
"Tapi ini ga ada 1, kayanya ketinggalan dimobil tolong cek." Jawab Genta.
"Baik, saya coba hubungi sup--"
"Langsung aja cari sana ambil, ga usah nelfon nanti makin lama. Sana lari, saya tunggu." Genta memotong ucapannya pria itu dan mendorong tubuhnya yang dituruti oleh anak buah Riza dan berlari menuju mobil.
"Anak papah lapar? ah iya papah juga lapar belum makan ya nak. Pak beliin saya makanan yang disana tuh yang diujung tempat makanan khas asia." Titah Genta sambil menyodorkan uang pada anak buah Riza yang masih berdiam.
"Tunggu teman saya ya tuan."
"Keburu mati saya kalo gitu, cepet beli ya saya mau lontong ayam karet dua." Genta mendorong anak buah Riza untuk pergi yang terpaksa ia turututi berlalu pergi namun sesekali melihat ke arah Genta dan Lesta berdiri.
"Mau duduk sayang?" Tanya Genta pada Lesta yang dijawab gelengan. "Kalo ga mau udah kita
langsung aja skuy." Lesta tersentak kaget saat Genta yang dengan gercep menarik Lesta untuk Checkin bersamanya, jangan lupakan sikembar yang sudah berada ditangan Genta.
"Ge--"
"Sssttt... Kamu sama si kembar aman ko untuk aku bawa pulang, tenang ga pake kelas ekonomi. Kita pakai Jet pribadi punya papahnya Erhan yang kebetulan lagi ada disini dan mau balik ke indo hari ini bareng kita. Ngikut aja ok." Ucap Genta yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Lesta.
***
Kedua anak buah Aguriza datang bersamaan, yang satu membawa tas hitam dan yang satu membawa sekresek makanan. Mereka saling pandang dan melihat sekeliling, seingatnya nona dan tuan nya berdiri ditempat kini mereka berdiri.
"Tadi mereka masih disini sekarang kemana? Kamu darimana bukannya tadi kamu yang jaga mereka?" Tanya penjaga yang tadi diminta untuk mengambil tas.
"Tadi mereka masih disini, aku diminta tuan muda untuk membeli mak--- holyshit kita ditipu!" Teriak yang satunya saat sadar jika mereka bisa-bisanya dengan gampang dibodohi anak kecil seperti Genta. Caaaahhh anak kecil? Yang ada mereka seperti anak kecil dengan gampang ditipu.
"Terus sekarang gimana? Balik?" Tanya yang satunya.
"Kita cari aja dulu sekeliling, kalo ga ada kita balik dan laporan ke bos."
Mereka berpencar mencari Genta serta Lesta, namun sialnya saat bertanya ke salah satu penjaga ternyata Genta membawa Lesta ke Indonesia bersamanya. Bisa habis mereka berdua oleh Aguriza. Dengan terpaksa mereka akhirnya pulang, dengan tak henti berdo'a karna kecolongan anak kesayangan bosnya yang berhasil digondol ke Indonesia oleh menantu brondongnya itu.
Sampai di depan pintu apartemen mereka saling mendorong satu sama lain untuk maju terlebih dahulu menghadap Riza. Namun tak lama terdengar suara dan pintu terbuka lebar menampilkan wajah Afarel yang dibelakangnya ada Riza beserta yang lain. Mereka menunduk saat mendapati Riza menatap mereka. Walau berat hati mereka memberanikan diri mengangkat kepala.
"Bb-bo-bos" Ucap salah satu dari mereka terbata.
"Ada apa? Dimana Lesta?" Tanya Riza langsung membuat mereka terpatung.
"Maaf bos kita kecolongan, nona muda dib--"
"Maksud kalian apa? Kalian kecolongan anak saya? Anak saya dibawa kabur sama si bocah?!" Tanya Riza dengan nada mulai meninggi dan semakin geram saat mendapat anggukan dari mereka berdua.
"Sial! Ingin mati apa itu bocah sialan!" Tariak Riza kesal membuat mereka yang berada disitu terlonjak kaget. "Cari tau kemana bocah itu membawa anak saya sekarang!!"
"Nona muda dibawa ke Indonesia bos" Jawab anak buah Riza yang kali ini sukses membuat Riza geram.
