TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 20



"Lo bener. Gue cuma terobsesi oleh cintanya Genta. Gue terlalu gila terbiasa dengannya. Gue selalu ingin jadi yang nomor 1 bagi dia, bahkan gue selalu ngikutin apa maunya dia. Gue bersikap baik dan penurut selama ini cuma buat dia. Gue sebenernya ga kaya apa yang dia liat. Kalo lagi ga bareng gaya bicara gue kaya gini, tapi gue balik lagi jadi sopan kalo udah ada dia maupun temen-temennya." Tara menaruh kepalanya diatas lipatan tangan yang ia simpan diatas lutut.


"Lanjutin." Perintah Erhan dengan nada datar.


"Kalian tau kalo gue udah bareng sama Genta dari kecil. Kemana-mana kita bareng. Dia bagai sayap pelindung buat gue. Gue ga pernah biarin siapapun buat deket sama Genta karna gue cuma pingin kalo sayap indahnya itu dia pake buat lindungin gue doang. Ga boleh pake ngelindungin orang lain, termasuk Rafardhan adiknya. Tapi waktu Aleya pindah ke sekolahan kita dan Genta bilang sama gue kalo dia jatuh cinta. Awal nya gue nolak keras dan ga bolehin dia buat deket+deket sama Aleya. Tapi gue mikir, gue ga mungkin terus-terusan kaya gini yang akhir nya gue dukung Genta buat deket sama Aleya dan berakhir pacaran. Awal-awal dia pacaran gue masih nyoba nahan diri gue. Tapi lama kelamaan udah ga bisa gue tahan lagi, gue lakuin berbagai cara buat Genta balik lagi ke gue. Gue selalu ngehasut dia kalo Aleya cewe ga bener, tapi Genta tetep ngebela Aleya dan bilang kalo dia ga akan percaya sebelum liat dengan mata kepala nya sendiri." Tara behenti sejenak dan menatap Aleya. "Lo tau leya, setiap laki+laki yang deketin lo pada masa itu adalah suruhan gue semua. Mereka laki-laki yang ngejar gue, tapi gue malah minta buat ngejar lo. Gue bilang ke mereka kalo lo cewe yang bisa dipake.Gue tau tentang keluarga lo gimana termasuk status lo dalam kartu keluarga, itu salah satu alasan buat gue coba buat jebak lo karna lo suka lari ke club malam diem-diem. Tapi Genta masih percaya sama lo sampe terakhir lo ngecewain dia dengan cara lo sendiri."


"Jadi lo jebak gue?!" Aleya hendak menghajar Tara namun ditahan oleh Erhan dengan memeluk tubuhnya erat sehingga tak bisa bergerak sedikit pun.


"Iya. Tapi soal Genta mergokin lo itu bukan ulah gue. Itu dia sendiri yang mergokin lo karna dia nyamperin kerumah lo tapi lo ga ada. Skip oke. Sejak tau kalo Genta putus, gue ngerasa seneng dan gue coba deketin Genta lagi. Tapi rasanya ada yang beda di diri Genta, gue ga tau apa yang pasti dia bersikap seolah gue bukan orang yang deket dengannya. 1 bulan lo pindah ke luar negeri, gue pindah ikut bokap karna disini nyokap gue nikah lagi. Sejak itu gue lost contac, tapi bener kata lo Rali. Gue selalu mantau dia dari jauh, ga gampang buat gue ngelepas dia gitu aja."


"Alasan lo balik lagi apa?" Tanya Erhan.


"Gue kabur dari bokap karna mau di nikahin sama pengusaha. Kalo muda sih its oke, tapi ini 40 tahun."


"Ya bagus dong lo jadi kaya kalo gitu. Ya walaupun sama perjaka tua." Ralio menimpali.


