TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 16



"Ge.." Panggil Lesta pelan membuat Genta tersadar jika sedari tadi ia masih menatap kearah pintu meski Aleya sudah pergi dari ruangan itu. Genta tersenyum menatapnya dan mengelus pelan permukaan perut Lesta. "Aku kurang suka ada orang asing yang nyentuh milik aku" Ucap Genta membuat Riza dan Adhisti yang tadi sedikit curiga dengan tingkahnya sekarang kembali tersenyum dan mengenyahkan fikiran-fikiran negative.


"Tadi itu bukan orang asing, sodara aku nama nya Aleya dia it--" Lagi lagi Genta memotong orang bicara. "Kita ga pernah tau apa yang difikirkan oleh orang lain, meskipun dia sodara kamu kita ga pernah tau. Jangan terlalu baik jadi orang, terkadang kita perlu jahat untuk membela diri." Ucap Genta pada Lesta.


"Kalian ini pasangan muda, jangan terlalu memikirkan hal-hal berat fokus saja pada apa yang kalian jalani sekarang, apalagi kamu nak jangan mikir yang berat jaga kondisi kamu jangan sampai kehilangan lagi." Ucap Adhisti membuat Genta malu karna ia tidak sadar jika mereka masih berada diruang inap Riza.


Genta dan Lesta saling lirik terdiam malu serta memikirkan teguran yang Adhisti beri benar nyatanya, jangan sampai mereka kehilangan calon anak untuk kedua kalinya hanya karna Lesta memikirkan hal yang tak penting. Hening sesaat hingga Riza memulai lagi pembicaraan agar suasana tidak canggung. Mereka berbincang sampai tak sadar jika waktu telah menunjukan pukul 3 sore.


Genta dan Lesta pamit undur diri untuk pulang karna hari sudah sore. Mendengar ucapan Riza untuk berkunjung lagi besok membuat perasaan Lesta hangat. Benar-benar hangat karna kedua orang tua nya sudah mulai bersikap biasa walaupun masih agak dingin seperti masih ada dinding yang menghalang. Tak apa, setidak nya ia bisa melihat langsung mereka.


***


2 bulan kemudian.


Tok.tok.tok


Pintu rumah dibuka dari dalam menampakan sosok wanita paruh baya dengan senyum ramah.


"Nyari siapa neng?" Tanya wanita itu.


"Gentara nya ada?"


"Ada. Sebentar saya panggilkan dulu ya" Wanita paruh baya kembali menutup pintu dan sedikit berlari untuk memanggil Genta yang berada di kamar nya.


Genta awal nya menolak karna ia sedang streaming drakor di laptop bersama Lesta. Setelah mendengar ucapan Lesta yang tidak boleh membuat tamu menunggu apalagi mengusirnya pulang, ia berjalan malas ke depan pintu rumah untuk menemui seseorang yang mencari nya.


Breug. Genta membuka pintu depan sedikit kasar dengan kesal namun ia langsung terdiam setelah melihat seorang wanita yang berdiri didepan nya dengan senyum ramah.


"Hai Gen. Apakabar?" Ucap wanita itu pada Genta sambil melambaikan tangan nya.


"Ka-kamu? Kamu kapan balik ke bandung?" Bukan menjawab Genta malah balik bertanya yang membuat wanita itu terkekeh dengan tingkah nya.


"Masih aja kalo di tanya malah nanya balik. Tadi malem baru pulang, kamu apa kabar?" Wanita itu tersenyum manis, senyum yang selalu membuat hati Genta menghangat.


"Aku baik. Kamu apa kabar Tara?" Genta tersenyum sangat hangat, senyum yang tak pernah ia tunjukan pada siapapun termasuk Lesta.


Sadar jika mereka masih berada didepan pintu, Genta menarik Tara masuk dan menuntun tangannya hangat ke taman belakang tempat biasa mereka berbincang.


