TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 28



“Lo mau pesen apa Han?” Tanya Genta pada Erhan yang kini berdiri dihadapannya.


“Semuanya dong Ge.” Erhan berjalan menuju setiap stand makanan yang ia inginkan diikuti oleh Genta dibelakangnya, sedangkan Ralio masih berdiam diri dipintu masuk kantin menatap kesal kedua sahabatnya itu.


“Ralio sini bayar!!” Teriak Genta dan Erhan bersamaan membuat Ralio makin mencak-mencak dan menghampiri mereka berdua serta mengeluarkan uang dari dalam dompet dengan berat hati.


Awalnya memang ia ingin mentlaktir kedua sahabatnya itu sebagai balasan karna sudah membantunya dalam mendapatkan Tara Puriani. Tapi lihat lah sekarang, Genta serta Erhan dengan tidak tau diri nya benar-benar membeli semua makanan satu persatu dari setiap stand yang ada dikantin. Memang sih hanya dikantin kampus, tapi jika mereka membeli semuanya masing-masing satu membuat uangnya keluar lebih banyak. Dengan misuh-misuh ia menghampiri Genta dan Erhan yang sudah duduk dimeja pojokan kantin jangan lupakan segunung makanan yang memenuhi meja mereka. Percaya tidak jika mereka bisa menghabiskan semuanya? Percaya saja karna bagaimana pun mereka itu doyan makan, kalo ga habis mereka cukup ngomong “Mubazir, bungkus aja bisa lanjut makan dirumah.” Ajaib bukan? Ya itu lah mereka, ya walau Ralio juga sama.


“Bangke duit gue habis nih!” Teriak Ralio pada kedua sahabatnya itu.


Genta dan Erhan saling pandang , mengedikkan bahu dan lanjut memakan semua jajanan yang mereka beli. Mereka berdua sengaja tidak sarapan dirumah hanya untuk bisa menyantap ini semua tanpa ada yang terbuang sedikit pun, percaya lah ini tuh hari paling berssejarah yang tak bisa dilewatkan apalagi di sia-sia kan. Kapan lagi Ralio dengan senang hati menawarkan diri mentlaktir mereka berdua coba? Kalo dia khilaf saja mungkin, seperti saat ini.


“Udah ngabisin duit gue, ga bagi-bagi lagi!” Lagi Ralio berbicara dengan nada ketus menatap keduanya yang mereka acuhkan dengan mengedikkan bahu tak peduli. “Kampreeetttt!”


“Jangan banyak ngumpat, nanti ga jadi nikah ga bisa ngelakuin yang mantep-mantep” Ucap Genta sambil memasukkan cilok kedalam mulutnya, tapi sukses membuat Ralio berdiri dan membeli makanannya sendiri. Awalnya tidak ingin rugi mencoba untuk nyomot makanan Erhan dan Genta, tapi setiap tangannya akan menyentuh salah satu makanan eh malah kepretan yang ia dapat ditangannya itu. Punya sahabat lucknut ya gitu, pelit makanan padahal Ralio juga mampu buat beli semua makanan yang ada dikantin cuma ya kalo kalian lupa Ralio itu orangnya hemat alis pelit irit duit dan gamau rugian banget. Dan bagi Genta maupun Erhan punya sahabat lucknut kaya Ralio itu ya kali-kali harus dibales lah termasuk mereka juga gamau rugi kalo dia sendiri gamau rugi, adil kan? Adilin aja biar cepet dah, eh.


Usai makan dikantin mereka kembali kedalam kelas karna masih ada matkul yang harus diikuti hari ini. Kalian tau, Ralio sungguh takjub pada Erhan serta Genta yang dengan benarnya menghabiskan semua makanan yang mereka beli tanpa ada yang tersisa apalagi dibawa pulang. Mereka itu masuk ke kategori manusia yang banyak makan tapi badannya tetep kurus. Prinsip mereka itu “Jangan takut gendut. Makan aja apa yang di mau hidup itu cuma sekali nikmati dan syukuri”.


“Heh langsung balik Rali?” tanya Genta pada Ralio yang berjalan keluar kelas mendahuluinya.