"Istri ke 3" Ucap Tara pelan. "Gue berniat buat ngambil hatinya Genta dengan balik ke sini, awalnya gue bahagia karna respon dia saat pertama kalinya gue kerumah dia sangat bahagia. Tapi malemnya gue kaget dan inget kalo dia udah nikah, karna baru sadar ada cincin di jari manisnya. Gue lumayan down saat dia kalab nyari istri nya, tapi pas denger kabar kalo istrinya masuk rumah sakit ada rasa seneng di diri gue. Gue berniat terus ngebuat Genta berpusat cuma sama gue. Tapi itu ga mempan di dua minggu pertama, minggu ketiga dia yang nyamperin gue lagi. Dia ngajak gue jalan, nonton, makan dan sebagai nya. Walaupun pada nyatanya badan dia ada disamping gue, tapi engga dengan fikirannya. Kadang dia ngelamun dan pas gue sadari dia nyebut nama Lesta. Bukan Tara."


"Alasan bokap lo ngejodohin lo sama tua bangka apa?" Tanya Erhan.


"Bokap gue sekarang gila harta, dia terlalu sibuk kerja sampe lebih sayang uang daripada gue anaknya sendiri. Laki-laki itu salah satu kolega bisnis bokap, dia tertarik sama gue dan mau ngebeli gue dengan salah satu perusahaan milik dia. Gue dihargain seharga satu perusahaan! Cuma demi perusahaan bokap gue rel--" Belum selesai menjawab ucapannya sudah terpotong.


"Gue bakal nikahin lo. Tapi lo berhenti ganggu Genta." Ucap Ralio tanpa fikir membuat Erhan dan Aleya refleks memukul kepala nya keras sedangkan Tara hanya menatap nya datar.


"Apapun bakal gue lakuin demi sahabat gue. Termasuk nikahin si Tara beriman ini." Lanjut nya Ralio yang hanya mendapat gelengan dari Erhan dan Aleya yang sesekali dalam hati mereka mengumpati tindakan bodoh Ralio.


"Tara beriman? Tara budiman kali ah Ralio bangke!" Geram Aleya memukul kepala Ralio keras.


"Sakit *****!" Ralio mencubit tangan Aleya pelan namun sakit-sakit nikmat, eh.


"Lo nyelenengin nama bangke. Tara beriman tara beriman yang ada juga Tara budiman noh Artis." Aleya membalas Ralio mencubit kaki nya.


"Serah lo ah taek. Besok lo nikah sama gue. Lo tau kalo gue holang haya, jadi ga usah takut. Paling lo gue babuin." Ralio menunjukkan senyum sinis nya pada Tara yang hanya di balas tatapan dingin.


"Lo gila apa? Pernikahan bukan main-main bangke." Tegur Erhan.


"Lo juga mau nikahin si leya kalo dia masih ganggung genta juga kan? Eh engga deng mau buntingin si leya waaahhh lo lebih parah Erhan." Ralio tersenyum lebar mengejek Erhan.


"Tapi kan ga jadi. Si Aleya keburu insyaf bangke."


"Yeeee sama aje. Mending gue nikahin, halalan toyibah mau gue ajak yang enak yang mantap juga kan."


"Udahan bacot nya *****. Anterin gue balik Rali, biar si Erhan sama Tara. Takut diperkosa gue." Aleya menarik Ralio bangkit dan berjalan menuju motor lelaki itu yang diikuti oleh Erhan dan Tara.


"Inget. Lo bakal nikah sama gue gimana pun cara nya. Persetan sama si Genta, karna dia sendiri tau siapa yang dia butuhin." Ucap Ralio pada Tara sebelum ia menjalankan motor nya dan pergi mengantar Aleya pulang.


***


Di kediaman Adhitama, Genta terduduk sendiri di atas kasur kamar. Ia membaca novel yang tadi ia beli, ia masih tak menyangka novel itu sungguh menarik. Bagaimana tidak menarik, cerita si toko persis sama dengan apa yang terjadi padanya dan Lesta.


Tentang masa lalu si toko utama, orang-orang terdekat, hingga orang ketiga di masa lalu yang datang menggoyahkan hubungan mereka. Hanya saja nama tokoh dan latar tempat pastinya tidak sama.


