TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 35 (END)



padausiap?" Tanya Genta pada Lesta yang berdiri didepan kaca besar yang menempel pada lemari dikamar mereka, dilantai 2.


"Kaya gini cantik ga?" Tanya Lesta membalik badan menghadap Genta.



(Visual Lesta Sei Milanda - Zhou Jieqiong)


"Waaaahhhh daebak." Ujar Genta refleks dengan wajah polos menatap istrinya itu penuh kagum. "Olah raga kamar aja deh ga usah jadi ke resepsinya yu." Lanjutnya berjalan menghampiri Lesta.


"Ga boleh kekeke. Kamu udah keren gitu, aku udah cantik gini masa ga jadi pergi." Lesta terkekeh ringan menurunkan tangan Genta yang memeluk pinggangnya posesif.


"Ga syuka aahhh." Rajuk Genta memeluk kembali Lesta.


"Liat kaca gih, masa udah keren gitu ga jadi pergi." Lesta melepaskan pelukan Genta dan menghadapkannya pada kaca.



(visual Gentara Satya Adhitama - Lin Yi)


"Hmm udah ganteng ya." Ujar Genta pede.


"Iya makanya yuk berangkat sekarang." Lesta menaeik tangan Genta keluar dari kamar dan turun kelantai bawah.


Diruang keluarga, ada Mira serta Rehan yang sedang bermain dengan kedua anak kembarnya. Rafa yang sedang bermain ps bersama Arfand, yang pasti si sulung dipaksa oleh si bungsu. Genta dan Lesta berjalan menghampiri mereka.


"Mah, pah Genta sama Lesta pergi dulu ya." Genta menyalimi tangan keduanya.


"Mah, pah Lesta pergi dulu yu. Maaf ngerepotin kalian dititipi Albar sama Alca." Lesta menyalimi tangan keduanya dan berujar tidak enak.


"Ga apa-apa kok, kalian yang anteng disana ya." Ujar Mira dengan lembut.


"Abang nitip es krim sama baso tahu nya dibungkus ya buat Rafa gans." Ujar Rafa dengan masih fokus menatap layar tv.


"Malu-maluin. Minta uang ke papah dong, masa yang gituan aja harus ngebungkus dari hajatan. Ini tuh dihotel bukan balai RW!" Ketus Genta pada Rafa dan menarik tangan Lesta untuk segera keluar dari rumah. Yang sebelumnya sudah mencium kedua pipi anak kembar mereka.


*


Sekarang disini lah mereka, disalah satu hotel milik keluarga Adhitama yang disewa untuk pernikahan Ralio-Tara. Sebenarnya Arfand menolak menerima bayaran, mengingat Ralio teman dekat adiknya. Namun Ralio memaksa dengan alasan tidak enak yang akhirnya Arfand terima biaya sewa dengan disc. 50%. Jangan lupakan, Ralio tetap lah Ralio si pelit irit duit.


Genta memeluk mesra pinggang Lesta sejak mereka turun dari mobil. Melangkah masuk dan bertegur sapa dengan pengusah-pengusaha yang ia kenal dengan sedikit berbincang , sebelum akhirnya berjalan ke tepi ruangan menghampiri Erhan yang sedang berdebat dengan Aleya sepertinya.



(visual Aleya Ateja Putri - Zhao Lu Si)



(visual Erhan Radea - Lai Guanlin/Kuanlin)


"Debat mulu, jodoh tau rasa lo!" Ucap Genta berhasil menghentikan perdebatan konyol kedua manusia berbeda kelamin itu.


"Lo makin cantik aja kak." Erhan mengedipkan sebelah matanya menghiraukan Genta yang sudah menatap geram. Dia sahabatnya tidak dianggap, malah yang ada istrinya digoda.


"Istri gue kalo lo lupa!" Ucap Genta sini.


"Gue rela jadi suami kedua lo kak. Ridho taala dah sumpah." Lagi, Erhan berucap menghiraukan Genta. Sedangkan Lesta menatap Aleya yang berdiri jengah menatap Erhan.


"Udah, Erhan bercanda doang Ge. Jangan buat kerusuhan diacara orang deh." Lesta berujar lembut membuat Genta mengurungkan niatnya yang akan menghajar Erhan membuat Erhan terbahak. Sahabatnya itu sekarang menjadi posesif husban bila menyangkut istrinya.


