TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 23



Mereka menaiki taxi untuk menuju apartemen. Apartemen yang memang sengaja disewa Riza selama mereka menetap di inggris. Awalnya Genta bersikukuh ingin membawa Lesta langsung ke indonesia, namun na'as ia malah mendapatkan pukulan dari semua pria yang ada diruangan itu. Kata mereka sih Genta kelewat gila. Bayi masih merah dan istri baru sadar dari koma malah mau dibawa naek pesawat. Mending kalo dekat, lah ini Inggris-Indonesia ga kaya Jakarta-Bali bro butuh berbelas-belas jam diatas awan.


Untuk Ralio, Erhan, Aleya,dan Tara mereka sudah kembali ke indonesia kemarin. Mereka tidak menghabiskan banyak waktu diingris karna masih banyak tugas yang harus mereka selesaikan jika tidak ingin mengulang materi. Ralio dan Erhan tidak seperti Genta, mereka masih ingin lulus tepat waktu. Sedangkan Aleya dan Tara terpaksa karna diancam oleh Ralio dan Erhan. Ya kedua sahabatnya itu masih agak sensi jika membiarkan kedua wanita itu berdekatan dengan Genta tanpa pengawasan mereka. Bukan apa-apa sih cuma ya antisipasi aja, tapi beda dengan Ralio yang beralasan takut gagal nikah.


Sampai di Apartemen mereka disambut oleh Riza dan Adhisti yang langsung mereka salami tangan keduanya. Genta memindahkan Alca kegendongan Adhisti, ia memindahkan dan membereskan barang-barang kedalam kamar. Setelah selesai ikut bergabung dengan yang lainnya didepan tv ruang tengah. Genta duduk disamping Lesta.


"Heh bocil kapan balik ke indo?" Tanya Riza sinis yang dibalas tatapan datar Genta tak terima dipanggil bocil padahal dia sudah dewasa terbukti menghasilkan anak kembar dengan bibit unggul.


"Kemarin mau balik kan sama pahmer ga boleh, yaudah ga jadi." Jawabnya santai sambil memainkan ujung rambut Lesta yang tergerai panjang.


"Ya ga boleh lah kemarin kamu ngajak anak dan cucu saya juga, ga sadar apa mereka baru keluar dari rumah sakit. Cucu saya juga masih kecil gitu." Balas Riza judes.


"Bulan-bulan kemarin juga pah mer bawa istri sama anak saya naek pesawat dari indo-jepang-inggris padahal lagi koma dan baru berojol hoyaaaa pah mer juga salah kalo gitu." Genta mengambil Albar dari gendongan Lesta untuk ia gendong.


"Ge jangan gitu ah." Bisik Lesta tepat ditelinga Genta.


"Apa bunda? Ayah ga salah bicara, kan itu fakta." Jawab Genta dengan senyum lebar yang lesta tau itu dipaksakan.


"Dasar bocah tengil kurang waras, balik ke indo sana kerjain semua tugas kuliah jangan sampai ngulang materi kamu. Saya ga mau punya mantu telat lulus jadi sarjana!" Riza bangkit dan berlalu ke kamar kesal dengan tingkah Genta.


"Nak Genta, Papah cuma pingin nak Genta tetep kuliah karna disini Lesta dan si kembar ada kami yang jaga jadi ga usah khawatir. Toh sekitar 1 atau 2 bulan lagi juga udah bisa pulang ke indo." Ujar Adhisti sangat lembut membuat Genta tak tega untuk membantah.


"Genta pulang sabtu nanti mah mer. Masih mau disini dulu bentar sama si kembar." Genta tersenyum tipis menatap Adhisti yang dibalas senyuman juga olehnya sebelum pergi berlalu menyusul Riza dan menyerahkan Alca pada Lesta.