"Apa kalian bilang? Indonesia? SUDAH GILA APA SI GENTA BAWA ANAK SAYA KE INDONESIA!! BENAR-BENAR INGIN MATI DIA!!" Riza masuk kedalam apart diikuti oleh Adhisti, yang sebelumnya meminta anak buah nya untu kembali berjaga dan untuk ibu serta Afarel pamit pulang. Kini hanya Riza dan Adhisti di apartemen.
"Pah kamu mau ngapain? Yang sabar, percuma ditelfon juga udah flight mereka." Ucap Adhisti lembut.
"Menghubungi besan!" Jawab Riza ketus.
Riza tak henti menelfon Rehan hingga panggilan ke 49 baru diterima oleh Rehan membuat Riza langsung mencercahnya tajam. Menunggu adalah salah satu hal yang Riza benci.
"Saya menelfoni anda sejak tadi kenapa baru diangkat? Anda punya anak gila atau memang tidak punya akal? Sialan tuh anakmu membawa Lesta kembali ke Indonesia. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada mereka? Apa anakmu benar-benar tidak memiliki otak?! Anak ku baru keluar dari rumah sakit! Cucuku masih sangat kecul! tapi si bocah tengil dengan entengnya membawa mereka ke Indonesia! Apa yang kalian beri pada nya hingga memiliki otak sangat sempit, tidak berfikir panjang. Sungguh ini rasanya aku ingin ngebunuh itu anak kamu yang udah kurang ajar nya bawa anak saya kabur......................" Riza terus membeo mengungkapkan kekesalannya kepada Rehan. Sedangkan Rehan yang merasa kupingnya sudah pengang hanya menloudspeaker agar terdengar juga oleh Mira- istrinya. Mereka berdua tak mengerti bagaimana Riza terus mengumpati anaknya hingga 45 meni lamanya. "Kamu mendengarkan atau tidak Rehan?!" Teriak Riza mengembalikan fokus Rehan.
"Saya mendengarkan anda Riza. Sekarang gini saja, biar semua urusan disini saya yang menyelesaikannya saat mereka sudah kembali. Anda disana sedang mengurus bisnis kan? Selesaikan dulu baru anda kembali jika sudah selesai." Jawab Rehan mencoba tenang.
"Ya sudah, kabari saya jika ada sesuatu!" Tanpa mengucap salam Riza mematikan panggilan sepihak dari sana. Sedangkan di Indonesia Mira dan Rehan saling pandang berdebat menyalahkan satu sama lain atas sikap Genta yang nekad dan bodoh entah menurun dari siapa.
***
"Hai om." Sapa Genta pada lelaki paruh baya yang sedang terduduk disalah satu kursi dalam pesawat itu.
"Hai Ge, hai cantik." Balas pria itu sambil mengedipkan matanya pada Lesta.
"Om, istri aku ini jangan digoda. Laporin Erhan tau rasa." Ucap Genta membuat Pria itu terbahak.
"Yang ada juga kamu om laporin, maksa nebeng balik ke indo mana nyuruh ini itu segala ke om. Kualat kamu jadi temennya anak om." Ketus Rajata pada Genta yang hanya dibalas gelak tawa Genta.
"Monmaap om hehe." Jawab Genta sambil mengangkat jadi telunjuk dan jari tengah nya membentuk V padaRajata.
"Udah-udah sana duduk, kasian istri kamu. Inget, kita ga langsung ke indo. Kita bakal transit dibeberapa tempat biar anak kamu ga kenapa-kenapa. Di balik pintu itu ada kamar, pake aja buat istri kamu istirahat." Tunjuk Rajata pada pintu diujung yang diangguki saja oleh Genta.
Genta membawa Lesta beserta twins Al menuju kamar yang tadi Rajata bilang untuk istirahat. Setelah mengantarkan istri dan anaknya, Genta kembali menghampiri Rajata untuk berbincang seputar bisni Radea Group yang akan diwarisi oleh temannya, Erhan Radea.
Sedikit cerita, Rajata Radea adalah ayah dari Erhan sahabat lucknutnya Genta. Pemimpin dan
pemilik Radea Group yang berjalan diberbagai bidang. Hanya memiliki anak 1, Erhan. Rekan bisnis nya Rehan Raysa Adhitama, Papahnya Genta. Rehan dan Rajata seumuran.