Ia sudah membaca lebih dari setengah buku, dan itu cukup meremas dadanya. Ia jadi teringat kembali semua kenangan dengan Lesta. Dari awal pertemuan tanpa rasa, hingga lama-lama terbiasa dan cinta datang tanpa terpaksa.


Namun ia benar sangat bodoh, bisa-bisanya melupakan istri yang tulus tanpa ada tipu daya apapun dalam dirinya. Ia terus membaca hingga akhir cerita novel itu. Sad ending. Karna si tokoh utama pria tidak sadar akan perasaan sebenernya pada tokoh utama wanita. Ia lebih memilih orang ketiga dari masa lalu yang ia anggap cinta namun hanya sekedar obsesi. Si tokoh utama pria itu sadar dan menyesal setelah mendengar kabar jika si toko wanita telah hidup bahagia dengan kakak kandung si tokoh utama pria. Penyesalan selalu diakhir jika di awal nama nya pendaftaran bukan?


Genta teringat sesuatu. Terakhir kalinya ia mendengar kabar Lesta masuk rumah sakit, Arfand sangat membela istrinya itu dari pada ia adik kandungnya. Apa jangan jangan?? Genta langsung sedikit berlari keluar kamar dan menuruni tangga untuk menemui Arfand yang sedang berbincang dengan keluarganya yang lain diruang tengah.


"Mas Arfand ga jatuh cinta sama Lesta kan? Jawab mas!" Sarkah Genta tepat didepan wajah Arfand.


"Apa-apan sih dek." Arfand memundurkan tubuh Genta dari hadapan wajahnya.


"Mas jawab jujur. Mas ga korneringan di tikungan tajam kan? Mas gue ini ya gini-gini adik lo, lo jangan maen tikungan dong." Genta menunjuk wajah Arfand yang langsung di tepis oleh kakak nya itu.


"Lo makin gila." Ucap Arfand acuh.


"Ya bagus dong, naek ranjang. Berarti tandanya itu cowo ga bisa buat bahagia cewenya." Timpal Arfand tak kalah.


"Tapi gue bisa bahagiain Lesta! Gue bisa buat di tersenyum! Gue bisa tuh ngeproduksi anak kembar sama dia!" Genta menaikan nada bicaranya tak ingin kalah.


"Kalo kak Lesta bahagia, ga mungkin tuh orang tuanya bawa pergi jauh. Mana ngirim surat gugatan cerai mulu tiap minggu." Rafa membalas dengan datar dengan jawaban yang membuat Genta seketika terdiam.


"Gue ga mau kaya tokoh utama pria di novel itu. Novel itu hampir sama persis sama hidup gue dan Lesta. Gue ga mau berakhir sad ending dengan Lesta naik ranjang sama mas Arfand." Lirih nya sambil menundukkan kepala.


"Percaya sama novel, dasar musrik lo." Ucap Rafa sinis.


"Lo mau tau kondisi Lesta?" Tanya Arfand membuat Genta langsung mengangkat kepala nya. "Cari kedua sahabat gesrek lo dan mantan pacar lo. Mereka tau tentang Lesta, tapi gue ga bisa gapai informasinya. Mereka nutup semua akses. Mungkin karna mereka masih marah sama lo yang terakhir berantem di sini."


"Semenjak libur kuliah seselasi, mereka ga pernah masuk kelas mas." Genta kembali menundukkan kepala nya.


"Seengganya coba lo berusaha. Gue yakin mereka tau kunci buat ngelurusin masalah rumah tangga lo ini."


Genta hanya menganggukan kepala. Mengambil novel yang tadi sempat ia lempar pada Arfand dan berjalan kembali menuju kamar untuk berfikir keras.


***


Inggris.


Lesta masih terbaring dengan selang-selang untuk menopang hidupnya. Kondisi nya cukup membaik saat Riza bawa berobat di inggris. Tapi masih saja, Lesta di fonis koma.


