TRUE LOVE??!

TRUE LOVE??!
TL - 22



"Saya akan berada disamping istri dan anak saya jika anda tidak membawa pergi mereka menjauh dari saya." Genta menjawab dengan nada biasa namun menahan sesak di dadanya.


"Pilihan saya tepat membawa anak dan cucu saya menjauh dari anda. Lihat. Bahkan kau membawa wanita yang menjadi masalah di rumah tangga mu sendiri." Ujar Riza sambil menunjuk Tara yang berdiri disamping Ralio.


"Semua ini salah paham. Kita bisa bicarakan baik-baik." Genta menurunkan jari Riza yang tadi menunjuk Tara. "Dia sahabat saya. Saya akan jelaskan semuanya."


"Kamu. Pilih Lesta atau wanita itu?" Riza berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Lesta. Saya akan memilih istri saya." Genta menjawab tanpa banyak berfikir.


"Kamu. Pergi dari sini dan menjauh lah dari kehidupan anak dan menantu ku. Putus kan kontak kalian, aku tidak akan biarkan wanita seperti mu merusak rumah tangga anak ku." Ucap Riza sambil menunjuk dan menatap Tara tajam.


"Pah!" Tegur Lesta, Adhisti, dan Genta bersamaan.


"Apa? Kalian mau membela dia? Dan kamu Genta mau memilih dia? Pergi dari sini jika kamu masih memiliki hubungan dengan wanita itu."


"Om. Gini ya, kita bicarakan baik-baik sambil ngopi ngemil goreng pisang gimana?" Ralio mencoba bernego dengan Riza.


"Tidak. Pergi atau tak ada kesempatan ke dua." Riza bersikukuh dengan ego nya.


"Gini ya om. Tara mau nikah sama saya pas pulang dari sini. Jadi om ga usah khawatir si gege belok lagi. Saya tampol pake panci bekas kalo dia berani deketin bini saya." Ucap Ralio berjalan menghampiri Riza dan merangkulnya santai.


"Singkirkan tangan mu." Ralio menurunkan tangannya tapi tetap berdiri disamping Riza. "Memangnya saya percaya? Kalian jangan coba coba menipu saya."


"Yeeee dibilangin ga mau denger. Nih liat om, undangannya udah ada. Sengaja ga dicetak cukup kirim via wa,line,stagram, dll nya. Ngirit budget." Ralio menunjukkan undangan pernikahannya yang berupa foto pada Riza.


"Yang kaya gini lebih tidak meyakinkan." Riza tersenyum miring.


"Tidak meyakinkan gimana? Ini udah jelas semuanya om tuh liat lagi deh yang jelas, ini juga udah disebat ke kolega bisnis orang tua saya."


"Bisa saja itu tipuan, hanya seperti itu saya juga bisa membuatnya tanpa benar mengadakan acara." Jawab Riza santai.


"Mana ada nikah tipu-tipu om!" Ralio mulai menaikan nada bicaranya.


"Ada, itu kamu mau nipu saya!" Riza ikut menaikan nada bicaranya tak kalah dengan Ralio.


"Astagfirullah Genta. Lo cukup tahan sama mertua kek gini ya, kalo gue udah terjun dari lantai 100 daaahh." Ralio mengacak Rambutnya dan menatap Riza. "Ini tuh beneran om, tuh cewe mau nikah sama saya. Kalo om ga percaya datang aja dah kepernikahan kita. Asal jangan lupa amplopnya duit 5jt ya." Ralio mengedipkan matanya sebelah membuat Riza bergidik ngeri.


"Jauh-jauh dari saya." Riza berjalan menghampiri Lesta dan membisikan sesuatu padanya yang hanya dibalas anggukan kepala saja.


"Saya beri kalian waktu 30 menit untuk berbicara. Dan kamu bocah. Tunggu hukuman dari saya." Riza berlalu pergi keluar yang diikuti Adhisti dibelakangnya. Ralio dan Erhan menghela nafasnya lega berbeda dengan Tara dan Aleya yang masih terdiam.