Berbelas-belas jam akhirnya mereka sampai di indonesia. Dengan wajah sumringah Genta menggiring koper mereka, sedangkan Lesta mendorong stroller sikembar. Untung nya sikembar hanya rewel sebentar saat dipesawat, jadi mereka tidak kewalahan. Menyetop taxi, mereka mulai berlalu menuju kediaman Adhitama. Lesta tertidur dalam taxi, sedangkan Genta tak henti berdo'a semoga sampai rumah masa depannya tidak dipotong habis oleh orang tuanya karna nekat membawa pulang istri dan anaknya itu. Sepertinya predikat gila sudah mulai Genta sandang mulai saat ini.
*****
"Siapa pah?" Tanya Mira.
"Mungkin anak durhaka kita sudah sampai, yuk kita kasih sedikit cubitan." Rehan berjalan tergesa yang diikuti oleh Mira.
Benar, taxi yang ditumpangi Genta sudah sampai, kini mereka bisa melihat dari tirai jendela jika anak kedua nya itu sedang menarik nafas seperti berdo'a. Rehan menarik tangan Mira untuk ikut bersembungi dibalik pintu agar Genta tidak bisa melihat mereka saat masuk.
"Ge.." Panggil Lesta sambil menatap Genta yang berdiam diri didepan pintu belum juga melangkahkan kaki untuk masuk.
"Sstt... Bentar, nyiapin mental dulu." Ucap Genta pelan.
"Bismillah, yuk masuk." Genta menarik koper yang diikuti Lesta dibelakang sambil mendorong stroller si kembar.
Dreeekkkttt.
Genta membuka pintu perlahan, dan menyumbulkan kepalanya menelisik sekitar rumah. Tidak ada orang, ia membuka pintu lebih lebar sambil tersenyum. Namun baru satu langkah masuk, ia mendapat pukulan dikepalanya.
"Sakit woy sakit elaaaahhh!" Teriak Genta karna pukulan dikepalanya itu tak kunjung berhenti. Lesta yang berada dibelakangnya meringis ngeri, menatap Genta yang dipukuli oleh ke dua mertuanya.
"Mah, pah udah. Kasian Genta." Ucap Lesta melerai, yang untungnya kedua mertuanya itu berhenti menatap jengkel pada anak keduanya itu.
"Mah, pah!" Rengek Genta tak terima saat mengetahui jika kedua orangtuanya itu yang dari tadi menyiksa dirinya.
"Yuk masuk sayang." Ucap Mira, menarik Lesta kedalam sedangkan sikembar dibawa oleh Rehan.
"Bawa tuh koper!" Ketus Rehan sambil menendang koper milik anaknya itu.
Genta hanya memberengut kesal akan tingkah kedua orangtuanya itu. Dengan misuh-misuh Genta menarik semua barang miliknya menuju kamar dilantai 2, tanpa memperhatikan jika anak dan istrinya tidak dibawa kelantai 2. Sampai didepan pintu kamar, ia membuka dan langsung memasukkan semua barangnya dipinggir kasur. Merebahkan badannya diatas kasur sambil memejamkan mata, Genta teringat kenapa kamarnya sepi padahal tadi istri dan anaknya berjalan lebih dulu.
Bangun dan bergegas ke lantai bawah sambil meneriaki istrinya, tepat diujung tangga ia mendapat lemparan sendal dari papahnya yang berdiri sambil bertolak pinggang. Genta hanya memanyunkan bibirnya sambil mengusap pelan lengannya yang sakit karna lemparan Rehan. Sambil membawa sendal, Genta berjalan menghampiri papahnya itu dan menyerahkan sendal dengan cepat lalu berlari bergegas menuju kamar kedua orangtuanya.
"Mah kenapa Lesta sama si kembar dibawa kesini sih." Rajuk Genta.
"Hukuman buat kamu. Tidur sendiri selama 1 bulan sana, kurang ajarnya bawa cucu mantu mamah ke indo tanpa bilang siapa-siapa. Kamu fikir kita ga tau? Otak pinternya pake jangan g b l k terus dong." Ucap Mira sambil mengendong Albar dengan mata memelototi Genta. "Sana balik ke kamar! Istri sama anak kamu biar istirahat sama mamah disini, kasian mereka masih jetlag." Lanjutnya.
