
"Itu bukan datang bulan pa, tapi pendarahan ringan yang ibu alami akibat terlalu banyak aktivitas dan fikiran. Saran dari saya ibunya lebih baik dirawat dulu untuk dapat di pantau lebih intensif kondisinya, dan harus bedrest kurang lebih 2 minggu. Jika si ibu terlalu banyak aktivitas yang berat,kelelahan dan banyak berfikir saya tidak jamin janinnya bisa bertahan dengan kondisi yang saat ini lemah. Jadi selama bedrest kita berusaha untuk memberi vitamin penguat imun dan janin" Penjelasan sang dokter cukup memberi sentilan pada ulu hati Genta. Mengapa ia bisa ceroboh hingga tak sadar gejala-gejala perubahan Lesta yang menunjukkna pertanda orang hamil.
"Aah. Yaudah biar saya urus administrasinya dulu dok untuk rawat inap, terima kasih" ucap Genta berlalu menuju bagian administrasi untuk mengurus segalanya.
Kaget dan tak percaya yang ia rasakan sekarang. Bagaimana bisa sekarang ia sudah menjadi calon ayah di usia nya yang 19 thn ini? Dan apa tadi si dokter bilang? Calon anak nya lemah? Bhaaaahhh lelucon apa ini 😌 jika lesta kelelahan dan terlalu banyak berfikir anak nya akan pergi? Bukankah itu yang tadi dokter katakan padanya??
Termenung, genta baru sadar bagaimana bisa lesta kelelahan karna selama 1 bulan ini ia selalu bersama dengannya di setiap aktivitas yang dilakukan. Banyak fikiran? Mungkin kah? Tapi apa yang ia fikirkan sampai membuat kondisi nya lemah dan tak sadar kalo ia berbadan dua? Apa tentang kedua orang tua nya yang benar-benar mengusir dan tak mau menganggapnya lagi sebagai anak?? Atau ia tau jika ia hamil dan berfikir tentang masa depan nya? Arrggghhh. Entah lah semua nya terlalu membingungkan dan rumit.
***
Terduduk merenung sendirian di kursi lorong rumah sakit, Genta masih engga untuk mendatangi keluarga dan temannya yang menunggu diruang inap Lesta. Ya Lesta sudah masuk ruang rawat VIP yang akan menjadi tempatnya istirahat dalam kurun waktu seminggu atau 2 minggu kedepan.
Sejak 1 jam yang lalu saat ia menghubungi keluarga untuk memberitahu perihal kondisi Lesta, hingga 30 menit keluarganya sampi diruang inap tak ada niatan Genta untuk bertemu mereka semua. Masih terlalu rumit fikiran Genta untuk mencerna keadaannya saat ini. Tanpa memperdulikan getaran di saku celananya yang terus bergetar tiada henti pertanda berkali-kali orang disebrang sana mencoba menghubunginya namun ia tetap diam dalam fikirannya sendiri. Hingga--
"De, lo dari tadi disini?"
"Euh?" Respon Genta kaget dan bingung bagaimana bisa Arfand duduk disamping nya dan kapan ia datang. Entah lah.
"Lo dari tadi disini? Semua nya nyariin lo" Tanya Arfand ulang.
"Heem"
"Kenapa? Lo kaget? Bingung? Ga percaya? Atau apa?"
"G-ggue masih belum bisa nyerna semua nya mas. Gue tau gue udah milih jalan ini yang pasti nya gue udah tau resikonya. Tapi, gue masih ragu" jawab Genta lirih dan ragu sambil menunduk kepala nya semakin dalam.
"Ragu? Karna apa lo ragu? Bukan nya lo sendiri yang bilang sama Lesta kalo dia cukup percaya sama lo? Tapi lo sendiri ga percaya sama diri lo? Bhaaahhh gimana lo mau jadi bapa hm?"
"Darimana lo tau gue bilang gitu ke dia?"
