
“Kenapa jangan Ge? Itu kan hak mereka.” Kini Lesta berujar dengan sangat lembut. “Nanti juga kalo udah waktunya Albar dan Alca pasti dapet adik ko.” Lanjutnya sambil menatap manik Genta.
“Ga mau disaingin anak sama mereka.” Balas Genta sedikit merengek.
“Kita udah punya anak dua tapi mereka baru nikah, apanya yang takut disaingi?” Tanya Lesta sedikit heran dengan ucapan suaminya itu.
“Ga mau disaingi, pingin punya anak banyak aku tuh.” Jawab Genta masih dengan merengek.
“Se-dikasihnya Allah aja ya Ge.” Lesta mengelus tangan Genta.
“Tapi kalo kemarin aku ga buat kesalahan ninggalin kamu demi Tara, kamu ga akan jatuh dari tangga. Albar dan Alca ga akan lahir prematur, kamu ga akan kritis hingga koma. Kita pasti bakal bareng-bareng terus hidup bahagia tanpa ada masalah yang hampir ngebuat kita pisah. Aku masih menyesal soal itu.” Ujar Genta menatap Lesta yang memang terlihat jelas raut kecewa.
“Kita pulang. Duluan ya dan Samawa terus Ralio.” Ujar Lesta menarik tangan Genta untuk memasuki mobil dan kembali pulang tanpa menunggu jawaban dari sang empu acara.
Ia masih sadar jika ada Tara di situ, biang masalah dalam rumah tangganya beberapa bulan lalu. Namun ia juga tau, tidak baik membicarakan hal yang sudah lampau untuk diungkit kembali apalagi dihari akad nikahnya. Lesta bisa melihat raut bersalah dari Tara, namun ia juga tidak bisa apa-apa selain memaafkan.
Tara menatap Genta serta Lesta sendu, sedangkan Erhan dan Aleya sudah saling pandang dan menghela nafas kasar. Ralio hanya bisa memeluk Tara dalam diam. Tidak ada yang salah dar ucapan Genta. Semuanya benar ulah Tara, namun Genta mengucapkannya kembali diwaktu yang salah. Ya meski begitu Ralio tidak bisa menyalahkan.
“Cita-cita Genta itu pingin punya anak banyak, katanya sih biar kalo dia tua nanti rumahnya rame dan pasti ada yang nemenin walau nanti anak-anaknya udah pada besar dan menikah.” Ujar Erhan menatap kepergian mobil sahabatnya itu - Genta.
“Heem, tapi mau gimana lagi. Takdir ga ada yang tau.” Balas Ralio.
“Semuanya salah gue.” Tara berujar lirih dengan menundukkan kepalanya menyesal. Ralio yang melihat itu langsung memeluknya erat.
“Emang ini masalahnya lo, tapi bukan semuanya salah lo. Ini udah takdir yang emang ga bisa dilawan oleh umatnya.” Ujar Ralio lembut.
“Kita balik dulu ya.” Pamit Erhan sambil menarik tanga Aleya menuju mobilnya dan mengemudi meninggalkan pekarangan rumah Tara.
“Ral--”
“Ssttt... masa pengantin baru nangis. Kan mau tinggal di mansion punya keluarga Yasa hm.” Tara yang mendengar ucapan Ralio-pun hanya memutar bola mata malas. Ia berjalan menghampiri papah dan mamahnya yang sedang berbincang dengan kedua orangtua Rali.
“Pah, mah.” Panggil Ralio membuat ke-empat orang tua itu memalingkan wajah dan menatap Ralio serta Tara.
“Ada apa nak? Mau pulang sekarang?” Tanya Atmaja yang memang tau watak anak semata wayangnya itu. Hanya melihat dari raut wajahnya saja ia sudah tau apa yang diinginkan oleh Ralio Putra Yasa.
“Iya.” Jawab Ralio sambil menganggukkan kepala. “Tara sudah boleh saya pulangkan? Dan kita bertemu lagi di hari minggu resepsi pernikahan.” Lanjut Ralio menatap Surya - papah Tara.
“Boleh dong sayang, kan udah nikah masa masih dirumah orangtua sih.” Jawab mamahnya Tara yang memang agak gimana gitu dengan Tara, apalagi semenjak Tara pindah ikut dengan papahnya.
