TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 3



"Makasih pa" ucap Lesta sambil berjalan memapah genta ke kamar nya yang dibantu oleh Pak Mur dan diikuti Bi Ai dibelakang mereka.


Sampai di salah satu kamar di lantai dua, genta langsung di tidurkan di atas kasur ukuran King Size milik nya. Kamar yang cukup luas berwarna putih dengan bau maskulin khas laki-laki.


Bi Ai dan Pak Mur pamit meninggalkan Lesta hanya berdua dengan Genta didalam kamar. Mengeluarkan Hp untuk menghubungi orang rumah tapi sial, hpnya habis daya sehingga hanya menunjukan layar hitam.


'ikut ngecharge bentar ga apa apa kali ya?' pikirnya sambil mencari stop kontak.


Di samping tv ber ukuran 54" inch , Lesta melihat ada stop kontak. Langsung saja ia berdiri berjalan ke arah televisi mengeluarkan charger dan langsung menghubungkan nya dengan Hp pintar milik dia.


Greepp.


Tubuh Lesta menegang saat merasakan tangan kekar memeluk nya dari belakang dan hembusan nafas hangat diceruk leher nya. Lesta menolehkan kepala nya ke belakang yang langsung menampilkan wajah mabuk Genta.


"Lo ga bisa pergi Al, lo udah ngancurin kepercayaan gue, lo pergi ninggalin luka besar di hati gue, dan sekarang dengan enteng nya lo datang tanpa permisi?" Ucap Genta diiringi senyum smirk miliknya.


"K-ka-mu mau ngapain? Lepasin ini pengap tau, dan siapa al? Aku ini Lesta bukan al-"


"STOP. Lo terlalu banyak bicara sayang"


"Tap-- mmpph"


Ucapannya terhenti karna langsung Genta mencium bibir Lesta rakus, tak memberi sedikit pun celah untuk bernafas. Semakin lama, ciuman Genta semakin menuntut tak peduli air mata dan pukulan tangan lesta didada bidangnya.


"Lo harus tau gimana frustasi nya gue malam itu, lo harus rasain al" bisik Genta tepat disamping telinga Lesta. Menyentuh setiap inci wajah Lesta yang ia fikir Aleya akibat pengaruh alkohol.


"A-akku bukan Aleya, tap-"


"Ssttt, gue yakin lo bakal suka dan nyesel ngekhianatin gue" ucap Genta memotong Lesta bicara.


Menunjukan senyum smirk dengan air muka penuh gairah. Mengangkat tubuh gemetar Lesta dan menjatuhkannya diatas kasur. Menindih tubuh kecil Lesta. Mencumbu setiap inci nya tanpa peduli penolakan, teriakan, isak tangis, tendangan serta pukulan Lesta.


Malam itu, malam dimana Genta dipenuhi kabut amarah dan gairah menjadi satu akibat minuman alkohol. Malam yang menjadi saksi ke brengsekan Genta menghancurkam masa depan seorang gadis yang sudah berbaik hati mengantar nya pulang.


Lesta?? Dia hanya menangis menerima perlakuan keji genta, dan berdo'a dalam hati semoga keadaan tidak menjadi lebih buruk dari apa yang terjadi. Ya Lesta hanya bisa berharap keajaiban tuhan ditengah kegiatan keji yang sedang mereka lakukan. Ya mereka, meski Genta yang bekerja tapi mereka melakukannya berdua.


***


Braaakk


"Astagfirullah! GENTAAA!"


"GENTAAAA BANGUN SEKARANG!!"


"Eungh, 5 menit lagi pah" jawab Genta santai sambil menarik selimut nya hingga menutupi kepala.


"Ab-abang, bangun sekarang nak" ucap Mira sambil menggoyang tubuh Genta pelan.


"5 menit lagi mah"


"Bang, lo bangun sekarang bang jangan cari mati napa" bisik Rafa ditelinga Genta.