"Lesta tadi bilang, lo sendiri yang bilang ke dia cukup percaya sama lo kalo semua nya akan baik-baik aja. Tapi lo ga nunjukin diri lo dari tadi? Bahkan kata temen lo, lo pergi sejak ngurus administrasi!" Ucap Arfand dengan sedikit penekanan diakhir karna jujur dia kesal saat Ralio berbicara seperti itu kepada dirinya bila Genta tak kembali sejak pergi mengurus administrasi.
"Gue ragu buat ngejalin hubungan lagi mas. Oke katakan gue ini pecundang cuma gara-gara masa lalu gue jadi ragu buat jalin hubungan lagi, tapi ini bukan pacaran ataupun sahabatan mas ini nikah hubungan yang sakral dihadapan tuhan. Gue takut ditinggalin untuk yang kesekian kalinya" Lirih Genta sambil menundukkan kepala.
"Yakinin diri lo, gue yakin lo bisa lo adik gue dan gue yakin lo bukan pecundang. Kalo jodoh ga akan ada yang namanya salinh ninggalin, yang ada juga pasti saling mengikat satu sama lain"
"Gue harus gimana???" Frustasi Genta menenggelamkan wajah nya diantara lutut nya yang ia angkat ke atas kursi sambil megacak rambut nya kasar.
"Tanggung jawab ge. Itu juga anak lo"
"T-ttapi mas , gue ragu"
"Jangan banyak tapi ge. Cukup percaya sama diri lo kalo lo bisa. Sekarang kita kembali keruangan Lesta, dia bener-bener nungguin lo kalo urusan mamah sama papah, mereka udah paham jadi nyerahin semua nya ke lo"
Arfand merangkul bahu Genta berjalan beriringan menuju ruangan Lesta. Sampai didepan pintu ruangan ia berkali-kali menarik nafas nya berharap beban yang kini berada dipundaknya sedikit berkurang. Membuka pintu perlahan sambil mengucapkan salam, ia menghampiri kedua orang tuanya dan menyalami tangan mereka. Berjalan dan duduk disamping brankar Lesta, tersenyum sambil mengusap tangan nya lembut. Genta meyakini hatinya percaya apa yang ia lakukan benar. Genta mulai berbicara dengan lesta tentang apa yang terjadi dan apa yang akan ia lakukan ke depannya nanti. Yang pasti tentang per tanggung jawaban nya.
1 bulan dari sekarang Genta akan menikahi Lesta dan bertanggung jawab sepenuh nya. Meski awal nya semua orang menolak dan beberapa kali beradu argumentasi perihal waktu ia akan menikahi Lesta terlalu lama. Tapi Genta tetap lah Genta dengan segala keputusan yang ia pilih, pasalnya ia ingin mengurus semuanya sendiri dengan pernikahan sederhana yang hanya didatangi kerabatnya.
Lesta? Ia hanya bisa setuju tanpa bisa menolak karna bagaimana pun anak yang ia kandung membutuhkan ayah nya bukan? Tapi ada satu hal yang mengganjal dihati nya. Orang tua. Yang langsung Genta pahami ke inginannya melihat raut wajah Lesta. Genta mengenggam tangan Lesta erat meyakinkannya bahwa ia akan berusaha membawa restu kedua orang tua nya untuk menikahi ia 1 bulan dari sekarang.
Yang pasti jalan mereka berdua sejak hari itu tidak lah mudah, terutama Genta yang harus berfikir untuk mendapatkan restu Riza yang notabene nya memiliki pendirian yang kuat. Genta harus bersiap-siap untuk menghadapi malaikat maut ia - Riza papahnya Lesta.