“Untuk seserahannya---”
“Semua Tara langsung bawa kerumah Ralio, kecuali uang mahar. Tara kasih untuk papah.” Ujar Tara memotong ucapan papahnya dan berjalan berlalu memasuki rumah menuju kamarnya.
“Tara.” Panggil Surya didepan pintu kamarnya saat melihat Tara mulai menarik beberapa koper miliknya yang berisi seluruh barang yang akan ia bawa ke rumah Ralio. Meskipun Tara datang tanpa membawa apapun, Ralio pasti akan menyiapkan semuanya. Namun, Tara cukup tau diri.
“Tara pergi pah.” Ujarnya sambil berjalan melewatinya. “Rali bisa bantu bawa koper? Susah nih masih pake kebaya buat bawa barang-barang yang lain.” Lanjutnya pada Ralio yang ternyata berdiri dibelakang Surya membuat lelaki paruh baya itu membalik badan dan menatap Ralio.
“Gue bawa semuanya. Lo tunggu aja diluar sama nyokap gue yang sekarang udah jadi nyokap lo juga.” Jawab Ralio berjalan mendekati Tara dan mengambil alih koper ditangannya. “Panggil Pak supi buat bantu gue ya.” Lanjutnya.
“Oke.” Balas Tara melirik sedikit Surya sebelum berjalan meninggalkan Surya serta Ralio berduaan.
“Pah, Tara saya bawa pergi sekarang. Jangan Rindu, itu berat mending datang langsung aja.” Ujar Ralio pada Surya sebelum masuk kedalam wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Ia mengumpulkan semua dus, tas, serta beberapa koper yang ternyata sudah dibereskan semuanya oleh Tara. Hanya ada satu koper diatas kasur. Koper berisi uang seratus lima puluh juta, mahar Ralio untuk Tara yang istrinya itu serahkan semua pada papahnya - Surya Andra. Itu sudah menjadi hak Tara, Ralio tidak bisa melarang. Karna Ralio sendiri sudah tau perkara uang disini.
Ia berjalan menggiring satu barang dengan barang yang lain dibantu oleh supirnya dengan Surya yang masih berdiri didepan pintu kamar tanpa bergeming sedikit pun. Ralio menatap papah mertuanya itu, sebelum ia melangkah mendekat dan berdiri dihadapannya.
“Saya tau, dan saya akan tunggu kejujuran anda suatu saat nanti. Untuk saat ini biarkan saya mencoba untuk menerima Tara menjadi istri saya. Saya tau jika anda tau perihal kenapa saya ingin menikahi putri anda. Tapi saya akan buktikan, saya akan membuatnya bahagia dan melupaka Gentara Satya Adhitama satu-satunya pria yang menjadi obsesinya putri anda. Saya akan membuatnya bangkit dan hanya melihat saya seorang. Saya suaminya - Ralio Putra Yasa, saya akan membuatnya jatuh cinta kepada saya.” Ralio menjeda ucapannya saat Surya akan membuka mulutnya namun tak kunjung berbicara membuat Ralio menghela nafas pelan. “Sebisa mungkin saya tidak akan menyakitinya. Bagaimanapun dia seorang wanita yang harus dihormati, sama seperti mamahnya saya. Kelak dia yang akan mengandung dan melahirkan anak saya. Oh iya jika anda berfikir saya hanya anak bocah yang tau enaknya doang, anda salah. Tidak ada yang tau hal ini selain saya dan kedua orang tua saya. Perusahaan Yasa bisa semakin berkembang dan maju karna saya sudah mengelola manajemen membuat profitnya meningkat setiap tahun. Dan anda tau sejak kapan? Sejak saya duduk dikelas XI. Saya bukan bocah seperti yang anda bayangkan. Terima kasih, sudah membuat Tara didunia ini. Saya permisi.” Ralio menyalimi tangan Surya yang masih terdiam dan membalik badan. Namun yang ia lihat adalah Tara berdiri dengan tatapan sulit dibaca.
