TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 25



"Morning eferibadeeeehhhh." Teriak Genta mendapat pelototan tajam dari Rehan.


"Pagi-pagi udah teriak-teriak serasa di hutan kali ya." Balas Arfand.


"Bang ge ini masih pagi jangan ngajak gila." Ucap Rafa membuat Genta tertawa. Ya hanya Genta yang tertawa, bahkan Lesta sendiri hanya menatapnya heran tak paham dengan perubahan sikap Genta.


"Ge, ga usah kuliah ikut papah aja yuk." Ucap Rehan berhasil membuat Genta terdiam dan menaikan alisnya menatap Rehan. "Kita ke psikiater, siapa tau otak kamu pindah ke dengkul soalnya kamu agak gila sekarang. Papah kasian sama cucu papah kalo sampe punya ayah gila kaya kamu." Lanjutnya membuat lagi-lagi tawa Genta keluar.


"Papah sebuh aku gila? kan aku emang udah gila dari dulu juga hahahahahahaaa." Genta berhenti tertawa dan mulai menyendokkan nasi goreng kedalam mulutnya. Yang lain? masih memperhatikan setiap gerak-gerik Genta. Mereka harus was-wasjika Genta sudah gila berarti ia kembali menjadi Genta yang dulu? haruskan mereka bersyukur atau malah bersabar.


"Bunda, ayah berangkat kuliah dulu ya biar jadi suami yang pintar seperti istir dan biar double Al tidak malu meski punya ayah gila tapi pintar luar biasa. Assalamualaikum." Genta mencium singakt bibir Lesta yang selanjutnya berlari keluar rumah meninggalkan Gentan dimeja makan dengan wajah memerah dipandangi anggota keluarga yang lain.


"Bang ge sukanya nyosor, gimana kalo double Al dapet adik lagi? kan kasian mereka masih muda." Ucap Rafa menyadarkan Lesta dari kekagetannya. Ia bangkit dan berlalu kembali ke kamar saat mendengar tangisan salah satu anaknya. Dalam hati ia bersyukur karna tangisan itu ia bisa kabur dari tatapan keluarga suaminya itu.


***


Genta berjalan gontay dilorong fakultas tak menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang disekitarnya. Dengan sesekali mendengus kesal, bahkan menendang-nendang angin seperti anak kecil membuat orang yang berada dibelakangnya gemas ingin memukul kepala Genta yang entah apa isinya. Yang pasti bukan hal penting bagi nusa dan bangsa.


"Lo kelewatan 3 meter bang ge!" Teriak Ralio sambil menarik kerah kemeja yang dipakai Genta. Genta hanya melirik tajam, lalu melepaskan tangan Ralio dengan kasar sebelum masuk kedala kelas.


"Kenapa itu orang? Gila?" Tanya Ralio pada Erhan.


"Ga dapet jatah kali." Jawab Erhan Acuh sambil berlalu masuk kedalam kelas.


"Kampret punya temen pada miring semua otaknya. Ralio yang tampan dan jenius ini sabar aja dah allah mah adil sama orang baek kek gue mah." Gumam Ralio didepan kelas dan berbincang dengan teman satu jurusannya sebelum dosen masuk.


Didalam kelas Erhan menghampiri Genta yang memasang wajah datar menatap papan tulis. Duduk disebelahnya, tak berniat menanyakan apapun. Erhan cukup tau jika Genta terdiam berarti dia masih kesal. Jika kesalnya sudah berkurang, Erhan berani bertaruh dengan mobil bmw keluaran terbaru yang terparkir cantik digarasi rumahnya itu Genta akan cerewet melebihi ibu-ibu sosialita yang heboh bercerita tentang semua hal. Ya seperti itu Genta, jika kesal diam namun jika sudah berkurang kesalnya ia tak akan berhenti bercerita tentang semua hal yang membuatnya kesal. Dan yang paling Erhan tau, hal itu bisa merembet. Bukan hanya hal yang membuatnya kesal, Ralio bisa menjadi korban yang tepat untuk menjadi pelampiasan Genta. Tunggu aja waktunya, Erhan hanya akan terdiam melihat mereka.


