TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 19



"Ge?" Panggil Mira pelan saat sampai di kamar Genta.


"Apa mah?" Jawab nya tanpa memalingkan wajah nya dari depan laptop.


"Lagi ngapain? Mau berangkat kuliah?" Mira duduk disamping Genta dan memperhatikan putra nya itu yang sedang fokus dengan tugas kuliahnya.


"Ini ngerjain tugas. Dosen nya ga masuk jadi suruh ngerjain tugas by email."


"Terus kamu mau kemana rapih gini? Biasa nya juga langsung ganti lagi baju pas tau dosen ga masuk" Mira mengelus pelan puncak kepala Genta.


"Mau jalan sama Tara. Dia pingin nonton film yang baru tayang banget hari ini." Genta tersenyum pada Mira, namun Mira diam tak merespon malah menurunkan tangan nya dari puncak kepala anak nya itu.


"Ganti baju sekarang. Ga usah pergi!" Perintah Mira sambil menarik tangan Genta untuk berdiri.


"Kenapa sih mah? Genta cuma mau jalan sama Tara, mau nonton film doang." Genta mulai menolak dengan melepaskan cekalan tangan Mira dan kembali terduduk kembali fokus pada laptop.


"Kita masih belum tau kabar nya Lesta, tapi kamu sudah main dibelakang nya? Baru 1 bulan Genta, tapi kamu sudah berani seperti ini?" Suara Mira mulai serak menahan rasa sesak di dada.


"Percuma. Di cari kemana pun ga akan pernah kembali. Cuma Tara yang selalu ada buat aku, nerima segala kekurangan aku, selalu mengerti aku. Ga kaya orang-prang dirumah ini. Semua nya ga ngerti kemauan aku seperti apa." Genta menutup laptop dan menaruh nya di atas nakas sembari mengambil dompet,hp, dan kunci motor milik nya. "Genta pergi dulu. Assalammualaikum."


Mira terdiam di tempat melihat Genta bukan seperti anaknya yang ia lahir kan ke dunia ini. Menepuk nepuk dada nya pelan Mira berjalan keluar kamar berniat menemui Arfand. Ia cukup merasa gagal mendidik salah satu anaknya itu.


"Mas?" Panggil Mira saat sampai ditaman belakang.


"Apa mah?" Jawab Arfand yang sedang fokus dengan laptop dan tablet milik nya dipinggir kolam renang.


"Udah dapet?" Mira duduk dikursi samping meja , bersebrangan dengan Arfand.


"Belum. Si Ralio sama si Erhan juga susah banget dihubungi sama di temuin. Aleya juga sama. Mereka masih ada disini, tapi ga tau ada dimana jejak nya bener-bener ga bisa di cari sama anak buah nya papah." Arfand meletakkan tablet nya dan menatap Mira mengelus tangan nya pelan. "Kita berdo'a ya mah, semoga cepet dapat kabar" lanjut nya yang dibalas anggukkan oleh Mira.


***


"Lo yakin han?"


"Yakin lah Ral. Lo gimana? Yakin ga sama gue?"


"Gue yakin dan percaya sama lo"


"Oke sekarang kita mulai buat sadar dulu si Genta, baru urusan kak Lesta." Ucap Erhan yang balas anggukkan oleh Ralio dan Aleya.


"Gue masih ga nyangka kita bakal sekongkol gini." Ucap Ralio sambil menggeleng gelengkan kepala nya.


"Gue juga ga nyangka. Tapi kita saling menguntungkan bukan?" Aleya tersenyum remeh menatap dua orang yang sedang duduk menyantap makanan tak jauh dari meja mereka berada.


"Tapi lo beneran udah insap kan? Awas lo, nanti tetiba rebut si Genta pas udah balik lagi ama kak lele" Ralio menyubit tangan Aleya pelan namun sakit membuat sang empu merengis ingin melempar Ralio ke jalan tol.