"Sayang." Panggil Genta mesra berjalan menghampiri Lesta yang terduduk diujung kasur, namun baru tiga langkah bajunya tertarik kebelakang. Siapa lagi pelakunya kalo buka Rehan.
"Balik ke kamar sekarang sama papah!" Ucap Rehan sambil terus menarik kerah baju Genta keluar kamar.
"Paahhh, Genta mau nyusu dulu sama Lesta lah masa sikembar mulu dari kemarin. Kan Genta juga
mau." Rajuk Genta mencoba melepaskan diri beberapa kali.
"Kamu itu udah besar udah ga butuh nyusu. Nyusu aja sama bangkong sana." Tolak Rehan, sambil terus menarik Genta yang sekarang memeluk tembok enggan keluar kamar.
"Papah kaya yang ga pernah nyusu sama mamah aja. Genta juga mau sama Lesta!" Genta menaikan nada bicaranya.
"Papah mah baik jadi suami dan menantu jadi minta nyusu kapan aja juga dikasih ga kaya kamu pecicilan mana ga tau diri lagi ditambah begonya sampe tulang!" Rehan tak kalah menaikan nada bicaranya.
"Tapi pah--"
Plak,plak plak,plak.
"Aish."
"Aaaw." Ringis Rehan dan Genta bersamaan saat Mira memuluk lengan mereka dua kali.
"Kaya anak kecil aja ngomongin nyusu. Sana pergi kekamar sekarang! Ganggu cucu sama mantu aku istirahat aja!" Mira memarahi kedua pria yang berbeda usia itu, membuat kedua nya berlomba-lomba lari langsung menuju kamar dilantai 2.
"Gara-gara kamu nih!" Rehan menunjuk Genta yang saat ini menidurkan dirinya dikasur.
"Kenapa aku? papah lah yang salah!" Balas Genta tak terima.
"Kamu yang salah! kamu itu papah sekolahin tinggi-tinggi biar jadi anak pinter bukan anak gila!" Rehan membaringkan tubuhnya disamping Genta.
"Hahahahahaha" Genta tertawa kencang membuat Rehan sedikit bergidik ngeri. Sepertinya ia harus membawa Genta ke psikiater.
"Gila!" Ketus Rehan membuat tawa Genta semakin kencang.
"Pah pah pah tau ga??" Tanya Genta setelah menghentikan tawa gilanya itu.
"Gak!"
"Aku yakin sekarang papahnya Lesta lagi mencak-mencak disana hahahahah"
"Kamu tau??" Tanya Rehan sedikit Geram mendengar ucapan anaknya itu. Sudah melempar batu eh sembunyi kandang. Genta yang berulah malah Rehan kena cercah Riza, kan dia jadi kesal telinganya penang mendengar umpatah Riza untuk anak tergilanya itu.
"Papah mertua nelfonin papah dan mengumpati Genta kan??? wkwkw Genta udah tebak pasti kaya gitu. Papah udah ke THT belum? itu telinga kudu diperiksain siapa tau budeg." Santaynya Genta berucap membuat Rehan Refleks bangun dan berdiri bertolak pinggang menatap anak keduanya itu.
"Besok urusin hotel yang di dago atas! Ga ada penolakan! Kartu kredit papah blokir mulai sekarang!" Ujar Rehan ketus sambil berlalu keluar dari kamar membuat Genta terduduk menatap kepergian papahnya merana.
"Paaaaaaahhhhhhh!!!" Teriak Genta frustasi. Kesalahan apa yang ia perbuat hingga mendapat kesialan ini ya allah. Genta anak baik rajin menabung tapi banyak orang yang dzolim. Lanjutnya dalan hati.
Genga kembali merebahkan tubuhnya, ia lelah sangat lelah karna sudah melakukan perjalanan panjang dan ia berharap bisa istirahat bermanja ria dengan istrinya malah dapat sial. Sudah istri dan anaknya disabotase, sekarang apa kata Rehan tadi? mengurus hotel? Tugas kuliah saja masih numpuk bagaimana dengan mengurus hotel Genta belum sanggup ya allah. Kalo tugas mengurus Lesta, Genta sanggup yakin sanggup apalagi tiap malem bayarannya yang iya nan mantap-mantap, eh astagfirullah. Genta memejamkan matanya menjemput mimpi daripada terbangun tapi memikirkan hal yang mantap, kan tersiksa sendiri karna Lesta masih dalam proses pemulihan.