Ralio berjalan menghampiri Tara dan menariknya keluar untuk segera memasuki mobil. Mobil yang hanya ada mereka berdua didalamnya. Ralio mengemudi dalam diam dengan santai seperti tidak ada beban. Tidak dengan Tara yang sepertinya terusik dengan pengakuan Ralio tadi pada papahnya. Ia memiringkan wajahnya menatap Ralio - pria konyol yang kini sudah menyandang status menjadi suaminya.
"Kalo lo terusik cuma karena omongan gue ke bokap lo, mending lo utarain dari pada diem-diem tapi lirik gue mulu. Gue tau gue ganteng, ga usah terpesona gitu deh." Ujar Ralio tanpa mengalihkan wajahnya untuk menatap Tara. Ralio masih fokus menatap jalanan didepannya.
"Rali....."Panggil Tara pelan.
"Lo ga usah khawatir, walaupun gue banyak bercanda tapi gue tau waktunya buat serius ko." Lampu merah, Ralio memiringkan wajahnya menatap Tara. "Gue serius dengan ucapan gue ke bokap lo. Soal gue yang bakal buat lo jatuh cinta, soal gue yang emang udah kerja sejak kelas XI SMA dan yang lainnya. Lo belum tau jelas gue kaya gimana, Genta. Gue udah bilang sama Genta semuanya dan dia juga udah tau tentang gue semuanya kecuali tentang gue yang udah mengelola manajemen perusahaan itu. Semuanya, dia ngedukung gue bahkan dia ngasih tau beberapa hal tentang lo. Jadi lo ga usah khawatir."
Tara memalingkan wajahnya menatap jalanan melaluk kaca, sedangkan Ralio kembali fokus menyetir. Mereka masih saling diam hingga sampai dikediaman orangtua Ralio. Mereka berjalan berdampingan memasuki rumah dengan status baru, suami-istri.
Sedangkan Genta serta Lesta sedang duduk disofa ruang keluarga dengan masing-masing menggendong si kembar. Mereka duduk diam fokus menonton ftv siang, ah tidak tapi Genta yang fokus menonton sedangkan Lesta hanya terdiam yang sesekali baceo mengajak bicara Alca dan sesekali memperhatikan Genta.
"Ge....." Panggil Lesta pelan.
"Apa bunda? panggilnya ayah dong masa masih manggil nama aja, nanti si kembar ikutan manggil aku nama gimana?" Ujar Genta masih dengan fokus menatap layar tv didepan.
"Ga usah dibahas lagi ya. Itu udah lewat, dan Tara udah nikah sama Ralio - sahabat aku menikah dengan sahabat aku wkwkwk jadi ga usah khawatir ok." Genta mengelus pelan rambut Lesta.
"Maafin aku ya, teledor ga bisa jaga kandungan aku waktu itu." Ujar Lesta lirih.
"Bukan salah kamu, tapi ini udah takdir." Balas Genta lembut. "Uch jadi pingin ngamar nih, gimana dong?" Lanjutnya dengan nada menggoda.
"Sok ae ngamar, Rafa gans laporin baginda ratu dan baginda raja sekarang!" Teriak Rafa dari belakang.
Genta membalik badannya sedikit untuk melihat Rafa. Nakal sekali adik bungsunya itu mengganggu momen romantis dirinya dengan istri. Lihat lah sekarang si bocah tengil itu dengan sebalnya menampilkan wajah yang sangat-sangat mengejek terlihat menyebalkan bagi Genta dan Lesta.
"Hak abang dong mau ngamar atau engga dengan Lesta, orang istri istri abang." Balas Genta telik. Rafa menatap tajam Genta, iya memainkan hpnya untuk menghubungi Mira - mamah mereka.
"Maaaahhh, si Genta mau ngajak kak Lesta ngamar!" Ujar Rafa sedikit teriak saat sambungan telfon tersambung.
"Coba aja kalo mau lebih lama pisah kamar!" Ujar Mira dengan sedikit kencang dari sebrang sana, membuat Genta menatap Rafa tajam lalu berdiri meninggalkan Lesta, Alca serta Rafa.
"Woy? mau kemana bang? Ini mamah belum beres ngomong!" Teriak Rafa pada Genta.
