TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 21



"Sekarang kamu tidur." Perintah Riza namun Lesta menolak dengan menggelengkan kepala. "Kita di inggris. Butuh waktu belasan jam agar dia sampai disini. Gunakan waktu kamu untuk beristirahat sebelum berdebat dengan bocah sialan itu." Ucap Riza mengalah.


"Paaahhh." Lesta merajuk dengan suara yang pelan.


"Iya iya bukan bocah sialan tapi ayah bocah tengil." Jawab Riza sambil menaikkan selimut sampai batas dada.


"Goodnight love." Ucap Riza dan Adhisti sebelum meninggalkan Lesta untuk beristirahat.


Riza dan Adhisti duduk disofa sambil menatap cucu kembar mereka. Bukan Adhisti, tapi Riza sendiri yang sedang berfikir keras antara ego serta logika. Ucapan Lesta masing terngiang jelas ditelinganya, setiap kata dan makna.


Ia pernah dengar jika terkadang orang yang koma itu jiwanya berada didunia berbeda dengan mereka yang sadar. Riza tak percaya jika ada yang mengungkapkan jika kekuatan cinta mampu membuat seseorang yang hampir menemui ajalnya dan menarik kembali utnuk hidup ke dunia nyata. Tapi anaknya tadi berkata apa? Menantu kurang ajarnya yang menuntun putrinya untuk kembali? Bhaks sungguh tidak masuk diakalnya. Namun berkali-kali ia berfikir masih tidak menemukan titik terang.


"Kabari Aleya, minta untuk bawa si tengil kesini." Ucap Riza kepada Adhisti.


"Yakin pah?"


"Jangan bertanya yang akan membuat aku ragu lagi mah." Jawab Riza berlalu keluar dari ruangan.


Adhisti hanya menghela nafasnya pelan sebelum mengetikkan sebuah pesan kepada ponakannya - Aleya untuk memberi kabat jika Lesta sudah sadar dan ia meminta untuk membawa Genta ke Inggris.


***


Dilain tempat, hp Aleya terus berbunyi menandakan sebuah pesan masuk melalui apk WA membuat tidunya cukup terganggu. Ya bagaimana tak terganggu, nada dering pesan masuk Aleya itu satu buah lagu yang kini sedang hits dikorea selatan dari salah satu girl grup asuhan SM.Ent. Dengan malas Aleya mengambil hpnya dan membuka sebuah pesan masuk yang ampuh membuat kesadarannya kembali 1000%. Adhisti, kaka ibunya - mamah Lesta - tantenya mengirim pesan yang sungguh tak dipercaya oleh dirinya namun sedikit berbalas pesan kini ia percaya jika benar nyatanya isi pesan Adhisti yang meminta dirinya untuk datang membawa Genta. Langsung saja ia mendial nomor Erhan yang dipanggilan ke 3 baru diangkat disebrang sana.


"Lo gila nelfon jam segini hah? Ga punya jam ap--" Gerutu Erhan disebrang sana namun dengan cepat Aleya memotong ucapannya.


"Lesta udah sadar. Tante Adhisti minta gue bawa Genta ke Inggris, Lesta nyariin Genta. Bantu gue." Ucap potong Aleya.


"Lo siap-siap aja biar yang lainnya gue yang urus." Erhan memutuskan panggilan sepihak yang selanjutnya menghubungi Ralio dan anak buah papahnya untuk mengurus akomodasi untuk mereka terbang pagi hari ke Inggris. Ya, tanpa perlu menunggu waktu lama Erhan meminta anak buahnya mengambil penerbangan tercepat agar semuanya cepat terselesaikan.


***


Pagi ini Genta berniat untuk mencari ke tiga orang yang kakak sulungnya itu kata kan bisa membantunya menemui Lesta. Saat sedang menuruni tangga ia mendengar suara ribut-ribut namun ia masih acuh hingga di tangga terakhir ia terlonjak kaget karna Erhan, Ralio, Aleya dan Tara berdiri didepannya tiba-tiba dengan tas yang tersampir dipundak nya masing-masing.


"Gentayang buruan balik lagi ke kamar." Ucap Ralio sambil menarik tangan Genta menaiki tangga kembali dan memasuki kamarnya.