Tak lama, dosen masuk yang diikuti beberapa mahasiswa yang belum masuk kedalam ruangan. 2 jam , kelas selesai dan satu persatu mulai keluar dari kelas. Genta bangkit dengan sedikit menendang meja berlalu keluar menuju kantin. Erhan dan Ralio mengikuti dari belakang dalam diam. Bukan, tapi hanya Erhan yang diam karna Ralio daritadi bergumam mengumpati Genta menurutnya seperti orang stres lah, orang gila lah, orang miskin ditanggal tua lah, bahkan sampai suami kurang belaian Ralio sebutkan. Hebat bukan temannya yang satu itu?


Mereka bertiga duduk dimeja pojokan kantin setelah memesan makanan dan minuman yang sekarang sedang mereka lahap. Selesai makan, mereka terdiam dengan hp masing-masing. Hingga Genta dengan tiba-tiba mengambil paksa hp Erhan dan Ralio membuat sang empu menatap tajam.


"Gue kesel bukannya dibujukin malah dicuekin! Temen kampret!" Ucap Genta ketus.


"Lo gila!" Jawab Ralio.


"Lo yang gila! Gue lagi kesel nying, nyokap sama bokap sekongkol bikin gue pisah ranjang kan sialan! Padahal gue nekad sampe mohon-mohon ke om Rajata biar bisa bawa gue balik sama Lesta. Eh kampretnya sampe rumah malah disiksa lahir batin dah mana disuruh pisah ranjang kan an--- Aaww sakit bagong!" Cerocos Genta yang diakhiri pekikan sakit karna pukulan keras dari Erhan.


"Lo gila?! Istri dan anak lo baru keluar dari rumah sakit! Lo ga sadar apa kalo itu masih bahaya? Dan apa lo bilang tadi? Om Rajata? Bokap gue? Syalan lo memang **** manfaatin bokap gue!" Cercah Erhan pada Genta. Sedangkan Ralio dengan anteng menonton sambil memakan kwaci yang entah dapat darimana.


"Ya--ya-ehmm ya kan ga gitu juga Han, gue kan cuma ga mau pisah sama anak bini. Lagian gue bayar ko ke om Rajata." Rajuk Genta memanyunkan bibirnya.


"Lo emang gila! Terima aja pisah ranjang. Sapa suruh nekad!" Balas nya.


"Ya ga pisah ranjang juga lah. Gue sengaja bawa balik bini kan, biar ga haus belaian istri." Jawab Genta masih dengan mode merajuk. Hingga mereka saling balas yang pastinya Erhan menang dengan segala petuahnya, dan Genta kalah memberenggut seperti anak kecil.


"Lo juga malah makan kwaci ga bagi-bagi!" Ucap Erhan dan Genta bersamaan sambil mengambil serenceng kwaci yang masih utuh dari depan Ralio.


"Astagfirullah, kaum duafa mah memang beda. Kwaci juga minta-minta. Nih abang Ralio yang holang kaya ini bagi-bagi dah buat lo pada." Ralio menyerahkan sekresek kwaci yang ternyata memang dia bawa dari rumah, sebelum berlari kabur dari hadapan kedua sahabatnya itu yang kesal karna ucapannya.


Genta dan Erhan saling pandang, walau kesal tapi tetap saja kwaci-kwaci itu dibawa dan dibagi dua. Rezeki ga boleh ditolak kata mamah juga, ucap mereka berdua. Memasukan semua kwacinya kedalam tas lalu bergegas menuju kelas sebelum dosen datang.


***


"Ral langsung balik lo?" tanya Genta pada Ralio yang bersiap memasuki mobilnya.


"Heem, rumit juga mau kawin tuh. Tau gini gue bobol gawang duluan dah kaya si Genta. Duluan dah." Ucap Ralio langsung memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan Genta dan Erhan yang masih mematung mendengar ucapan temannya itu.


"Dia ga jadi nikah han?" tanya Genta mendapat sebuah gelengan dari Erhan.


"Kaga, papahnya Tara mempersulit jadinya dia gitu tuh tuh." Jawab Erhan berjalan menghampiri mobilnya. "Gue duluan ya." Pamit Erhan yang dibalas anggukan kepala oleh Genta dan ikut memasuki mobil berlalu pulang.