"Insyaf **** bukan insap." Aleya menjeda ucapan nya dan menatap Erhan. "Gue beneran udah ga berniat buat ngerebut si Genta. Sekarang yang gue mau cuma ngebuat si Genta sadar dan ngejauhin sejauh jauh nya dari Tara."


"Oke, kita mulai besok rencana nya. Sekarang, kita pantau dulu." Final Erhan yang dituruti oleh Ralio dan Aleya dalam diam.


Mereka bertiga sekarang sedang berada di salah satu mall untuk mengikuti Genta dan Tara. Sebenernya sejak kejadian perdebatan Genta dengan mereka, Erhan dan Ralio sepakat akan menghindar dulu dan mencari tau segala hal untuk mensadarkan Genta.


Awal nya Erhan dan Ralio tidak berniat untuk bekerja sama dengan Aleya. Hanya saja, saat 2 minggu lalu tepat saat mereka sedang mengikuti Genta dengan Tara yang sedang makan malam di sebuh caffe ujung kota. Mereka berdua bertemu dengan Aleya yang memang sedang melakukan hal yang sama.


#**SpinOn


Ralio dan Erhan duduk berjarak beberapa meja dari tempat Genta dan Tara duduk. Mereka menyamar sebisa mungkin agar tak disadari keberadaannya oleh kedua insan yang mengaki sahabat tapi kelakuan lebih kaya rasa pacar.


Erhan dan Ralio sedang anteng menyantap pesanan dengan fokus masih menatap kedua objek yang saat ini sedang saling melempar tawa. Erhan merasa ada sesuatu yang memerhatikannya. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru caffe, gotcha. Disisi berlawanan dan masih berjarak beberapa meja ia melihat seorang wanita yang juga sedang menatapnya tajam. Erhan mengacuhkan, kembali fokus memperhatikan Genta hingga mereka beranjak dan pergi daei caffe.


Erhan berjalan berdampingan dengan Ralio hendak memasuki mobil menyusul Genta yang sudah pergi lebih dulu, namun gerakan mereka terhambat oleh Aleya yang kini sudah berdiri dihadapan mereka dengan tatapan tajam.


"Lo ngapain disini?" Tanya Aleya ketus.


"Lo ngapain disini?" Ucap Erhan dan Ralio bersamaan membalikan pertanyaan Aleya.


"Gue nanya ke lo pada curut!" Aleya mulai Gemas padahal ia baru melontarkan sebuah kalimat tapi emosinya sudah terpancing.


"Gue juga nanya ke lo" Ucap Erhan datar.


"Awas dah kita ketinggalan jejak kalo gini!" Ralio mencoba menyingkirkan Aleya dari hadapannya namun wanita itu tetap terdiam ditempat.


"Kalian ngikutin si Genta juga?" Tanya Aleya mendapat anggukan dari Erhan dan Ralio bersamaan.


"Lo juga?" Tanya Erhan yang juga mendapat anggukan kepala dari Aleya.


"Tujuan kalian apa?" Tanya Aleya menelisik wajah mereka berdua. Tau jika Erhan dan Ralio kesal pada dirinya karna kehilangan jejak Genta, Aleya tekekeh kecil "Tenang aja, anak buah gue ada yang ngikutin dan mantau mereka ko jadi tenang aja kalian ga usah resah gitu. Sekarang jawab gue, tujuan kalian apa?" lanjutnya*


"*Tujuan kita mau mantau mereka dulu buat nyari cara nyadarin Genta dari obsesinya itu. Sebenernya kita itu sadar kalo Genta terbiasa dengan Tara sampai mereka punya rasa memiliki yang kuat. Mereka punya rasa dimana ga rela kalo ngeliat salah satu dari mereka punya pasangan selain mereka padahal mereka hanya sahabat. Dan sekarang kita udah jengah karna mereka kelewatan." Jelas Ralio membuat Aleya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Kerja sama gimana?" Tawar Erhan.