"Anak nya baek pengertian, bokapnya pisunduleun banteng" Gerutu Ralio menghampiri Tara dan memegang tangannya kuat membuat Tara sedikit sadar diri apa yang harus ia tahan.


"Gue baik-baik aja." Bisik Tara tepat ditelinga Ralio yang dibalas anggukan kecil olehnya.


Genta berjalan menghampiri Lesta kembali, memeluknya lagi dan mencium bibirnya penuh rindu. Sedikit menghisap sebelum akhirnya melepaskan dengan tidak rela karna Ralio berteriak tidak terima melihat adegan yang Genta lakukan. Katanya sih mata polos mereka ternodai, tapi kalian tidak lupakan jika si tengil Ralio sering membahas hal yang enak-enak yang mantap-mantap? Sialan bukan, padahal tinggal bilang saja jika ia iri belum bisa melakukan itu karna belum halalan toyiban dengan Tara bhaks.


"Satu lagi mana?" Tanya Genta sambil mengelus pipi gembul anak yang digendong Lesta.


"Di box." Tunjuk Lesta pada box yang hanya berjarak 3 meter dari brankarnya. "Leya, bisa ambil kan Alca?" Tanyanya pada Aleya yang langsung dilakukan tanpa menjawab Lesta.


Mengendongnya perlahan dengan penuh hati-hati, Aleya memberikan Alca pada Genta yang dengan kaku menerima. Ia terdiam, memperhatikan Alca yang tertidur pulas digendongannya. Hatinya sangat menghangat, wajahnya sangat mirip dirinya saat bayi.


Dengan sangat hati-hati, Genta mengangkat satu tangannya dan mengelus wajah polos anak nya itu. Ia melirik Albar yang mengedip-ngedipkan matanya polos digendongan Lesta. Tak sadar air matanya lolos begitu saja dan ia tersenyum hangat. Sangat hangat, membuat Lesta yang melihat ikut menghangat hatinya karna senyum yang Genta tunjukkan adalah senyum yang baru pertama kali ditunjukan kepadanya. Lesta pernah melihat senyum itu, hari dimana ia masuk rumah sakit dan awal dari permasalahan rumah tangganya.


"Makasih." Genta mencium singkat bibir Lesta. "Makasih udah kembali dan bertahan. Makasih udah ngasih kesempatan aku untuk berubah. Makasih udah mau jadi bunda dari anak-anak ku. Makasih. Bahkan bermilyar-milyar kata makasih yang aku ucap ga akan sebanding dengan apa yang kamu beri dan kamu lakukan." Ucap Genta serak karna menangis namun sangat terdengar tulus membuat Lesta pun tak sadar ikut menangis.


"Aku cuma menjalankan tugas sebagai istri dan bunda yang baik ge." Jawab Lesta sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Genta.


"Aku ga tau harus menjelaskan semuanya darimana. Aku harap kamu ngasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan kembali bersama." Genta mengambi tangan Lesta yang tadi dipakai untuk menghapus air matanya untuk ia kecup berkali kali. "Cabut gugatan cerainya ya? Aku bisa jelasin semua." Lanjut nya menatap Lesta penuh harap.


"Gugatan cerai? Siapa yang menggugat?" Lesta balik bertanya pada Genta.


"Papah kamu. Terus-terusan ngirim surat gugatan cerai ke rumah. Setiap datang aku sobek aku bakar tapi datang lagi datang lagi kan sebaaalll." Genta merajuk meletakkan kepalanya ke punda Lesta dan memandang kedua anak nya yang tampan.


"Ge, lo ga pantes ngerajuk kek **** gitu. Malu sama anak dong." Ralio menjambak rambut Genta membuat ia tertanggah.


"Sakit nying." Geram Genta menatap tajam Ralio.


"Itu lo ngomong kasar." Genta menjawab sambil menunjuk wajah Erhan.


"Contoh." Timpanya datar.


"Udah-udah kenapa jadi pada ribut sih." Lesta berucap melerai membuat mereka berhenti berdebat. "Ge, itu?" Lesta memanggil Genta namun pandangannya tertuju pada Tara.


"Aku bisa jelasin semuanya sayang. Aku harap kamu ngerti dan dengerin semuanya jangan menyela sebelum aku selesai ok?" Lesta hanya mengangguk meng iya kan.


