
Dikamar utama apartemen nya, Genta menemani Lesta yang sedang tertidur pulas setelah lelah menagis. Baju nya sudah diganti, luka nya sudah diobati hanya saja luka dihati nya masih ada. Percayalah yang terakhie itu sulit untuk dihilangkan bekasnya.
Mengusap lembut pipi istrinya yang putih , masih tercetak jelas bekas tamparan Ratu. Dari tadi Genta menahan amarahnya saat mengobati luka ditubuh Lesta, sialan nya bukan hanya luka luar tapi seperti di punggung dan pundak pun luka. Genta benar-benar merutuki dirinya yang lengah membuat Lesta berakhir seperti ini.
Kret.
Pintu kamar terbuka pelan dan menampilkan wajah Erhan yang berbicara tanpa suara meminta Genta untuk keluar.
Di ruang tamu sudah ada Ralio, Erhan, dan Arin yang duduk di sofa panjang milik nya. Genta menghampiri mereka dan duduk di sofa single.
Berbicara perihal masalah yang terjadi tadi dikampus, Genta cukup puas karna semua yang ikut andil tidak ada yang lolos. Walaupun ada rasa kecewa karna mereka tidak mendapat hukuman hingga dipenjara. Drop Out yang mereka terima sedikit cukup membuat Genta sesikit tenang, ya sedikit karna hal itu belum cukup untuk membalas perbuatan keji mereka terhadap istrinya.
"Ge, kondisi Lesta gimana?" Tanya Arin lirih.
"Udah baikan, sekarang lagi tidur dikamar kecapean nangis" jawab Genta.
"Fans lo parah banget sumpah cuma gara-gara gosip lo nyium kak lele didepan kelas langsung pada bertindak anarkis gitu, apa lagi kalo pada tau lo berdua udah ena-ena gue jamin lebih parah tuh ke bar-baran mereka." ucap Ralio santai sambil membuka toples cemilan yang ada diatas meja.
"Heem ge, lo harus lebih hati-hati apalagi Wida kalo lo lupa dia siapa" Ucap Erhan datar.
"Iya gue udah putusin buat dia ga ke kampus dulu, gue tau dia lagi ngejar skripsi tapi kondisi nya gini gue bakal larang dia. Kalo dia masih ngotot biar gue datangin dosen nya kerumah"
"Jiwa sultan lo keluar ge hahahaha. Uhuk uhuk sialan pake keselek segala" Ralio meminum tandas air mineral yang tersaji diatas meja menghiraukan tawa mengejek dari yang lain.
"Makan nya santuy Rali biar kaga keselek" Ucap Erhan dengan nada mengejeknya.
"Udah sialan Erhan udah keselek ini aing!" Ketus Ralio menarik tawa mereka lagi.
Hahahahha.
Semua nya menertawakan Ralio yang menunjukan wajah masam nya. Mengobrol sebentar dan mereka pamit pulang. Genta kembali masuk kedalam kamur, naik ke atas kasur dan memeluk Lesta hangat.
***
Drtt drttt.
"Eung ge hp" ucap Lesta mengantuk.
"Hem" jawab Genta enggan membuka mata dan mengeratkan pelukan nya.
Drrttt drttt
"Geee"Rengek Lesta pelan.
"Iya iya bentar kak"
Genta mengangkat tangan nya dan meraba-raba nakas mencari hp nya yang bergetar tanpa niat membuka mata.
"Gentara speaking" ujar Genta dengan suara serak khas bangun tidur.
"Lo dimana bang, ditelfonin dari tadi baru nyawut"
"Di apart raf"
"Balik ga lo? Mamah nanyain lo sama kak lesta mulu nih udah isya tapi ga balik-balik"
"Isya? Emang sekarang jam berapa?" Tanya Genta pada Rafa yang sedang bertelefonan dengan nya disebrang sana.
"Jam setengah delapan, habis ena-ena lo ya tadi siang? Pasti baru bangun lo!"