“Heem, mau kawin ini banyak yang diurus” Setelah menjawab pria itu berlari meninggalkan kedua temannya yang mendengus kesal.


“Lo kapan?” Tanya Genta pada Erhan, membuat temannya itu ancang-ancang akan kabur namun kerah bajunya lebih dulu tertahan oleh Genta.”Jangan kabur. Sini cerita sama gue, udah cp cp masa kaya official sih.” Lanjutnya sambil menarik Erhan menuju perkiran.


“Erhan!!” Panggil Vety si wanita berbadan gempal tepat didepan Genta serta Ralio yang sedang berjalan dilorong hendak keluar menuju parkiran.


“Astagfirullah gentong!” Teriak Genta dengan mengelus dadanya pelan, sedangkan Erhan hanya mendengus kasar.


“Ehehehe maaf Gentara ga keliatan tadi, yang keliatan cuma prince Erhan Radea sih” Ucap Vety dengan nada malu-malu.


“Ada paan dah, gue sibuk!” Ujar Erhan ketus menatap Vety dan coba melepaskan diri dari Genta yang tak kunjung berhasil.


“Ngobrol bentaran doang boleh ya?” Tanya Vety yang tumben-tumbenan senyum tapi dengan nada sendu.


“Awas bang ge. Bentar doang!” Erhan menyentak tangan Genta dengan keras membuat cekalannya terlepas dan berjalan menuju mobilnya yang diikuti oleh Vety. Genta? Tak perduli Erhan pada sahabatnya itu yang pasti langsung pulang tanpa minat untuk mengikutinya.


Awalnya Erhan hanya akan mengajak Vety bicara disamping mobil namun saat wanita itu akan mengucapkan sesuatu Erhan tiba-tiba menyuruhnya masuk kedalam mobil dan mereka berdua keluar dari pekarangan kampus. Sepanjang perjalanan suasana canggung nan hening, bahkan tidak ada yang beniat untuk menyalakan radio ataupun music dalam mobil hingga mereka berdua sampai disalah satu caffe duduk dikursi luar dengan masing-masing segelas jus dihadapan mereka.


“Jadi gini Erhan.” Vety memulai berbicara dan mengadahkan kepalanya menatap Erhan. “Makasih ya buat waktunya kali ini hehe, aku cuma mau bilang kalo aku sungguh berterimakasih bisa kenal sama kamu. Maaf kalo selama ini mungkin aku ngebuat kamu risih tapi ya aku cuma kefikiran cara itu agar bisa deket sama kamu. Kamu tau han? Kamu itu bagai kehidupan baru bagi aku. Aku sadar diri kok kalo aku ini jelek, gendut dan ga pantes buat kamu tapi aku juga punya hak untuk terus mencintai kamu meski kamu ga ngebales setitik pun. Mulai besok ga akan ada lagi yang ngejar-ngejar kamu, teriakin nama kamu dari radius 10 meter, gangguin jamkos nya kamu, pokoknya hidup kamu bakalan tenang hehe.” Vety berusaha tetap menampilkan senyumnya dengan meminum jus miliknya, ia menatap mata hitam Erhan yang membuat ia perlahan berdiri dan mengulurkan tangannya pria itu.


“Aku pamit, mau lanjutin kuliah dikorea hehe. Jangan kangen ya Erhan Radea kalo Vety manis pergi.” Ucap Vety dengan tangan masih mengantung dihadapan Erhan , melihat pria itu seperti tak akan menerima uluran tangannya ia mengela nafas pelan dan tersenyum menarik kembali tangannya.


“Kapan lo pergi?” Tanya Erhan dengan tangan yang menerima uluran tangan Vety.


“Sore nanti.” Jawab Vety melepaskan pegangan tangannya pada Erhan. “Aku pergi, bye Erhan.” Lanjutnya berlalu meninggalkan Erhan yang berdiam diri ditempatnya tadi, ia tak tau apa yang harus dilakukannya namun kini Erhan sudah berlari menghampiri Vety yang akan masuk kedalam taxi dan memeluknya erat membuat wanita itu tersentak kaget.


“Take Care Vet.” Ujar Erhan menampilkan senyum terbaiknya setelah melepaskan pelukannya.


