
Kandungan Lesta mulai memasuki usia 5 Bulan, ia sudah jarang mengalami morning sickness dan ngidam membuatnya sedikit lega karna tidak sulit untuk memakan apapun yang ia ingin. Hanya saja yang berubah sikap Genta jadi sedikit manja, kemanapun harus bersama Lesta. Bahkan saat kuliah pun harus ditemani, benar-benar tidak mau berpisah dan yang parahnya kejadian bulan lalu dimana Lesta akan sidang skripsi, Genta merengek pada dosen ingin ikut masuk kedalam ruangan. Sungguh memalukan, harga diri seorang Gentara mendadak jatuh. Tapi Genta masa bodoh, yang ia ingin hanya bersama dengan istrinya - Lesta Sei Milanda kapanpun dimanapun.
Semuanya berjalan lancar, kehidupan Lesta dengan keluarga Genta yang selalu baik dan hubungannya dengan Genta pun semakin dekat nan harmonis. Tapi itu tak belangsung lama saat ia mendapat kabar jika Aguriza - Papahnya masuk rumah sakit karna kondisinya drop terlalu sibuk bekerja hingga lupa waktu untuk istirahat.
Dalam hati Lesta sangat ingin melihat kondisi papahnya itu, bagaimana pun Riza adalah papah nya cinta pertamanya laki-laki yang selalu ada untuk menjaganya sejak ia lahir ke dunia.
Menatap sendu bingkai foto keluarga yang berisikan mereka bertiga - Lesta, Aguriza dan Adhisti, meski hanya bertiga tapi terlihat jelas raut bahagia nan kasih sayang dimasing-masing wajah. Sekelibat memori kebersamaan berputar seperti kaset lama. Tak terasa air mata menetes sedikit demi sedikit tanpa bisa dicegah.
"Mau jenguk papah?" Tanya Genta sambil memeluk nya dari samping dan menempatkan dagunya di ceruk leher Lesta.
"Boleh?" Bukan menjawab Lesta malah balik bertanya.
"Boleh lah, siapa yang larang hm?"
"Papah. Aku takut papah larang aku buat jenguk. Udah pasti didepan pintu kamar rawat papah banyak anak buahnya yang menjaga" Ucap Lesta yang membuat Genta terdiam. Benar juga, papah mertuanya itu meskipun sakit tapi tidak akan lengah hingga membiarkan mereka masuk.
Menghelas nafas pelan, Genta mengelus pelan perut Lesta yang membuncit. Meski baru 5 bulan tapi perut istri nya itu cukup besar. Yalah, anak yang ada dalam kandungan Lesta itu kembar putra. Woho bukan? kalian bingung kan kenapa bisa Genta menghasilkan kembat putra? Oh itu hanya rahasia ranjang Genta dan Lesta tidak boleh dibagi-bagi apalagi ke Erhan dan Ralio yang menyandang status 'Jomblo sampai halal' takutnya ngenes nanti pingin gimana?? sekali lagi Genta dan Lesta tidak bertanggung jawab jika hal itu terjadi ya.
"Nanti aku coba fikirin cara biar bisa jenguk papah ya" Ucap Genta lembut sambil membalikan badan Lesta untuk berhadapan dengannya. "Udah ya, jangan nangis lagi. Kasian adek bayi nya nanti ikutan nangis didalem perut. Sekarang tidur ya udah malem" lanjutnya mencium puncak kepala Lesta.
Lesta menurut, menaruh bingkai foto itu diatas nakas dan menempatkan diri ditengah kasur king size milik mereka yang diikuti oleh Genta disamping nya. Memakai selimut hingga dada, mematikan lampu kamar dan mengganti nya dengan lampu tidur. Lesta dan Genta tidur berhadapan saling menatap satu sama lain hingga entah siapa yang memulai bibir mereka sudah saling berpautan menyalurkan hasrat. Lesta melepaskan diri saat mereka mulai kehabisan oksigen , mengelus pelan pipi suaminya itu dan lanjut memejamkan mata hingga mimpi menjemput mereka.