"Maksud papah itu baik loh ge, ga mau kamu ngulang materi biar cepet lulus juga kan. Aku cuma butuh 1 sampai 2 bulan aja waktu pemulihan dan menunggu si kembar lebih cukup umur untuk naik pesawat dengan resiko yang kecil." Lesta mengelus pelan tangan Genta yang sedang mengendong Albar yang tertidur. "Aku pasti pulang ke indo dan balik lagi kerumah. Yang harus nya khawatir disini tuh aku loh karna disana kamu bisa aja ketemu banyak wanita penggoda, tapi aku harus percaya dan cukup bersabar menunggu waktu."


"Tapi--"


"Ge percaya aja ya, kita masih bisa vidcall tiap hari walau perbedaan jam." Genta tersenyum dan mengecup bibir Lesta singkat.


"Iya. Aku sabtu pulang kok. Papah sama mas Arfand ngechat mereka butuh aku buat ngelola hotel, karna papah mulai buka cabang lagi dibeberapa tempat. Jadi aku harus pulang."


"Uluuhhhh suami aku udah mulai dewasa ya, udah mau bantu papah sama mas Arfand ngelola hotel." Lesta menjuil idung Genta pelan.


"Kepaksa!" Genta mendengus dengan bibir yang sengaja dimanyunkan membuat Lesta tak kuasa mengeluarkan tawa kencang membuat Alca yang ada digendongannya menangis dan Albar yang tertidur terbangun menangis tak kalah kencang dengan Alca karna kaget dengan tawa kencang Lesta. Melihat itu Lesta langsung berhenti tertawa, menyusui Alca dan Albar bersamaan agar berhenti menangis lalu tertidur.


"Ayah mau ikutan nyusu dong double Al." Rengek Genta tak terima melihat aset milik  Lesta diambil alih kedua anaknya.


"Ge!" Tegus Lesta melihat Genta dengan jailnya menjauhkan wajah Alca dari payudara Lesta membuat sang anak kembali menangis.


"Pingin nyusu juga sayaaaanggg." Rengek Genta manja.


Dugh.


"Aww aish sapa sih yang--"


"Saya yang lempar. Pulang sana ke indonesia jangan ganggu cucu dan anak saya!!" Riza berdiri didepan pintu kamar memegang satu buah sepatu pasangan dari sepatu yang tadi ia lempar tepat ke kepala genta.


"Pah mer ga asik!" Genta terduduk dilantai sambil menyebikkan mulutnya mengumpati sang papah mertua dalam hati. Lesta hanya terkekeh dengan tingkah Genta. Suaminya itu sudah menjadi Ayah tapi tetap saja menggemaskan seperti anak kecil.


"Udah punya anak dua masih aja bocah!" Sindir Riza melihat tingkah menantunya itu.


"Bodo amat lah pah mer semerdekanya papah mertua aja dah, menantu yang baik hati ini cuma bisa diem saat dinistakan oleh mu!" Balas Genta membuat Adhisti yang melihat pertikaian kedua pria itu menahan tawanya.


"Udah lah mas sama menantu ko kaya gitu, udah yu masuk aja kita istirahat." Lerai Adhisti selanjutnya menarik Riza kembali kedalam kamar.


"Mau ke kamar?" Tanya Genta yang dibalas anggukan kepala oleh Lesta. Mereka berjalan masuk kedalam kamar dan tak lupa Genta menguncinya agar tak bisa diganggu oleh papah mertuanya itu.


Bukan berfikiran buruk pada Riza, tapi apapun yang berhubungan dengan Riza itu selalu buruk kepada dirinya. Papah mertuanya itu selalu berfikir negative padanya, tidak salahkan kalo diajuga ada fikiran buruk? Bukan bala dendam hanya saja antisisapi eh antisipasi duh Genta Genta.