"Sialan mulut lo Raf, masih bocil jan ngerti yang begituan napa. Gue ga tau balik ga tau engga entar gue kabarin"
Genta mematikan sambungan sepihak, menyimpan kembali hp nya di nakas dan mengusap lembut pipi Lesta. Melirik jam di dinding menunjukan pukul 19.32 . Beranjak dari kasur hendak membersih kan badan yang sedikit berkeringat.
"Mau kemana ge?" Tanya Lesta serak membuka sedikiti matanya melirik Genta yang hendak berdiri.
"Mandi, gerah biar seger terus nyiapin makan buat lo. Udah malem, lo belum makan dari siang"
"Ga usah ge , aku ga laper"
"Tapi lo harus makan, atau mau makan diluar? Gue tau warung soto yang enak, mau?"
"Heem yaudah, kamu mandi dulu aja dan aku ganti baju"
Chup. Mencium kening Lesta singkat sebelum beranjak dan masuk kedalam kamar mandi.
Lesta menelisik tubuh nya yang berbalut kaus kebesaran milik Genta dan celana kain panjang. Beranjak dari kasur, membuka almari yang berisi pakaian Genta semua. Mengambil salah satu kaus secara acak, memakai nyayang ia padukan dengan celana jins yang tadi ia pakai ke kampus.
Tak lama Genta keluar dengan rambut yang basah, dengan wajah yang terlihat segar. Tidak banyak bicara, Genta mengambil kunci mobil,dompet serta hp nya lalu menarik tangan Lesta lembut dan memakaikan jaket jins milik nya.
Perjalan menuju warung soto yang Genta maksud tak memakan waktu lama hanya sekitar 30 menit. Memarkikan mobil nya disamping trotoar dan menggenggam erat tangan Lesta menuju salah satu kursi kosong.
"Ga apa-apa kan makan disini? Enak harus nyoba" ujar Genta lembut.
"Iya ga apa-apa ge, aku juga sering ko makan di warung pinggir jalan gini" jawab Lesta lembut sambil menunjukan senyum nya kepada Genta.
Genta membalas senyuman Lesta tenang walau dari lubuk hati nya berdegup kencang seperti gendang yang tak henti nya berdendang.
2 porsi soto ayam nasi dan teh hangat tersaji didepan mereka. Genta mengambil sesendok nasi yang sudah dicampur soto oleh nya, lalu ia mengangkat ke depan mulut Lesta. Cukup peka, Lesta membuka mulut nya perlahan sambil menahan deguban kencang dalam hati nya.
Selesai makan, mereka berdua kembali pulang kerumah. Awalnya Genta menolak dan ingin kembali ke apart saja melihat kondisi Lesta yang pasti menuai banyak pertanyaan, tapi Lesta meminta untuk pulang saja tidak enak dengan Mira - mamah mertuanya yang sedari tadi tak henti menelfon.
**"
Sesuai dengan keinginannya, Genta tidak mengizinkan Lesta untuk pergi kuliah untuk sementara waktu dan mendatangkan dosen-dosen di kampus untuk mengajar dan membimbing Lesta di kediaman Adhitama.
"Kak les, ko lo nurut banget ama bang gege?" tanya Rafa dengan nada heran.
"Ya kan tugas istri nurut sama suami de" Jawabnya lembut.
"Tapi kaga ampe kek home schooling juga keles"
"Ya mau gimana lagi, jujur sih aku juga masih agak trauma" cicit Lesta.
"Gue cuma bisa bilang sabar doang ka fans si bang gege emang pada ganas, oya gue ke kamar dulu ya kak mau siap-siap biasa anak muda hehe bye" Pamitnya.
Tanpa menunggu jawaban lesta, Rafa langsung pergi ke kamar dan meninggalkan Lesta sendiri di taman belakang rumah.
Sesekali helaan nafas keluar dari mulut nya, tatapan nya lurus entah menatap apa dengan airmuka yang tak bisa dibaca.
Drrtt. Drrtt
Lesta melirik hp nya yang bergetar diatas meja didepan nya. Mengernyitkan dahi bingung dengan panggilan masuk dengan nomor asing yang tak iya kenal. Tak berniat menjawab ia biarkan hp nya terus bergetar, hingga panggil terakhir yang masuk ke-10 tak ada panggilan lagi. Tapi, selang 2 menit masuk sebuah pesan
081866xxxx
A.
