TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 33



Seorang pria berdiri menggunakan beskap berwarna putih gading yang telihat menyatu dengan warna kulit putihnya itu. Sejak tadi ia tak henti mondar-mandir sambil memegang erat kopeah dengan warna senada dengan beskapnya itu. Kedua pria lainnya acuh tak peduli apa yang akan dilakukan oleh temannya itu.


Brakk.


“Astagfirullah.” “Eh kampret.” Ujar Genta serta Erhan bersamaan saat melihat Ralio tersungkur oleh meja.


“Lo ngapain? Ngepel? Jangan macem-macem deh, bentar lagi lo akad nih.” Ujar Erhan pada Ralio dengan cuek.


“Lo ga ngerasain apa yang gue rasain sih!” Balas Ralio ketus, sambil berdiri.


“Emang rasanya gimana?” Tanya Erhan polos. Ralio dan Genta saling pandang.


“Nano-nano milk shike enak rasanya!” Jawab kedua sahabatnya itu dengan nada sedikit bernyanyi seperti iklan tv, meski absurd.


“Kampret!” Erhan berdiri dan berjalan keluar namun saat ia membuka pintu bertepatan dengan seseorang yang akan membuka pintu dari luar. Mereka saling pandang untuk beberapa menit sebelum Erhan mundur dua langkah dan menyamping mempersilahkan orang itu masuk.


“Ral udah siap belom? Yang lain udah pada kumpul tuh, udah siap buat pergi kerumah Tara.” Ujarnya pada Ralio.


“Gue nikah sekarang ya Al? Ga bisa ampe tahun depan gitu?” Celetuk Ralio dengan polos membuat semua orang yang ada diruangan itu melongo.


“Bisa. Tapi jangan salahin kalo Tara dinikahin sama itu tua bangka.” Jawab Aleya pada Ralio.


“Kampret!” Ralio berjalan keluar dengan kesal. “Gue do’ain lo jodoh sama si Erhan!!” Teriak Ralio didepan pintu sebelum berlari keluar meninggalkan ketiganya didalam.


Aleya menatap Genta yang sedang menggendong si kembar. Ia berjalan menghampiri dan mengambilnya dalam gendongan. Keluar dari kamar tanpa melirik Erhan yang masih berdiri diposisinya, membuat Genta sedikit terkekeh dan menyikut pelan Erhan.


“Ga dilirik ama doi itu sakit.” Ejek Genta sebelum berlari keluar kamar.


“Kampret emang semuanya!” Dengan kesal Erhan keluar dari kamar Ralio, tidak lupa menutup nya kembali.


Erha berjalan menghampiri yang lain, terlihat jelas rombongan dari pihak Ralio yang sangat banyak sudah siap disamping mobilnya masing-masing untuk mengantarkan Ralio. Erhan berjalan memasuki mobilnya yang diparkir tepat dibelakang mobil Genta. Saat sedang memasang seat belt, Genta mengetuk kaca mobil Erhan membuat sang empu menurunkannya untuk melihat jelas temannya itu.


“Lo sendiri kan?” Tanya Genta pada Erhan yang dibalas anggukan kepala. “Lo sama Aleya ga apa-apa? Bukan iseng atau mau goda lo, tapi anak gue rewel pas dia masuk ke mobil.” Lanjut Genta membuat Erhan terdiam.


“Mana si Leya nya?” Tanya Erhan datar.


“Nih.” Genta menggeser tubuhnya dan menampilkan tubuh Aleya.


“Masuk.” Perinta Erhan yang langsung dituruti oleh wanita itu.


Suasana cukup canggung saat Aleya sudah terduduk dikursi penumpang samping Erhan. Namun tak bertahan lama saat Erhan mulai menjalankan mobilnya mengikuti rombongan yang lainnya. Saat diperempatan Erhan menyalakan radio untuk memecah keheningan dalam mobil. Meski diluar sangat ramai, namun percayalah tidak dengan didalam mobil Erhan yang terlihat seperti tidak berpenumpang itu.


Yang aku sayang kini telah diambil orang


Yang aku cinta kini engkau telah tiada


Mungkinkah ini semua sudah takdir yang maha kuasa


Sakit bukan karena cintaku padamu


Tapi sakit ku dibenci orang tuamu


Haruskah ku pergi meninggalkanmu


Wooo menangis lagi


(D'paspor - cinta tak direstui)


“Ck! Alay.” Gumam Aleya mulai mengganti saluran radio.


