
Suara mobil memasuki halaman rumah Genta menarik perhatian Alca serta Albar yang sedang bermain bola dihalaman depan membuat mereka berhenti bermain dan berlari menghampiri Genta yang berdiri menggendong Zahra.
"Om Lio!" Teriak double Al saat Ralio turun dari kursi kemudi.
"Hai double Al!" Ralio balik berteriak dan berjongkok merentangkan tangan membuat kedua anak kembar itu berlari dan memeluk Ralio kuat hingga terjatuh.
"Ck udah bapak-bapak masih aja kaya bocah!" Genta berdecak. "Hai Tara, gimana sama Ralio? Kuat?" Tanya Genta pada Tara yang berjalan menghampirinya dengan menggendong Liora.
"Ya begitulah Gen, hai Zahra makin embem aja ini pipi." Jawab Tara menyubit gemas pipi Zahra.
"Iya nih lagi suka makan Tar." Jawab Genta.
"Kalo ketemu mantan, suami sendiri dilupain!" Ralio merajuk berjalan memasuki rumah Genta dengan diikuti oleh double Al membuat Genta serta Tara menggeleng kepala jengah.
"Yuk masuk." Ajak Genta memasuki rumah diikuti Tara dari belakang.
Genta langsung menurunkan Zahra dikarpet bulu dengan berbagai mainan anak itu, dan berjalan kembali memasuki dapur untuk menyimpan mangkuk bekas makan Zahra.
"Zahra mana?" Tanya Lesta yang baru masuk ke dapur sehabis dari halaman belakang.
"Didepan sama Liora dan Tara. Yuk kedepan." Genta memeluk pinggang Lesta dan menuntunnya hati-hati untuk menemui temannya itu.
"Hai kak lele, makin cans dan makin sekseh aja deh." Goda Ralio pada Lesta yang langsung mendapatkan sebuah lemparan sendal oleh Genta. "Ga asik lo mah udah bapak-bapak masih aja kaya bocah, dasar!!" Lanjutnya.
"Lo juga udah bapak-bapak Ralio." Ujar Tara dengan nada dingin membuat Genta serta Lesta terkekeh ringan.
"Liora udah bisa jalan lancar ya." Ujar Lesta pada Tara yang melihat Liora - Putri Ralio dan Tara berjalan dengan lancar mengambil mainan yang berserakan.
"Iya, tapi ngomong masih belum kak." Jawabnya dengan senyuman.
"Zahra jalan masih mapai-mapai gitu kalo ngomong udah lumayan lah hehe."
"Lucu ya mereka main berduaan gitu. Akur liatnya adem." Tara memperhatikan putrinya yang sedang bermain dengan Zahra.
"Kak lele." Panggil Ralio yang kini duduk disamping Tara. "Entar salah satu dari anak kakak jodohin ama si Liora ya." Lanjutnya.
"Engga!" Tolak Genta dengan nada ketus. "Ogah banget besanan sama makhluk kaya lo."
"Ck. Albar! Alca! Om mau tanya." Ralio berdecak menatap Genta tajam, selanjutnya memanggil kedua anak kembar Genta yang bermain mobil-mobilan dikarpet bulu dengan Zahra dan Liora.
"Apa om? Mau ngasih duit?" Tanya Alca, sedangkan Albar hanya menaikan alisnya.
"Ck duit mulu Alca mah. Nanti om kasih duit se-truk asal jawab dulu nih siapa yang mau nikah sama Liora nanti?" Tanya nya to the point membuat ketiga orang tua lain melongo tak percaya.
"Anak gue masih kecil!" Genta melempar tutup toples pada Ralio yang bersyukur cepat menghindar.
"Nikah om?" Tanya Albar.
"Kaya bunda sama ayah?" Tanya Alca.
"Iya." Ralio mengangguk kepala dengan semangat sedangkan Albar dan Alca saling pandang dengan tatapan yang polos.
"Engga mau!" Jawab mereka bersamaan dengan gelengan kepala kuat membuat Genta tertawa puas sedangkan Ralio menyenderkan kepala lemas.
"Payah! Ga jadi dikasih duit se-truk" Ujar Ralio membuat Tara tak tahan untuk tak menyubit perut suaminya itu.
"Mulutnya dijaga." Tara mendelik tajam.
