
Genta berjalan menuju kantin, karna tadi ia tertidur dalam kelas membuat dosennya geram meminta Genta untuk keluar. Dengan senang hati dan ria ia berjalan keluar kelas membuat si dosen dongkol atas perbuatan Genta.
Terduduk dikursi pojokan kebanggaannya sembari ditemani jus mangga, Genta acuhkan sekitar yang memandangnya dengan raut bertanya-tanya.
"Lo ga ke kelas?" Tanya Wida pada Genta.
"Ke kelas ko." Jawabnya dingin.
"Terus kenapa lo ada disini?"
"Disuruh keluar sama dosen"
"Dan lo keluar?"
"Dengan senang hati dong." Jawab Genta sambil menegakkan tubuhnya.
"Lo gila." Sinis Wida.
"Iya itu gue, semua orang kini manggil gue gitu wkwk." Ucapan Genta membuat fokus Wida sepenuhnya menatap Genta. Sungguh ini bukan Genta yang ia kenal sejak awal masuk kuliah, bukan juga si Genta yang kalem dingin kaya most wanted bad boy di novel novel gitu membua Wida bergidik.
"Gue deklarasikan sekarang gue bukan fasns lo lagi!" Tegas Wida membuat tawa Genta semakin kencang menarik perhatian sekitar. "Serah lo dah!" Wida pergi meninggalkan Genta sendirian. Genta yang tertawa tapi Wida yang merasa sangat malunya, sungguh sukses membuat ilfeel.
Genta berhenti tertawa, menatap satu persatu pasang yang menatapnya dengan tajam yang sukses membuat mereka langsung berhenti menatap dan menajuh darinya. Genta melanjutkan fokusnya pada laptop mengerjakan tugas-tugas yang tertinggal hingga tak sadar Ralio serta Erhan sudah terduduk menatap dirinya.
"Gue tau gue ganteng dan gue masih normal doyan cewe ya." Genta berkata dengan datar tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.
"Najis!" Ucap Erhan dan Ralio bersamaan membuat Genta terkekeh renyah.
"Udah beres kelasnya?" Tanya Genta.
"Udeeeehhh, enak dah lo ya disini ngadem ngemil kaga bagi-bagi kaga ngajak-ngajak." Ralio menatap sinis Genta. "Gak preeennn banget keluar kelasnya tuh."
"Makanya molor kek gue dong hahaha."
"Lo makin gila ge." Ujar Erhan membuat tawa Genta semakin kencang.
"Iya han , kemarin masih ambek-ambek kaya cewe gegara pisah ranjang. Lah sekarang hepi-hepi gini. Beneran gila."
"Makan labu campur bekicot." Ucap Genta dengan nada memantun.
"Cakep.." Balas Ralio.
"Lo para babu jangan banyak bacot." Genta melanjutkan pantu yang selanjutnya ia tertawa terbahak melihat wajah kesal Ralio.
"Bangke!" Ralio merajuk dan melahap semua makanan milik Genta.
"Jangan dihabisi dong woi!"
"Bodo amat bekicot!" Ucapan Ralio pada Genta sukses membuat Erhan terbahak, pasalnya kedua sahabatnya itu sama-sama menyebikkan mulutnya. So imut tapi jatuhnya malah so imah. Erhan tak tahan melihatnya.
"Udah dah udah. Bukannya lo kesini mau konsultan sama Genta Ral?" Tanya Erhan.
"Iya gue mau konsul ama bang ge. Ampe kelupaan kan gue."
"Mau konsul apa lo sama gue?" Tanya Genta yang kini fokus menatap Ralio.
"Ini nih katanya Erhan mau macarin Aleya." Ucap Ralio dan mendapatkan sebuah hadiah tepat dikepalanya. Geplakan ala Erhan, diam-diam tapi sakit. "Erhan pup dasar!"
"Bekicot lo!" Balas Erhan.
"Udah deh sekarang ada apa coba sini ngomong ke gue yang serius Rali."
"Jadi gini ge, gue agak kesulitan mau nikahin Tara." Ralio berujar pelan namun Genta mengerti jika temannya itu sedang serius meminta bantuannya.
"Mau gue kasih tau cara buat lunakin papahnya Tara?" Ralio langsung mengangguk cepat mendengar ucapan Genta. "Tunjukin harta kekayaan orangtua lo, bilang kalo lo anak satu-satunya kesayangan mereka yang pasti apapun yang orangtua lo miliki bakal jadi milik lo nantinya." Lanjut Genta membuat Erhan dan Ralio berfikir mencerna maksud ucapan Genta.
