TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 29



“Hahahaha canda lo kelewatan bikin gue berharap dasar bambang!” Erhan terbahak dan memukul lengan Genta, namun Genta tetap diam menatap serius Erhan membuat temannya itu terdiam .”Ss-se-serius ge?” tanya nya dengan nada lirih.


“Gue serius tapi lo malah becandain. Ga jadi ah bantunya.” Genta pun memandang kembali laptopnya kesal.


“Gue masih pingin ngejar cita-cita gue, apa lo bener mau bantu gue? Gue bakal daftar kuliah kedokteran semester depan kalo lo yakin ge.” Ujar Erhan penuh harap.


“Gue fikirin lagi deh.” Genta menjawab dengan nada datarnya membuat Erhan menghembuskan nafasnya pelan.


“Gue balik dulu ge. Kalo lo serius dengan tawaran lo tadi, gue bakal lakuin apapun buat lo ge. Gue serius dan gue percaya lo bisa gue percaya.” Erhan bangkit dan berjalan keluar dari kamar sahabatnya itu.


Genta menyimpan laptopnya dan membaringkan badannya menatap langit-langit kamar. Ia tau jelas jika hingga saat ini Erhan diam-diam masih mempelajari tentang ilmu bedah. Mengurus hotel Rehan saja Genta malas apalagi mengurus perusahaan Radea Group yang berkali-kali lipat lebih besar. Ibarat perusahaan Rehan itu hanya nasi secukil sedangkan Radea Group itu nasi se-langseng. Tapi ia pun kasihan melihat sahabatnya itu, menjadi anak tunggal memang tidak enak. Genta beruntung memilik mas Arfand serta Rafardhan sebagai saudaranya ya walaupun sering ada percecokkan tapi kan itu fungsinya saudara. Saling membantu.


Genta berdiri dari posisinya saat ini, berjalan tergesa menuju lantai bawah tepat saat tangga terakhir ia melihat Lesta keluar dari kamar yang sepertinya akan mengambil air minum melihat gelas kosong yang dipegangnya saat ini. Genta menghampirinya dan mencium puncak kepala Lesta.


“Ada yang mau aku omongin. Bisa ngobrol sebentar?” Tanya Genta dengan raut wajah serius.


“Bisa. Aku ambil minum dulu bentar, tunggu didalem aja cuma ada si kembar doang.” Genta mengangguk kepala setuju dan memasuki kamar sedangkan Lesta berlalu ke dapur untuk mengambil air minum.


“Ada apa ge?” tanya Lesta setelah kembali dan duduk disebelah suaminya itu.


“Aku bingung.” jawabnya pelan.


“Bingung? Kenapa?”


“Tau kan kalo aku tuh males banget buat ngurus hotel, tapi ini ada yang lebih malesin tapi ga boleh dimalesin yang ini mah.” Genta memandang wajah Lesta. “Soal Erhan. Dia sebenernya ga minat sama manajemen karna cita-citanya bukan nerusin seluruh perusahaan papahnya, tapi jadi salah satu dokter bedah dirumah sakit ternama dikota ini.”


“Terus?”


“Ga cuma sekali sih si Erhan nawarin beberapa cabang perusahaannya buat aku kelola tapi selalu aku tolak karna aku sendiri kan harus ngurus hotelnya papah. Tapi sumpah ya ini hati ga tau kenapa rasanya pingin bantuin Erhan buat gapai cita-citanya.”


“Dan kamu bakal terima tawaran Erhan?” Tanya Lesta lagi.


“Ga tau makanya mau minta saran ini gimana. Tadi pas si Erhan datang ga tau kenapa ini bibir tiba-tiba nanya soal kalo misal aku bantu kelola perusahaan dia bakal lanjut kuliah kedokteran atau engga eh tapi malah dianggap bercanda.” Genta membaringkan badannya disamping Albar yang baru terbangun dari tidurnya.


“Gimana kalo difikirin dulu baik-baik, bukan perkara kecil soalnya.” Balas Lesta.


“Oke deh,aku coba fikiran lagi. Kayanya kudu ngobrol sama Ralio.” Genta mengambil Albar kedalam gendongannya. “Aku bawa ke atas ya.” Ucpanya sambil berlalu keluar berjalan menuju lantai 2, kamarnya.


