
"Gue duluan" Ucap Genta pada Erhan dan Ralio tak menghiraukan Aleya dan berjalan melanjutkan jalan nya menuju motor.
"Ge, tunggu" Aleya mencekal tangan Genta yang membuat Genta berhenti tanpa melirik sedikitpun pada Aleya.
"Lo tuh kuman, jauh-jauh dari Genta" Ucap Erhan sambil menyingkir kan tangan Aleya pada tangan Genta.
"Gue mau ngomong sama Genta, bentar doang han" cicit Aleya.
Drrt. Drrrtt. Drrtt.
HP Genta yang ia genggam bergetar pertanda satu panggilan masuk yang langsung genta angkat pangilan itu
My Wife is Calling .
"Assalamualaikum yang"
"......"
"Ini baru mau pulang ko sayang" Ucap Genta mesra berbincang dengan Lesta di telfon sambil melirik sinis pada Aleya.
"......"
"A-apa yang? Coba ulang"
"......."
"Ekhem, besok aja gimana?" Ujar Genta sambil membalikan badan nya mengahadap pada Erhan dan Ralio.
"......"
"Besok aja yah? jan--" Ucapan Genta terpotong oleh ucapan mamah nya disebrang sana yang langsung mengambil alih Hp Lesta.
"Istri ngidam lumpia basah telor 3 spesial sosis sama baso aja kamu ga mau nyariin ge? anak nya ileran nanti mampus kamu ge."
Tut. Mira mematikan sambungan nya sepihak.
"Ral, Gue bantu lunasin hutang lo ke Erhan. dan lo han, gue bantuin tugas lo yang belum kelar" Ucap Genta menatap Erhan dan Ralio yang sudah tau maksud dibalik kata-kata Genta itu, apalagi kalo bukan meminta bantuan mereka.
"Lesta minta Lumpia basah pake telor 3 spesial sosis sama baso juga" ujar Gnta lagi.
21.58 Erhan melirik arloji di tangan kanan nya, menghela nafas pelan dan meilirik Ralio mereka berdua menganggukkan kepala pelan pertanda Oke. Genta tersenyum pada mereka berdua , setidak nya jika ditemani mereka Genta tidak sendirian diluar malam begini seperti orang gila mencari makanan yang sudah sangat sulit ditemukan apalagi malam begini.
"Lesta sei milanda?" Ucap Aleya pelan sambil memandang Genta yang langsung dibalas tatapan oleh ketiga pria yang berada disitu.
"Lesta Sei Milanda? Anak nya Om Aguriza Prahera dan tante Adhisti Kasih?" tanya Aleya lagi.
Genta hanya mengangkat satu alis nya memandang aleya tajam. Tau maksud dari tatapan Genta, Aleya terkekeh pelan dan menunjukan senyum smirk nya.
"Dia, sodara aku, mamah aku adik nya tante adhisti" Ucap Aleya datar tapi cukup membuat genta sedikit kaget. Sebenarnya ia sudah tau dari Erhan dan Ralio saat dirumah sakit waktu itu, hanya saja tetap saja kaget saat dengar langsung dari Aleya.
"Sa bodo" Ucap Genta acuh, dan berajalan menajuh dari Aleya yang diikuti oleh Erhan dan Ralio.
"Gue pastiin lo balik lagi ke gue Ge!" Decih aleya.
***
Mereka bertiga sedang berkeliling kota mencari pedagang Lumpia Basah. 3 jam mereka berkeliling, akhir nya mereka menemukan apa yang di cari.
"Mang, meser 1 special pake telor 3 ,sosis sama baso" ucap Genta.
"Antosan nya jang, sok calik heula" jawab pedagang lumpia itu.
(Tunggu ya mas, silahkan duduk dulu)
"Mang, anak ganteng ini juga beli 1 yang special ya telor nya 1/4 kg biar kenyaaaanggg" ucap Ralio pada pedagang itu.
"Bener 1/4 kg jang?" Tanya nya kepada Ralio yang membuat Ralio mendapat pukulan ringan dari Erhan.
"Porsi biasa aja pa 2 porsi, jangan dengerin dia" ucap Erhan.