Apa salahku apa salah ibuku


Hidupku di rundung pilu


Tak ada yang mau dan menginginkan aku


Tuk jadi pengobat pilu


Tuk jadi penawar rindu


Tuk jadi kekasih hatiku


Timur ke barat selatan ke utara


Tak juga aku berjumpa


Dari musim duren hingga musim rambutan


Tak kunjung aku dapatkan


Tak jua aku temukan


Oh Tuhan inikah cobaan


Ibu-ibu bapak-bapakSiapa yang punya anak


Bilang aku aku yang tengah malu


Sama teman-temanku


Karna cuma diriku yang tak laku-laku


(Wali - Cari jodoh)


“Ck! Alay.” Erhan mengganti saluran radio saat mendengar lagu yang diputarkan oleh Aleya seperti menyindirnya.


Sekian lama kita bersama


Ternyata kau juga sama saja


Kau kira kupercaya semua


Segala tipu daya


Oh percuma


Kau buat sempurna


Awalnya, berakhir bencana


Selamat tinggal, sayang


Bila umurku panjang


Kelak 'ku 'kan datang 'tuk buktikan


Satu balas 'kan kau jelang


Jangan menangis, sayang


Kuingin kau rasakan


Pahitnya terbuang sia-sia


Memang kau pantas dapatkan


(Coklat - karma)


“Ck! Jadul.” Ujar Aleya mulai mengganti kembali saluran radio, karna kini dirinya yang merasa tersindir.


Sudah lama ku menanti dirimu


Tak tahu sampai kapankah


Sudah lama kita bersama-sama


Tapi segini sajakah


Entah sampai kapan aaaa


Entah sampai kapan


Aku tak mau menunggu terlalu lama, terlalu lama


Sadarkah kau, ku adalah wanita


Aku tak mungkin memulai


Sadarkah kau, kau menggantung diriku


Aku tak mau menunggu


Entah sampai kapan aaaa


Entah sampai kapan


Aku tak mau menunggu terlalu lama,…


(Vierra - Terlalu lama)


Lanunan lagu dari salah satu grup band asal indonesia yang jelas mereka tau jika lagu yang diputar sama seperti lagu-lagu sebelumnya. Lagu lama, jadul nan lawas. Namun kali ini tidak ada salah satu dari mereka yang berani untuk memutar radio kembali mengganti salura. Entah mengapa lagu itu seperti ada sesuatu yang membuat Erhan maupun Aleya diam. Hingga langgu terus berputar. Tak sadar akhirnya mereka sudah sampai ditujuan. Tepat saat Erhan memarkirkan mobilnya dibelakang mobil Genta, Aleya sudah lebih dahulu bahkan sebelum Erhan mematikan mesin mobilnya.


“Apa lo kecewa sama gue Leya?” Gumamnya bertanya pada diri sendiri dengan nada lirih. Erhan menarik nafas nya sebelum berjalan keluar mengahmpiri Genta, Lesta serta Aleya. Sedangkan bisa ia liat Ralio dengan wajah yang sedikit pucat karna gugup.


Mereka berjalan dengan membawa seserahan satu persatu. Akad nikah ini hanya dihadiri oleh keluarga besar Ralio serta Tara, ditambah beberapa kebarat dekat. Rombongan berjalan masuk kedalam pekarangan rumah yang ternyata sudah ada beberapa orang yang menyambut. Bisa Ralio liat papahnya Tara sedang berdiri dengan seorang wanita paruh baya yang ia tau adalah mamanya Tara. Untuk kali ini dan resepsi nanti mereka bersama kembali, demi pernikahan anak satu-satunya mereka.


Kini Ralio sudah duduk didepan penghulu serta papahnya Aleya sebagai wali. Jangan lupakan para saksi juga yang sudah siap dengan hp masing-masing untuk mengabadikan pernikahan seorang Ralio Putra Yasa. Ralio mulai menjabat tangan papahnya Tara dengan sedikit gemetar.


“Katanya mau yang mantap, tapi baru jabat tangan udah gemeter dahsyat.” Celetuk Genta membuat Ralio membalik badan dan menatap temannya itu tajam.


“Berisik lo, ini gue mau ijab kabul!” Balas Ralio dengan kesal.


“Biasa aja dong Ralio. Mana Ralio yang kemarin nyombong mau nikah ga akan jomblo seumur hidup lagi hm..... baru jabat tangan udah gemeter salatri.” Kini Erhan yang berujar.


“Gue sumpahin lo ditinggal Aleya pas baru sadar kalo cinta!” Balas Ralio dengan tajam, kembali duduk dan menjabat tangan papahnya Tara.


“Siap?” Tanya penghulu pada Ralio yang dibalas anggukkan kepala.


“Jangan loyo gitu dong, gimana mau malam pertama baru jabat tangan aja udah lemes.” Erhan kembali berulah.


“Kalo gue bisa nyebutin ijab kabul dalam waktu kurang 10 detik, mobil baru lo yang ada digarasi jadi milik gue deal?” Ujar Ralio pada Erhan dengan tajam.