"Ngamar!!!" Balas Genta dan menaiki tangga dengan misuh-misuh, jangan lupakan Albar yang masih berada digendongannya.
Rafa terbahak dan mematikan sambungan telfon dengan Mira. Sedangkan Lesta hanya menggeleng kepala saja menatap tingkah Genta dengan Rafa yang memang absurd itu. Lesta berdiri dan berjalan menyusul Genta meninggalkan Rafa yang masih terbahak senang menjahili kakak nya itu.
***
Erhan masih terdiam didalam mobil yang terparkir didepan rumah Aleya. Ia masih bimbang dengan perasaan yang ia rasakan. Ingin meminta maaf tapi rasanya enggan. Erhan mengacak rambutnya kasar.
"Gue harus gentle!" Ujar nya pada diri sendiri. Erhan keluar dari mobil dan berjalan menuju depan pintu.
tok tok tok.
"Al, gue mau ngomong sesuatu!" Teriak Erhan saat pintu tak kunjung dibuka.
krek. Aleya menyumbulkan sedikit wajahnya dicela pintu yang dibuka sedikit.
"Ada apa?" Tanya Aleya datar.
"Gue..... gue mau minta maaf." Ujar Erhan pelan. "Gue minta maaf tentang kejadian waktu itu." Lanjutnya.
"Gue udah maafin." Balas Aleya masih dengan nada datar.
"Gue serius minta maaf Al." Ujar Erhan dengan tangan menarik pintu agar terbuka lebih lebar.
"Gue juga serius udah maafin lo." Jawab Aleya dengan nada yang sedikit menghangat.
"Kalo gitu nanti berangkat bareng ke resepsi nya Ralio dan Tara oke." Erhan mengelus puncak kepala Aleya.
"Hmm." Aleya hanya membalas dengan dehaman saja.
"Yaudah gue balik dulu kalo gitu, bye." Erhan melangkah mundur dan berjalan menuju mobil. Namun baru lima langkah ia kembali berhadapan dengan Aleya. Memeluknya dan mingecup kilat bibir wanita itu.
Setelahnya Erhan berlari meninggalkan Aleya yang terdiam mematung akibat perlakuan Erhan. Sedangkan si pelaku sudah memasuki mobil dan mengemudi meninggalkan pekarangan rumah dengan cepat.
"Erhan Radea!!!" Teriak Aleya dengan misuh-misuh ia kembali masuk dengan segala umpatan untuk pria itu, namun tak bisa dipungkiri jika hatinya menghangat. Jangan lupakan debaran kencang dalam hatinya.
*
Sesuai janjinya kini Aleya sudah siap dengan gaun ngepres body berwarna merah yang panjangnya selutut dengan heels setinggi 10cm. Ia menggunakan make-up natural dengan rambut yang sudah ia catok dibuat lurus. Menunggu Erhan yang katanya sih tadi sudah dekat.
Tak lama terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Sekali lagi ia menatap diri pada kaca besar dikamarnya sebelum berjalan keluar. Tepat saat membuka pintu, Aleya melihat Erhan yang sudah siap dan rapih dengan tuxedo hitam mahal miliknya.
"Baru mau ngetuk pintu." Ujar Erhan dengan sedikit cengiran bodoh diwajahnya.
"Udah ah lama, yuk pergi sekarang." Aleya keluar dari dalam rumah membuat Erhan mundur tiga langkah saat wanita itu membalik badannya untuk mengunci pintu.
Erhan tertegun baru menyadari jika wanita didepannya itu memiliki badan yang memang lebih berisi dari istri para sahabatnya - Lesta dan Tara, mungkin karna wanita ini lebih pendek juga dari mereka. Aleya berjalan mendahului Erhan menuju mobil.
"Erhan buka kuncinya." Aleya sedikit berteriak pada Erhan yang masih diam diposisinya. Sekali menggeleng kepala Erhan berjalan cepat mengahmpiri Aleya dan membuka kunci mobilnya.
Erhan duduk dikursi kemudi sedangkan Aleya duduk dikursi penumpang samping Erhan. Sepanjang jalan mereka saling diam , hanya terdengar suara musik dari radio yang mengalun merdu. Hingga mereka sampai ditempat resepsi Ralio-Tara.