"Siap Jang" jawab nya sambil mengacungkan jempol nya.
"Kalian beli pig?" Tanya Genta pada kedua teman nya yang sudah duduk santai disamping nya.
"Lapar ge" jawab mereka bersamaan.
Genta hanya menghela nafas nya lelah. Ia juga lapar kenapa ia tidak pesan juga? .
"Mang 1 deui nya yang spesial oge" ucap Genta pada pedagang.
(Mang 1 lagi ya yang spesial juga)
"Duh jang, tos se'ep iyeu bahan na ge. Panye'epan nu 2 porsi pesenan terakhir" jawab nya pada Genta yang langsung membuat Erhan dan Ralio tertawa mengejek.
(Duh mas, sudah habis ini bahannya juga. Penghabisab buat 2 porsi pesenan terakhir)
Shit, sabar perut dirumah nanti makan banyak. Ucap Genta dalam hati sambil mengelus perutnya yang lapar.
Beberapa menit berlalu dan pesanan mereka sudah siap. Genta membayar semua pesanan nya karna ke dua teman laknat nya itu langsung ngacir ke motor masing-masing setelah mengambil kresek lumpia basah pesanan mereka yang masih panas itu.
20 menit, mereka sampai di halaman kediaman Adhitama. Genta berjalan terlebih dahulu yang diikuti kedua teman nya itu. Membuka pintu perlahan melihat seisi rumah yang sepi dan lampu dibeberapa tempat sudah dimatikan. Menghela nafas kasar pasti semua sudah tidur fikir nya.
Berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil minum dan piring untuk wadah lumpia yang akan ia bawa ke kamar. Tapi langkah nya terhenti saat melihat seseorang tertidur dalam keadaan duduk dimeja makan dengan kepala tertunduk diatas meja.
Mengusap kepala pelan, Genta duduk disamping orang itu. Menyuruh Ralio mengambilkan piring tanpa suara hanya dengan mimik yang untung nya Ralio mengerti itu. Sedangkan Erhan, sudah duduk didepan Genta dengan santai memerhatikan Genta yang masih terus mengusap kepala orang disamping nya dengan sayang.
"Eung" Lesta terbangun.
"Jangan tidur disini, nanti badannya pada sakit" Ucap Genta lembut.
"Udah pulang Ge?" Bukan menjawab, Lesta malah balik nanya kepada Genta sambil mengucek mata nya polos lugu seperti anak kecil.
"Udah, kalo ngantuk tidur dikamar"
"Ketiduran ge, nungguin kamu"
"Yaudah sekarang tidur lagi gih, dikamar yuk aku anterin"
"Kenapa?" Tanya Genta sambil memiringkan sedikit kepala nya.
"Lumpia nya mana ge? Telor nya 3, pake sosis sama baso juga" Lesta menyodorkan tangannya tanda ia meminta pesanan yang ia tunggu-tunggu.
"Lo ketiduran disini bukan nungguin si Genta kak?" Tanya Ralio.
"Nungguin lumpia Rali" jawab Lesta polos. Ralio dan Erhan sudah tertawa terbahak melihat jawaban polos Lesta dan wajah kesal Genta.
"Genta fikir sayang lupa" ucap Genta sambil memberikan seporsi lumpia ke depan istri nya itu.
"Engga lupa kok malah ditunggu-tunggu sampe ke mimpi" Lagi dan lagi Ralio dan Erhan tertawa mendengar jawaban polos Lesta.
Lesta berdiri mengambil sesuatu dan kembali dengan sepiring makanan ditangan nya. Menyimpan piring itu didepan Genta.
"Kamu pasti belum makan ge, ini aku tadi siapin buat kamu"
"Makasih sayang" ucap Genta sambil mencium kening Lesta kilat.
Sepiring kentang goreng, 3 potong ayam goreng bumbu lada hitam, dan 2 pcs sosis bakar. Genta melirik Erhan dan Ralio dengan seporsi Lumpia basah. Tersenyum miring pada mereka yang langsung mendapat dengusan kesal ke dua teman nya itu. Orang sabar mah dapet nya juga beda haha, rezeki calon ayah yang soleh. Ucap Genta dalam hati.