"Bokapnya Tara itu bisa dibilang matrealistis cuy. Tara mau dinikahin sama om-om dan jadi istri ke-tiga karna papahnya Tara bakal dapet untung banyak dari orang itu. Bisa disebut kaya ngejual anak sih, tapi ya mau gimanapun udah gila harta mah susah Rali. Tunjukin harta lo yang gue yakin langsung dapet restu dah." Jelas Genta saat melihat raut tak mengerti dari kedua sahabatnya.
"Jadi maksud lo.." Erhan menggantung ucapannya serta menaikkan satu alisnya.
"Iya, gue udah tau kasus yang dialami Tara saat ini. Gimananpun dia sahabat gue inget? Dia pernah bilang ke gue kalo dia rela jadi yang kedua asal ga jatuh ke om-om banyak duit itu. Tapi gue diem ga jawab apa-apa. Kalian tau lah kondisi gue kemarin-kemarin gimana." Genta meminum mengambil botol air mineral dari dalam tas nya serta meneguknya hingga sisa setengah. "Lo harus nyombong sama bokapnya Tara kalo mau jalan cepet. Tara itu baik asal lo bisa ngebawa dan ngedidik dia jadi baik. Percaya deh." Lanjutnya Genta kini mendapat tatapan dari Ralio.
"Perlu banget gue nyombongin semua harta orangtua gue?" Tanya Ralio tak yakin namun mendapat anggukan mantap dari Genta.
"Kalo lo mau dapetin Aleya, lo harus terima semua kekurangan dia. Lo tau kalo dia bukan cewe baik-baik. Semua karna faktor keluarga yang ngebuat dia jadi anak pembangkang dan suka dunia malam. Kalo lo arahin dia kejalan yang bener dan selalu ada buat dia tanpa ngebahas masa lalu atau terlalu menuntun perubahan, gue yakin kalo kalian cocok." Genta berdiri dan melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat yang membuat Erhan terdiam.
"Kata gue juga apa. Genta gitu-gitu peka ama kita." Ralio berdiri menyusul Genta dan Erhan baru tersadar beberapa menit kemudian setelah kedatangan Vety yang duduk disampingnya. Dengan gercep Erhan berlari kabur mengejar kedua sahabatnnya dan meninggalkan Vety sendirian dengan kesal.
Kalian masih ingat Vety? Salah satu fansnya Erhan yang berbadan gempal nan suka sekali memeluk Erhan, memberi Erhan bunga mawar serta tak pernah lepas membawa boneka Alvin the Chipmunk. Vety kuat banting sudah diusir, dimarahi serta dijaili oleh Erhan agar tidak menganggunya. Tapi kalo Vety nya udah jatuh cinta sama Erhan ya mau gimana lagi? Terima nasib aja Erhan dikejar sama buntelan lemak.
***
"Selamat sore eferiwaaannn." Teriak Ralio saat memasuki rumah Genta membuat Rehan yang sedang berdiri menggendong Albar memelotototinya tajam.
"Mau om lempar pake popoknya Albar huh?" Ucapan Rehan sukses membuat Ralio mengatupkan mulutnya rapat.
"Sore om." Erhan menyalimi tangan Rehan dan menjuil pelan idung Albar yang tertidur nyenyak.
"Albar ko tidur sih pah? nanti malem Lesta pasti begadang deh." Genta mengambil alih Albar kedalam gendongannya.
"Iya ini habis mandi terus dieyong-eyong bentar malah tidur" Rehan duduk disofa yang diikuti ketiga laki-laki beranjak dewasa itu."Lesta lagi didapur masak, Alca dikamar sama Rafa." Lanjut Rehan melihat gelagat anaknya itu.
"Papah tau aja deh kaya punya mata batin aja. Yakan bang ya duuuhhhh anak ayah udah ganteng gini udah wangin beuuuhhh ayah jadi males mandi kalo Albar udah wangi gini tuh." Genta mencium-ciumi pipi anaknya itu hampir sukses membuat terbangun jika istrinya tidak datang tepat waktu dan menahan wajah Genta yang hendak menciumi lagi wajah Albar.
"Kasian ge nanti bangun rewel gara-gara tidurnya ga nyenyak." Ucap Lesta lembut.
"Aku pindahin ke kamar aja kalo gitu." Genta bangkit dan berlalu menuju kamar untuk meletakkan Albar disamping Alca yang ternyata sudah tertidur juga, jangan lupakan Rafa yang sama tertidur dengan kedua anaknya. Genta berjalan keluar untuk menghampiri Lesta yang kini sedang menata makanan di meja makan.