"Berisik banget sih Raf, pusing kepala gue" ucap Genta sambil bangun dan mengusap muka nya kasar.


"GENTA!" Panggil Rehan penuh tekanan dan tajam.


"Apa sih pah, pagi-pagi udah pada ribut aja"


"Apa yang kamu perbuat semalam dengan gadis disamping kamu hm?"


"Gadis? Siap-" mata Genta melotot lebar melihat sesorang yang dimaksud papahnya - Rehan.


Lesta menangis dalam diam sambil memegang erat selimut tebal milik Genta yang menutupi tubuh polos nya. Ia sudah terbangun sejak gebrakan pintu kamar terbuka dengan kencang. Menerima tatapan tajam dan kaget dari orang-orang yang Lesta yakini keluarga laki-laki brengsek itu, menundukan kepala dan berdo'a adalah satu-satu nya hal yang bisa ia lakukan saat ini.


"Lo siapa? Kenapa bisa ada dikamar gue? Dan kenapa lo bisa tidur diatas kasur? bareng gue? Jangan bil-" tanya Genta beruntun , mengangkat selimut dengan kasar dan melihat tubuh nya dibalik selimut untuk memastikan apa yang ia fikirkan salah.


Tubuh polos tanpa sebenang helai pun, pakaian yang berserakan, tampilan kacau gadis disamping nya. Ah, gadis? Apa bisa ia panggil ia gadis setelah apa yang ia lihat bercak darah, samping paha diatas sepray putih milik nya?


"Gue tanya sama lo, apa yang udah terjadi? Kenapa gue ga inget apa-apa? Kenapa lo bisa disini? Dan siapa lo? Kita ga saling kenal" tanya genta sambil mengguncang pundak lesta.


"Genta, tenang nak jangan gitu"


"Sekarang kamu beresin dulu diri kamu, lalu kita bicarakan semua nya baik-baik dengan kepala dingin. Dan kamu, siapa nama kamu nak?"


"S-ssaya? Lesta om" jawab lesta pelan.


"Lesta? Mira, bawa dia dan bantu untuk membersihkan diri" tegas Rehan.


Mira hanya mengangguk dan menghampiri Lesta yang terduduk disamping Genta. Memunguti pakaian dan semua barang milik Lesta. Merangkul dan sesekali mengusap bahu Lesta lembut, membawa nya ke kamar milik ia dan Rehan untuk dibenahi penampilannya dan sedikit bertanya perihal yang terjadi pada nya bersama Genta semalam.


***


Semua anggota keluarga sudah duduk diruang keluarga lantai satu. Semua mata menyorot tajam ke dua insan yang menundukan kepala nya dalam, entah apa yang mereka fikir kan yang pasti semua nya tidak baik-baik saja.


"Sekarang ,saya tanya nak Lesta. Kenapa kamu bisa ada dikamar anak saya? Dan apa yang semalam terjadi?" Tanya Rehan tegas.


Tanpa mengangkat kepala nya Lesta menjawab dengan pelan.


"Saya semalam melihat anak om muntah dipinggir jalan, saya hanya ingin membantu nya dengan memberi air mineral yang saya punya........." Dan mengalir lah semua yang ia alami secara jujur tanpa mengurangi atau melebihkan kepada semua orang.


Rehan mengepal tangan kuat, melihat anak kedua nya yang hanya bisa diam menundukan kepala tanpa punya niatan untuk membela diri. Beri tahu Genta cara membela diri ketika dia mulai ingat samar-samar apa yang sudah ia perbuat semalam. Ditambah ketika Rehan, papah nya memanggil Pak Mur dan Bi Ai untuk memastikan bahwa apa yang Lesta ceritakan benar sampai ia ditinggalkan berdua dengan Genta didalam kamar.


"Apa yang kamu lakukan dini hari dijalanan nak?" Tanya Mira lembut.