Mereka menyantap makanan bersamaan yang pastinya tetap saja Genta kesal karna hanya dirinya yang memakan makanan berbeda dan kedua sahabatnya itu terus menggoda dirinya dengan lumpia yang menurut mereka enak, bahkan Lesta pun sampai mengucapkan sangat enak. Tapi saat Genta ingin mencicipi tak ada satupun dari mereka yang ingin memberi secuil saja, termasuk Lesta yang mendadak sekongkol dengan Erhan dan Ralio.
***
Keesokan harinya,
Tok tok tok
Klek
"Nyari siapa ya neng?" Tanya wanita paruh baya dengan daster dan jangan lupakan lap piring yang berada dipundak kanan nya.
"Tante Adhisti nya ada?"
"Oh nyonya, ada neng. Mau saya panggilkan?"
"Bilang aja ada Aleya Ateja"
"Tunggu sebentar ya neng" ujar wanita paruh baya itu dan berlalu masuk untuk memanggil Adhisti. Saat menyebutkan nama Aleya, Adhisti langsung berdiri dari posisi nya yang sedang duduk ditaman belakang rumah dan berjalan sedikit tergesa untuk menemui Aleya.
Tepat saat membuka pintu ia melihat Aleya yang langsung dengan cepat ia peluk erat. Menggiring Aleya masuk kedalam tanpa melepas pegangan tangannya pada pundak keponakan nya itu.
"Kenapa ga bilang mau kesini leya? tau kamu mau kesini tante buatin masakan kesukaan kamu deh" Ucap Adhisti pada Aleya lembut sambil mengelus kepala nya pelan.
"Ga apa-apa tante, leya kesini cuma mau mampir bentar doang kok" Jawab Aleya sambil mengambil satu toples kue yang ada diatas meja.
"Kamu beneran mau lanjut kuliah disini lagi leya?" Tanya Adhisti memastikan kabar yang sempat ia dengar dari adiknya - ibu Aleya. Meski ia sudah tau jika ponakannya itu sudah ada dibandung dalam kurun waktu beberapa bulan kebelakang hanya saja mereka baru bertemu lagi. Terakhir ia ke inggris menjenguk adiknya - ibu Aleya, ponakannya itu tidak ada disana dan berada dibandung - Indonesia.
"Masih belum tau tante, mamah sih nyuruh nya buat disini tapi leya masih mikirin satu dan lain hal" Jawab Aleya dengan senyuman yang dibalik nya tersimpan berbagai arti. "Kak lesta kemana tante?"
"Kamu udah makan? Mau tante ambilin ga? Tante masak gulai sapi loh" Ucap Adhisti mengalihkan pembicaraan.
"Engga tan leya masih kenyang kalo makan lagi. Kak Lesta mana tan? Leya mau ketemu, katanya kampus kak Lesta bagus leya mau tanya-tanya siapa tau cocok"
Adhisti terdiam beberapa menit cukup bingung harus menjawab apa pertanyaan ponakannya itu. Menghela nafas dikit, Adhisti menatap Aleya yang juga sedang menatap nya.
"Lesta udah ga tinggal disini leya" Ucap Adhisti pelan.
"Di apart tan?" tanya Aleya meskipun ia sudah tau setidaknya ia sedang mencari tau lebih jelas.
"Dirumah suami nya, Lesta udah nikah beberapa bulan yang lalu"
"Nikah? Kok ga bilang-bilang sih tan"
"Bukan nya ga mau bilang tapi... ah sudah lah tidak usah dibahas lagi ya leya" ucap Adhisti sambil memaksakan senyum nya.
"Tante kangen kak Lesta ya? Kenapa ga temuin aja tante kalo kangen"
"Iya tante kangen, tapi kamu tau kan om kamu itu cukup keras dan ada beberapa hal yang ngebuat tante ga bisa ketemu Lesta. Tante cuma bisa merhatiin dia dari jauh, cukup tau dia baik-baik aja sudah cukup untuk tante"
"Apa om ga ngerestuin kak Lesta nikah tante sampe om bersikap seperti itu?"