"Simbiosis mutualisme aja. Deal?" kali ini tawar Ralio. Aleya melirik mereka satu persatu hingga akhirnya menerima uluran tangan Erhan dan Ralio.


"Deal"


#SpinOff*


"Mas Arfand masih nyari tau tentang kita Ral?" Tanya Aleya tanpa mengalihkan fokus.


"Masih. Belum jera dia." Dengan mulut penuh makanan, Ralio mengambil botol air mineral dan meminum nya hingga menghabiskan setengah."Sebenernya gue kesian, tapi gimana ya. Masih pingin merhatiin dulu itu si gentayangan." Lanjutnya sambil memasukkan kentang goreng ke mulut nya.


"Kemarin hampir ngebobol tuh mas Arfand. Untuk nya alarm nyala, jadi gue kunci gandain tuh sistem informasi." Timpa Erhan.


"Gue juga terus-terusan di teror. Tapi mau gimana lagi." Aleya menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi dan menghela nafas pelan.


"Cabut!" Ucap Ralio tiba tiba namun Erhan dan Aleya mengikuti dan paham kemana arah tuju Ralio.


Genta dan Tara sudah selesai menyantap makanan dan sekarang memasuki toko buku di mall itu. Berjalan dari satu rak ke rak lain. Membuka dan membaca isi buku yang menurut nya cukup menarik membuat 3 orang yang menjadi detektif dadakan itu menyebar di titik titik yang berbeda.


"Gen, liat ini novel nya keren banget romantis deh" Suara Tara terdengar manja pada Genta.


"Beli aja Tara, nanti Gen yang bayar"


"Ga usah. Aku juga punya uang kok wleee"


"Dasar hahaha" Genta tertawa renyah.


Aleya yang berada di rak sebelah mengepalkan tangan nya kuat menahan emosi. Saudara nya masih belum sadarkan diri di negara asing, sedangkan Genta bisa bisa tertawa bersama wanita lain. Benar benar harus diruqyah sama ustadz 7 gunung.


"Yang ini sedih ge cerita nya, baca deh sinopsis dibelakang buku"


"Benar cinta?? " Genta bergumam membaca judul novel yang Tara sodorkan tadi.


Genta membaca sinopsis nya dibelakang buku. Tak lama ia menyobek plastik pelindung dan membaca bagian awal novel dengan serius. Sedikit tercubit hati nya karna awal cerita itu hampir sama dengan awal ia bertemu dengan Lesta.


Menutup novel itu dan mengambil Hp dari saku celana nya. Ia menyenderkan tubuh nya ke rak buku dan membuka galeriĀ  melihat lihat foto lama ia bersama Lesta. Hati nya teremas sesak merindukan istri nya itu.


Ia berjalan menuju kasir untuk membayar novel itu. Ya ia membeli nya untuk membaca lebih lanjut. Setelah membayar ia langsung berjalan keluar mall dan pergi pulang. Tanpa sadar ia melupakkan Tara yang masih asik mencari cari novel.


Ralio yang gercep melihat genta berjalan menuju kasir pun mengikuti setiap langkah nya dengan jarak aman. Dan terus mengikuti Genta hingga rumah tanpa lupa mengabari Erhan dan Aleya yang masih memeperhatikan Tara.


"Ge udah yu semua nya udah dap-- Gen. Genta? Genta?" Tara membalik badan tak menemukkan Genta , berjalan menyusuri setiap rak dan memanggil Genta namun tak juga ia menemukkan. Menyimpan semua buku yang ia dapat di atas tumpukkan buku lain nya, lalu mendial nomor Genta namun tak juga diangkat.


Merasakan firasat tak enak, ia berlari keluar menuju basement mencari Genta ke tempat ia memarkirkan motor tadi. Namun saat akan melangkah ke parkiran motor, sebuah mobil berhenti didepannya dan tiba-tiba ada yang menarik tangan nya kencang memasuki mobil itu. Mulut nya di bekap oleh tangan lain sedangkan tangan nya terkunci kuat.