"Lio itu adiknya Abang sama Alca jadi ga boleh diajak nikah, halrusnya dijagain kata ayah juga." Jelas Albar menatap Ralio.
"Tapi kan bisa diajak nikah juga bang." Balas Ralio tak puas.
"Kalo adik ga boleh diajak nikah. Sama kaya Zah, halrus dijaga dilindungin ga boleh diajak nikah." Jelas Albar lagi. Sedangkan Alca hanya mengangguk-anggukan kepala saja.
"Tapi abang sayang sama Liora?" Tanya Ralio mendapat anggukan kepala dari kedua anak kembar itu.
"Sayang adik Lio, sayang adik Zah, sayang bunda sama ayah juga." Lanjut Alca yang kali ini Albar yang menganggukan kepala setuju.
"Udah deh ga usah maksa anak orang. Entar juga kalo jodoh ga akan kemana." Tara mengusap rambut Ralio lembut tapi enggan menghilangkan raut kecewa suaminya itu.
"Kan nanti keren tuh keluarga Yasa sama Adhitama besanan. Liora anaknya Ralio dan Tara bersanding dengan Albaransyah atau Alcalandra Adhitama anaknya Gentara dan Lesta yuhuuuu." Jawab Ralio pada Tara.
"Pingin banget ya Ral?" Tanya Lesta pada Ralio.
"Gue pingin salah satu anaknya Genta nikah sama anak gue kak. Kan keren tuh, anak gue dapetin cowok gans. Liat tuh masih kecil aja gantengnya naudzhubillah, apa lagi kalo udah gede nanti beuh jadi most wanted sampe ke jupiter kayanya." Ucap Ralio dengan tangan mulai mengambil cemilan diatas meja.
"Berarti lo ngakuin kalo gue ganteng dong?" Tanya Genta.
"Kaga! Yang ganteng kedua anak lo!" Ketus Ralio.
"Tapi mereka kan Ganteng dari bibit gue!" Balas Genta.
"Ga liat apa gen nya kak Lesta yang cakep ngebuat anak lo jadi pada cakep!" Balas Ralio tak ingin kalah.
"Tapi lo ga liat kalo semua anak gue mirip gue? Jelas bibit unggul gue yang gans ini ga akan gagal buat keturunan!"
"Lo---"
"Bocah! Bocah! Berisik banget dah orang ngucapin salam bukannya jawab malah berdebat kek anak TK. Gak guna!" Erhan mengusap kasar wajah Genta serta Ralio yang tadi berdebat.
"Waalaikumsalam!!" Jawab Ralio serta Genta bersamaan dengan nada ketus.
"Tangan lo bau *** anjiirrr!" Ujar Ralio mengusap wajahnya dengan tisu basah milik Liora.
"*** anjilr itu apa bun?" Tanya Albar dengan wajah polos membuat Lesta melongo, Erhan dan Aleya terbahak sedangkan Tara menutup wajahnya malu.
*
Kini ketiga keluarga itu sedang terduduk dilantai beralaskan karpet. Genta tak henti menatap Ralio yang menyengir tanpa dosa. Sungguh Genta sangat dongkol saat Albar tak hentinya bertanya apa itu arti dari kata umpatan Ralio tadi. Mati-matian dia menjaga gaya bahasa didepan ketiga anaknya, eh dengan gampangnya Ralio mengkontaminasi. Sudah mendesak ingin menjodohkan anaknya dengan si kembar, eh mengajarkan bahasa yang tidak baik pula.
"Udah dong." Lesta berucap lembut pada Genta yang sedari tadi menatap tajam Ralio.
"Iya Ge kaya bocah aja deh." Seru Erhan.
"Lo belum ngerasain jadi gue gimana!" Balas Genta ketus pada Erhan.
"Aunty Leya, ini nanti bayi nya cewek atau cowok?" Tanya Alca yang dan terduduk dihadapan Aleya menatap perut buncitnya itu.
"Alca mau nya cewek atau cowok?" Tanya balik Aleya.
"Cowok aja bialr ada temen main. Kalo sama Lio sama Zah ga bisa main bola." Balas Albar yang sedang memainkan PSP dan menyandarkan tubuhnya pada Genta.
"Kalo cewek gimana?" Tanya Erhan pada Albar.
"Mau aku ajak nikah!" Seru Alca sambil berdiri dengan mengangkat kedua tangannya.