Lesta tercengang membaca pesan yang masuk ke hp nya, dia ga salah baca kan? A? Aleya? Apa ia sudah kembali ke indonesia? Apa ia tetap sama seperti Aleya yang dulu? Apa yang akan Aleya lakukan pada nya? Banyak fikiran buruk melintas dalam benak nya. Hingga ia tak sadar seseorang sedang berdiri didepan nya.
"Hei Lesta, lo kenapa? Les? Lesta?"
"Eungh?" Lesta terdasar karna guncangna pada bahu nya dan panggilan tepat didepan muka nya. Kaget, refleks Lesta mematikan layar hp dan menyimpan nya diatas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.
"Lo kenapa? Keringetan gini mana ngelamun di sore hari ini gini, bentar lagi maghrib"
"Aku ga kenapa-kenapa ge, ah udah mau maghrib lagi ya? Ga kerasa hehe, yu masuk"
"Heem"
Ya, Genta seseorang yang berdiri dihadapan Lesta. Saat pulang kuliah tadi ia tidak menemukan Lesta dikamar, mencari kepenjuru rumah dan ia melihat Lesta duduk melamun menatap layar hp nya di kursi taman. Jangan berfikiri Genta tidak tau apa yang dilihat oleh Lesta, tepat saat ia sampai tapi Lesta tidak menyadari nya. Terlihat jelas sebuah pesan dan Genta masih hafal sekali setiap kata yang ada. Tapi iya pura-pura tidak tau karna Lesta sendiri tidak berbicara apapun kepada nya. Yang sekarang ada dalam benak Genta cuma siapa orang yang berani mengirim sms seperti itu kepada istri nya. Berani mengusik Lesta sama dengan mengusik Genta ya kan? ya jelas mereka suami istri.
***
Diruang makan semua keluarga sudah berkumpul. Rehan, Mira, Arfand, Genta, Lesta, dan Rafa. Mereka makan dalam diam yang terdengar hanya bunyi piring dan sendok yang mereka pakai.
"Sepi bats kek kuburan ya kak les?" Tanya Rafa pada Lesta yang duduk disamping Genta.
"Jomblo mah dimana-mana juga kaya kuburan sepi kaya hatinya" jawab Arfand.
"Gue nanya sama kak Lesta bukan sama mas"
"Berisik Rafa, habisin makan lo sebelum banyak bacot nanti keselek mampus lo" ucap Genta.
"Waaaahhhhh gue kangen sama kata+kata kaya gitu dari mulut lo bang aslinya" bukannya kesal yang ada Rafa malah senang.
"Gila lo"
"Gue gila karna lo bang, maen ps bareng dah nyok gimana?"
"kalo kalah nanti kokosehan lo nya, kasian kek gembel"
"Janga kaya gitu napa ke gue tuh, yang kalah dicoret lipen setik nya bi ai gimana??"
"Yooo sapa takut, lo juga ngikut mas awas aja kabur" ujar Genta melihat gerak gerik Arfand yang siap-siap meninggalkan kursi nya.
"Gue banyak kerjaan dikantor ge, kaga dulu dah"
"Kerjaan kantor dikerjain dikantor mas bukan di dirumah, ayok papah juga ikut" ucap Rehan.
"CAABBBSSS" Ucap Genta dan Rafa bersamaan. Berbeda dengan Arfand yang hanya diam mengikuti ketiga pria itu menuju ruang santai keluarga.
"Nak, mamah seneng liat Genta udah mulai kaya dulu lagi. Hangat sama keluarga, ceria, bawel dan ya gitu lah. Makasih ya sedikit-sedikit sudah merubah Genta kaya dulu lagi" Ucao Mira lembut dengan wajah sedih namun bahagia.
"Iya mah ga usah makasih udah tugas Lesta ngasih tau Genta kalo dia salah" ucap Lesta menjawab Mira.
Padahal dalam hati nya iya bingung karna iya tidak melakukan apa-apa selain sedikit berbicara perihal sikap Genta yang salah kepada keluarga nya dan keingin Lesta yang ingin memiliki keluarga hangat nan harmonis.