Beberapa menit diperjalan akhirnya Genta sampai dirumah. Langsung masuk berlari menuju kamar orang tuanya untuk menemui Lesta serta si kembar. Membuka pintu perlahan, ia melihat Lesta tertidur nyenyak sambil menyusui si kecil Alca, sedangkan Albar terbangun anteng tidak menangis sedikitpun. Berjalan menghampiri Lesta mencium keningnya singkat, lalu menggendong Albar dengan hati-hati. Terlihat jelas diraut wajah istrinya itu sangat lelah dan cape. Bagaimana tidak jika mengasuh anak kembar sekaligus itu cukup lelah.


Genta mendengus kesal karna mamahnya itu tidak ada dirumah dan membiarkan istrinya sendirian dirumah. Kemarin saja bilangnya akan menjaga serta membantu mengurus sikembar, sedangkan sekarang lihat kemana mamahnya itu? pasti sedang arisan diblok sebelah. Sudah hafal jelas Genta dengan kelakuan mamahnya itu. Genta memindahkan Albar kedalam stroller dan menggendong Alca yang terbangun hendak menangis. Jangan sampai anaknya menangis, kasian istrinya itu tertidur nyenyak. Biarkan kali ini Genta yang menjaga sikembar, walau cape dia juga ikut andil dalam pembuatannya kan yang berarti harus ikut andil mengurus juga. Ia sadar diri, jangan mau enaknya aja tapi ga mau susahnya.


Dengan hati-hati Genta mendorong stroller sikembar dan membawanya ke taman belakang rumah. Jam baru menunjukkan pukul 14.29 ,belum terlalu sore untuk anak-anak diam diluar rumah. Dengan angin yang semilir sejuk Genta memejamkan matanya menikmati dengan sesekali terdengar ocehan bayi dari si kembar yang saling bersautan membuat Genta terkekeh ringan.


"Anak ayah ngobrolin apa sih? ayahnya ajakin ngegibah juga dong." Ucap Genta yang mendapat balasan ocehan bayi dari keduanya refleks membuat Genta tertawa. "Gue gila apa ya ngajak mereka ngobrol, ngerti juga kaga hahaha."


"Lo emang gila bang." Rafa duduk disamping Genta dan melihat keponakan kembarnya itu menatap polos.


"Iya gue gila dek."


"Dari dulu. Baru sadar?"


"Hahaha dasar lo bang ge."


"Lo sama kaya si dua curut aja manggil gue bang ge. Kedengernya tuh kek bangke tau" Genta menyebikkan mulutnya seperti anak kecil.


"Ga pantes lo kaya gitu bang hahaha" Rafa tertawa kencang yang diikuti tawa Albar dan Alca seolah tau jika pamannya itu mengolok ayahnya.


"Kalian jahat ko malah ikut ngetawain ayah sih!" Genta bayi mode on.


"Suka-suka mereka lah bang hahaha."


"Semerdeka kalian aja! Ayah marah loh awas ya kalo minta ayah gendong!" Oke kali ini Genta seperti wanita pms, ia memalingkan wajahnya dari sikembar serta Rafa seperti merajuk namun Rafa malah tertawa kencang melihat kedua anak kembar Genta malah asik sendiri mengabaikan ayah mereka - Genta.


"Ga dianggap itu sakit bang." Rafa berlari masuk kedalam rumah sebelum mainan Albar yang kini sudah berada ditangan Genta mengenai wajah tampannya.


***


Lesta terbangun dair tidur nyenyaknya, melirik sekitar tidak menemukan kedua anak kembarnya. Dengan tergesa ia berlari berkeliling rumah, namun langkahny terhenti saat melihat Genta menggendong Albar dan mengajak bicara Alca yang berada dalam stroller. Sesederhana itu ia bahagia melihat suami serta anaknya tersenyum dihadapannya.


"Ge kenapa ga bangunin aku kalo mereka bangun?" Tanya Lesta yang kini sudah terduduk disamping Genta dan mengambil Alca kedalam gendongannya.


"Kasian, bunda keliatan cape banget ngurusin Al. Aku juga bisa ko ngejaga mereka kalo kamu cape." Ucap Genta sambil tersenyum kepada Lesta.


"Padahal ga apa-apa kan udah tugas aku ngurus mereka."


"Tapi aku juga kudu ngurus mereka. Kan kita bikinnya bareng, ya ngurusnya juga kudu bareng dong ga mungkin mau enaknya doang kan." Genta menaikan satu alisnya menggoda istrinya itu yang sukses membuat semburat merah muncul dikedua pipi Lesta. Mereka sudah sering melakukan hal yang mantep dikamar, tapi tetep saja itu istrinya selalu malu jika Genta membicarakan hal-hal seperti itu.