***
Derap langkah kaki Genta begitu terdengar jelas di lorong rumah sakit dan cukup menarik perhatian anak buah Riza yang menjaga tepat didepan pintu kamar rawat. Berdiri tepat dihadap mereka, Genta tersenyum ramah mulai mengangkat tangannya untuk membuka pintu kamar yang na'as langsung disentak oleh mereka membuat Genta refleks memundurkan langkah nya.
"Saya mau ketemu mertua saya" Ucap Genta dingin.
"Anda dilarang masuk menemui tuan Riza" Jawab salah satu dari mereka.
"Saya ada urusan penting" Genta melangkah dan mencoba memaksa masuk yang mulai menarik perdebatan diantara mereka. Tapi semua tak kunjung lama karna kehadirin Adhisti diantara mereka cukup memberhentikan aksi debat yang tidak faedah itu.
"Mau masuk nak Genta?" Tawar Adhisti lembut.
"Boleh Mah Mer? Ada yang harus saya bicarakan dengan Pah Mer" Jawab Genta antusias.
"Mah Mer? Pah Mer?" Ulang Adhisti kurang mengerti dengan perkataan Genta.
"Iya, Mamah Mertua dan Papah Mertua. Biar ga panjang nyebut nya jadi disingkat lebih simpel juga hehe" Jawab Genta sambil menggaruk ujung pelipisnya yang tidak gatal.
"Oh, ada-ada aja nak Genta ini. Boleh, ayok sama Mamah masuk nya. Tapi kamu harus masih sabar ngadepin suami saya itu ya" Adhisti berlalu masuk yang diikuti Genta dibelakang nya sambil menjulurkan lidah pada para penjaga diluar. Childish? Ya memang masih terkadang seperti itu, padahal jika diingatkan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah dari anak kembar loh ingat anak kembar.
Genta berdehem pelan saat sudah masuk dan mendapat tatapan menusuk dari Riza. Berjalan pelan dan berdiri disamping Adhisti, ia masih terdiam memperhatikan kondisi Papah mertuanya itu yang benar sedang drop.
"Pah, jangan natap nak Genta kaya gitu ah" Ucap Adhisti pelan, namun masih terdengar oleh Genta.
"Ngapain kamu kesini? Mau ngemis-ngemis restu sama saya? Atau kamu udah ga sanggup hidup sama anak say--" Serga Riza namun tak selesai karna Genta menarik tangan kanan Riza dan menyalami nya.
"Assalamualikum papah mertua" Ucap Genta sambil tersenyum dan meletakan kembali tangan Riza dengan lembut.
"Hem, Wa'alikum salam. Ngapain kamu kesini heh bocah?" Jawab Riza ketus.
"Bocah-bocah gini calon ayah dari cucu nya papah mertua. Pah mer ga kangen sama anak nya gitu? Padahal anak nya dirumah setiap hari suka mandangin foto orang tua nya loohhh" Ucap Genta dengan senyum tipis.
"Ngapain kangen sama anak dur--"
"Sei sayang nya Aguriza Prahera khawatir banget dengan kondisi anda. Boleh saya bawa dia kesini buat ketemu dengan papah nya? Senakal-nakalnya anak melawan orang tua tapi ia tetap anak bukan? Darah lebih kental dari pada kecap." Ucap Genta mulai serius dengan pembicaraan nya.
"Saya ga sudi buat ke--"
"Apa anda akan terus mempertahankan ego anda itu dari pada perasaan rindu dan sayang anda? Apa tidak ada setitik rasa peduli dengan anak anda? Setiap hari ia selalu menyebut kedua orang tuanya dalam do'a berharap kalian baik-baik saja dan selalu bahagia." Genta menjeda ucapan nya dan menatap dalam Riza. " Saya memang lebih muda dari anak anda, tapi saya bisa membuktikan sejauh ini saya bisa menjadi suami yang baik untuk anak anda. Tidak bisa kah anda menurunkan ego anda sedikit saja? Jangan terlalu terpengaruh dengan omongan orang dari pada orang yang anda sayangi. Penyesalan selalu diakhir kalo diawal nama nya pendaftaran. Jangan membu--" Ucapan Genta terpotong karna pintu kamar rawat yang tiba-tiba terbuka dan menunjukan sosok Aleya dengan sebuah parsel buah di tangan nya.
