TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 31



Beberapa minggu berlalu hingga tak terasa jika akad pernikahan Ralio sudah tinggal dua hari lagi, yang artinya mulai lusa salah satu dari tiga sejoli itu akan menjadi seorang imam menyusul Genta. Sisa Erhan yang masih sendiri dengan perasaannya yang masih melaut belum tau dermaga cinta mana yang akan ia singgah.


“Lo yang namanya Erhan Radea?” Tanya seorang mahasiswa yang tak ia kenal.


“Lo siapa?” Erhan malah balik bertanya bukan menjawab.


“Dicari sama Profesor Arian, ditunggu di lab biologi sekarang.” Ujar mahasiswa itu sambil berjalan melewati Erhan, namun lebih dulu dicekal sebelum melangkah lebih jauh.


“Kenapa itu Profesor nyari gue?” Tanya Erhan yang hanya dibalas gedikan bahu saja dan mahsiswa itupun kembali berjalan pergi.


Erhan hanya menghela nafas kasar, ia melirik arloji mahalnya. Sudah hampir 30 menit ia menunggu kedua sahabatnya namun tak kunjung datang, akhirnya ia pun berjalan menuju fakultas kedokteran yang memang beda gedung dengan manajemen. Ia berjalan sambil melirik sekitar dan sesekali membalas senyuman mahasiswi yang menyapa nya. Hingga tak terasa ia sudah sampai depan ruangan bertuliskan ‘Lab Biologi’ , ia mengetuk tiga kali dan menurunkan pedal kebawah membuka sedikit pintu ia melihat seorang pria yang kisaran mungkin seumuran dengan papahnya.


Ia berjalan menghampiri dan berdiri tepat disamping pria itu yang ia tau Profesor Arian, Profesor terbaik difakultas kedokteran yang ahli dalam bidang bedah terutama bedah jantung. Ia menyalimi tangan pria itu dengan senyuman yang dibalas ramah oleh Profesor Arian.


“Kamu yang namanya Erhan Radea?” Tanya Profesor pada Erhan yang dibalas anggukan kepala kecil. “Duduk dulu sini, ada yang mau saya bicarakan.”


“Ada apa ya Profesor manggil saya kesini? Saya anak manajemen bukan kedokteran.” Tanya Erhan kentara sekali jika ia heran tetiba dipanggil oleh seorang dosen yang menyandang gelar profesor bahkan salah satu ahli bedah terbaik dikotanya.


“Saya mau tanya, apa cita-cita kamu?” Tanya Arian dengan santai sehingga membuat Erhan yang tegang menjadi sedikit santai.


“Cita-cita saya?” Tanya Erhan yang dibalas anggukan kepala. “Membahagiakan orang tua.” lanjutnya.


“Bagaimana cara kamu membuat orang tua mu bahagia?” Tanya Arian membuat Erhan mengerutkan dahinya.


“Dengan cara apapun akan saya lakukan demi membuat orang tua bahagia.”


“Jawaban klise. Kamu tau hal apa yang gampang sekali membuat orang tua bahagia?”


“Hal gampang yang membuat orang tua bahagia..... melihat anaknya sukses.” Jawab Erhan dengan santai.


“Tapi kamu tau ga jika tidak semua orang tua mengharapkan anak nya sukses demi membuat mereka sendiri bahagia?”


“Tidak. Setau saya semua orang tua akan bahagia jika melihat anak mereka sukses.”


“Apakah orang tua mu termasuk pada kategori yang kamu sebutkan tadi?” Tanya Arian dengan tangan mengelus lembut surai hitam Erhan.


“Orang tua saya?” Tanya Erhan lagi sambil menunjuk diri sendiri.


“Iya, orang tua kamu. Rajata Radea dan Zhira Athaya.” Jawab Arion.


“Anda tau orang tua saya?” Tanya Erhan sedikit kaget.


“Siapa yang tidak tau Rajata Radea di RS Harapan Sehat hm? Pemilik saham terbesar ditempat saya bekerja.” Jawabnya dengan senyuman dan jari telunjuk yang menurunkan kerutan di dahi Erhan.


“Orang tua saya tidak pernah menuntut apapun, mereka selalu bilang jika mereka bahagia jika melihat saya bahagia.” Erhan sedikit menundukkan kepala.


“Itu jawabannya. Tidak semua orang tua bahagia saat melihat anaknya sukses, buktinya orang tua kamu akan bahagia hanya dengan melihat kamu bahagia. Jadi hal apa yang akan kamu lakukan untuk membuat orang tua mu bahagia?”