Erhan dan Alyea yang mengikuti Tara pun berniat mengubah haluan rencana. Dengan menelfon Ralio memberitahu rencana baru, ia bergegas berlari duluan mengcengkram tangan Aleya menuju basement. Memasuki mobilnya lalu melaju menuju Tara.


Erhan membuka pintu mobilnya otomatis dan langsung saja Aleya yang duduk dikursi belakang menarik tangan Tara paksa masuk. Menutupi mulutnya agar tidak berteriak dan mengunci tangannya ke belakang merupakan hal gampang untuknya.


Aleya melepaskan tangannya dari mulut Tara saat mereka sudah keluar dari basement dan mejauh dari mall.


"Kalian ngapain nyulik aku?" Tanya Tara.


"Laga lo nyulik. Cuma mau nyidak lo doang." Aleya menyenderkan punggung nya ke kursi dan melipat kedua tangannya didada. "Ga usah hubungi Genta. Ini urusan kita." Aleya mengambil hp Tara dan melemparnya ke depan yang langsung Erhan tangkap dan ia simpan di atas dashboard.


"Cukup diem kalo lo mau urusannya cepet selesai." Erhan menatap Tara dingin melalu kaca spion membuat Tara langsung terdiam memalingkan wajahnya menatap kaca.


Tak ada suara apapun yang keluar dari mereka bertiga selama perjalanan. 20 menit, mereka sampai di tempat tujuan. Danau sedikit tengah kota, namun cukup sepi. Ralio sudah berdiri disamping danau dengan tatapan kosong.


Erhan berjalan menghampiri tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Tara. Menepuk pelan pundak temannya itu membuat sang empu menengok dan langsung membalikkan badannya.


"Lo cukup tau apa yang bakal kita lakuin disini Tara." Ralio melangkah berhadapan dengan Tara. "Udah cukup lo mempengaruhi Genta. Sekarang waktunya lo berhenti. Istri dan anaknya lebih butuh dia dari pada lo."


"Ga. Genta cuma butuh aku. Udah cukup aku pergi dari dia, sekarang waktunya aku dan dia bersama." Tara menolak dan mencoba melepaskan pegangan tangannya dari Erhan.


"Semakin lo lepas, semakin sakit yang lo rasain" Tara langsung terdiam menatap Erhan jengah.


"Mau nya kalian tuh apa sih! Ga cukup kalian ngambil perhatian Genta selama ini?! Dan kamu ga cukup apa dulu pernah ngerebut Genta dari aku hah?! Jawab!" Tara membentak mereka bertiga sambil menunjuk wajah mereka bergantian.


"Ngerebut lo bilang? Status lo sama Genta itu apa gue tanya? Sahabat! Ga lebih! Hak gue buat pacaran sama Genta, lo ga berhak apapun tentang hidupnya Genta." Balas Aleya.


"Genta itu sayangnya sama aku. Genta itu cintanya sama aku bukan sama kamu!" Tara menaikkan nada bicaranya semakin tinggi, membuat Aleya ingin menamparnya namun Ralio cepat menahan.


"Ga ada kekerasan disini Aleya." Ralio menunjuk wajah Tara. "Kecilin nada bicara lo, kita bicarain semua baik baik." Ralio menarik tangan Tara yang satunya lagi dan teruduk diatas rumput dan di ikuti yang lainnya.


"Sekarang gue tanya lo baik baik Tara. Alasan lo kembali apa? Gue tau lo selalu mantau Genta dari sana. Harusnya lo tau Genta baik baik aja tanpa lo, bahkan dia udah punya keluarga kecil nya sendiri. Kalo lo sayang sama Genta, lo lepasin obsesi cinta sepihak lo." Ucap Ralio sangat lembut Membuat Tara mendongkakan kepalanya menatap Ralio. "Ungkapin apa yang mau lo ungkapin. Gue tau lo sadar kan kalo lo sama Genta itu cuma saling obsesi dan ga rela kalo ada orang lain ngengantiin posisi kalian?"