"Aleya, udah official dengan Erhan?" Tanya Lesta membuat Erhan dan Aleya dengan kompak menjawab "tidak" dengan cukup kencang sedikit menarik perhatian sekitar.


"Basi. Paling juga tsundere gitu mereka mah." Genta menarik Lesta menjauh dari sana menghampiri raja dan ratu acara diatas pelaminan yang diikuti Erhan dan Aleya dibelakangnya.


Antrian cukup panjang, mengingat kedua orangtua Ralio bukan hanya pemilik sekolah namun memiliki bisnis yang lain juga ditambah papahnya Tara yang dengan sengaja mengundang banyak rekannya dari yang diyogyakarta, jakarta, bali, hingga pulau Kalimantan di undang.


Gila bukan? Menurut Genta ini cukup gila bagi dia yang lebih menyukai hal-hal simple. Setelah mengantri cukup lama akhirnya mereka naik keatas pelaminan menyalimi kedua orangtua temannya itu sebelum akhirnya berpelukan dengan sang empu acara. Ralio yang terlihat sangat rapih dengan tuxedo hitam serta Tara yang terlihat sangat cantik menggunakan gaun berwarna merah maroon dengan bagian pundak terekspos, model sabrina.



(visual Ralio Putra Yasa - Xiao Tian)



"Akhirnya lo ga jomblo lagi Rali. Jaga baek-baek temen kecil gue ini yes." Ujar Genta pada Ralio yang dibalas anggukan kepala saja. Genta berujar seolah mereka sudah tidak bertemu lama, padahal terakhir merek bertemu di akad Ralio-Tara kamis lalu. "Gue doain kebahagian selalu menghampiri kalian. Cepet-cepet punya anak biar kalo ribut ada yang lerai wkwk." Lanjutnya dengan tawa renyah diikuti oleh Erhan, sebelum tangan Lesta dan Aleya menyubit perut mereka malu. Lagi, Genta berujar seolah lupa perdebatan kecil perihal momongan di acara akad kamis lalu.


"Selamat ya Rali, dan Tara? Samawa. Cepet-cepet dapet momongan biar rumah tangganya lebih lengkap dan indah. Jangan takut jadi orangtua, kalian ga akan pernah sanggup kalo belum nyoba. Semoga bahagia selalu. Soal omongan Genta kamis lalu jangan diambil hati ya." Ucap Lesta sangat lembut dengan senyum manisnya, membuat Tara dan Aleya yang diam-diam merasa sesak. Mereka akui Lesta sempurna untuk Genta, dan mereka ga ada bandingannya dengan Lesta. Tara dengan refleks memeluk Lesta dengan tangis sendu.


"Gue minta maaf. Lo perempuan baik, lo pantes bersanding dengan Genta. Gue cewek brengsek yang hampir aja ngancurin keluarga kecil kalian. Gue bener-bener minta maaf apalagi perihal masalah dirumah tangga lo yang hampir ngebunuh lo sama si kembat. Gue nyesel." Ucap Tara sendu dengan masih memeluk Lesta.


"Jangan nangis, nanti cantiknya luntur." Lesta melepas pelan pelukannya dengan menatap Tara lembut serta menghapus air mata yang jatuh diwajah sahabat suaminya itu perlahan. "Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita tatap aja masa depan agar menjadi lebih baik dari hari kemarin. Bersikap lah lebih baik terhadap Ralio. Walaupun tengil, tapi Ralio penyayang dan baik hati. Jalani hidup bahagia bersamanya dengan ikhlas, yang insyaallah akan selalu diiringi ridho allah." Lanjutnya. Mereka semua yang berada disitu terdiam mendengar perkataan Lesta. Apa mereka yang memang masih kekanakan atau memang Lesta yang berfikiran terlalu dewasa? Yang pasti mereka mengakui benar ucapan Lesta. Setelah sesi berbincang mereka akhirnya foto bersama dan turun menuju parasmanan.


Setelah mengambil makanan mereka berempat duduk dimeja tepi ruangan yang tidak terlalu ramai. Makan dalam diam tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan diantara mereka, hingga mereka selesai menghabiskan semuanya masih tidak ada yang berniat mengeluarkan sepatah kata. Hingga Genta berdiri menarik tangan Lesta izin pamit terlebih dahulu karna Mira-mamahnya Genta mengirim pesan jika double Al cukup rewel tidak ada kedua orangtuanya.


"Tunggu kak." Cegat Aleya saat Lesta dan Genta akan memasuki mobil.