"Ge mandi dulu sana" Ucap Lesta mencoba melepaskan pelukan Genta pada pinggangnya.
"Mandiin dong sayang" Balas Genta.
Pl**tak.
"Aiiisshh..... Papah mah suka banget nyiksa anak sendiri" Genta memberengut menatap Rehan yang tadi memukul kepalanya menggunakan sendok sayur.
"Mandi sana!" Perintah Rehan membuat Genta mencak-mencak berjalan menuju kamarnya yang terletak dilantai 2 mengabaikan kedua sahabatnya yang daritadi melihat kelakuan tak berfaedah seorang Gentara Satya Adhitama.
"Ga pantes Bang ge!" Teriak Erhan dan Ralio bersamaan dari bawah tangga kepada Genta yang kini sudah ditangga paling atas.
"Balik sonoh ke rawa-rawa!!" Balas Genta meneriaki kedua sahabatnya itu.
"Gue mandi dulu bentar." Genta berdiri dan berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Erhan dan Ralio berduaan.
"Jadi gimana Han? masih bingung?" Tanya Ralio pada Erhan.
"Gimana apanya?"
"Aleya. Cuma mantan pacar Genta doang kok bukan bekas pake Genta." Ucap Ralio datar tapi sukses membuat Erhan menendangnya terjatuh tidak tampan dari kasur.
"Sakit bege!" Teriak Ralio
"Gue ga berharap apa-apa ko sama Aleya. Itu mah kaliannya aja yang hewir iyuwh." Erhan meletakkan tangan kanannya diatas mata untuk menghalau cahaya.
"Yakin lo?" Tanya Ralio menelisik.
"Yakin!"
"Yawdah." Balas Ralio yang kini ikut membaringkan badannya kembli disamping Erhan. Ia menatap langit-langit kamar Genta yang berwarna putih bersih namun ada tempelan-tempelan bintang yang akan menyala jika lampu kamar dimatikan dimalam hari. Ia memejamkan matanya mengulang kembali perjuangan yang ia lakukan untuk menikahi Tara. Jujur dalam hati Ralio pernah menaruh hati pada sahabat Genta itu saat SMA, tapi tak lama karna ia tau jika yang dijatuhi hati oleh Ralio sudah lebih melabuhkan hatinya pada sahabat kecil - Gentara.
"Apa kudu pamer baru direstuin?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri.
"KUDU!" Jawab Erhan yang entah sejak kapan sudah terduduk menatapnya serta Genta yang sudah beres mandi berdiri bertolak pinggang dengan handuk dilehernya. "BIAR CEPET DAPET RESTU!!" Ucap mereka lagi bersamaan pada Ralio.
"Iya dah iya. Besok nanti malem gue coba buat ngomongin ini ke nyokap ama bokap. sekarang maen PS dulu aja gengs." Ralio bangkit berjalan menuju tv hendak memasangkan PS terbaru milik Genta, namun langkahnya terhenti karna kerah bajunya yang dicekal oleh Erhan.
"Kerjain tugas dulu baru maen PS!" Ucap Erhan ketus.
"Pacarin dulu Aleya biar ga JONES!" Balas Ralio ketus yang berlalu duduk disofa membuka laptop serta buku-buku untuk mengerjakan tugas.
"Denger tuh, pacarin dulu Aleysa biar ga jones wkwkwk." Ejek Genta yang berlalu duduk disamping Ralio dan juga mulai mengerjakan tugas.
"Bangke!!" Umpat Erhan menyusul keduanya.
***
Disalah satu taman kota duduk dua wanita yang saling diam dengan fikirannya masing-masing. Hingga helaan nafas keluar bersamaan dari mulut mereka membuat kekehan kecil keluar bersamaan juga.
"Jadi apa yang mau lo omongin ke gue?" Tanya Aleya pada Tara.
"Apa obsesi lo ke Genta udah hilang sepenuhnya?" Aleya balik bertanya tanpa menatap orang yang ia ajak bicara.
"Entah" Balas Tara acuh.
"Apa lo udah yakin nerima Ralio?" Tanya Aleya kini menatap Tara lekat yang hanya dibalas anggukan kecil. "Lo tau kan walau Ralio itu sedikit miring tapi dia itu baik. Gue ga kenal lama sama dia tapi cukup ngebuat gue tau tentang sikapnya yang setia kawan, baik, perhatian, yah walau banyak minusnya."