Genta menghampiri Ralio yang sedang terduduk dikoridor yang masih lumayan sepi karna hari masih pagi. Ia menarik tangan Ralio sekali hentak membuatnya hampir terjatuh namun tak membuat Genta berhenti menarik sahabatnya itu ke salah satu kursi ditaman kampus. Ralio dengan segala umpatannya namun tetap mengikuti langkah Genta.


“Ada apa sih bang ge?!” Tanya nya keras.


“Berisik, sini gue mau ngobrol.” Ujar Genta datar.


“Ada apaan?”


“Lo masih inget kan apa cita-citanya si Erhan?” tanya Genta yang kini sudah duduk menyender pada kursi taman dengan tangan dilipat didepan dada.


“Dokter bedah.” jawab Ralio sedikit lirih.


“Ternyata lo masih inget.” Genta tersenyum miris. “Menurut lo kalo gue bantu si Erhan, gue sanggup ga?” kini Genta memiringkan kepalanya menatap Erhan yang terduduk disampingnya.


“Lo? Yakin? Ngurus hotel om Rehan aja banyak malesnya.” Balas Ralio.


“Gue yakin, kalo hotel masih ada mas Arfand sama si Rafa.” Genta kembali menatap kosong kedepan. “Gue udah bicarain sama bini gue juga, katanya sih ga ada salahnya kalo nyoba dan ada Lesta juga yang bakal bantu gue kalo gue kewalahan.”


“Iya ya bini lo kan sarjana juga, mana lebih pinter dari lo lagi.” Jawab Ralio dengan kekehan kecil sedikit mengejek Genta.


“Kampleeetttt.” Genta memukul kepala belakang Ralio pelan. “Erhan juga udah cukup banyak bantu gue, ga ada salahnya kan ya kalo bantu?”


“Ya kalo lo yakin ya sok aja sih, kalo gue mah udah jelas ga bisa. Kalo lo lupa bisnis bokap gue juga gede ya walau masih dibawah Radea Group tapi kan tetep lebih gede dari pada perusahaan bokap lo.” Ujar Ralio dengan nada sedikit menyombong.


“Percuma lebih kaya tapi masih aja kaya kaum dhuafa ngeeekkk.” Ejek Genta tak kalah dari Ralio.


“Ck.” Ralio berdecak. “Gue itu hemat bukan kaum dhuafa bangkeeeeee.”


“Sama aja!” Balas Genta.


“Jadi lo mau gimana ?!” Tanya Ralio.


“Kalo bukan temen udah gue gantung lo dipohon singkong!” Ujarnya dan berlari mengejar Genta.


Ralio kini berjalan berdampingan bersama Genta saling berbincang pelan membahas hal tentang Erhan. Mereka sepakat membagi tugas, Ralio mengurus berkas Erhan untuk mendaftarkannya ke fakultas kedokteran sedangkan Genta mengurus om Rajata - papahnya Erhan. Genta perlu berbincang banyak hal dengan Rajata serta Rehan, bagaimana pun ia membutuhkan restu dan saran dari kedua orang tua itu.


Genta menjalankan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi dengan sesekali melirik arloji yang terpasang cantik ditangan putihnya. Dengan lihai ia melewati kendaraan yang berada didepannya hingga tak lama ia sampai diparkiran sebuah restoran cukup mewah, ia memarkirkan mobilnya dan berjalan tergesa memasuki restoran itu.


“Atas nama Rajata Radea.” Ucap Genta saat sampai dimeja resepesionis tanpa menunggu pegawai bertanya lebih dulu.


“Mari saya antar.” Ujar salah satu pegawai wanita dan mengantar Genta menuju meja yang ternyata sudah ada Rajata serta Rehan yang sedang berbincang.