Setelah menghabiskan makanannya yang masih tersisa, Lesta langsung menyusul keluarga yang lain ke ruang santai dengan Mira. Sampai, Lesta duduk disofa belakang Genta, pasal nya ke empat lelaki berbeda usia itu duduk diatas karpet lantai dengan makanan dan minuman didepannya yang entah mereka dapat darimana.
Yang paling membuat Mira dan Lesta bingung adalah lipstick milik bi ai yang berwarna merah cabai sudah ada di tangan Arfand yang benar-benar entah mereka dapat darimana karna Mira dan Lesta tidak melihat salah satu dari mereka ke dapur.
"Kiri kiri pah"
"Maju ke kanan pah"
"Itu ada musuh awas"
"Hajar pah"
"Ayooo pah kalahin Genta"
"Papah pasti menang"
Teriakan semangat dari Rafa, Arfand, dan Mira terus terdengar membuat Rehan semakin bersemangat untuk mengalahkan anak ke dua nya itu, Gentara. Hingga-
"Matiin Genta pah matiin tembak itu tembak"
Semua orang terdiam dan menatap ke arah sumber suara yang bicara tadi, tak lupa Rehan mem-pause game nya.
"Sayang mau aku mati?" Ujar Genta dengan muka sedih menatap Lesta yang ada dibelakang nya.
"Iya, biar papah menang"
"Kok tega?" Tanya Genta dengan nada dibuat sedih.
"Dari tadi menang mulu, kali-kali mati ga apa-apa kan?" Ucap Lesta dengan wajah polos nya. Semua orang menahan tawa melihat wajah Genta yang mulai kesal dan wajah menggemaskan Lesta.
"Kalo aku kalah main ps nya nanti kita main di kamar 10 ronde biar kaya artis halu yang lagi rame di tv tv itu oke deal?" Genta menunjukan wajah tengil nya.
Dugh.
Pletak.
Bugh.
"Anjeeeerrrr sakit woy" teriak Genta saat menerima pukulan dan lemparan bantal dari Arfand, Rehan, dan Rafa.
"Ngomong nya bang" ucap Mira kepada Genta yang masih meringis.
"Lah emang gege ngomong apa mah?"
"Lo mah pura pura bego dasar bang, ngomong nya kaga disaring ga tau malu. Kaga liat noh muka bini lo langsung merah gitu kek stobery manis" ucap Rafa sambil menunjuk wajah Lesta yang nyata memerah.
"Lah merah kenapa itu muka sayang? Malu ya? Ga usah malu sama aku ini" Genta mengedipkan sebelah mata nya.
"Gimana ga malu kalo lo bahas masalah ranjang"
"Ranjang? Kan gue tadi bilang nya main 10 ronde dikamar kaga bilang masalah ranjang mas Arfand bego"
"Iya dikamar pasti ena-ena kan lo? Ngaku looo dek?" Sarkas Arfand menatap Genta.
"Otak lo mas ena-ena. Bentar bentar. Wah wah wah jadi semua orang nuduh aku mau ngelakuin yang iyaiya 10 ronde heem? Parah kalian semua parah, padahal mah cuma mau ngajakin maen ludo king pah mah ludo king omat LUDO KING . Wazegileeeehhhh. Marah aku sama kalian awas aja, hayu sayang kita ke kamar" ucap Genta kepada semua orang dan menarik tangan Lesta untuk ikut dengan nya ke kamar.
Sampai di kamar, genta benar mengajak lesta main ludo king di hp pintar nya meski kesal dengan keluarga nya tapi ia selalu bersikap biasa didepan istri nya itu. Sedangkan diruang santai, keluarga nya saling menatap satu sama lain dan melepaskan tawa yang dari tadi ditahan saat mendengar kejujuran yang Genta ucapkan.
Ludo king? Ga salah dengar kan mereka? Kalo tadi seorang Genta berucap akan mengajak istri nya main ludo king 10 ronde? Seperti nya benar kata orang-orang kalo saat pembagian otak Genta terlambat datang hingga hanya kebagian sisa nya saja.