***
"Perjuangan tak akan pernah mengecewakan hasil, sekalipun kamu harus melewat badai ataupun jalanan terjang"
-Gentara-
***
Sudah terhitung 1 minggu Genta tak henti datang ke kediaman Riza, tapi yang ia dapatkan selalu sama yaitu penolakan dan pengusiran. Tapi ia tak menyerah dan selalu mencoba untuk berbicara baik-baik. Pasalnya saat kemarin Genta mulai jengah, ia berbicara pada Lesta untuk menikahinya tanpa restu orang tua, bukan hal baik tapi malah hal buruk yang terjadi kondisi nya ngedrop efek memikirkan perihal orang tuanya yang masih enggan untuk berbicara ataupun bertemu. Sumpah Genta mulai bingung dengan situasi saat ini, benar-benar ia ingin dilempar ke pluto saat ini juga rasanya.
Sore di hari rabu yang mendung , Genta datang kembali ke kediaman Riza. Berdiri di depan pintu coklat yang menjulang,mengetuknya sopan dan terus mengucapkan salam meski tak ada sautan dari dalam padahal ia tau kedua orang tua Lesta dan para asisten rumah tangga ada di dalam.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Entah sudah yang ke berapa kali Genta mengetuk pintu dan mengucapkan salam hari itu sampai tak sadar jam sudah menunjukan pukul 19.33.
Ingin menyerah dan pulang, tapi ia tak bisa mengingat kondisi Lesta saat ini. Sampai.
Krek krek krek. Suara kunci berputar 3 kali dan pintu dibuka oleh salah seorang asisten rumah tangga yang kalo ga salah bi mar nama nya. Ia dipersilahkan masuk dan ditunggu di ruang tengah oleh Riza dan Adhisti, ya itu lah yang bi mar katakan pada nya. Berjalan pelan-pelan masuk tak lupa mengucapkan salam, ia melihat 2 orang paruh baya duduk disofa dengan mata menatap tajam pada nya. Tidak, tidak mereka berdua hanya Riza saja yang menatap tajam sedangkan Adhisti menatapnya sedikit iba namun tersenyum lembut walau sangat kecil tapi Genya bisa melihatnya. Dengan sopan Genta menghampiri keduanya menyalimi tangan mereka sopan. Dan duduk di sofa single depan mereka.
"Belum menyerah huh?!" Ucap Riza sarkas pada Genta sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Ada hal yang harus saya bicarakan dengan anda" jawab Genta sopan. Meski dalam hati ia banyak mengumpat dan mencoba menyabarkan hati nya.
"Apa yang harus dibicarakan? Memohon minta restu? Bukan kah kamu sendiri yang bilang tidak memerlukan restu saya?"
"Iya ingin nya saya begitu, tapi beda dengan anak anda. Ia ingin menikah dengan restu kalian berdua"
"Untuk apa restu kami? Nikahi saja, dia sudah bukan anak saya"
"Tapi ikatan darah tak bisa diputuskan begitu saja. Ga ada yang namanya mantan anak ataupun mantan orang tua. Saya kesini karna keinginan putri anda. Putri anda yang meminta saya bicara baik-baik dengan anda"
"Tapi dia sudah kur--"
"Dia tidak pernah kurang ajar kepada om atau pun tante, tapi dia memilih jalan yang ia pilih sesuai kata hati. Pada nyatanya ia tau meski om bilang jika ia hamil anak saya anda akan menerima pertanggung jawaban saya, tapi om akan tetap menolak pertanggung jawaban saya dengan alasan om bisa megurus nya. Saya tau om meyayanginya, sangat dan saat pertama kali nya ia mencoba memilih jalan yang tidak sesuai dengan keinginan anda, anda kecewa. Saya tau setiap hari om dan tante memantau Lesta di kampus sampai kemarin pun saya tau jika om dan tante melihat interaksi saya dan Lesta di ruang inap melalu kaca bukan??"
Hening. Riza tak ada niatan untuk menjawab karna yang diucapkan Genta membuat nya skakmat. Tentang ia yang memantau dan selalu memerhatikan Lesta benar ada nya, hanya saja Lesta tidak sadar dan malah Genta yang menyadari gerak gerik nya. Bagaimanapun jiwa orang tua mereka tak luput hilang, karna Lesta anak mereka meski mereka kecewa mereka tak ingin terjadi hal-hal buruk pada anaknya itu yang saat ini tak ada disamping mereka.