Genta tersenyum menatap kedua pria paruh baya itu, dengan sopan ia menyalimi tangan keduanya sebelum duduk dikursi antara Rajata serta Rehan. Dengan mencoba menenangkan hatinya yang berdebar tak karuan, Genta mengambil botol air mineral yang berada didepannya, menegaknya sekali tandas menarik perhatian Rehan yang memang cukup mengenal Genta, ia tau jika anaknya itu sedang mencoba merangkai kata. Dengan pelan Rehan mengelus punggung Genta membuat anak kedua nya itu menatap ia dengan senyuman hangat.


“Jadi gini pah, om Genta mau ngomongin sesuatu yang cukup penting terutama om Rajata.” Ujar Genta dengan nada sangat yakin dan cukup serius.


“Ada apa? Tho the point saja sama om ga usah berbelit Ge.” Jawab Rajata dengan nada seriusnya. Oke Genta akui jika sikap Erhan yang serius dan terkadang paling bisa diandalkan diantara mereka bertiga mungkin karna gen turunan dari om Rajata - papahnya.


“Om tau apa cita-cita sebenernya seorang Erhan Radea yang selalu om banggakan kepada para koleg bisnis om?” tanya Genta dengan nada serius tapi pelan membuat Rajata mengkerutkan keningnya menatap Genta tidak mengerti, sedangkan Rehan dengan santai menyenderkan punggungnya pada kursi dengan tangan kanan memegang cangkir kopi yang sesekali ia tiup namun pandangannya tak lepas pada Genta.


“Meneruskan Radea Gr--”


“Dokter bedah!” Potong Genta dengan nada sedikit menekan membuat Rajata yang dipotong ucapannya terdiam, mencerna apa yang sahabat anaknya itu katakan.


“Dokter bedah?” Tanya balik Rajata pada Genta yang dibalas anggukan kepala kecil. Ok kini Rajata menatap Rehan yang menatapnya datar, ia menyenderkan punggungnya pada kursi dan mengambil cangkir kopi seperti yang Rehan lakukan.


“Dari dulu sampe sekarang cita-cita Erhan adalah menjadi dokter bedah om, tapi dia ga pernah bilang apapun sama om ataupun tante karna ia selalu bilang sadar diri kalo dia menuruti ego nya untuk mengambil kuliah jurusan dokter bedah siapa yang akan meneruskan Radea Group? Erhan selalu bilang, apapun yang ia ingin pasti akan dikabulkan dengan gampang oleh om dan tante maka dari itu saat om dengan bangganya memperkenalkan Erhan kepada seluruh kolega bisnis sejak SMA membuatnya enggan untuk mengutarakan apa yang sebenarnya ia ingin. Erhan mengubur mimpinya dalam-dalam demi meneruskan perusahaan yang sudah susah payah om besarkan.” Jelas Genta membuat Rajata semakin terdiam.


“Kamu tau Ge, om ga pernah melarang apapun mimpi Erhan. Om tak pernah mempermasalahkan jika ia ingin berkuliah kedokteran, yang ada om akan dukung dia dengan senang hati.” Ujar Rajata menatap Genta sebelum ia menghembuskan nafasnya pelan. “Erhan memang anak om satu-satu nya, anak yang om punya tapi om ga pernah ingin dia memaksakan diri demi perusahaan. Om masih memiliki banyak pegawai terpecaya yang mampu membantu om mengelola perusahaan.” lanjutnya kini menatap Rehan.


“Tujuan kamu ngomongin ini apa Ge? Jangan bilang hotel mau dilepas ke Rafa ya? Inget juga mas Arfand lagi bantu papah dipusat karna papah lagi buka beberapa cabang hotel.” Rehan menatap tajam Genta yang justru membalas papahnya dengan tatapan bodohnya.


“Papah ko peka sih?” Tanya nya Genta dengan tanya mengambil sendok dan mulai menyuapi makanan memasuki mulutnya. Sayang bukan jika sudah dipesankan makanan tapi tidak di makan? Genta paling tidak suka membuang-buang makanan, mubazir. Rehan memutar bola matanya malas menatap anaknya itu.


“Kamu ga paham yang dimaksud anak ku Raja?” Tanya Rehan pada Rajata yang masih terdiam menampilkan raut wajah bingung.


“Erhan mau berhenti kuliah manajemen dan pindah fakultas gitu?” Bukan menjawab, Rajata balik bertanya membuat Rehan memutar bola matanya malas untuk kedua kalinya namun untuk orang yang berbeda.