"Masuk ge, mereka udah waktunya mandi sore." Lesta berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumah dengan menggendong Alca. Sedangkan Genta sudah terbahak ditempat dan langsung menyusul dengan gemas terhadap Lesta. Jangan lupakan Albar yang tertawa digendongan Genta saat ayahnya itu berlari mengejar bundanya.


***


"Ge, hotel yang--"


"Genta ada tugas pah, ke kamar dulu ya." Genta menyela ucapan Rehan yang kini menatapnya tajam. Saat hendak melangkah, dengan cekatan Rehan menarik kerah baju Genta membuat anaknya itu terhuyung kebelakang. "Sakit paaahhh!"


"Jangan kabur. Itu anak istri kamu butuh makan. Kerja sana!" Ucap Rehan kesal kesal gemas gimana gitu menghadapi anak keduanya yang luar biasa menyebalkan.


"Ya tinggal makan lah pah kalo Lesta lapar, kenaoa curhat ke Genta??" Genta terduduk kembali disamping Arfand yang fokus menatap tabletnya.


"Ya mulai besok kamu kerja bantuin mas Arfand dan papah"


"Semerdeka papah deh" Acuh Genta sambil memakan keripik kentang favoritenya.


"Genta!"


"Iya pah iya Genta kerja. Puas?!" Genta berdiri dan menatap papahnya itu. "Tapi nanti kalo tugas Genta udah beres semuaaaaa." Genta berlari menuju lantai dua dan terdengar jelas ia menutup pintu dengan kencang membuat Rehan mengelus dadanya pelan berharap ia dijauhkan dari penyakit jantung jika terus-terusan menghadapi Genta seperti tadi.


"Pah udah lah nanti juga dia pasti kerja, percaya sama Arfand." Ucap Arfand yang telah meletakkan tabletnya diatas meja.


"Iya tapi papah tuh gemes sama dia mas."


"Genta bener pah, dia harus nyelesein dulu tugas-tugas kuliah yang ketinggalan. Biarin dulu aja lah, nanti juga sadar sendiri."


"Iya deh iya." Rehan duduk disamping Arfand dan menyalakan televisi menonton salah satu sinetron yang sedang ramai diperbincangkan dimasyarakat. Katanya sih banyak bucin-bucinnya gitu.


"Pah" Panggil Arfand pelan.


"Apa mas?" Rehan menjawab dengan mata masih fokus menatap layar tv.


"Hangat ya pah. Balik kaya dulu." Pelan namun Rehan bisa merasakan nada rindu dari ucapan Arfand.


"Iya mas, tapi makin gila." Rehan terkekeh kecil.


"Kalo ga gila bukan Genta. Apa lagi kalo udah bareng duo racun wkwkwk si Erhan adem-adem gitu juga bisa sama gilanya sama Genta. Kalo si Ralioliolio mah ga usah ditanya dah." Arfand terkekeh mengingat tingkah adiknya bersama dengan Erhan dan Ralio pada masa dulu.


Genta yang hangat, bawel, bar-bar, pecicilan hampir sama dengan Rafa namun lebih abstrak. Rafardhan, masih bisa dibilang dibatas rata-rata kegilaannya berbeda dengan Genta yang abstark sulit ditebak setiap tingkahnya itu. Rehan dan Mira cukup banyak bersama menghadapi anaknya itu. Bagaimanapun dia anaknya ya meski lebih sering malu-maluin yang sungguh diragukan urat malunya masih berfungsi atau tidak.


"Arfand ke atas dulu. Jangan banyak nonton sinetron itu, nanti jadi makin bucin sama mamah pah." Arfand ngacir ke lantai dua setelah mengucapkan kalimat yang membuat Rehan kesal.


"Bucin-bucin gini juga mamah kamu balik bucin sama papah tau!" Teriak Rehan membuat Arfand, Genta, serta Rafa yang kini berdiri ditangga teratas tertawa terbahak.


"Dasar tua-tua bucin!" Teriak ketiga anak itu dan langsung berlalu memasuki kamar masing-masing saat melihat Rehan sudah berdiri akan mengejar mereka.