Genta, berjalan ke balkon melihat pemandangan kota Inggris yang mungkin akan dia rindukan jika ia sudah kembali ke Indonesia. Inginnya lebih lama tapi bagaimanapun ia harus kuliah dan jangan sampai ketinggalan banyak materi. Ia tak ingin mengulang dan mendapat olokan dari kedua sahabat bangke nya itu. Membalikkan badan, ia melihat Lesta yang sedang mengajak ngobrol anak mereka. Terlihat sangat lucu, meski Genta beritahu beberapa kalipun Lesta tetap akan mengajak ngobrol anak mereka meski tidak akan mendapat jawaban. Katanya sih biar anaknya cepat bisa bicara, tapi Genta tau bayi yang hampir akan menginjak usia 3 bulan tidak akan cepat bicara kecuali beoan beoan khas bayi yang biasanya hanya dimengerti oleh ibu nya.


Drrrttt. Drrrttt.


Genta mengambil hp pintarnya yang bergetar dalam saku, ia melihat ada sebuah pesan yang langsung ia buka dan sungguh membuat hatinya bahagia. Lihat saja papah mertuanya kali ini akan kesal setengah mati, yups Genta akan membalas perbuatan menyebalkan papah mertuanya yang main seenak kolor supermen membawa istri dan anaknya pergi. Dengan senyum merekah Genta berjalan masuk menghampiri Lesta dan memeluknya mesra.


***


Kini Genta sedang menatap Lesta yang menatapnya dengan raut wajah marah, bagaimana tidak 2 jam lagi ia akan pulang ke indonesia tapi ia enggan menyiapkan diri  dengan selalu memeluk si kecil Alca dalam gendongannya yang tak ia  turunkan sejak pagi buta. Jengah dengan sikap suaminya itu, Lesta  berlalu menuju kamar untuk membawa semua barang yang akan Genta bawa  pulang.


"Pulangnya entaran aja  ya minggu depan ya ya yaa?? Masih mau sama si kembar akunya sayang."  Genta menidurkan Alca disamping Albar dan merajuk pada Lesta.


"Pulang sekarang atau cerai aja sekalian?!" Riza berdiri didepan pintu apart.


"Pah mer mah ga asik! Jangan deket-deket sama mantu yang tampan ini, nanti ketularan ga asik, payah!" Gerutu Genta berlalu masuk kedalam kamar dan bersiap diri.


"Sebuah kesialan seumur hidup kamu nak bisa berjodoh dengan bocah tengil itu." Riza duduk disofa sambil memainkan hp nya yang ia keluarkan dari saku jas mahal miliknya.


"Mamah mana pah?" Tanya nya pada Riza.


"Ketemu sama temen lama tadi di loby, bentar lagi juga na--"


"Waaaahhh Lesta? benar Lesta anak tunggal kamu itu Adhisti? udah cantik ya udah dewasa duuuhhh tante kangen." Ucap wanita yang usianya tak jauh berbeda dengan Adhisti yang datang-datang membuat bising sambil berlalu memeluk Lesta.


"Iya tante." Jawab Lesta lembut.


"Udah nikah belum? Afarel masih jomblo tuh katanya nungguin kamu ya kan nak?" Tanya nya pada laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah khas asia sambil tersenyum padanya. Ia Afarel teman masa kecilnya, yang dulu tinggi mereka sama namun sekarang terlihat jelas sudah lebih tinggi walau Lesta yakin tingginya masih dibawah Genta.


"Apa kabar Lesta?" Tanya Afarel sambil menghapiri Lesta dan memeluknya pelan.


"Baik, Afa gimana kabar?" Tanya Lesta balik.


"Baik juga, dan hati ini juga masih dengan baik nunggu kamu kok." Afarel tersenyum lembut pada  Lesta membuat Riza tersenyum licik saat melihat Genta berdiri didepan pintu kamar.


"Nak Afarel udah jadi dokter kan? mau lamar Lesta gak? sini om pasti kasih ka---"


"GAK! Lesta udah punya suami. Lelaki perebut bini orang sana aja minggir ke laut selatan berteman dengan iguana dan menjalin cinta dengan ikan piranha!" Genta berjalan cepat dan memeluk posesif Lesta dari belakang.


"Ge jangan gitu ah." Tegur Lesta.


"No no no no no. Aku ga jadi pulang ke indo kalo ada cowo lain yang nungguin kamu disini." Genta terduduk disamping Riza yang menatapnya nyalang.