"Lo apaan sih Ral tarik-tarik gini!" Ketus Genta tak terima dengan sikap Ralio yang menariknya paksa.


"Ga usah banyak bacot!" Ucap Ralio,Erhan, dan Aleya serempak.


Mereka sampai dikamar dan denga dinginnya Ralio langsung mengobrak-abrik isi lemari yang selalu rapih itu cukup membuat Genta geram. Namun saat ia akan memprotes Aleya berdiri didepannya menghalangi aksi Genta.


"Awas lo mantan." Ucap Genta ketus.


"Nih liat. Masih mau nyuruh gue minggir, sampah?" Aleya menunjukkan pesan masuk dari Adhisti yang memintanya untuk membawa Genta ke inggris menemui Lesta yang sudah sadar. Namun saat akan membaca pesan-pesan yang lainnya Aleya langsung menarik tangannya mengejek Genta.


"Sialan!" Genta mengumpat pelan namun masih terdengar oleh mereka.


Selesai, Ralio menarik 2 koper yang berisi barang-barang milik Genta. Tanpa protes pun Genta mengikuti langkah mereka keluar. Tepat saat diruang tengah, seluruh keluarga berdiri menatapnya.


"Tante, om. Do'ain ya semoga si Genta ga di sunat 2 kali sama papah mertua nya." Ucap Ralio membuat mereka terkekeh.


"Masih mending di sunat 2 kali, lah kalo dipotong sampe habis gimana itu masa depan?" Erhan menimpali omongan Ralio membuat Genta berdecih pelan.


"Ga ada mendingnya dasar bego." Rajuk Genta.


"Lo yang lebih bego. Bini dibiarin sendiri, masih mending tuh bini lo nyariin pas udah sadar. Coba lo? Sadar pas baca novel remaja mana nuduh kakak sendiri rebut istri lo apa--" Ucapan Ralio terpotong karna genta melempar mulurnya dengan sepatu yang ia pakai. Ia tak berniat bertanya darimana sahabat nya itu tau, yang pasti kalo tidak dari Arfand langsung ya dari Rafa adiknya yang laknat.


"Ini kita mau kemana sih?" Tanya Genta polos membuat seisi rumah geram. Sungguh rasanya Ralio ingin melempar Genta ke kawah puih saat ini juga.


"Ke mars!" Jawab Ralio ketus.


"Gue kira ke inggris." Ucap Genta pelan namun sukses membuat Aleya melemparkan sepatunya kepada Genta.


"Tololnya nanti aja jangan sekarang! Istri lo udah nungguin lo di inggris." Aleya menatap sengit Genta. "Urusan pasport dan yang lainnya udah diurus sama Erhan dan Ralio, lo cukup ikut kita aja jangan pake banyak bacot." Lanjut Aleya sambil menahan kegeramannya yang hanya dibalas anggukan kepala polos dari Genta.


"Mah, pah." Genta menghampiri kedua orang tua nya.


"Do'akan Genta ya. Semoga masa depan Genta beneran ga dipotong sama papah nya Lesta. Do'ain semoga Genta masih dikasih kesempatan kedua sama Lesta." Genta berlutut tepat di bawah kaki kedua orang tuanya itu. Mira dan Rehan yang melihat langsung menahan dan menarik kembali tubuh anaknya itu untuk berdiri.


"Papah sama mamah selalu do'ain kamu. Bawa menantu dan cucu mamah kembali nak." Ucap Mira sambil memeluk Genta.


Genta melepaskan pelukannya dan mengangkat alis nya pertanda tidak mengerti. Namun saat mendapat sebuah senyuman jahil dari Rehan dia mulia paham dan membalikan badannya menghampiri Ralio mengadahkan tangan nya tepat didepan wajah.


"Undangan buat gue mana?" Tanya Genta.


"Lo ga gue ondang. Nanti gue ga jadi nikah ga jadi lakuin yang enak enak." Ralio menarik Tara untuk bediri dibelakangnya.


"Sialan lo. Lo nikah bukan karna cinta kan? Tapi jangan nyakitin Tara. Dia sahabat gue. Bener-bener sahabat gue Ralio." Ucap Genta sambil mengelus pundak Ralio yang dibalas anggukan saja.