Berbicara tentang Tara, Tara Puriani adalah teman masa kecil Genta. Mereka berteman dari TK sampai SMA dan selalu satu sekolah. Mereka cukup menghabiskan banyak waktu bersama-sama. Hanya saja mereka berpisah saat kelas 2 SMA karna Tara harus ikut ayahnya  dan sekolah di Yogyakarta kota kelahiran ayahnya.


Mereka saling bercerita dari terkahir mereka bertemu saat kelas 2 SMA hingga saat ini mereka kuliah. Saling bercanda dan tertawa sangat kencang membuat Arfand dan Rafardhan yang baru saja pulang cukup penasaran. Mereka mengenali salah satu suara itu adalah saudara mereka - Genta. Tapi yang jadi pertanyaan suara siapa yang satu nya lagi? Karna suara Lesta tidak seperti itu.


Berjalan pelan-pelan menuju asal suara, mereka melihat Lesta berdiam diri tak jauh dari asal suara itu. Mereka berdua menghampiri Lesta dan berdiri tepat di belakang nya, tapi Lesta tidak sadar mereka ada. Melihat objek yang dilihat oleh Lesta membuat kaka beradik itu cukup kaget.


Bagaimana tidak? Saat mereka melihat Genta duduk berduaan dengan Tara di Gazebo taman belakang saling tertawa lebar dengan wajah yang sangat hangat, ekspresi yang tidak pernah mereka berdua lihat lagi setelah Tara pergi. Salah satu penyebab Genta berubah. Hal yang mereka benar-benar hindari.


2 wanita yang keluarga nya awasi untuk menjauh dari Genta. Aleya Ateja Putri dan Tara Puriani. 2 wanita yang keluarganya tau cukup berperan dalam perubahan sikap Genta. Aleya merupakan pacar pertama Genta sedangkan Aleya sahabat sejak kecil Genta. Tapi mereka meninggalkan Genta diwaktu yang terpaut berdekatan, yang pasti saat itu mereka duduk dibangkus kelas 2 SMA.


Arfand jengah dengan situasi saat ini, ia menepuk pundak Lesta yang membuat sang empu langsung membalik badan. Tanpa bicara, Arfand menarik tangan Lesta menjauh dari situ tak perduli tatapan adik bungsunya itu yang ikut mengekori mereka. Membuka pintu penumpang, Arfand menyuruh Lesta masuk kedalam mobil yang langsung dituruti tanpa penolakan. Rafardhan? Ia sudah duduk santai di kursi belakang tanpa banyak bertanya.


Menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, tak lama mereka tiba di sebuah danau ujung kota yang cukup tenang. Membuka pintu dan menarik tangan Lesta pelan, Arfand sesekali melirik Lesta yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara barang 1 kata pun.


Tak lama isakan kecil terdengar dari Lesta, Arfand yang berada di sisi kanan dan Rafa di sisi kiri refleks melirik Lesta yang berada ditengah-tengah mereka. Matanya masih menatap kosong air danau di depan, namun kedua kini tangan terkepal dan tubuh yang sedikit bergetar.


Rafardhan, memeluk Lesta pelan dan membisikan kalo semuanya akan baik-baik saja. Sedangan Arfand mengepal tangan nya cukup kuat berkali-kali mengehela nafas kasar menahan emosi.


Adik nya itu memang suka lupa diri jika sudah bersama dengan Tara. Arfand kurang suka kepadanya, bukan karna iri atau bagaimana. Tapi Tara sungguh membuat seorang Gentara lupa diri. Adik nya itu selalu bilang jika mereka bersahabat, tapi orang lain pun tau jika mereka memiliki perasaan melebihi batas seorang sahabat.


Jika Genta belum menikah, Arfand tidak masalah jika adiknya kembali menjadi goblok karna Tara. Tapi sekarang kasus nya berbeda. Ia sudah menikah dengan Lesta yang sedang nengandung anak kembar yang kurang dari 2 bulan lagi lahir ke dunia.