"Balik ga?" Ucap Riza pada Genta yang dibalas gelengan kepala. "Tanda-tangan surat ce--"


"Ayo sayang kita ke bandara sekarang, nanti ketinggalan pesawat." Genta berdiri memotong ucapan Riza yang dalam hati mengumpati mertuanya itu. Memeluk pinggang Lesta erat dan mendorong Stroller si kembar berjalan keluar dari apart.


"Ini barang mau dibuang aja atau dibakar heh BOCAH?" Teriak Riza membuat Genta menghentikkan langkahnya dan melirik tajam.


"Bawain lah pah mer kali-kali baek sama mantu yang tampan, baik hati, rajin menabung,dan tidak sombong ini." Jawab Genta masih berdiri ditempatnya meski mendapat sebuah cubitan dari Letsa tak membuat Genta melangkah.


"Kurang ajar memang bocah tengil, awas aja kalo di indonesia saya pastikan Lesta berpaling dari kamu." Riza meminta anak buahnya yang berdiri didepan apart untuk membawakan barang-barang milik Genta.


"Assalamualaikum pah mer, mah mer, dan kalian semua yang berada diruangan ini. Jangan rindu dengan si tampan nan menggemaskan ayahnya Albaransyah Arrayan Adhitama dan Alcalandra Arrayen Adhitama. Bye bye" Ucap Genta yang berlalu menarik pinggang Lesta dan mendorong stroller si kembar.


"Anak saya mau kamu bawa kemana heh?" Riza bangkit dan mengejar anak serta mantunya itu.


"Pah, aku cuma mau nganterin Genta ke bandara. Nanti balik lagi kok." Lesta pamit dan salam pada orang tua serta ibu dari Afarel yang masih ada disitu. Mereka berlalu pergi dari unit Apart menuju bandara, meski ada 1 jam lebih namun Lesta yakin akan banyak drama yang Genta lakukan agar tidak jadi pulang.


"Suaminya Lesta om?" Tanya Afarel pada Riza.


"Iya nak, lebih muda 2 tahun ya jadi gitu hehe masih agak kekanakan tapi sekarang udah lebih dewasa dari awal bertemu." Adhisti yang menjawab bukan Riza.


"Aku kira belum sold out, Afarel mau aku nikahin dengan dia tadinya dhis." Ucap mamah Afarel.


"Iya nih telat Afarel nya keduluan sama Genta hehe." Jawab Adhisti yang berlanjut percakapan


ringan diruangan itu yang sesekali Riza pun ikut bergabung, tanpa mereka sadari Genta sudah merencanakan sebuah rencana yang pastinya akan membuat kedua mertuanya itu geram. Namun gimana lagi ya rencananya udah bulat dan matang sih wkwk sudah Genta katanya ia akan membalas Riza? Ini lah saatnya.


Didalam mobil Genta terus tersenyum tidak terlihat raut sedih seperti saat diapart tadi namun Lesta tak ambil pusing ia lebih memilih bermain dengan Albar. Beberapa menit mereka sampai dibandara, namun saat supir menurunkan barang-barang ia sedikit bingung karna seingatnya tadi saat berangkat hanya membawa 2 koper milik Genta tapi kenapa 2 koper miliknya dan 1 tasbesar yang Lesta tau milik sikembar pun ikut dikeluarkan dari bagasi.


Kapan ia menyimpannya dalam bagasi? Saat akan bertanya pada suami brondongnya itu, ia sudah lebih dulu ditarik oleh Genta karna barang-barang sudah dikeluarkan semua dan dibawa oleh anak buah papahnya. Ia mendorong stroller si kembar dengan kebingungan ini. Sampai dipintu Checkin, Genta mengecek semua barangnya lengkap atau tidak.


"Pak ini tas saya ga ada 1, ketinggal dibagasi ga? tas gendong warna hitam loh." Ucap Genta pada salah satu anak buah Riza.


"Tapi semua sudah dikeluarkan tuan muda." Jawabnya sopan.