“Membuat diri saya lebih dulu bahagia?” Erhan menjawab dengan sedikit nada bertanya.


“Jawablah dengan tegas jangan ragu.” Ucapan Arian membuat Erhan menatap tegak Arian.


“Membuat diri saya lebih dulu bahagia!” Kali ini dengan nada lebih tegas dan yakin.


“Lihatlah ini.” Arian menyodorkan map coklat kepada Erhan. “Jangan pernah ragu untuk mencapai cita-cita, jangan buat berbagai alasan untuk menimbunnya. Berkata jujur dan terus terang lebih dihargai dan dipahami oleh orang lain.” Lanjutnya, yang kini mulai berdiri dan melangkah keluar.


Erhan hanya menatap  kepergian Arian dengan datar. Ia mulai mengambil amplop itu dan membukanya perlahan. Dibagian atas ia bisa melihat ada foto copy katu KTM nya yang ia pertanyakan Arian dapat dari mana. Erhan melanjutkan menarik berkas itu yang ternyata cukup tebal dan kini terlihat jelas.


Surat-surat pendafataran mahasiswa baru di fakultas kedokteran yang dimulai semester depan dengan mengambil spesialis bedah jantung. Tapi yang membuatnya lebih kaget tak percaya adalah terpampang jelas nama ERHAN RADEA di seluruh berkas itu. Ia membaca berkali-kali berkas itu tak percaya, ia mematung beberapa detik sebelum selanjutnya ia berlari keluar ruangan dengan membawa semua berkas untuk ia pertanyakan pada Arian. Namun langkahnya terhenti saat sampai diluar ia melihat sebuah spanduk besar bertuliskan.


ERHAN RADEA


GAPAI LAH CITA-CITA SETINGGI LANGI


HINGGA LANGIT IRI MELIHAT CITA-CITA MU


DOKTER BEDAH? IT’S COMING,,


MANAJEMEN? DON'T BE JEALOUS,,


LOVE YOUR BEST FRIEND


LOVE YOUR PARENTS.


Erhan semakin mematung tak percaya membaca kata-kata itu ditambah kedua sahabatnya - Genta dan Ralio memegang disisi kiri dan kanan, Rajata dan Zhira berdiri disisi kanannya memegang buket bunga, disisi kiri ada Profesor Arian tersenyum hangat, jangan lupakan seluruh teman satu kelasnya berdiri mengelilingi dengan memegang satu batang bunga mawar.


“Erhan semangat!” Teriak mereka bersamaan membuat Erhan luruh berjongkok menutupi wajahnya.


“Nak..” Panggil Rajata berjongkok didepannya mengelus sayang surai anak semata wayangnya itu. “Gapai cita-cita kamu, jangan ragu buat melangkah memilih jalan. Papah dan mamah akan selalu mendukung kamu hingga kapanpun dan apapun itu yang membuat anak kesayangan papah bahagia.” lanjutnya.


“Nak, mamah sama papah ga pernah ngelarang kamu buat ngelakuin yang kamu mau. Gapai cita-cita kamu jika kamu ingin melihat mamah dan papah bahagia.” Ucapan lembut dari Zhira membuat Erhan mengangkat kepalanya sedikit.


Terlihat jelas mata yang memerah dan basah pertanda jika sejak tadi pria itu menangis dalam dia. Jangan lupakan tangan kemeja Erhan yang sudah membasah. Kali ini Erhan mengizinkan kalian untuk mengumpatinya. Katakan Erhan cengeng, tapi anak mana yang ga cengeng melihat ini semua. Berkas pendaftaran masuk fakultas kedokteran, ucapan selamat dari para sahabat, dan jangan lupa kedua orang tua nya yang mengelus pelan puncak kepala nya dengan lembut disertai kata-kata yang membuatnya semakin lemah.


“Jangan cemen lo Erhan!” Teriakan Ralio sukses membuat Erhan terbangun berdiri bersama kedua orang tuanya.


“Emangnya lo doang yang bisa bikin orang bahagia!” Kali ini sang papah muda - Genta yang berteriak.


“Kita juga bisa buat lo bahagia!” Ujar seluruh orang serempak sambil tersenyum semangat pada Erhan.


“LO!” Erhan menunjuk Genta serta Erhan yang selanjutnya berlari dan memeluk kedua sahabatnya itu dengan bergumam terima kasih.


