TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 2



#SpinOn


Dia, Aleya Ateja Putri cinta pertamanya Genta saat diSMA. Aleya salah satu murid baru yang masuk saat tahun ajaran baru, masuk kelas XI IPS 3 dan menjadi teman sebangkunya saat itu. Aleya, gadis polos ,pendiam, penurut, perhatian dan hangat membuat perasaan genta tumbuh seiring berjalannya pertemanan mereka.


Sabtu malam pertengahan bulan Januari di pusat kota Bandung ramai dipenuhi oleh muda mudi dari yang berpacaran, sekedar hang out bareng temen, hunting foto, dll. Genta dan aleya saling berpegangan tangan sambil menonton grup pengamen jalanan yang begitu memukau. Dengan segala keberanian dan memantapkan hati Genta menghampiri salah satu personil grup, meminta izin untuk meminjam gitar dan menyanyikan satu lagu spesial untuk aleya.


Adera - Lebih Indah


Petikan gitar dan suara genta mengalun merdu membuat muda mudi terhipnotis kagum dengan berbagai teriakan. Di akhir lagu Genta meletakan gitar,berjalan menghampiri aleya yang berdiri tak jauh darinya.


"Gue bukan cowo romantis, tapi boleh kan gue jadi cowo lo?" Ungkap Genta sambil berlutut menekuk satu kaki nya dan mengeluarkan setangkai mawar merah dari balik jaket.


Hening. Teriakan yang sebelum nya sangat ramai memengikan telinga kini hilang , diganti keheningan menjadi tanda bahwa semua orang yang melihat menunggu jawaban atas ungkapan genta.


"Bangun ge, malu diliatin banyak orang"


"Gue ga apa apa al diliatin banyak orang, yang penting cuma lo yang gue liat"


"Ge...."


"Al gue serius, gue sayang sama lo, gue ga tau itu cinta tapi yang gue tau cuma lo yang ada dipikiran gue, cuma lo yang ada dihati gue, cuma lo yang selalu ada disetiap mimpi nya gue, dan cuma lo yang gue pingin ada dihidup nya gue"


"G-gu-gue ga tau harus jawab apa ge, tapi kita coba jalani dulu aja gimana?" ucap Aleya sambil menerima bunga mawar dan menuntun genta bangun.


"Gue sayang lo al, sayang banget" ucap genta hangat sambil memeluk aleya erat. Mereka saling pandang dan menunjukan senyum terbaik mereka diiringi tepukan tangan heboh dari orang orang.


Hubungan manis nan penuh kenangan indah itu hanya bertahan 3 bulan. Menginjak bulan ke- empat, banyak sekali masalah datang menghampiri Genta dan Aleya


.


Berawal dari gosip disekolah tentang Aleya yang sering terlihat di club malam, Aleya yang memiliki kekasih selain Genta, Aleya yang polos hanya topeng didepan Genta, dan masih banyak gosip yang sampai telinga genta dan itu semua tentang keburukan Aleya yang ga pernah Genta percaya.


Bagaimana bisa genta percaya? Aleya yang genta kenal aleya yang polos, manis, penurut, dan hangat. Bukan aleya yang barbar pelanggan club malam dan memiliki kekasih selain Genta. Aleya selalu jujur dan tidak pernah menutupi apapun kepada Genta, ya itu lah yang Genta tau dan percayai.


Tapi, bukankah sebaik-baik ya bangkai sembunyi akan tercium juga bau nya?? Ya saat montsarry yang ke - 5 Genta berniat mengajak Aleya kencan. Genta memberhentikan motornya didepan rumah minimalis 2 lantai ber cat abu, mengeluarkan benda pipih dari saku nya dan mendial nomor Aleya untuk memberitahu kalo ia telah sampai. Namun sampai panggilan ke - 7 masih belum diangkat juga menimbulkan rasa resah di dada bidang genta.