Si kembar Al kondisinya cukup membaik dan sudah tidak memerlukan inkubator. Tadinya Adhisti meminta agar si kembar di simpan dirumah saja daripada dirumah sakit, tidak baik untuk bayi. Namun Riza bersikeras tidak mengizinkannya, ia berfikir setidaknya jika ada si kembar disamping Lesta kondisinya akan semakin membaik.


Adhisti sering kali membiarkan si kembar untuk tertidur disamping Lesta saat mereka rewel, yang ajaibnya langsung berhenti menangis jika adhisti lakukan itu.


"Sei sayang, liat anak kamu benar-benar mirip ayahnya. Benar kata kamu nak, mereka sangat tampan. Bukan kah kamu ingin mengendong mereka? Cepat bangun sayang. Albaransyah dan Alcalandra membutuhkan mu." Ucap Adhisti setiap malam dan selalu sama. Tak henti mengajak putri nya bicara meski sama hasilnya tak mendapatkan apapun.


Ia pun mencium pelan kening Lesta dan berdiri hendak menuju kamar sebelah untuk beristirahat. Namun langkahnya terhenti saat sesuatu terasa menyentuh jari tangannya. Ia membalikkan badan dan tak menyangka Lesta membuka mata nya dengan tetesan air mata keluar dari pelupuk mata. Ia langsung memencet tombol yang terletak di dekat tepian ranjang.


"Sei sayang bangun?" Lesta mengedipkan mata pertanda iya. "Anak mamah udah sadar? Alhamdulillah nak. Apa ada yang sakit? Pusing? Mual? Pegal? Lapar? Atau apa? Bilang sama mamah nak." Adhisti berbicara tak henti karna bahagia melihat Lesta yang akhir nya sadarkan diri. Tak lupa ia menelfon Riza untuk cepat datang kerumah sakit karna putri mereka telah sadar.


Tak berselang lama dokter dengan beberapa perawat datang untuk memeriksa kondisi Lesta, yang ternyata memang membaik dan hanya membutuhkan perawatan berkala saja menurut pemeriksaan. Adhisti sangat senang dan memeluk Lesta kuat. Anak nya kembali membuka mata, dan selang-selang penopang hidupnya telah dilepas selain infus.


"Sei sayang nya mamah." Ucap Adhisti pelan setelah melepaskan pelukan nya.


"Aku udah berapa lama tidur mah?" Tanya Lesta dengan suara yang pelan.


"1 bulan lebih sayang." Jawab Adhisti lembut.


"Anak aku mana mah?"


"Ada di kamar sebelah. Mereka udah pada tidur, besok mamah bawa kesini ya."


"Genta mana?" Tanya Lesta lagi bertepatan dengan pintu yang terbuka menampakkan tubuh Riza yang langsung berlari menghampiri dan memeluknya kuat.


"Sei sayangnya papah udah kembali. Sei nya papah sayang nya papah." Ucap Riza setelah melepaskan pelukan nya dan menangkup wajah Lesta penuh.


"Genta mana pah?" Tanya Lesta pelan pada Riza yang langsung membuat Riza langsung melepaskan tangan nya lalu merebahkan tubuh Lesta untuk tidur.


"Aku tanya pah, mana Genta?" Tanya Lesta lagi tak menyerah.


"Sekarang tidur ya nak." Ucap Riza mengelak.


"Aku tanya dimana Gen--"


"Mati! Dia sudah mati! Jangan harap buat bertemu dengan nya lagi karn--"


"Kalo Genta beneran mati lalu untuk apa aku bertahan? Aku bertahan dan kembali karna Genta menuntun aku untuk kembali pah! Aku sudah hampir mengikuti cahaya putih namun Genta berlari menghampiri aku dan berkata ia membutuhkanku. Kedua anak kami membutuhkan bundanya. Genta bilang pada Sei dia berjanji akan berubah pah. Tolong temukan aki dengan Genta. Dia suami aku. Haram hukumnya bagi istri yang menelantarkan suaminya." Ucap Lesta panjang dengan air mata yang mengalir cukup membuat hati Riza tersentil.