Satu persaru orang menyerahkan bunga mawar pada Erhan dan mengucapkan selamat semoga lancar menjalani perkuliahan dengan dua jurusan. Awalnya ada sedikit perdebatan antara Rajata, Genta serta Ralio perihal kelanjutan Erhan difakultas manajemen. Namun final dimenangkan oleh kedua anak muda itu, mereka percaya jika Erhan sanggup menjalani kehidupannya dengan mengambil dua jurusan dengan tahun berbeda. Toh jika tidak sanggup pun pasti Erhan akan melepas salah satu - pastinya manajemen yang memang bukan minatnya.


“Terimakasih Prof, sampai bertemu semester depan.” Balas Erhan dengan memeluk pria paruh baya itu.


“Jadi ini rencana siapa?” Tanya Erhan setelah yang lain pergi menyisakan dirinya, Genta, Ralio, Rajata serha Zhira.


“Tuh!” Tunjuk yang lain serempak pada Genta.


“Duh kaya nya istri gue lagi kangen, gue balik dulu ya bye.” Genta memundurkan langkahnya hendak berlari namun tak lebih cepat dari tarikan Erhan.


“Bisa kita bicara empat mata GENTARA SATYA ADHITAMA.” Ucap Erhan penuh penekanan dan menarik sahabatnya itu keluar dari fakultas kedokteran yang diikuti  oleh Ralio, sedangkan Rajata serta Zhira pamit pergi karna masih ada urusan kantor.


Ditaman fakultas manajemen mereka - Genta, Erhan dan Ralio duduk diam disalah satu kursi yang berada dibagian ujung taman. Bagian paling sepi karna jarang ada yang kesitu, alasannya sih jauh. Erhan yang duduk ditengah pun menghela nafas setelah beberapa menit tidak ada yang mulai berbicara. Ia melirik sisi kanan yang langsung berhadapan dengan Genta, namun yang dilirik malah membuang mukanya menatap ke sebelah kanan. Menghela nafas lagi, Erhan melirik sebelah kiri melihat Ralio yang sedang fokus pada hp nya senyum sendiri entah apa yang sedang dilakukan. Karna kesal akhirnya Erhan memukul kepala bagian belakang kedua sahabatnya itu hingga meringis kecil.


“Jadi..... apa ga ada yang anda ingin bicarakan dengan saya bapak GENTARA?” Tanya Erhan menelisik tajam.


“Apa ya?” Genta pura-pura berfikir dengan mengelus pelan dagunya dan kaki kiri yang ia simpan diatas kaki kanan.


“Jangan pura-pura mikir kalo ga mau gue gepak pake kaos kaki Ralio.” Ancam Erhan.


“Kampreeett!” Genta bergidik ngeri. Kaos kaki Ralio yang Erhan maksud adalah kaos kaki kesayangan Ralio yang jarang sekali dicuci, mungkin terhitung baru 3 kali dicuci sejak dibeli 2 tahun lalu. “Jadi ya gue sepakat buat bantu lo ngurus perusahaan Radea Group, dan buat hotelnya papah yang jadi bagian gue itu bakal sedikit dibantu sama Lesta. Sekarang lo fokus aja buat ngejar materi biar ga lama-lama tuh jadi dokter. Buktiin kalo lo bisa lebih cepat jadi dokter dari mahasiswa baru yang lain.” Lanjut Genta sambil bersidakep dada dan menyenderkan punggungnya pada kursi.


“Bokap lo?” Tanya Erhan.


“Gue udah ngomongin ini sama bokap, dan juga om Rajata. Jadi lo tenang aja, gue juga udah tau diperusahaan mana aja gue harus pimpin ngebantu lo.” Jawab Genta dengan santai.


“Terus ini curut kerjaannya apa?” Tunjuk Erhan pada Ralio yang masih juga fokus pada hp nya.


“Dia yang ngurus surat-surat lo.”


“Serius?” Erhan duduk tegak mendengar jawaban Genta yang dibalas anggukan mantap. “Lo yang ngurus suart-surat gue semua Ral?” Tanya Erhan pada Ralio namun diabaikan.


“Ralio!” Panggil Erhan sedikit menaikkan nada suaranya.


“Hmm” Jawab Ralio dengan dehaman kecil.


“Lo yang ngurus surat-surat gue?” Tanya Erhan lagi.


“Surat apaan? Surat cinta untuk Aleya? Urus aja ndiliii.” Jawab Ralio absurd tanpa mengalihkan pandangannya dari hp.