"Aku kabur dari temen-temen aku tante, mereka ngebohongi aku. Niat awal mengerjakan tugas kuliah , tapi mereka malah membawa aku ke sebuah Club. Aku udah nolak tapi mereka maksa sampe jam 11 aku pingin pulang karna mulai ga nyaman sama keadaan yang semakin ramai dan penuh asap roko. Tapi salah satu temen aku malah menahan aku sampai jam 12, Lia ngajak aku istirahat dan ngebawa aku ke salah satu kamar disitu. Aku fikir Lia akan kembali setelah bilang tunggu sebentar ia hanya pergi ngambil barang yang tertinggal, tapi yang ada malah om-om mesum yang datang dan mau merkosa aku. Aku kabur dan berlari menjauhi tempat itu, tapi na'as menghindari kandang buaya malah masuk kandang srigala karna udah nolongin anak tante yang muntah-muntah dipinggir jalan." Penjelasan Lesta tentang hal buruk yang ia alami semalam dengan nada lirih dan tanpa sadar pipi nya mulai basah oleh air mata.


Mira berjalan menghampiri Lesta langsung memeluknya hangat, sedangkan yang lain menatap iba. Genta? ia masih menundukan kepalanya merutuki kebodohan yang telah ia perbuat semalam dengan lari ke alkohol dengan berakhir merawani anak Gadis orang. Apa yang akan dikata kedua curut jika tau hal ini, bisa habis Genta dicercah mereka berdua - Erhan dan Ralio.


***


Di kediaman Aguriza, semua orang panik dan khawatir karna tidak mendapati Lesta di dalam kamar. Nomor telfon yang tidak aktif , pesan tidak ada satu pun yang terkirim dan kabar dari Pak Amin bahwa Lesta menghubungi nya berkali-kali pada pukul 1 dini hari yang tidak sempat ia angkat karna hp nya dalam mode silent.


Adhisti tak henti menangis sambil terus mendial nomor Lesta berharap anak satu-satu nya menjawab. Namun hingga pukul 10 pagi belum ada tanda-tanda dimana anak nya berada. Semua teman Lesta yang ia ketahui tidak ada yang tau dimana Lesta. Semua tempat yang kemungkinan didatangi oleh anaknya Riza kunjungi, tapi nihil tidak ada yang melihat Lesta berkunjung semalam. Yang mereka tau , kemarin anaknya itu izin untuk kerja kelompok mengerjakan tugas kuliah. Namun yang didapati higga saat ini anaknya itu tidak ada dirumah bahkan sejak kemarin belum pulang.


Cemas, khawatir, frustasi 3 jam mencari tidak membuahkan hasil apapun. Riza dan Adhisti hanya bisa ber do'a dan memikirkan cara menemukan Lesta. Hingga suara deru kendaraan memenuhi halaman rumah nya. Saling pandang dan bertanya siapa yang datang? Mereka berdua berdiri dan bergesa menghampiri pintu. Berharap anak kesayangannya yang datang.


"LESTAAAA" Teriak Adhisti saat melihat Lesta baru sampai diteras rumah nya. Berlari menghampiri anak perempuannya, memeluknya erat menyalurkan rasa khawatir yang tadi ia rasa.


"Sayang, kamu kemana aja semalaman ga pulang? Papah dan mamah khawatir sama kamu. Nomor kamu ga aktif, pesan ga ada yang terkirim dan semua teman mu ga ada tau keberadaan mu nak" ucap Riza lembut sambil mengelus rambut anak nya penuh kasih.


"Lesta--"


"Mereka siapa nak? Apa kamu datang bersama mereka?" Potong Riza melihat keluarga Adhitama yang berdiri dibelakang Lesta tanpa berniat menghentikan aksi kasih sayang antara orang tua dan anak itu.


"Ekhem. Pagi pa maaf mengganggu, sebelum nya perkenalkan saya Rehan Raysa Adhitama ingin membicarakan sesuatu hal yang penting perihal anak bapa dan anak saya" ucap Rehan sambil menjabat tangan Riza.