"Udah ayok buruan. Ketinggalan pesawat nanti makin lama." Ucapan Erhan membuat mereka tersadar langsung bergegas berpamitan dan berlalu menuju mobil untuk pergi ke bandara. Hening, yang terjadi selama perjalan menuju bandara tanpa ada yang berniat mencairkan suasana termasuk Ralio.


***


Belasan jam mereka berlima lewati, akhir nya sampai juga di negara tempat Lesta kini berada. Berjalan berdampingan di bandara mereka saling menerka nerka apa yang akan terjadi nanti saat bertemu kedua orang tua Lesta. Terutama, Riza.


Mereka tak langsung menuju rumah sakit, melainkan Hotel untuk beristirahat sejenak dan menghilangkan jetlag. Meski awalnya Genta menolak dan memaksa untuk langsung pergi ke rumah sakit, tapi lagi-lagi dirinya ditarik oleh Erhan untuk tidak membantah. Perdebatan kecil terjadi antara mereka tapi yang menang pasti Erhan dengan segala petuahnya membuat Genta menurut mengikuti yang lain.


Memang pada dasar Ralio pelit dan menyebalkan, ia menyewa 1 kamar dengan 2 kasur biasa. Padahal awalnya mereka sudah sepakat untuk menyewa 2 kamar, namun si menyebalkan itu ada saja akalnya untuk menghemat uang. Katanya sih untuk mengirit biaya karna sekali makan aja di Inggris bisa ngeluarin uang berkali-kali lipat daripada di Indonesia, yaiya lah kan perekonomian kedua negara itu berbeda dan yang sangat jelas perbedaan mata uang membuat semuanya biaya apapun harus mengeluarkan uang lebih.


Malas untuk berdebat, Erhan dan Genta langsung membaringkan badan di kasur bersebalahan dengan kasur yang sudah ditiduri oleh Tara dan Aleya. Sedangkan Ralio? Membaringkan badan di sofa, kedua sahabatnya itu tidak mengizinkan dirinya menaiki kasur. Siapa suruh menghemat uang patungan? Biar dia rasa sendiri. Dengan misuh-misuh ia membaringkan diri disofa yang ajaibnya ia bisa tertidur nyenyak.


***


Keesokan hari nya. Mereka berlima pun sudah siap untuk mengunjungi rumah sakit tempat Lesta berada. Dengan mobil sewaan yang pesan oleh Erhan mereka memasuki mobil dan terdiam selama perjalanan. Tidak ada yang berniat untuk mengutarakan satu kata pun. Mereka sibuk dengan fikirannya masing-masing.


30 menit, akhirnya mereka sampai dipekarangan rumah sakit. Genta turun terlebih dahulu bersama dengan Aleya dan Tara. Sedangkan Ralio dan Erhan memarkirkan mobil sekalian mencari makanan.


Awalnya Genta menolak, ia takut terjadi ke salah pahaman lagi. Namun Ralio memaksa dan berani bertanggung jawab jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi membuat Genta menghela nafas kasar terpaksa menyetujui itu.


Berjalan dibelakang Aleya, Genta terus melirik sekeliling memerhatikan setiap orang yang ia lihat. Genta menghentikan langkah nya saat melihat seorang laki-laki yang kalo diperkirakan usianya tak jauh berbeda dengan dirinya sedang menggendong bayi kecil yang menangis. Hatinya terasa tersentil, ingat akan anak kembarnya bersama Lesta yang belum pernah ia lihat sekalipun.


"Ge, ayo" Panggil Aleya saat tak mendapati Genta dibelakangnya namun cukup berjarak dan terdiam berdiri.


"Ge!" Aleya menaikan nada bicaranya dan membuat Genta tersdar dari lamunan bergegas menghampiri Aleya dan Tara.


"Sorry. Gue tadi ngelamun." Genta meminta maaf pada mereka dan melanjutkan jalannya.


"Lo liatin laki-laki itu ya?" Tanya Aleya menelisik.


"Heem. Hati gue tersentil, gue belum pernah sekalipun liat muka kedua anak gue bahkan gue ga tau Lesta ngasih nama sesuai dengan yang pernah gue dan bicarain atau engga." Jawab Genta pelan dengan nada sedih. "Ayok!" Genta berjalan mendahului Aleya dan Tara yang kini menatapnya dengan berbagai pandangan berbeda.