“Tapi kalo lo gagal ngucapi ijab kabul kurang dari 10 detik, jet pribadi yang baru bokap lo kasih sebagai kado pernikahan buat gue, gimana?” Balas Erhan dengan senyum mengejek.


“Kampret!” Ralio kembali menatap pria paruh baya yang duduk didepannye menghiraukan kekehan dari semua orang yang mendengar pembicaraan absur dari ketiga pria yang bersahabat itu. “Ayok pah udah siap nih!” Lanjutnya dengan semangat.


“Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan engkau ananda Ralio Putra Yasa bin Atamaja Yasa dengan putri saya Tara Puriani binti Surya Andara dengan maskawin uang tunai sebesar sepuluh juta, emas murni 30 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Ujar papah Surya - papah Tara mengucapkan lafaz ijab.


“Saya terima nikah dan kawinnya Tara Puriani binti Surya Andra dengan maskawin uang tunai sebesar sepuluh juta, emas murni 30 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Balas Ralio sekali tarik mengucapkan lafaz kabul.


“Sah? Sah? Gimana para saksi sah?” Tanya pak penghulu kepada para saksi membuat Ralio sedikit menegang.


“SAAAAHHHH!!” Teriak semua orang bersamaan, membuat Ralio seketika menunduk lemas.


“Alhamdulillah!” Ucapan semua orang - lagi bersamaan.


“Silahkan duduk mempelai wanita, dan cium tangan pria yang kini sudah menjadi suami anda.” Ujar pak penghulu menyadarkan Ralio jika ternyata Tara sudah berdiri dibelakangnya.


Ia memperhatikan Tara yang sangat cantik dengan kebaya putih gading senada dengan beskap yang digunakan oleh Ralio. Wanita duduk dikursi samping Ralio, mengambil tangan Ralio untuk ia cium dan dengan refleks Ralio mencium kening Tara dengan lembut membuat Tara yang sejak tadi mendengar suara ijab yang dilakukan oleh papahnya serta kabul yang diucapkan oleh Ralio menahan tangis pun akhirnya luruh itu air mata pada wajah tirus Tara.


“Ssstttt..... jangan nangis. Belum gue apa-apain masa udah nangis duluan, gimana nanti malam pertama?” Ujar Ralio lembut tepat didepan wajah Tara dengan ibu jari yang menghapus pelan air mata dipipi.


“Makasih Rali.” Gumam Tara pelan yang dibalas angguka kepala oleh Ralio.


Selanjutnya kedua pengantin baru itu saling bertukar cin-cin dan mulai menandatangani buku nikah serta mendengar beberapa petuah dari penghulu. Sedang dikursi para tamu, Genta menatap sendu Tara. Jujur, masih ada sedikit rasa obsesi dari dalam dirinya untuk melindungi dan terus bersama dengan sahabat sejak kecilnya itu. Namun ia segera menghalau semuanya dengan menatap Lesta yang duduk disampingnya tersenyum menatap pengantin baru.


“Kamu kaya yang bahagia banget hm?” Tanya Genta pada Lesta membuat istrinya itu langsung menatapnya dengan senyuman.


“Aku bahagia liat orang bahagia Ge.” Jawab Lesta dengan seyuman manisnya membuat Genta tak tahan langsung mengecup singkat bibir ranum istrinya itu.


“Perasaan tadi blush on nya ga merah banget kaya sekarang deh.” Ujar Genta dengan nada menggoda sambil menyentuh pipi istrinya itu.


“Iiiisshh Genta!” Lesta menyubit pelan tangan Genta yang membuat suaminya itu tak tahan untuk tak tertawa.


“Harusnya aku yang disana, dampingi mu dan bukan dia.... harusnya aku yang kau cinta bukan dia.” Celetuk Erhan bernyanyi disamping Genta tapi dengan mata menatap Ralio serta Tara.


“Harusnya kau tau bahwa, cintaku lebih darinya...... harusnya yang kau pilih bukan dia.” Lanjut Aleya bernyanyi yang duduk disamping Lesta.


Ya posisi mereka duduk saat ini, Erhan diujung, pinggirnya ada Genta dikursi kedua menggendong Alca, Lesta dikuris ketiga samping Genta menggendong Albar sedangkan Aleya berada dikursi keempat samping Lesta. Genta yang merasa tersindir pun memutar otak untuk membalas perlakuan kedua jomblo fisabillah itu.


“Sayaaanggg.... tau ga ada cerita nyata yang ngeri banget loh?” Ujar Genta pada Lesta.


“Apaan? Jangan ngaco ya awas.” Jawab Lesta sambil menatap Genta tajam.