Melirik jam pada layar HP nya sudah menunjukan pukul 20.23. Genta turun dari atas motor nya, berjalan menghampiri pintu berwarna coklat dengan berkali kali menghela napas menghilangkan rasa resah di hati nya.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok-


"Assalamualaikum bu" Ucap Genta saat wanita paruh baya membuka pintu.


"Waalaikum salam, nyari siapa ya?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Aleya nya ada bu?"


"Non leya? Pergi dari jam 5 sore de" jawab wanita paruh baya yang dilihat mungkin salah satu pembantu dirumah itu.


"Jam 5 sore bu? Pergi kemana ya bu kalo boleh tau?" Tanya genta penasaran. Pasal nya jam 5 sore tadi aleya masih berkirim pesan whatsapp dan bilang jika dia ada dirumah dan tidak akan pergi kemana mana.


"Ade temen sekolah nya non leya ya? Coba telfon aja kalo ada perlu penting, soalnya tadi pergi nya sama den raga"


"Raga?" Ucap genta heran sambil mengerutkan kening nya.


"Iya den Raga, pacar nya non leya yang mahasiswa kedokteran itu den, masa temen nya non leya ga tau"


"P-ppa-car? Mahasiswa kedokteran?" Tanya genta tak bisa menyembungikan ke kagetan nya akan ucapan wanita paruh baya itu.


"Iya den, kata nya sih baru pacaran seminggu yang lalu padahal yang ibu tau non leya baru putus dari den Lerry 2 minggu lalu"


"Lerry? 2 minggu lalu? Bentar bentar bu maksudnya aleya punya pacar nama nya raga dan baru pacaran minggu lalu padahal 2 minggu sebelum nya aleya baru putus dari yang nama nya lerry, gitu?" Tanya genta meyakinkan siapa tau yang dia dengar salah. Tapi jawaban yang dilontarkan oleh wanita paruh baya itu benar benar membuat emosi genta memuncak, dada nya bergemuruh marah nan sesak.


"Iya de, masa temen nya ga tau sih? Coba aja telfon, kaya nya non leya pergi jalan jalan ke mall atau ke club A ngeliat dari pakaian yang tadi dipakai nya"


"Makasih info nya ya bu, saya pamit dulu. Wassalammualaikum" ucap genta seraya berjalan kearah motor nya.


"Wa'alaikum salam de, hati hati dijalannya ya semoga ketemu dengan non leya"


Genta hanya membalas dengan senyuman yang ia paksa untuk menghargai ucapan wanita paruh baya itu. Memakai helm, dan melajukan motor nya diatas rata rata agar cepat sampai tempat yang ia tuju. Club A jadi tujuan genta untuk memastikan ucapan pembatu nya aleya tadi.


15 menit sampai, memarkirkan motor nya dan berjalan cepat memasuki pintu Club A yang sudah mulai di penuhi oleh muda mudi penikmat dunia malam.


Berjalan perlahan memerhatikan setiap sudut tempat dan orang memastikan jika orang yang ia cari tidak ada ditempat kotor itu.


Namun dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Dilantai 2 , meja paling ujung sisi kiri club ia melihat gadis yang ia cari. Mata nya membulat tak percaya akan apa yang ia lihat.


Aleya nya sedang berciuman dengan laki laki lain, tanpa menghiraukan sekitar. Mereka duduk bersampingan tapi, seling beberapa menit aleya sudah duduk dipangkuan laki laki itu dengan tangan menggelayut manja tanpa memutuskan ciuman panas mereka.


Genta mengepal tangan nya kuat, menahan rasa sakit di dada nya yang benar benar sakit seperti ribuan belati menancap tajam. Genta ga percaya apa yang ia lihat benat benar aleya gadis yang ia cintai sangat. Dengan sekuat tenaga genta bejalan perlahan menghampiri 2 orang itu dengan tatapan tajam penuh amarah kekecewaan.


"AL.LE.YA." ucap genta penuh penekanan.