"Euh, saya Aguriza Prahera dan ini istri saya Adhisti Kasih. Silahkan masuk ke dalam, mari" Ajak Riza membukakan pintu rumah lebih lebar lagi memberi akses mereka untuk masuk.


Mereka masuk dan duduk diruang keluarga yang lumayan luas cukup untuk di isi 8 orang. Lesta duduk bersama kedua orang tua nya di sisi kanan ruangan. Genta duduk bersama Arfand dan Rafa di sofa tengah. Sedangkan Rehan dan Mira duduk bersebrangan dengan Lesta. Suasana hening cukup lama tanpa ada satu orang pun yang berniat memulai pembicaraan, hingga 10 menit berlalu.


"Jadi? Apa hal yang ingin bapa bicarakan tadi?" Ucap Riza mulai jengah dengan suasana hening.


"Jadi gini pa, saya to the point aja langsung biar cepat yang sebelumnya saya ucapkan maaf sebesar-besarnya atas apa yang terjadi, karna semuanya diluar kendali anak saya. Jadi semalam........... " Rehan menceritakan ulang apa yang dilakukan oleh anak ke dua nya itu terhadap Lesta.


Braakkk.


Riza menggebrak meja keras. Mengepal tangannya kuat, melirik ke tiga pria muda yang ada dihadapan nya berharap apa yang ia dengar hanya lelucon.


"Sayang? Liat papah. Yang di katakan pria tua itu bercanda kan ya? Sei anak papah memang baik dan suka menolong, tapi Sei bukan anak bodoh yang bisa melakukan hal yang mengecewakan papah dan mamah ya kan sayang?" Tanya Riza kepada Lesta yang sedari tadi hanya bisa menundukan kepala dan meremas kuat kedua tangannya.


"Lesta Sei Milanda, liat mamah nak. kamu anak mamah, kamu satu-satu nya kebanggaan mamah, Lesta Sei ga mungkin melakukan hal yang Pak Rehan ucapkan bukan? Jawab mamah dengan jujur nak" tanya Adhisti lirih menahan sakit hati akan apa yang ia dengar tadi.


"M-mah, Pp-pah , maaf. L-les-ta ga bisa jaga diri Lesta. Mah pah Lesta udah nge-" jawab Lesta lirih tanpa berani melihat air muka kedua orang tua nya yang kecewa.


"Stop. Sei? Semua nya benar hm? Apa yang pria itu katakan benar? Anak papah yang papah banggain ngecewain papah? Anak papah yang papah besarkan penuh kasih sayang dan cinta menancapkan belati tajam di hati papah?" Ucap Riza memotong ucapan Lesta.


"Pah ga gitu, Lesta ga pernah mau ngecewai papah dan mamah. Semua nya terjadi gitu aja, Lesta bukan anak bodoh yang ga bisa berbuat apa-apa. Lesta udah coba membela diri tapi papah liat , pria yang duduk paling ujung itu badan nya lebih besar dan tinggi dari Lesta. Lesta ga bisa melawan ditambah pengaruh alkohol dari minuman yang dia minum!" ucap Lesta membela diri dan menyudutkan Genta berharap orang tua nya berhenti megucapkan kata kecewa.


"Maafkan saya om, saya akui saya salah saya tidak sadar melakukan itu ke anak om yang sudah baik menolong saya. Saya akan bertanggung jaw-"


"Tidak, kita lihat satu bulan dari sekarang anak saya hamil atau tidak. Kalau positif saya pastikan anda tidak bisa lari kemana pun, tapi sebalik nya jika negative saya akan membawa jauh pergi putri saya dari hadapan kalian. Cukup pergi dari sini sekarang, dan anggap saja tidak pernah terjadi apapun diantara anak anda dan anak saya." Lagi - Riza memotong orang bicara , tapi kali ini ucapan Genta yang ia potong membuat orang yang berada disitu terdiam menatap Riza tak percaya.