“Ada cewek sama cowok yang hobby nya suka gangguin hubungan orang tiba-tiba mereka deket dan sebenernya udah saling jatuh cinta, tapi mereka naif gitu. Tahap deket mereka itu udah nyampe cipuk-cipuk bahkan hampir ngelakuin hal yang mantep untungnya tuan malaikat keburu datang menyadarkan mereka. Suatu hari, karna si cowoknya lambat ngebuat si ceweknya pergi keluar negeri meninggalkan si cowok tepat dihari si cowok mau menyatakan cinta. Dan yang bikin hurtnya itu, pas si cewek balik lagi. Eh udah bawa gandengan. Ngeri kan , terlalu munafik jadi gitu.” Jelas Genta membuat Aleya serta Erhan diam.


Yah, mereka meresa tersindir oleh ucapan Genta. Apalagi Aleya yang memang akan kembali ke Inggris. Erhan bangkit terlebih dahulu dan berjalan pada stand makanan, yah ia lapar ditambah dengar sedikit sepetan dari  Genta membuatnya semakin lapar. Genta yang melihat pun ikuta berdiri menyusul Erhan dengan Lesta dan diikuti oleh Aleya juga dibelakangnya. Sebenarya Genta cukup kerepotan makan sambil menggendong anaknya, tapi mau bagaimana lagi kedua orang tuanya sedang ada urusan penting dikalimantan jadi Genta serta Lesta tidak bisa menitipkan si kembar.


“Manten baru, jadinya nanti malem mau pakai gaya apaan?” Tanya Erhan dengan senyum jahil.


“Gaya apapun ga masalah Ral, yang masalah itu kalo udah masuk gawang ditelfon bokap.”Ujar Genta lagi menyepet Erhan.


“Kampret!” Aleya memukul kepala belakang Genta.


“Bhaaakkk, kenapa lo Leya? Masih kesel ya lagi enak diganggu telfon dari calon mertua? Hahaha.” Ujar Ralio pada Aleya.


“Sabar Al.” Ujar Tara sambil tersenyum.


“Iya Tara, lo juga harus buat Ralio sabar dong.” Balas Aleya dengan senyum mengejek pada Ralio.


“Kenapa harus sabar? Gue mah udah halal ga akan ada yang ganggu pas mantep-mantep.” Ujarr Ralio songong.


“Perasaan tadi Aleya bilang ke aku kalo Tara baru haid tadi pagi deh.” Kini ujar Lesta membuat Ralio terdiam, sedangkan Erhan dan Genta sudah terbahak melihat raut Ralio. Tara dan Aleya? Hanya tersenyum miring saja menatap Ralio. Toh memang benar Tara baru datang bulan tadi pagi.


“Lo bohong kan Tar?” Tanya Ralio pelan,


“Bener ko.” Jawab Tara singkat.


“Tapi kenapa lo bisa akad nikah kalo lagi haid?” Tanya Ralio lagi mendapat tonyoroan dari Genta.


“Ga ada syariatnya jika wanita yang akan menikah harus dalam keadaan suci dari haid, meski kalin bersih dari hadas tapi tidak apa-apa jika pegantin wanita sedang haid. Yang tidak boleh itu melakukan malam pertama dengan kondisi si penganti wanita sedang haid, jadi mohon bersabar dan alangkah baiknya untuk pengantin pria menunggu hingga si penganti wanita kembali suci.” Jelas Genta pada mereka.


“Kaya nya semenjak nikah, lo jadi ustadz ya? Belajar agama dari mana?” Tanya Erhan.


“Itu pengetahuan umum ****.” Jawab Genta.


“Jadi gue kudu sabar nunggu gitu?” Tanya Ralio dengan raut masam.


“Ya iya lah , kudu sabar.” Jawab Genta sedikit ketus.


“Lo juga sering nunggu ka Lesta beres dong? Berarti dalam 1 bulan lo ada libur beberapa hari mantep-mantep nya?” Tanya Tara pada Genta.


“Iya lah itu mah, nyiksa beuts Gengs.” Ujar Genta seolah lupa jika Lesta berdiri disampingnya. “Tapi ya gue coba ngerti aja, namanya juga udah hukum wanita dan hukum pria ga bisa dilanggar. Gila juga kan kalo gue maksain padahal istri lagi datang bulan yang kadang rasanya sakit itu. Mana selama balik dari inggris gue belum dapat jatah, diboikot sama nyokap bokap.” Lanjutnya.


“Ga bisa bikin adik buat Albaransyah sama Alcalandra dong?” Kini Aleya yang bertanya.


“Kaga, ditambah kemarin bini gue kan ngelahirin prematur mana dioperasi juga jadi kudu berjaraknya lumayan jauh.” Jawab Genta sedikit lesu.


“Yang sabar ya, entar gue sama Tara bikin adik buat si kembar Al deh.” Ujara Ralio.


“JANGAN!” Ujar Genta berteriak membuat orang sekitar melihatnya.”Eehh, maaf maaf pak bu maaf hehe.” Genta meminta maaf pada orang-orang.