Tubuh aleya menegang, menghentikan ciuman panas nya perlahan turun dan membalik bada nya pelan pelan memastikan bahwa suara yang ia dengar bukan suara kekasih nya disekolah.


"G-ge-gen-nta" ucap aleya terbata dengan air muka memucat kaget.


Shit. kenapa dia bisa tau gue disini sih?. Umpat aleya dalam hati.


Genta tersenyum menghampiri aleya hingga menyisakan jarak 1 langkah diantara nya.


"Gue ga nyangka kalo lo bisa semurah ini? Kita.Putus dan. Gue harap. Lo.Pergi.dari.kehidupan.gue" bisik genta tepat ditelinga aleya sambil menyeringai.


Tersenyum remeh dan membalikan badan berjalan menjauh mencari jalan keluar dari tempat tersebut sambil menahan amarah yang sudah benar benar memuncak.


Bagaimana bisa, aleya nya yang polos berciuman panas dengan laki laki didepan mata nya? Bagaimana bisa aleya nya yang pendiam berada di salah satu Club menggunakan pakaian kurang bahan? Bagaimana bisa aleya nya yang ia cinta ia harapkan masa depan bersama nya mengkhianati nya, membohongi nya, memberi nya luka. Kenapa bisa aleya menjatuhkan nya ke dasar jurang setelah membawa genta bahagia diatas awan??!


Percaya? Haruskah genta menaruh percaya lagi setelah apa yang terjadi? .


Setelah hari itu genta tidak masuk sekolah, dengan berbagai alasan yang ia beri ke kedua orang tua nya. Ia menghindari teman-temannya yang datang menjenguk kerumah. Termasuk Erhan, Ralio dan dia seorang sahabat yang sangat dekat dengan Genta pun dia tolak kedatangannya kerumah.


Tepat 1 minggu Genta kembali sekolah setelah menata hati yang retak dan mencoba kuat. Namun kenyataan yang ia dapat, tepat satu hari kejadian di club malam ,Aleya pindah sekolah dan kabar nya ia pindah ke inggris tanpa meninggalkan pesan apapun kepada semua teman disekolah. Mendadak sekali bukan? Membuat semua orang bertanya tanya mengapa.


Yang Genta yakini , malam itu malam terkahir ia melihat nya. Malam dimana semua nya terungkap menjadi malam dimana genta perlahan berubah jadi dingin dan acuh akan sekitar termasuk keluarga, membuat Genta sulit disentuh kecuali dengan kedua sahabat nya yang mempunya 1001 cara untuk menghangatkan sifat Genta bila sedang bersama hingga saat ini mereka bersama dibangku kuliahan.


#SpinOff


***


Arrgghhhh.


Tak henti Genta menggeram sambil sesekali mengacak rambut nya saat ia tiba ditempat yang tak pernah ingin ia datangi. Club malam, entah bagaimana awal nya Genta bisa sampai di tempat itu. Yang pasti tadi ia hanya menjalankan motornya tanpa tentu arah yang akhirnya berakhir disini.


Duduk di salah satu kursi pojokan Bar, mengabaikan para wanita yang sesekali menggoda nya. Genta terus meminum minuman berakohol tinggi tanpa peduli resiko nya nanti, yang Genta ingin hanya melenyapkan bayang-bayang kenangan bersama dia yang kembali setelah hampir 2 tahun pergi.


Entah sudah gelas ke berapa yang ia habis kan, tanpa peduli apa yang akan ia perbuat kala mabuk datang. Perlahan dia bangun dari duduk nya mengeluarkan berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu dan menaruh nya di meja bar. Berjalan sempoyangan keluar dari tempat itu tanpa bantuan siapa pun,karna Genta selalu menolak orang-orang disekitar yang ingin membantu nya.


Oh, percaya lah Genta ga akan menolak kalo yang menawarkan bantuan adalah laki-laki bukan para wanita berpakaian kurang bahan. Genta anti dengan wanita seperti itu.