"He'em, tante ga tau kapan pasti nya Lesta nikah tapi yang tante tau saat itu Lesta sedang hamil muda. Terakhir tante berbicara dengan nya saat dirumah sakit, kondisinya lagi cukup buruk karna kandungannya yang lemah, Om kamu memaksa Lesta untuk menolak per tanggung jawaban dari nak Genta tapi Lesta kekeh dengan pilihan nya dan berkata bahwa anak ia butuh Ayah Biologis nya..." Adhisti menjeda dulu omongan nya dengan mengambil minuman yang sudah disiapkan dari tadi oleh Bi Mar "saat om kamu dan nak Genta sedikit berdebat didepannya tiba-tiba Lesta memeluk perutnya kuat dan meringis menahan sakit, serta pendarahan. Dokter langsung datang memeriksa. Tak lama doker selesai memeriksa dan menyatakan jika Lesta keguguran nak Genta mengusir kami karna om kamu bukannya berduka malah meminta dokter untuk mengurus kepindahan Lesta kerumah sakit bagus di ibu kota, tapi tante ga apa-apa tante terima karna jujur apa yang om kamu lakukan itu salah. Hati kami sebenernya terluka sekali leya, tapi ego om kamu lebih besar dari segala nya" lanjutnya.
Oh ternyata pernah keguguran, kalo keguguran lagi gimana ya? seru kaya nya . Ucap Aleya dalam hati dengan senyum devil yang ia sembunyikan.
"Tante yang sabar ya, nanti juga tante pasti bisa kumpul lagi sama kak Lesta. Aleya pamit dulu ya tan, masih ada urusan soalnya" Ucap Aleya melepaskan pelukan nya pada Adhisti dan berdiri pamit.
"Makasih sudah mampir ya leya, jangan sungkan buat kesini ya. Hati hati dijalan nya sayang"
Setelah itu Aleya berjalan keluar dan menghampiri taxi online yang sebelum nya sudah ia pesan. Tersenyum puas karna rencana yang ia susun seperti nya akan berjalan lancar. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Menghancurkan hidup Lesta Sei Milanda dan mendapatkan kembali Gentara Satya Adhitama.
***
Ditempat lain, Erhan mendapat informasi tentang Aleya dari salah satu orang kepercayaan papah nya. Ia bergegas mengambil Kunci motor dan menjalan kan dengan kecepatan lumayan diatas rata-rata agar cepat sampai tempat yang ia tuju.
15 menit, Ia sudah berada didepan rumah Ralio. Memarkirkan motor nya dan berjalan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karna tau dirumah itu hanya ada asisten rumah tangga Ralio dan orang tua nya sedang berada diluar negeri urusan bisnis. Berjalan cepat menaiki tangga, membuka pintu bercat abu disamping tangga ia menemukan Ralio sedang tertidur dengan posisi yang sulit dijelaskan.
"Ral, Rali" Ucap Erhan membangunkan Ralio dan menguncang punda temannya itu.
"eung"
"Ralio bangun dulu bentaran dah ada yang penting ini"
"Pa'an sih ganggu orang lagi molor aja"
"Ini tentang Aleya ****"
"Ia dia emang **** han gue tau itu"
"Aleya tadi dateng kerumah nya si kak Lesta, kita tau dia itu ponakan ibu nya kak Lesta tapi kita ga bisa diem Ralio kita ga pernah tau apa yang ada di fikirian nya Aleya"
Ralio langsung membuka mata nya, bangun dan duduk disamping Erhan yang menyenderkan punggungnya di pinggiran kasur milik Ralio. Tau apa yang akan ditanyakan Ralio, Erhan mengambil Hp nya dari dalam saku jaket dan membuka pesan dari orang kepercayaannya lalu menyodorkan pada Ralio.
Ralio membaca dengan seksama infromasi informasi itu, ternyata tidak salah dari awal pertemuan mereka dengan Aleya, Erhan dan Ralio sepakat untuk tidak lengah dan akan terus memantau wanita itu setiap saat dan menyebar beberapa anak buah untuk mengikuti aleya kemana pun. Tanpa sepengetahuan Genta pastinya.