"Jangan lupain sifat pelit irit duitnya itu" Balas Tara dengan kekehan.
"Hahaha iya lo harus banyak bersabar aja kalo soal urusan itu." Aleya ikut terkekeh kecil.
"Dan lo gimana sama perasaan lo?" Tanya Tara pada Aleya.
"Gue? gue mau balik ke inggris aja kayanya." Jawabnya datar.
"Yakin? Erhan?"
"Gue ga ada apa-apa sama Erhan. Lagian gue ini ga pantes dapetin cowok baik-baik dan menurut gue ketiga pangeran tampan idiot semuanya pria baik-baik." Jawab Aleya menatap Tara.
"Perasaan lo ke Genta itu apa? Gue ucapin maaf sekali lagi dulu pernah ngancurin hubungan lo sama dia"
"Rasa yang belum tuntas mungkin? tapi sekarang gue udah coba ikhlasin, gimanapun Genta udah nikah dan dapetin Lesta sebagai istrinya. Lo tau, dia itu sodara gue yang ga ada bandingannya. Bahkan sama kita berduapun ga bisa dibandingin gitu aja."
"Iya ya Al, kayanya Genta udah bahagia banget sama istrinya." Tara menyenderkan tubuhnya pada kusi taman. "Kalo misal Erhan merjuangin lo gimana Al?"
"Gue ga akan pernah mau diperjuangin sama laki-laki sebaik Erhan. Gue ini udah rusak, ga pantes untuk bersanding dengan laki-laki sebagus Erhan."
"Bagus kalo lo sadar!" Ucap Erhan dari belakang kursi yang diduduki oleh Tara dan Aleya membuat kedua wanita itu dengan refleks membalik badan ke belakang yang langsung berhadapan dengan Erhan serta Ralio. "Kita balik!" Ucap Erhan datar berjalan kedepan Aleya dan menarik tangannya menuju mobil pria itu.
"Mau kaya gitu juga ga Tar?" tanya Ralio pada Tara yang membuat Tara memutar matanya malas.
"Drama banget pig!" Ketus Tara berdiri dan berjalan melewati Ralio.
"Mobil gue disana kalo lo gatau" Ucap Ralio sambil menunjuk mobil yang terparkir disamping mobil Erhan berlawan arah dengan arah jalan Tara. "Lo mau kemana heh??!" Teriak Ralio saat Tara terus berjalan tak berniat untuk membalik badan berjalan padanya.
"Planet Mars!" Balas Tara ketus saat Ralio sudah berdiri disampingnya.
"Gue ikut. Biar gue yang bayar." Ralio menghadang jalan Tara dan melepas jaketnya sebelum ia sematkan dibadan kecil wanita itu. Ralio menggenggam tangan Tara dan menariknya lembut menuju mini market yang tak jauh dari mereka. Sebenarnya Ralio itu orangnya peka, cuma kebanyakan nyeleneh jadi ga keliat sifat pekanya itu.
Sampai dimini market Ralio mengambil keranjang belanja dan berjalan menuju tempat Es krim, tempat minum, makanan ringan dan makanan instan yang selanjutnya berjalan menuju kasir. Tapi saat dikasir, Tara melepaskan tangannya membuat Ralio kembali menarik.
"Rali lepasin dulu!" Ucap Tara ketus.
"Mau kemana ini udah mau bayar." Ralio menarik tangan Tara dan berdiri didepan kasir serta menyerahkan semua belanjaannya.
"Gue mau ngambil sesuatu." Jawab Tara dengan nada sinis.
"Es krim?" Tanya Ralio.
"Bukan" Jawab Tara dingin.
"Air mineral?"
"Bukan"
"Snack?"
"Bukan Rali!"
"Mie instan?"
"Bukan Ralio!!"
"Od--"
"Gue mau beli pembalut bangke!!" Teriak Tara kesal menyentak tangan Ralio kasar hingga terlepas hendak berlalu namun tangannya dengan cepat dicegah oleh Ralio.
"Oh pembalut. Lo suka yang pake sayap atau engga? Biar gue yang ambil" Ucap Ralio sungguh membuat semua orang menatap mereka berdua.
"Ralio Putra Yasa Bangkeeeeee!!" Tara menghentakkan kedua kakinya berjalan keluar mini market dengan malu, sedangkan Ralio terkekeh berjalan mengambil 2 bungkus pembalut dan menyerahkannya pada kasir untuk ditotal sekalian.