Sampai di parkiran club, Genta mulai kehilangan akal sehat. Bukan nya mencari motor dan lekas pulang, ia malah berjalan menyusuri trotoar sampai sesekali mengumpat. Berjalan tak tentu arah cukup jauh, Genta merasakan pusing dan mual mulai menyerang. Mengeluarkan isi perut nya diselokan pinggir jalan tak peduli orang melihat, karna ia fikir orang gila mana yang berkeliaran pukul 01.00 dini hari. Selain dirinya yang pasti.


Ueekk ueekk


Ueekk


Shit. Perut sialan mual ga tau tempat. Umpat genta dalam hati.


"Mas? Mas ga apa apa?" Tanya seseorang sambil menepuk pelan pundak genta.


"He'em, gue ga apa apa?" Jawab genta sambil memutar tubuh nya kebelakang untuk melihat siapa yang bertanya.


Cantik, manis, enak dipandang. Batin Genta.


"Ini mas, minum dulu siapa tau enakan"  ucap nya sambil menyodorkan sebotol air mineral.


"Thanks"


Genta menerima air itu, namun tak lama mual pusing yang sedari tadi di tahan kian menjadi. Hingga.


Bruukk


"Mas? Mas bangun mas? Ko malah pingsan sih?"


Gadis itu mengeluarkan hp dari dalam saku celana nya. Mendial nomor seseorang.


Pak amin, supir keluarga nya. Lesta terus menguhubungi sampai panggilan ke-10 belum ada tanda-tanda orang disebrang sana mengangkat.


Bingung , Lesta mencoba memesan taxi online walau kemungkinan dapat minim sekali di waktu sepagi ini.


Gotcha. Dewi fortuna sedang berbaik hati pada nya, menunggu 10 menit ia mendapatkan taxi. Selang 15 menit taxi yang ia pesan datang, Supir taxi turun dan membantu Lesta untuk memapah Genta masuk ke kursi belakang yang diikuti Lesta duduk disamping nya.


Bermodalkan alamat pada KTP yang lesta ambil dari dalam dompet genta, mereka mulai melaju menembus angin dingin kota bandung. Percayalah Lesta hanya mengambil KTP untuk mengetahui alamat tujuannya saat ini bukan untuk melakukan sesuatu tindak kriminal. Jika bukan dari tanda pengenal yang ada didompet lalu darimana ia akan tau alamat rumah pria mabuk yang saat ini duduk disampingnya ini??


***


20 menit. Taxi yang ditumpangi Lesta dan Genta berhenti didepan rumah mewah 2 lantai ber cat putih.


Lesta turun setelah membayar argo taxi, memapah Genta yang setengah sadar karna pengaruh alkohol. Berjalan ke depan pintu kayu jati yang menjulang tinggi.


Telolet telolet. Telolet telolet.


'bunyi bel yang aneh' gumam Lesta dalam hati, sambil terus menekan bel.


"Malam bu." Ucap Lesta saat pintu dibuka dan menampakan wanita paruh baya memakai daster lesuh dengan wajah baru bangun tidur.


"Malam neng, eh den Genta kunaon eta teh neng?"


(kenapa itu)


"Ini bantu dulu bu saya nya keberatan" ujar Lesta sudah tidak tahan menopang Genta yang memang lebih tinggi dan besar dari nya.


" Pak Mur, Pak Muuurr, kadieu sakedap iyeu si neng bantosan papah si aden ka kamar" teriak ibu itu memanggil lelaki paruh baya dari dalam rumah.


(kesini sebentar ini bantu mapah tuan muda ke kamar)


"Aya nao- , uluh si aden kunaon eta?" Pak mur melihat genta yang setengah sadar.


(kenapa itu tuan muda)


"Cepet angkat eta den Genta, kasian si neng berateun"


(kasian neng keberatan)


"Eh, nya sini sama bapa di bantuin neng"


"Makasih pa" ucap Lesta sambil berjalan memapah Genta ke kamar nya yang dibantu oleh Pak Mur dan diikuti Bi Ai dibelakang mereka.