Semua orang tua disitu melongo tak percaya akan ucapan Alca. Menikah? Ck ini pasti ulah si Ralio tadi, gerutu Genta dalam hati.
"Kaka Alca ga bisa nikah sama anaknya uncle Erhan dan aunty Aleya, kan kita sodara. Ga bisa nikah kalo sesama sodara." Jelas Genta membuat Alca terduduk kembali dan menatap Ayahnya itu.
"Gitu ya yah?" Tanyanya mendapat anggukan dari Genta.
Sedangkan Aleya serta Lesta saling pandang dan seperti saling berbicara melewati telepati. Mereka berdua tau jika mereka bukan saudara sedarah, tapi hanya terikat dalam keluarga saja.
"Kaka Alca sama abang Albar jangan cepet gede ya. Nanti Bunda jadi sedih." Ujar Lesta .
"Kalo ga gede ga bisa jagain bunda, ayah, adek Zah sama dedek bayi dong." Balas Alca.
"Ya ga gitu juga dong. Udah ah ga usah bahas yang gitu lagi." Genta mengalihkan topik dan kini mereka sedang berbincang tentang yang lain, termasuk kesuksesan Erhan yang kini mulai menjadi Dokter Bedah sesuai dengan cita-citanya dulu. Sedangkan Radea Group? Masih dipegang Erhan, hanya saja sebagian masih dibantu oleh Genta. Ralio? Sudah pasti ogah membantu Erhan wong dia sendiri kewalahan ngurus bisnis papahnya yang semakin berkembang dibeberapa bidang itu.
Masih ingat kan perbincangan antara Genta, Rehan dan Rajata? Ya soal pengelolaan perusahaan dan cita-cita Erhan sebagai dokter bedah. Saat mulai perkuliahan kedokterannya Erhan fokus dan tak bisa membantu sedikitpun Rajata dalam bisnisnya, alhasil Genta mau tak mau membantu Rajata meski ia sendiri masih ogah-ogahan untuk mengelola hotel Rehan plus desakan dari Aguriza agar Genta mau mengelola perusahaannya juga. Sebenarnya Genta itu cerdas, hanya saja banyaknya malas.
Awalnya Genta hanya mau membantu Rajata saja karna dia sendiri juga masih berstatus mahasiswa. Tapi entah ada malaikat dari mana Genta menerima semua tawaran dari ketiga pria paruh baya itu. Rehan - papahnya , Aguriza - papah mertuanya, dan Rajata - papah sahabatnya. Genta mengelola ketiga perusahaan sekaligus dengan otaknya yang banyak malas itu. Walau sampai saat ini terkadang Lesta juga ikut membantu, mengingat Genta itu kalo sudah malas dan pusing kerjaan dibiarkan menumpuk sampai mood nya kembali sedangkan Lesta orangnya ga suka liat kerjaan numpuk yang tertunda dan berujung membantu suaminya yang sedang malas itu. Lesta selalu ingat, yang mereka pegang itu 3 perusahaan yang sangat hebat meski perusahaan Rehan tak terlalu besar serta dipegang juga oleh Arfand - kaka tertua Genta, tapi Radea Group dan perusahaan papahnya iu termasuk perusahaan besar yang sangat berpengaruh dalam perekonomian.
"Ayah!" Panggil Albar.
"Apa bar-bar?" Tanya Genta menatap anaknya itu dengan senyuman.
"Anak sendiri dipanggil bar-bar ck!" Decak Erhan.
"Serah gue dong. Gue bapak nya bukan lo! Lagian namanya kan Albar ga salah juga kalo gue sebut bar-bar toh emang tingkah lakunya juga bar-bar kadang bikin mumet." Jelas Genta kini menatap kembali Albar yang masih menatapnya polos. "Ada apa hm?" Tanya nya lagi pada Albar.
"Kita ga jadi pelrgi? Udah gaya ini!" Ujar Albar sambil berdiri dan melipat kedua tangannya didepan dada dengan muka mengadah bersikap songong pada Ayahnya itu. Sedangkan Genta sudah siap menonyor kening anak tertua nya itu jika Lesta tak menahannya lebih dulu.
"Iya iya kita berangkat sekarang! Padahal niat nya nanti sorean aja, ga liat diluar lagi panas gitu." Jawab Genta dengan nada sedikit ketus dan untungnya ia sudah berganti pakaian. Percayalah pada Lesta jika bukan hanya kali ini Genta bersikap seperti itu, tapi sudah sangat sering hingga tak salah jika Lesta terkadang menganggap suaminya itu sama seperti anaknya.