"Ada apa leya?" Tanyanya lembut. Sumpah Aleya berani bertaruh jika tidak ada satu pria pun yang akan menolak Lesta menjadi istrinya. Paras yang cantik, badan ideal meski pasca melahirkan, suara lembut, dan jiwa keibuan yang sangat kentara.


"Gue mau minta maaf. Minta maaf atas sikap gue dulu ke lo. Gue akui gue cukup kekanakan cuma karna iri ke lo. Lo pantas bahagia karna lo orang baik bahkan sangat baik. Maafin gue yang sempet ngancem lo lewat sms bakal ngerebut Genta. Ya, walau memang awalnya gue mau rebut Genta kembali, tapi gue sadar itu cuma obsesi masa lalu yang belum tuntas. Makasih karna lo selalu baik dan ga pernah ngebalas prilaku gue ke lo. Gue harap lo selalu bahagia, dan btw lusa gue balik ke inggris. Gue ga jadi ngelanjutin kuliah disini, gue bakal lanjut dikampus tempat gue dulu kuliah sebelum ambil cuti." Ucap Tara jujur yang dibalas sebuah pelukan oleh Lesta.


"Aku udah maafin kamu Leya, jadi berhenti ngucapin maaf oke? Aku tau setiap sikap pasti ada sebab ,dan aku cukup ngerti dengan situasi keluarga kamu yang ngebuat pribadi kamu seperti itu ke aku. Aku harap kamu bahagia selalu Leya, dan soal ke inggris kamu yakin? Bukannya lagi pdkt dengan Erhan?" Tanya Lesta diakhir kalimat lagi-lagi membuat mereka berdua kompak menjawan "tidak" yang berujung saling melototi karna tidak terima merasa diikuti. Genta dan Lesta hanya tertawa melihat itu.


"Kalo gitu gue pamit ya. Er, Al, jodoh ga akan kemana. Jangan saling nolak lo nanti berdua jadi jodoh tuh kaya yang didalem wkwk." Ucap Genta sebelum masuk kedalam mobil.


"Bangke!" Jawab Erhan dan Aleya bersamaan-lagi. Lesta hanya menggeleng kepala mengikuti Genta masuk kedalam mobil dan pamit pada kedua orang yang masih saling mendelik itu.


"Najis jodoh sama lo!" Ucap Erhan berlalu pergi menuju parkiran.


"Gue juga najis! Eh-eh lo mau kemana woi? Jangan tinggalin gue!" Teriak Aleya mengejar Erhan dari belakang.


"Balik sonoh sama mang ojek!" Jawab Erhan tak kalah teriak dari depan.


"Lo tanggung jawab dong! Bawa gue pergi, sama dengan bawa gue balik!" Aleya langsung duduk dikursi penumpang tepat saat Erhan akan membuka pintu mobilnya yang hanya mendengus melihat sikap Aleya.


Erhan mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan hotel menuju rumah Aleya. Dalam mobil mereka saling diam, meski terlihat sekali Erhan yang terkadang curi-curi pandang pada Aleya yang sejak tadi hanya menatap jalanan melalui kaca mobil.


"Kalo lo mau nanya soal gue yang bakal pergi ke inggris lusa." Aleya menjeda ucapannya dan memalingkan wajah menatap Erhan. "Itu bener. Gue lanjut kuliah lagi disana."Lanjutnya.


"Kenapa ga jadi disini? Dikampus gue yang juga kampusnya kak Lesta dulu." Jawab Erhan dengan masih fokus menatap jalanan.


"Engga. Gue sadar diri ga mau semakin merepotkan dan memperkeruh keadaan." Balasnya sambil menyenderkan tubuh pada jok. "Lo ga akan ngerti situasi keluarga gue." Lanjutnya membuat suasana jadi hening namun tak terlihat canggung sama sekali. Hanya saja penghuni mobil itu sibuk dengan fikriannya masing-masing hingga mereka sampai dipekarangan rumah Aleya.


"Jadi lusa lo tetep pergi?" Tanya Erhan pelan namun terdengar oleh Aleya saat wanita itu akan turun dari mobil.


"Iya."Jawabnya dengan senyuman tulus menatap Erhan. Aleya kembali duduk menatap Erhan lekat sebelum mengecup bibir Erhan cukup lama. "Makasih buat semuanya. Sampai Jumpa." Ujar Aleya setelah melepaskan kecupannya dan keluar dari mobil berjalan memasuki rumah.