"Om hanya belum bisa melepas putri om untuk menikah, om belum siap jika putri kesayangan om satu-satu nya hidup dan memiliki keluarga sendiri bukan? Saya tau itu berat buat om, tapi saya benar benar minta sama om untuk bersikap seperti biasa saja kepada Leta. Om boleh benci saya tapi tidak dengan anak dan calon cucu om"
"Saya tidak yakin kamu bisa bertanggung jawab kepada Lesta dengan benar" Ucap Riza sedikit sendu.
"Jangan hanya melihat sesuatu dari cover nya om. Om belum tau saya di dalam seperti apa, percaya sama saya kalo saya bisa bertanggung jawab dan menjadi imam yang benar untuk Lesta. Anda hanya cukup memberi saya restu dan kepercayaan, semuanya akan berjalan dengan lancar dan sesuai harapan jika anda percaya."
"Apa saya harus percaya??"
"Harus om, percaya itu penting"
"Sekarang kamu bisa pulang silahkan"
"Om say--"
"Kamu bisa pulang sekarang, apa kamu tidak dengar? Apa sekarang kamu menjadi tuli huh?"
"Tapi---"
"Apa perlu saya panggil satpam untuk mengusir mu seperti biasa?"
"Oke saya pulang. Tapi om harus tau, kondisi putri anda sekarang sedang lemah. Bukannya membaik tapi memburuk, saya dan keluarga sudah menjaga dan menghibur nya untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting. Tapi ia tetap saja memikirkan kalian berdua. Anak saya dan cucu om yang ada dikandungan Lesta rentan sekali keguguran, jika kondisi nya terus-terusan seperti ini. Apa om tega melihat cucu om yang baru berusia 1 bulan dalam kandungan pergi mendahului kita tanpa sempat melihat dunia? Jika itu keinginan om silahkan lanjutkan pendirian keras om silahkan lanjutkan ego nya om. Jangan sampai menunjukkan diri apalagi bersedih jika hal itu terjadi. Saya permisi. Wassalamualaikum"
ucap Genta tegas berlalu meninggalkan Riza yang termenung mendengar apa yang Genta ucapkan sedangkan Adhisti setia dengan keterdiamannya dengan air mata yang mulai luruh di wajah.
Genta berjalan menuju mobilnya dengan rahang mengeras menahan amarah. Sial, yang daritadi keluar dari mulutnya. Bagaimana ia bisa berbicar seperti itu? Bagaimana jika itu menjadi benar. Bagaimana jika calon anak yang mulai ia sayangi pergi mendahuluinya? Hei sebrengsek-brengseknya ia tak ingin jika anaknya pergi mendahului dirinya, apalagi jika belum sempat melihat dunia. Dunia ini memang kejam dan keras untuk bayi kecil tapi dunia ini juga indah. Anaknya harus melihatnya, berbahagia bersama dengan ia dan Lesta.
Genta mengacak rambutnya asal sebelum memasuki kursi kemudi, keluar dari pekarangan dan pergi menjauh dari kediaman Riza. Ia melirik jam tangan sudah menunjukkan 20.01 menit. Ia ingin menemani Lesta, tapi tadi mamahnya sudah mengirim pesan jika ia dan Rafa yang menunggu Lesta malam ini. Jadinya, ia memutar haluan menuju Rumah. Yang pasti hanya akan ada Arfand dan Rehan.
Beberapa menit berkendara ,Genta sampai rumahnya. Membuka pintu dan duduk disamping Rehan yang menatapnya sedih. Rehan hanya bisa merangkul pundak anaknya sedangkan Arfand yang terduduk disofa samping mereka hanya melihat tanpa niatan menghentikan.
"Gimana nak?" Tanya Rehan lembut setelah beberapa meni terdiam melihat Genta lebih tenang.
"Entahlah pah." Jawab Genta sambil berlalu pergi menuju kamarnya mengabaikan papah dan kakanya itu.