"Kalo sore nanti hujan!" Teriak Alca dengan pengejahan sangat jelas, membuatnya dengan refleks menutup mulut dan menatap Lesta polos. "Sore? Sore? Albaransyah? Ayah Gentara? R? R? Rrrrrrrrrr! Yeaaaayyyy bunda Alca bisa nyebut R jelas huuuuuuuu!!" Seru Alca berjingkrak kegirangan.
"Aku juga bisa kok." Seru Albar tak ingin kalah.
"Coba!" Ujar Alca memanasi.
"Albalr!" Teriaknya depan wajah Alca.
"Albar bukan Albalr huuuuu ga bisa nyebut rrrr!" Alca dengan seru mengejek kakaknya itu seolah lupa jika ia pun baru bisa menyebut huruf 'R' dengan jelas itu dalam waktu beberapa detik yang lalu.
"Bundaaaaaa!!!" Teriak Albar memeluk Lesta kuat membuat Genta dengan kuat langsung menarik putra sulungnya itu dan menggendongnya.
"Albalr mau bunda ga mau ayaaahhh!!" Ronta Albar dalam gendongan Genta.
"Albar ga lupa kan kalo diperut bunda lagi ada adek bayi nya? Kasian nanti ke teken sama Albar gimana? Sama ayah aja ya sini." Jelas Genta dengan lembut membuat Albar berhenti meronta dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher ayahnya. "Alca ga boleh kaya gitu. Ayah ga pernah ngajarin hal jelek kaya gitu ya, kalo masih kaya gitu ga usah ikut pergi aja ayah tinggal kamu sama nenek sama kakek mau?" Lanjutnya berujar pada Alca yang dibalas gelengan kepala oleh anaknya itu.
"Udah ge udah. Alca sama om Ralio sini, ayo kita pergi sekarang naik mobil." Ralio menuntun Alca berjalan keluar diikuti oleh yang lainnya.
"Naik mobil siapa om?" Tanya Alca saat mereka semua sudah berada diluar.
"Naik mobilnya om Erhan dong, liat Alphard keluaran terbaru nya keren ga? Biar ayah Genta yang nyetir kita mah duduk kalem aja dibelakang skuy" Ujar Ralio dengan santai nya sambil menuntun Alca menuju mobil berwarna hitam yang terparkir rapih disamping mobil Ralio.
Erhan yang memiliki mobilnya menggeleng kepala sudah biasa melihat tingkah Ralio. Sedangkan Genta kembali menatap Ralio tajam.
"Kenapa gue yang nyetir? Kan ada supir!" Ujar Genta dengan nada ketus.
"Pake supir tapi lo duduk dibagasi mau?!" Balas Ralio sambil masuk kedalam mobil dan duduk tenang dengan Alca disampingnya.
"Ayah ayok keburu sore!" Teriak Alca yang jelas itu diperintah oleh sahabatnya yang sebelumnya sudah berbisik menghasut Alca sedangkan Ralio kini menatap Genta dengan senyum jahil.
"RALIO BANGKEEEEE!" Teriak Genta menatap Ralio tajam, membalik badan duduk dikursi kemudi dan membanting pintu dengan cukup keras, sedangkan Lesta sudah duduk dikursi sampingnya dengan Zahra duduk dipangkuannya.
"Mobil gue baru ya, kalo ada yang rusak gaji lo sebagai COO gue potong!" Ujar Erhan biasa namun dengan nada yang ditekan tanpa melihat Genta, ia bermain PSP dengan Albar yang sudah ia ambil alih tadi sebelum mereka keluar rumah.
"Ck! Gak Erhan gak Ralio sama-sama bangke ulet pucuk!" Umpatnya pelan dengan tangan mulai menyalakan mesin dan kaki mulai menginjak pedal gas.
"Gue denger umpatan lo Gentayangan!!" Ujar Ralio dan Erhan bersamaan membuat Genta berdecak menatap sinis melalu spion kedua sahabatnya itu yang sedang terkekeh menatap ia juga melalui spion.
Aleya, Tara, dan Lesta? Hanya menggeleng kepala sudah pasrah dengan kelakuan ketiga pria yang mengaku sahabat itu.
-TAMAT-