“Thanks.” Balas Vety sebelum masuk kedalam taxi dan berlalu pergi dari hadapan Erhan.


Erhan kembali ketempat tadi ia terduduk berbincang bersama dengan Vety, mengambil jaket yang ia kenakan dan berlalu menuju mobil pergi meninggalkan caffe. Dari jarak yang tidak terlalu jauh sejak tadi berdiri seorang wanita yang tidak terlalu tinggi, pipi tembam serta rambut sedikit ikal – Aleya Ateja Putri. Entah mengapa ia enggan untuk pergi ataupun menghampiri sehingga ia hanya berdiri memperhatikan apa yang Erhan lakukan sejak saling berpegangan tangan dengan seoranag wanita yang tak ia kenal hingga pria itu berlari mengejar serta memeluk tanpa aba. Ada sedikit rasa sakit dalam dada namun ia abaikan, kini ia membalik badan berjalan menjauh dari tempat itu. Niat awal akan mencari sesuatu di toko buku pinggir caffe eh yang ia dapat malah Erhan Bersama dengan seorang wanita. Bahkan wajah cantiknya tidak membuat Erhan meliriknya, pria itu lebih tertarik dengan wanita berbadan gempal tapi terlihat jelas jika wanita itu wanita baik-baik berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah hancur.


“Tau diri aja Aleya, Erhan itu ga pantes sanding sama lo. Euh yang ada juga lo yang ga pantes bersanding dengan Erhan Radea.” Ujarnya bermonolog sambil berjalan kaki.


Erhan memberhentikkan mobilnya didepan kediaman Adhitama, dengan santainya ia memarkir mobil dan langsung berjalan memasuki rumah yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Ia menelisik tidak menemukan siapapun, ia pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Genta dan membukanya dengan kencang membuat Genta yang sedang bermain ps terlonjak kaget.


“Bangke! Nyopan dikit dong kalo namu!” Dengus Genta melanjutkan main ps.


“Orang-orang pada kemana ge? Sepi amat.” Ujar Erhan duduk disamping Genta.


“Ada ditaman belakang paling juga, mau apa lo tumben maen datang aja ga ngabarin dulu.” Tanya Genta dengan fokus masih ke layar tv.


“Kencan ama Vety kan? Pantes Aleya kaga lo lirik ternyata diam-diam Erhan menaruh hati sama Vety Asyila Jingga adudududu.” Genta menangkup wajah Erhan dan mencubitnya gemas membuat Erhan langsung menyentakkan dengan kasar.


“Berisik lo! Si Vety pindah mau pergi ke korea lanjut disana!”


“Mo ngapain? Oplas? Si Vety sebenernya cans tapi badan gempalnya itu sih yang bikin ngedorong kaya gentong.” Genta menyilangkan kedua tangannya diatas dada.


“Gue juga tau kalo si Vety cantik plus manis cuma badannya kaya gentong dan kelakuannya yang ngejar-ngejar gue bikin risih.” Erhan menyenderkan tubuhnya pada sofa.


“Terus lo lepas si Vety gitu aja?” Tanya Genta.


“Iya lah, masa gue cegah, toh kan emang keinginan dia juga lanjut kuliah disana buka gegara cintanya gue tolak ya inget-inget tuh!” Jawab Erhan sedikit ketus pada Genta.


“Terus lo sama si leya gimana? Tadi lo maen kabur aja , sini cerita sama gue.” Genta pun ikut menyenderkan tubuhnya pada sofa menatap Erhan.


“Ga tau.” Erhan berujar dengan nada sangat dingin.


“Lo tau kan Aleya gimana han? Dia itu baik cuma ya dulu kasusnya kan udah dijelasin juga gimana, siapa tau sekarang ga akan kaya gitu.”


“Ga tau ah, gue masih meragu. Mending jomblo dah gue mah dibanding mikirin cinta yang ga akan ada ujungnya.”


“Yaudah sih, cuma ya kalo butuh apa-apa gue selalu ada buat lo. Kecuali kalo waktu gue sibuk, sorry aja ini mah wkwkwk.”