“Apa kau sekarang menjadi bodoh Rajata? Jangan banyak bergaul dengan anak ku ataupun Ralio makanya, jadi kamu tertular seperti mereka.” Jawab Rehan dengan nada sedikit ketus.


“Hei! Aku ini Rajata Radea meski umur sudah paruh baya tapi aku masih gagal dan masih memilik otak cerdas ya!” Balas Rajata tidak terima.


“Terus kenapa kamu ga ngerti apa yang dimaksud anak ku?” Tanya Rehan dengan senyuman miring diwajahnya. Mereka - Rehan dan Rajata berteman bahkan Atmaja pun , tapi terkadang ada saja perselisihan seperti ini jika berbicara santai santai serius seperti saat ini.


“Kan tadi sudah aku bilang, apa Erhan - anak ku akan berhenti berkuliah difakultas manajemen dan beralih mendaftar di fakultas kedokeran, lalu kenapa kamu malah mengatakna aku bodoh?!” Tanya Rajata membalik.


“Ck! Lalu untuk apa anak ku mengajak aku untuk ikut menemui kalian juga disini jika hanya itu yang dimaksud Genta? Coba kau fikirkan dengan otak cerdas mu itu!” Jawab Rehan , yang kini mulai menggerakkan tangannya untuk mengambil sendok dan memasukkan makanan yang mulai sedikit mendingin karna didiamkan. Ia menatap Genta, anaknya itu memang menyebalkan disaat papahnya berdebat dengan papah sahabatnya bukan di lerai yang ada ia malah makan dengan santai.


“Maksud mu?” Tanya Rajata dengan raut semakin tidak mengerti.


“Ck! Aku sungguh tak mengerti mengapa Radea Group bisa semakin besar padahal otak CEO nya dangkal seperti ini.” Ujar Rehan tanpa menatap Rajata.


“Kau---” Rajata berdiri dan menunjuk Rehan dengan jari telunjuknya.


“Jadi gini om, Genta jelasin nih ke om tapi om kudu kalem dulu sans.” Genta menarik tangan Rajata membuat nya kembali terduduk dan dengan kesal mengambil sendok mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. “Jadi.......” Genta lanjut menjelaskan tentang keinginannya untuk menerima penawaran yang pernah diberikan oleh Rajata serta Erhan untuknya membantu mengurus Radea Group dan mendaftarkan Erhan ke fakultas kedokteran dikampus yang sama agar dapat bisa memulai perkuliahan semester depan yang kurang dari 3 bulan lagi.


“Kamu serius?” Tanya Rajata.


“Sepertinya hari ini kamu banyak bertanya Rajata, sungguh menunjukkan sisi bodoh mu itu keluar.” Ujar Rehan saat Genta akan menjawab.


“Pah! Jangan kaya gitu deh, kaya yang papah engga aja ck.” tegur Genta membuat Rehan memberenggut sedangkan Rajat tersenyum miring. “Genta serius om, Ralio barusan ngechat Genta kalo untuk urusan berkas udah siap dibantu sama orang kepercayaan om yang sering berinteraksi dengan Erhan. Gimana?”


“Om sungguh berterima kasih pada mu Genta.” Ujar Rajata dengan tulus menatap Genta.


“Genta juga berterima kasih karna om waktu itu bantu Genta kekeke.” Kekeh Genta mengingat saat dirinya memohon minta bantuan Rajata, jika kalian lupa itu saat Genta memaksa membawa Lesta kembali ke indonesia.


Mereka bertiga lanjut berbincang tentang rencana untuk memberi surprais dihari ulang tahun Erhan, yang sisa 1 bulan lagi. Rehan memarahi Genta dan menegur Rajata perihal bantuan yang pernah Rajata beri kepada anaknya itu ternyata membantu anaknya membawa kabur mantu dan cucuknya. Rehan berdecak, pantas saja anaknya itu bisa lolos keluar dari inggris ternyata minta tolongnya pada seorang Rajata Radea. Sungguh Rehan tidak berfikir jika anaknya memiliki otak cerdas untuk melicik seperti itu.