tepat satu didepan nya.


"Anda suami nya??" Tanya nya lagi.


"Su-- ah iya saya suami nya , is-stri saya kenapa ya dok?"


"Tekanan darah yang rendah dan imun yang kurang membuat kondisi nya lemah. Tapi syukur janin nya masih bisa bertahan meskipun kondisi sang ibu dan kandungannya lemah" Ucap doker menjelaskan.


"Apa dok? Janin? Maksudnya? Les-Lesta hamil? Hamil dok? Ada bayi? di perutnya? Anak gue? benta-benta, Hamil? Bayi? Anak?" Tanya Genta beruntun mengucapkan kata-kata konyol saking tidak percayanya. Sedangkan ketiga orang lainnya hanya diam dengan mata melotot kaget mendengar ucapan santai si dokter.


"Iya, istri bapa hamil, ada bayi diperutnya calon anak kalian. Kandungannya sudah masuk minggu ke - 3. Apa anda tidak tau?"


"T-ti-dak dok, setau saya dia sedang datang bulan"