Genta mulai menjelaskan semuanya dari awal. Bukan dari awal pertemuannya kembali dengan Tara , tapi benar-benar dari awal tentang hubungan nya dengan Tara dan Aleya. Semuanya yang berada diruangan itu terdiam mendengarkan penjelasan Genta yang sesekali mencium wajah Alca maupun Albar untuk mengobati rasa sesak sejenak. Tanpa disadari Riza,Adhisti,Rehan dan Mira mendengarkan dari luar melalu pintu yang terbuka sedikit.


Rehan dan Mira memang mengikuti ke lima anak remaja itu tanpa bilang. Bagaimana pun mereka ingin bertemu dengan menantu dan cucu kembarnya. Tepat saat mereka akan masuk ke ruang inap Lesta, Riza dan Adhisti membuka pintu hendak keluar. Mereka berempat sempat berbincang sebentar sebelum akhirnya berniat masuk, namun terbatalkan dan lanjut mendengarkan melalu celah pintu.


Tak terasa, sudah 45 menit berlalu dan Genta baru selesai menceritakan semuanya secara singkat namun rinci. Ia mengelus pelan wajah Lesta, tersenyum hangat berharap istrinya itu mengerti dan menerima semua masa lalu nya. Namun respon Lesta hanya terdiam tanpa satu kata pun keluar.


Genta mencoba menguatkan hati namun tetap saja sesak rasanya melihat respon Lesta. Ia mencoba menggendong Alca dengan rileks lalu mengajaknya bicara karna sudah terbangun dan tersenyum menatap Genta. Ia sunggu tak tau harus berbuat apa kali ini.


Tiba-tiba Lesta mengambil alih Alca dari gendongan Genta dan menaruhnya disamping Albar yang sudah lebih dulu dia tidur kan di samping pahanya. Genta pasrah saja tanpa memprotes.


Lesta memgang tangan Genta dan menarik tubuh suaminya itu kedalam pelukannya dengan kuat. Menyalurkan segala rasa yang ia rasa selama ini. Bagaimanapun Lesta harus menerima semua masa lalu suaminya itu bukan? Bagus jeleknya Genta tetap lah suami sah nya. Ia yang dulu memilih bertahan Genta. Ia yang dulu mempercayakan semunya kepada suaminya itu. Jadi untuk kali ini ia juga akan tetap dengan pilihannya. Memaaafkan Genta.


"Aku percaya kamu bisa berubah Ge." Ucapnya pelan tepat ditelinga Genta.


"Makasih. Makasih banget kamu percaya sama aku. Makasih masih mau nerima aku yang udah nyakitin kamu berkali-kali. Makasih. Makasih. Makasih 3000x kali aku akan terus mencintai kamu." Genta mempererat pelukannya dan mencium puncak kepala Lesta berkali kali diiringi air mata yang mengalir.


Ke empat orang tua yang tadi nya menguping saja pun akhirnya masuk dan melihat langsung interaksi yang terjadi diantara anak mereka. Riza yang sangat kesal pada Genta pun mencoba menghilangkan rasa sakit di hatinya.


Sedangkan ke empat orang yang sedari tadi mendengar dan memperhatikan saling terdiam dengan rasanya masing-masing. Aleya yang masih mengharapkan Genta mencoba melepaskan semua rasa. Tara yang masih memiliki rasa obsesi menahan rasa itu dengan bantuan Ralio yang sedari tadi mengurungnya dalam pelukan hangat. Ralio dan Erhan sendiri tidak sadar sudah berapa kali menghapus air mata yang dengan lancang keluar. Bagaimanapun hati mereka tersentil melihat Genta dengan Lesta. Sungguh dalam hati Aleya dan Tara ada rasa menyesal, tapi mau bagaimana jika nasih sudah menjadi bubur ya nikmati saja.


Lesta mengadahkan kepalanya melihat satu persatu wajah orang yang saat ini ada diruangannya. Ia tersenyum saat matanya bertemu dengan Mira - mamah mertuanya tersenyum hangat kepadanya yang ia balas juga dengan senyuman. Melepaskan pelukannya pada Genta, Lesta menatap papahnya yang berdiam diri.