"Kamu udah makan Lesta?" Tanya Arfand sambil menghadapkan tubuh nya dan menghapus air mata yang mengalir di pipi tembam itu.


Lesta hanya menggeleng kepala palan tanpa berminat menjawab dengan ucapan. Ia menangis dalam diam, sangat diam. Yang terdengar hanya isakan kecil yang memang tak bisa di tahan. Rafa melepaskan pelukan nya dan mengelus pelan perut buncit Lesta.


"Kak makan dulu yuk? Rafa lapeeerrr" Bujuk nya sambil memeluk tangan Lesta sambil menyenderkan kepala nya.


"Siapa?" Pelan. Sangat pelan Lesta mengeluarkan suara serak nya namun cukup terdengar oleh kedua kaka beradik itu.


"Rafa kak. Rafa lap--"


"Siapa wanita tadi? Aku baru pertama liat dia. Semua wanita yang mengejar Genta aku tau. Tapi tadi dia terlihat beda dari wanita lain. Benar-benar beda. Seperti Genta yang lebih hangat dan menjadi dirinya sendiri. Sudah berbulan-bulan aku menikah dengan nya, tapi baru kali ini melihat ia berbeda. Selama ini Genta memang bersikap baik, manis, dan hangat sama aku tapi yang tadi aku lihat kentara sekali perbedaannya " Lesta menjeda ucapan nya menatap mata Arfand dan Rafa saling bergantian. Menghela nafas pelan dan menepuk nepuk dada nya yang sesak, ia menghapus air mata nya kasar dan tersenyum."Jangan bilang padanya kalo aku tadi melihat cukup lama mereka berdua. Biar waktu yang menjawab semua. Kalian ga perlu menceritakan semua nya, karna lembaran cerita yang dilipat rapatpun lama-kelamaan akan terbuka dan terbaca juga. Kita pulang." Final, Lesta membalik badannya dan berjalan menghampiri mobil yang disusul oleh Arfand dan Rafa dibelakang nya.


Cukup lama mengemudi karna jalanan sore sudah mulai macet, Arfand memberhentikan mobilnya di pinggir trotoar tak jauh dari rumah. Melirik Lesta yang duduk disamping nya sedang menatap kosong jendela.


"Aku harap kamu mengerti Lesta dengan sikap Genta. Aku bakal cerita semua nya, tapi aku harap kamu jangan terlalu memikir kan dan percaya saja jika Genta sudah berubah" Ucap Arfand membuat Lesta menghadapkan tubuhnya ke hadapan Arfand yang saat ini memiringkan kepala menatap diri nya.


"Gak usah, nant--"


"Kak Lesta harus denger cerita mas Arfand biar tau. Cukup diem dan dengerin aja jangan sampe salah paham lebih jauh." Potong Rafa yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Lesta.


Arfand memantapkan hati untuk bercerita. Bukan untuk merusak rumah tangga adiknya, hanya saja ia tau hal-hal yang akan terjadi ke depan nya bagaimana. Saat hendak membuka mulut untuk bercerita, ia mendengar suara motor dari arah depan yang cukup familiar.


Semua orang yang berada dimobil tercengang, terutama Lesta yang benar-benar meresa dunia nya seperti berhenti pada satu titik. Genta, suaminya itu mengendarai motor besar miliknya cukup pelan dengan sebuah tangan yang memeluk perutnya dan kepala Tara yang menyender dipundak. Mereka berdua memakai Helm dengan kaca terbuka, terlihat jelas wajah ceria mereka. Membuat sakit di dada Lesta semakin jadi.


Arfand mencengkram stir mobil dengan kuat menahan amarah, Rafa mendikte semua binatang dan mengumpati kakak nya itu, sedangkan Lesta memfokuskan pandangan menatap Genta hingga tak terlihat lagi di belokan tak jauh di belakang Arfand memberhentikan mobil.