"Siang om, udah mendingan kondisi nya?" Ucap Aleya lembut pada Riza.
"Udah mendingan ko leya" Adhisti yang menjawab, sedangkan Riza terdiam melirik ke arah jam dinding di tembok depannya yang menurutnya lebih menarik dari apapun saat ini.
"Kalo masuk tuh assalamualaikum ,Islam kok cuma ktp doang." Cibir Genta pelan tapi cukup terdengar ke telinga Aleya dan Riza. Sedangkan Adhisti fokus pada buah yang Aleya bawa jadi tidak terlalu mendengar apa yang sedang dibicarakan.
Riza merespon dengan senyum smirknya menatap Genta yang dibalas oleh Genta dengan kerutan didahi dan Alis sebelah kanan yang menaik. Riza memutar bola mata jengah karna menantunya itu tidak mengerti dengan kode yang ia beri, menantu? Bhaakk ,apakah ia sudah gila mengakui Genta sebagai menantunya setelah mendengar ceramah yang belum selesai dari Genta? Sepertinya ia harus memeriksakan kondisi jiwa dan otaknya yang mulai tidak benar.
"Pah mer, Menantu mu yang tampan nan menawan ini pamit undur diri karna istri dirumah sudah menanti" Ucap Genta setelah membaca sebuah pesan dari Lesta yang menanyai keberadaan nya.
"Rasa nya saya mau muntah dengar kamu bicara seperti itu. Tapi saya akui soal kamu yang ekhem tampan. " Riza menjawab dengan menunjukkan wajahnya yang tetap datar.
"Alhamdulillah kalo Pah mer sadar kalo saya Gentara memang tampan. Cepat sehat pah mer biar ga dirumah sakit lama-lama" Ucap Genta sambil tersenyum pada Riza yang dibalas senyum tipis oleh nya. "Mah mer, Genta pulang dulu ya dicariin Lesta soalnya. Assalamualaikum Pah Mah" Lanjut nya pamit sambil menyalami tangan Riza dan Adhisti. Aleya? Bagai makhluk tak kasat mata bagi nya.
"Bocah tengil" teriak Riza saat Genta hendak membuka pintu kamar yang membuat refleks Genta berhenti dan milirik kepada nya dengan raut wajah bertanya.
"Bawa Sei saya kemari besok. Katakan pada nya saya ingin dibawakan makanan oleh nya. Sekarang kamu pulang dan hati-hati dijalan, jangan ngebut ngebut jangan buat anak saya jadi janda muda" Ucap Riza membuat Genta tersenyum tipis.
"Sudah dibukakan pintu hidayah hm?" Jawab Genta dari depan pintu tanpa berniat berjalan kembali menghampiri Riza.
"Saya jengah dengar ceramah kamu yang udah kaya ustad tengil. Sudah sana pulang, ngapain masih berdiri disitu!" Usir Riza yang membuat Genta langsung berjalan keluar dan kembali pulang kerumah nya dengan kabar baik untuk Lesta.
Adhisti tersenyum dan berterimakasih pada suami nya itu karna sudah meminta Genta untuk membawa Lesta bertemu dengan mereka. Tanpa mereka sadari Aleya yang sedari tadi memperhatikan terdiam dan mengepal tangan nya kuat menahan emosi akan sikap Riza yang mulia berubah pada Lesta dan Genta. Ia akan membiarkan semua nya berjalan , tapi takkan lama. Karna ia akan benar benar merebut Gentara kembali dari seorang Lesta.
***
Besok nya, Genta benar benar mengajak Lesta kerumah sakit untuk bertemu dengan ayah nya - Aguriza. Genta tak memberitahukan istri nya bahwa mereka kerumah sakit akan menjenguk Riza, Genta hanya bilang minta ditemani untuk menjenguk seseorang. Lesta? Hanya nurut dan mengikuti kemauan Genta seperti seorang ibu pada anaknya.