"Pah, mah." Panggil Lesta pada ke empat orang tua itu.


"Apa sayang?" Jawab Adhisti menghampiri Lesta yang diikuti oleh Mira.


"Pah." Lesta memanggil ulang ke dua pria dewasa yang masih berdiam diri di dekat pintu yang akhir ya melangkahkan kaki menghampiri.


"Apa Sei sayang nya papah?" Jawab Riza berdiri disamping Lesta dan mengelus pelan puncak kepala putri nya itu.


"Pah, cabut gugatan cerai yang papah jatuhkan untuk Genta ya. Ini rumah tangga aku." Lesta menatap Riza dan Adhisti bergantian. "Aku percaya Genta bisa berubah. Mungkin kemarin-kemarin ia masih terbelunggu dengan masa lalu dan berfikiran remaja. Tapi sekarang waktu memaksa nya mendewasakan diri. Kalo papah terus menjauhkan Genta dari Sei dan anak-anak, sampai kapan pun Genta tidak akan mendewasakan diri memikul tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Percaya sama Sei pah."


"Kesempatan terakhir. Karna tidak ada yang namanya kesempatan ke tiga." Ucap Riza lembut namun menatap tajam Genta.


"Terima kasih pah." Lesta memeluk Riza senang. Sedangkan Genta tersenyum hangat menatap Riza dan mengucapkan Terima kasih yang hanya dibalas anggukan saja oleh mertua nya itu.


"Makasih Pah mer. Cayaaaanggg dech" Ucap Genta sambil memeluk Riza kuat membuat sang empu mengumpati menantunya itu dalam hati.


"Kamu mau bunuh saya?!" Riza bertanya tapi lebih seperti mengungkapkan sebuah kata tegas.


"Engga ko pah mer, Genta ka sayang sama papah mertua dan mamag mertua." Genta mengedipkan sebelah matanya kepada Riza yang dibalas tatapan geli membuat semua orang tertawa renyah melihatnya.


Kali ini ia memantapkan hati untuk tidak goyah dalam memilih rumah kembali. Bagaimana pun, Lesta adalah istrinya yang berarti rumah ternyaman untuk pulang dan satu-satunya tempat untuk ia kembali setelah lelah mengahadapi dunia ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terkahir ini. Mempertahankan rumah tangganya dan selalu membahagiakan keluarga kecil miliknya. Itu tujuan Genta saat ini.


***


Beberapa hari kemudian, Lesta sudah diperbolehkan pulang beserta dengan si kembar. Genta yang semangat sejak pagi tak henti tersenyum terus menggendong si kecil Alca. Ia benar-benar kagum dengan wajah kedua anaknya itu. Copyan dirinya, tidak ada Lesta nya sama sekali.


"Ge, cuti kuliah berapa lama?" Tanya Lesta yang sudah bersiap untuk pulang.


"Sampai istri dan anakku bisa ikut pulang ke indo." Jawab Genta tanpa mengalihkan pandangan dari Alca. "Alca sama Albar bener-bener aku banget. Nanti harus beli baju yang tulisnnya Mirip Papah Banget." Genta terkekah kecil dengar ucapannya.


"Ayah." Genta menatap Lesta yang tersenyum padanya.


"Ayah Bunda. Lucu kayanya ya Ge." Lesta terkekeh kecil. Genta terpana baru sangat-sangat tersadar jika istrinya sangat cantik dan manis.


"Iya bunda, ayah ngikut aja." Genta bangkit dan mengambil tas berisi baju Lesta dan si kembar selama dirumah sakit. "Yuk, kakek sama nenek udah nungguin di apart."


Lesta mengikuti Genta dari belakang dengan menggendong Albar. Mereka sengaja menggendong anak satu-satu, karna Genta bilang anaknya butuh kasih sayang bukan kasih stroller. Lesta ya cuma bisa pasrah dan ngikut apapun yang Genta kata. Membantah suami hukumnya dosa kan? Jadi dia bisa apa selain mencari pahala dengan mengikuti keinginan Genta yang masih masuk diakal.