Arfand mengelus tangan Lesta pelan membuat sang empu refleks menatap nya. Ia mulai bercerita semua tentang masa lalu Genta yang sudah sangat lama di pendam. Semua. Dan berakhir Lesta tau, jika sepupu nya yang ia jumpai di rumah sakit saat papahnya dirawat adalah mantan kekasih Genta yang berujung mengkhianati nya. Pantas saja jika sikap Genta berbeda jika ada Aleya. Tapi Tara? Lesta masih belum paham. Sedari tadi ia hanya diam tanpa merespon Arfand bercerita yang sesekali dipotong oleh Rafa.


Usai bercerita, Arfand menjalankan kembali mobil nya dalam diam untuk pulang. Sampai, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam. Diruang tengah sudah ada Mira dan Rehan yang sedang duduk berdua, melihat dan mengerutkan kening heran tumben-tumbenan mantu nya jalan sama anak sulung dan bungsunya tanpa ditemani anak keduanya - Genta. Dan kemana Genta? Karna sejak 10 menit yang lalu mereka tiba tidak ada siapa-siapa dirumah selain pembantu dan supir.


Lesta berjalan dengan tatapan kosong ke atas menuju kamar tanpa berniat menyapa kedua mertua nya itu. Arfand yang peka meminta mamahnya untuk diam dan ia mulai bicara tentang Tara yang kembali dan bertemu Genta. Namun, baru saja akan bercerita lebih jauh, mereka mendengar suara sesuatu terjatuh ditangga dengan refleks membuat mereka berlari.


Mira teriak kencang, sedangkan Rafa dan Rehan terdiam kaget, Arfand? Ia Refleks menaiki tangga dan menahan Lesta agar tidak terjatuh lebih bawah. Lesta meringis kesakitan, dengan darah keluar di pelipis dan mengalir banyak dari bagian dalam baju nya yang terlihat dari paha sampai betis nya.


Tanpa bicara Arfand menyuruh Rafa membawa tas Lesta yang berisi KTP dan surat-surat lainnya. Sedangkan ia dan kedua orang tua nya berjalan panik menuju mobil untuk segera membawa Lesta kerumah sakit. Sungguh kini mereka semua tak henti berdo'a berharap hal buruk yang beberapa bulan lalu pernah menimpa menantunya itu tidak terjadi kembali. Meski kandungan Lesta sudah memasuki usia 7 bulan tapi masih bisa saja terjadi keguguran akibat kecelakaan tak terduga seperti yang terjadi padanya saat ini.


Dengan kecepatan diatas rata-rata akhirnya mereka sampai dirumah sakit terdekat. Arfand dengan sigap membawa Lesta ala bridal style memasuki rumah sakit. Rafa dengan tidak sopan menarik beberapa dokter dan suster yang sedang memeriksa pasien lain dipaksa untuk memeriksa Lesta terlebih dahulu. Rehan mengurus administrasi sedangkan Mira menemani Lesta yang kesadarannya mulai berkurang dengan ringisan menahan sakit. Mira tau sakitnya yang dirasakan menantunya itu sangat luar biasa, bahkan mungkin lebih dahsyat dari yang ia rasakan dulu saat melahirkan ketiga anaknya.


Dokter langsung membawa Lesta keruang oprasi setelah memeriksa kondisi Lesta yang sudah tak bisa didiamkan lagi. Bayi kembarnya harus segera dikeluarkan akibat pendarahan parah pada perut ditambah kepalanya pun mengalami pendarahan akibat benturan tangga saat ia terjatuh dari tangga atas. Mereka langsung mengizinkan saat dokter meminta izin untuk menindak lanjuti ke proses operasi. Mereka tak butuh izin Genta yang sialnya sekarang entah sedang dimana dan berbuat apa, mereka tak peduli. Yang penting sekarang hanya keselamatan menantu keluarga Adhitama dan cucu kembarnya.