“Sama aje bo’ong bang ge!” Erhan mendengus sedangkan Genta terbahak melihat raut sahabatnya itu yang memberengut hingga hpnya berdering membuat ia terhenti.


Mas Arfand is calling.


“Hallo mas”


“Ge dimana?” tanya Arfand disebrang sana.


“Dirumah ada apa?”


“Cek email, tolong cekin dulu beberapa yang harus diurus mas sibuk dan papah juga sibuk. Thank.” Arfand mematikan sambungannya sepihak dan kali ini Genta yang memberenggut kesal.


Genta berdiri menghampiti tas kuliahnya yang tadi ia simpan diatas meja, lalu mengambil laptop dan kembali duduk disamping Erhan. Membuka email yang Arfand maksud kini Genta mulai fokus membuka dan membaca satu persatu apa yang harus ia cek dan kerjakan. Genta itu pintar hanya saja banyak malesnya, jadi ya gitu lebih main ps dibanding ke hotel padahal hari belum sore-sore banget.


“Mulai kerja Ge?” Tanya Erhan.


“Heem, bt gue.” Jawabnya dengan mata dan tangan masih fokus pada laptop.


“Gue juga diminta mulai bantuin bokap. Tapi masih ragu, gue rasanya masih pingin lanjut S2.”


“Perusahaan bokap lo itu lebih banyak dan gede dibanding bokap gue, harusnya sih butuh waktu dan mental yang lebih kuat ya han keke.”


“Iya ge, gue anak tunggal jadi semuanya nanti gue yang ngurus. Lo mau ga salah satu perusahaan bokap gue? Gue kasih dengan iklas deh ini mah aslinya.” Erhan berucap menatap Genta sendu.


“Cuma lo yang bakal jadi penerus Radea Group. Bukan gue apalagi Ralio.” Genta menggelengkan kepalanya menolak ucapan Erhan.


Bukan kali pertama Erhan menawarkan itu semua pada kedua sahabatnya, dan selalu mendapat sebuah penolakan. Bukan apa-apa tapi mereka berdua juga masih memiliki perusahaan yang harus mereka urus. Memang diantara ketiganya hanya Genta yang memiliki saudara dan papahnya - Rehan memiliki perusahaan paling kecil dibanding milik Atmaja dan Rajata tapi Genta, Arfand , serta Rafardhan punya bagiannya masing-masing apalagi sekarang Rehan mulai lagi membuka beberapa cabang hotelnya. Pernah juga ia ditawari oleh Rajata untuk membantu mengelola perusahaan furniture nya tapi dengan sopan Genta tolak.


Menjadi penerus Radea Group bukan keinginan Erhan, sejak kecil ia sangat ingin menjadi seorang dokter bedah tapi itu semua harus dikubur dalam-dalam. Rajata tak pernah sekalipun melarang Erhan untuk memilih jalan hidupnya, tapi Erhan adalah anak yang peka dan sangat menyangi kedua orang tunya meski mereka jarang sekali kumpul tapi itu semua dilakukan untuk mendapatkan semua fasilitas yang Erhan miliki saat ini. Rajata pernah meminta Erhan untuk benar-benar memilih jurusan yanng ia minati namun anaknya itu tetap masuk manajemen agar bisa melanjutkan dan menjalankan perusahaan keluarga Radea yang sudah dibangun dari nol oleh almarhum kakeknya hingga besar oleh papahnya. Meski dalam hati terkadang rasa menyesal merambat tapi Erhan selalu mencoba tegas dan fokus pada pendidikannya saat ini.


“Han, lo masih mau jadi dokter?” Tanya Genta dengan pelan namun cukup terdengar oleh Erhan yang menatap langi-langit kamar dan mengangguk mengiyakan.


"Tapi semuanya udah gue coba kubur dan gue lupain sejauh mungkin. Bokap masih butuh gue buat nerusin perusahaan." Jawabnya dengan datar.


"Kalo gue mau bantu lo ngurus perusahaan apa lo mau lanjut kuliah kedokteran lo?" Tanya Genta membuat Erhan langsung mengalihkan pandangannya pada wajah Genta yang menatap dengan serius.