Ralio tak sadar dengan jawabannya itu membuat Erhan terdiam mematung. Genta yang sadar melihat respon Erhan pun sedikit berdiri dan menggeplak kepala belakang Ralio. Saat Ralio menatapnya tajam, Genta menunjuk Erhan yang masih terdiam dengan tatapan kosong. Hanya mendengar nama Aleya membuatnya blank seketika. Sekelibat memori malam itu berputar bak kaset lama. Erhan mengacak rambutnya kasar dan mengusap wajahnya gusar sebelum menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan yang ia topang diatas paha.


“Arrrgghhhh!” Erhan mengerang frustasi, lagi ia mengusap wajahnya gusar.


“Lo kenapa Han?” Tanya Genta dengan tangan mengusap lembut pundak Erhan, sedangkan Ralio menatap bingung.


“Aleya Ge.” Jawabnya pelan namun masih terdengar oleh kedua sahabatnya itu.


“Aleya kenapa?” Tanya Genta lagi.


“Gue hampir ngelakuin kesalahan besar.” Jawabnya lagi, Erhan semakin menundukkan kepalanya.


“Kesalahan apa?” Tanya Genta dengan tangan menarik pundak Erhan agar tidak semakin menunduk.


“Paling juga kesalahan karna sadar perasaannya.” Celetuk Ralio sedangkan Erhan terdiam. “Lo udah sadar sama perasaan lo ke Aleya kan?” Lanjutnya pada Erhan yang dibalas gelengan kepala kecil pertanda bukan itu yang menjadi masalahnya.


“Bukan itu Rali.” Ujar Erhan lirih.


“Lo galau? Lirih banget dah suara lo.” Ujar Genta.


“Untuk saat ini kayanya gue siap dilempar sama Ralio ke antartika sampai hilang di segi tiga bermuda.” Erhan mengangkat kepalanya menatap Genta serta Ralio bergantian. “Gue hampir ngerusak masa depan Aleya.” Lanjutnya dengan nada lirih dan wajah penuh sesal.


“Oh gue kira lo merawanin dia.” Celetuk Ralio yang dahsyatnya mendapat anggukan kepala dari Ralio.


“Gue hampir merawanin Aleya.” Erhan menunduk lagi.


“Ohhh Ale----” Ujar Ralio namun terpotong.


“APA LO BILANG!!” Teriak Genta melotot tak percaya.


“LO GILA?!!” Teriak Ralio saat sadar yang dimaksud Erhan.


Erhan semakin menggusar wajahnya gusar dan mengacak rambutnya kasar melihat respon dari kedua sahabatnya. Sekarang ia harus bagaimana ya allah tolong bantu Erhan kali ini, jangan baim terus yang ditolong.


"Gue serius." Jawab Erhan pelan.


"Gimana bisa?" Tanya Ralio polos.


"Ya bisa lah kalo ada kesempatan dan setan lewat!" Balas Genta sedikit kesal melihat Ralio begitu menyebalkan. "Kenapa lo bisa hampir ngelakuin kesalahan yang sama kaya gue?" Lanjutnya bertanya pada Erhan.


"Malam itu gue nongkrong disalah satu mini market biasa, dan tiba-tiba Aleya nyamperin duduk dikursi depan gue dengan sekeresk belanjaan yang isinya cemilan semua. Gue sama di---"


"Jangan bilang lo hampir mantep-mantep di mini market?" Potong Ralio bertanya dengan pertanyaan yang sangat absurd mendapat sebuah pelototan tajam dari Erhan.


"Diem lo!" Ujar Erhan tajam. "Gue sama dia diem disitu sampe hampir malem banget, dan pas balik gue liat si Aleya berdiri pinggir jalan nunggu taxi entah angkot. Ya gue yang ga tega minta dia buat naek mobil gue, awalnya nolak tapi akhirnya mau.... dan di mobi----"


"Lo ngelakuin hal yang mantep-mantep pasti!" Ralil memotong lagi dengan jari tangan menjentrik.


"Ralio!" Geram Genta.


"Apa? mereka bahkan pernah cipuk cipuk dimobil kalo lo lupa." Ralio bersidakep dada.


"Ga gitu Ralio!" Jawab Erhan yang kini menatap Ralio semakin tajam. "Diem dulu lambe lo, gue mau lanjutin ini cerita." Selanjutnya Ralio terdiam dan Erhan melanjutkan ceritanya, apa yang ia alami malam itu yang hampir merusak masa depan Aleya.