Mereka meemasuki lift, Aleya memencet tombol 6 membuat Genta cukup tau jika istri dan anaknya ditempatkan di ruang VVIP. Hatinya berdetak tak karuan, tangannya tiba-tiba terasa dingin dan fikirannya blank tidak tau apa yang harus ia katakan saat bertemu mertuanya.


Genta yakin jika Lesta akan mengerti karna ia dewasa, namun mertuanya? Tak akan memberikan jalan mulus untuk dirinya menggapai Lesta. Ibaratkan ia harus melewatk berbagai macam jurang serta jalanan curam buat bisa sampai tujuan. Lift berhenti dan pintu terbuka saat mereka sudah sampai di lantai 6. Aleya menarik paksa dirinya yang masih saja berdiam di dalam lift.


"Bentar-bentar. Narik nafas dulu nih. Baca Alfatiha dulu kalem" Pinta Genta dan berjongkok sejenak menenangkan hati. "Skuy. Bismillah." Ia berjalan mendahului Aleya dan Tara tanpa tau kamar mana yang akan ia tuju.


Saat berjalan melirik-lirik setiap pintu yang ia lewati ia menerka nerka kamar mana yang Lesta tempati. Bertanya pada Aleya? Ia hanya mengedikkan bahunya acuh namun terus mengikuti kemana pun Genta melangkah. Sudah 3 kali Genta bolak balik dari ujung ke ujung untuk berfikir kamar mana tempat Lesta berada, hingga tepat saat Erhan dan Ralio keluar dari lift Genta mendengar suara tangis bayi laki-laki yang sangat kencang dan menghangat kan hatinya.


Genta berlari menuju kamar paling ujung dan dengan keras membuka pintu. Tepat. Ia melihat Lesta duduk diatas brankar sedang menggendong bayi laki-laki yang menangis. Tak ambil fikir, ia berlari menghampiri Lesta dan memeluknya kuat.


Namun belum 10 detik, tubuhnya terhuyung ke belakang terjatuh dengan gaya tidak tampan. Ia mengangkat kepalanya dan berhadapan langsung dengan Riza yang berdiri memasang badan melindungi Lesta dari Genta.


Genta mengumpat dalam hati. Berdiri dan menyalami paksa papah mertuanya itu. Lalu berjalan menuju Adhisti di sisi lain brankar untuk menyalaminya lalu kembali memeluk Lesta dan mencium keningnya.


Riza yang hendak melangkah menarik Genta manjuh berhenti, saat tiba-tiba salah satu cucu nya yang tadi menangis kencang kini tertawa renyah saat Genta menciumi wajahnya. Hatinya menghangat melihat itu, namun tetap saja ada rasa kecewa yang besar dalam diri Riza kepada Genta.


"Maaf. Aku baru datang." Ucap Genta pada Lesta sambil mengelus wajah istrinya itu lembut.


"Iya, aku cukup ngerti situasi." Lesta menjawab dengan senyuman yang Genta Rindu kan.


"Aku mengaku aku salah. Aku bisa jelasin semuanya yang kamu ingin tau." Genta memegang tangan Lesta dan menariknya untuk ia cium. "Aku menyesal. Aku sadar aku salah. Aku baru menyadari perasaan cinta aku saat kehiangan kamu. Bisa kamu kasih aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya?"


"Kesempatan kedua apa yang kamu ingin kan bocah tengil?" Bukan Lesta namun Riza yang menjawab dan bertanya balik.


"Kesempatan untuk memperbaiki semuanya yang telah saya hancurkan. Saya mengaku salah. Saya siap menerima hukuman apapun asal bisa kembali bersama dengan istri dan kedua anak saya."


"Penyesalan apa yang kamu sadari hah?" Riza berjalan menghampiri Genta dan menariknya menjauh dari Lesta. "Kau lihat? Anak ku koma satu bulan lebih, bahkan ke dua cucu ku baru keluar inkubator 2 minggu lalu. Dimana kamu berada selama itu hah? Bermesraan dengan wanita lain??"