Menyusuri lorong rumah sakit yang belum terlalu ramai karna hari masih pagi, mereka bercengkraman tangan sambil membahas beberapa topik tentang kehamilan Lesta.
Degh. Lesta berhenti tiba-tiba dan menatap satu objek lurus yang membuat Genta ikutan diam memperhatikan objek yang Lesta pandang.
"Itu anak buah nya papah Ge" Ucap Lesta pelan sambil menatap wajah Genta. "Kita mau jenguk siapa? Jenguk papah? Kalo papah marah gimana? Kalo papah ngus--" Lanjut Lesta namun belum selesai sudah terpotong oleh Genta yang langsung memeluk nya.
"Semua nya baik-baik aja, percaya sama aku" Genta melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut. Menautkan jari nya dengan jari Lesta, berjalan menghampiri para penjaga dan izin untuk masuk yang langsung dipersilahkan oleh mereka.
Terdiam, Lesta terdiam melihat papahnya yang sedang berbincang dengan seorang wanita muda yang membelakangi dan mamahnya yang sedang merapihkan obat milik papah nya.
"Paahh" Ucap Lesta lirih, berjalan cepat menghampiri mereka dan langsung memeluk erat Riza yang dibalas pelukan juga oleh nya.
"Lesta Sei nya papah?" Ucap Riza pada Lesta sepelas mereka berpelukan. Lesta hanya mengangguk dan menghampus air mata yang keluar dari mata nya. "Makin gemuk kamu nak, bahagia hm?" Lanjut Riza yang lagi-lagi dijawab anggukan saja oleh Lesta.
"Assalamualaikum pah mer, mah mer" Genta mengucapkan salam sambil mengambil tangan Riza dan Adhisti yang dijawab salam oleh mereka berdua , ia lalu berdiri disamping istri nya itu.
"Jangan nangis, malu sama adek bayi diperut" Ucap Genta pelan pada Lesta tapi masih terdengar oleh yang lain. Lesta menundukan kepalanya malu membuat Genta gemas dan mencium kepala Lesta tanpa peduli orang lain yang melihat.
Mereka berbincang pelan sesekali diiringi tawa renyah tanpa sadar masih ada orang lain diantara mereka yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, terutama Lesta.
Drktg. Suara kursi bergeser dan berdiri orang itu dari duduknya tersenyum pada semua orang.
"Om, tante. Aleya pulang dulu ya masih ada urusan lain." Pamit nya pada Riza dan Adhisti, lalu menatap Lesta yang juga menatap nya. "Apa kabar kak? Gue pulang dulu ya next time kita ketemu dan ngobrol-ngobrol ya udah lama ga meet nih" Lanjut Aleya pada Lesta dengan seyum berbeda yang ia tunjukan khusus untuk Lesta. Berjalan menghampiri Lesta dan memeluknya membuat Genta refleks mundur tiga langkah.
"Lo pikir lo udah bahagia hm? Tunggu bentar lagi, gue bakal kasih lo hadiah terindah." Bisik Aleya sangat pelan yang hanya bisa didengar oleh nya dan Lesta.
Melepaskan pelukan mereka dan hendak mengelus perut buncit Lesta tapi tertahan karna Genta dengan cepat menahan tangan Aleya mengcengkram nya kuat membuat sang empu tangan meringis pelan.
"Jangan.sentuh.milik.gue" Ucap Genta tanpa suara hanya dengan gerakan bibir yang dimengerti oleh Aleya dan dibalas senyum miring oleh nya.
Aleya melepaskan tangannya dari cengkaraman tangan Genta, mundur beberapa langkah dan pamit lagi pada Riza dan Adhisti dengan senyum yang ia tunjukkan terlihat ramah. Mengambil tas yang ia simpan di sofa, berjalan menjauh dari mereka dan pergi untuk menemui salah satu teman nya.