"Gue harus gimana Al, kasih tau gue." Ujar Erhan lirih pada dirinya sendiri sambil memandangi kepergiaan Aleya.


****


"Samlekuuumm." Teriak Genta saat masuk kedalam rumah, yang diikuti ringisan kecil Lesta melihat tingkah suaminya itu.


"Salam tuh yang bener! Assalamualaikum bukan samlekum samlekum!" Ucap Rehan tak kalah teriak, yang lagi-lagi membuat Lesta meringis.


"Waalaikumsalam pah." Ucap Genta berjalan melewati Rehan membuat ia geram dengan sikap anaknya itu.


"Assalamualaikum pah." Salam Lesta membuat Rehan menahan gerakan tangannya yang akan menarik kerah kemeja anaknya itu.


"Waalaikumsalam nak." Jawab Rehan.


"Double Al dikamar pah?" Tanya Lesta.


"Dikamar papah, sama mamah lagi tidur. Pas tadi seudah ngabarin kalian mereka tidur. Sekarang kamu istirahat saja dengan Genta ya, papah balik lagi ke kemar." Rehan berlalu kembali masuk kedalam kamarnya dan Lesta berjalan menuju kamar menyusul Genta.


Sesampainya dikamar Lesta melihat Genta sedang bertelanjang dada hanya menggunakan celana kainnya saja berdiri memegang remote tv. Lesta berjalan hendak menuju kamar mandi namun tak jadi karna entah sejak kapan Genta melangkah mendekatinya dan sekarang mengendong ia ala bridal style.


Lesta memekik kaget dan memukul pundak Genta gemas yang hanya dibalas kekehan kecil. Menjatuhkan pelan tubuh istrinya diatas kasur, Genta merangkak dan menahan tubuhnya yang kini berada diatas tubuh Lesta dengan kedua sikut yang menopang . Menelisik wajah istrinya dengan seksama. Ia merasa bodoh, benar-benar bodoh pernah mengabaikan istrinya yang cantik nan tulus ini. Tidak ada wanita seperti Lesta yang Genta kenal. Ia berbeda dari wanita lain. Ia spesial. Kalo kata pedagang nasi goreng mah pake telor+sosis+baso+ati ampela. Spesial.


Lesta Sei Milanda. Gadis yang bodoh entah polos, berani menolong dirinya ditengah malam dalam keadaan mabuk tanpa berfikiran buruk sedikit pun. Lesta, wanita yang mahkotanya ia renggut dimalam ia melihat Aleya kembali. Lesta, wanita yang menerima dirinya dan pernah membangkang terhadap kedua orangtuanya hanya karna hal-hal dimasa lalu. Ia istrinya, bunda dari anak-anaknya, bidadari surganya. Wanita yang kini Genta tau bahwa cinta yang benar cinta dan cinta yang hanya cinta monyet itu berbeda. Genta mencintai Lesta, sebagaimana wanita itu mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan kedua anaknya. Genta akan melakukan apapun demi membahagiakan Lesta. Genta kini sadar. Ia mencintai Lesta, sangat-sangat mencintai. Kini dia benar mencintai Lesta. Bukan dalam ucapan namun benar-benar mencintai dengan seluruh hidupnya.


Menyentuh lembut pipi istrinya itu dengan tatapan memuja. Mereka saling pandang dalam diam. Lesta bisa melihat raut gairah dan ingin memiliki diwajah Genta. Namun ia tak tau apa yang harus dilakukan selain diam menerima sentuhan lembut dari suaminya itu.


"Saatnya kita kasih Albar dan Alca adik sayang." Ucap Genta dengan suata serak penuh gairah. Namun Lesta melotot, bukan karna ci*man tiba-tiba dari Genta tapi perkataan Genta.


"Adik? Untuk Albar dan Alca? Apa suaminya itu gila? Mereka masih sangat kecil untuk menjadi kaka!" Teriak Lesta dalam hati dengan mencoba tidak mengumpati suaminya yang saat ini sudah berhasil melepaskan gaun ditubuhnya, jangan lupakan beberapa ki**mark maha karya Genta ditubuh putihnya itu. Jika sudah seperti ini Lesta bisa apa selain menyerah dan melayani Genta. Walaupun ia tau, suaminya itu tidak akan puas sebelum adzan awal berkumandang pukul 3 subuh nanti.